Santri Famiglia

Santri Famiglia
Persik Legendaris


__ADS_3

Obat penenang disuntikkan ke tubuh Damiyan. Setelah Patrick membantunya membersihkan diri dan ganti baju, dia tertidur tanpa memiliki kesempatan bertanya tentang orang tuanya pada Vladimir lagi. Ketika Damiyan terbangun, hari sudah terang.


"Pagi, Iyan!" Patrick tersenyum, "aku di sini untuk mengganti plester sekalian memeriksa lukamu. Kakek menyuruhku."


"Di mana kakekku?" Damiyan mengedarkan pandangan. Jendela terbuka, menampilkan pemandangan pesawahan. Dalam ruangan itu, hanya ada mereka berdua.


"Aku tidak tahu," Patrick mengangkat bahu, "tapi kalau Kakek Fang, ada di teras depan, sedang memperbincangkan bonsai bersama kakekku."


Damiyan merapikan pakaian yang dibuka Patrick. Dia turun dari ranjang. Patrick lekas menyusul.


"Mau ke mana?"


" Mencari Kakek." Damiyan menoleh ke kiri dan kanan, tidak tahu arah mana yang akan membawanya bertemu orang-orang. Dia berhenti sejenak.


"Kiri, teras depan ada di sana, " kata Patrick, "rumah ini lebih sepi dari semalam, ya? Maklum, anak-anak dan cucu-cucu kakek Fang sudah pulang ke rumah masing-masing sejak dini hari tadi. Ayo! Kau ingin ke teras depan, kan?"


Patrick mendahului Damiyan. Dia berjalan seolah mengerti seluk beluk rumah tersebut. Damiyan pun membuntutinya tanpa banyak tanya, pun menanggapi informasi tambahan yang menurutnya tidak penting.


"Siapa peduli dengan keluarga Fang? Lagi pun, siapa pula Fang itu? Apa pentingnya bagiku? batin Damiyan. Yang dia perlukan saat ini hanya keberadaan kedua orang tuanya dan Vladimir. Peristiwa anarkis yang menimpanya semalam masih membayanginya. Dia ingin tahu bagaimana keadaan kedua orang tuanya.


Mendekati pintu depan, Damiyan bisa mendengar dua pria tua sedang mengobrol. Pintu depan sama sekali tidak ditutup sehingga suara itu terdengar jelas. Namun, kedua suara itu bukanlah suara dari kakeknya.


"Itu mereka!" Patrick menunjuk satu arah.

__ADS_1


Damiyan mengintip dari balik punggung Patrick. Dia berjalan lebih dekat ke sisi Patrick supaya bisa melihat lebih jelas.


Di taman depan halaman rumah yang tenang, dua pria tua duduk di bawah naungan pohon Sakura yang mekar. Mereka dikelilingi oleh koleksi bonsai yang indah, dengan salah satu bonsai yang menarik perhatian mereka berdua. Bonsai itu terletak di atas meja kecil di antara mereka, dengan akar dan ranting yang sangat tua.


Pria pertama, Fang, menyentuh lembut ranting kecil bonsai tersebut sambil mengaguminya. "Mengagumkan, bukan? Ini adalah bonsai termahal yang pernah aku lihat, Robert. Usianya sudah mencapai 1000 tahun, luar biasa, bukan?"


Robert, yang mengenakan topi bambu tua, tersenyum setuju. "Benar sekali, Fang. Sulit dipercaya bahwa bonsai ini telah bertahan selama berabad-abad. Tapi ada sesuatu yang benar-benar unik tentangnya. Pohon persik dengan kulit buah dua warna, merah muda gradasi putih. Tidak hanya kulitnya, bahkan daging buahnya pun senada, sampai bijinya juga. Aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya."


Robert melihat buah persik sebesar bola kasti yang berada di tangannya. Buah tersebut telah dibelah. Fang yang melakukannya untuk diperlihatkan pada Robert. Persik itu terlihat sangat cantik. Warna putih dan merah muda kalem yang melebur tampak menyegarkan.


Fang mengangguk seraya menatap bonsai dengan penuh rasa hormat. "Ini merupakan salah satu penemuan langka, Robert. Ahli bonsai dari seluruh dunia ingin memiliki bonsai ini, tetapi hanya beberapa yang beruntung yang bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kisah di balik pohon ini pun luar biasa."


Robert menunjuk bonsai tersebut dengan kekaguman. "Ceritakan padaku, Fang. Bagaimana bonsai ini bisa menjadi begitu berharga dan langka?"


Robert mendengarkan dengan penuh perhatian, matahari pagi menerangi wajahnya. "Apa yang membuatnya begitu berharga, Fang? Apakah hanya karena usianya?"


Fang mengangguk dan menjawab, "Ya, usianya tentu menjadi faktor penting. Tetapi yang membuatnya sangat berharga adalah kombinasi keunikan dan keindahan bonsai ini. Kulit buah dua warna dengan gradasi merah muda dan putih sampai ke daging buah serta biji adalah sesuatu yang langka dan sulit ditemukan. Ini menunjukkan keindahan alam yang luar biasa, serta keahlian dan dedikasi ustaz yang menciptakannya."


Robert melihat bonsai tersebut dengan tatapan penuh kagum. "Sungguh luar biasa. Aku beruntung bisa melihat bonsai ini dengan mata kepala sendiri. Ini adalah momen yang tidak akan pernah aku lupakan."


"Coba makanlah! Rasanya cukup unik dan menyegarkan. Dua sisinya memiliki rasa yang berbeda. Kau juga tidak akan menemukan rasa yang sama dalam sekali berbuah meski mereka berasal dari pohon yang sama." Fang tersenyum. Dia melanjutkan memotong daun untuk merapikan bentuk.


Robert menggigit sisi merah muda. Ini seperti Nutella strawberry dengan min." Dia lanjut menggigit sisi putih. "Yang putih seperti es krim vanila." Kemudian, dia mengunyah bagian tengah yang memiliki perpaduan dua warna. "Rasanya seperti baru saja makan buah naga dan pir."

__ADS_1


Mata Robert berbinar penuh kekaguman. Dia menjilati bibir, lalu menghabiskan sisanya. Dia kembali memandang pohon persik mini yang masih memiliki empat buah menggantung pada dahan.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan pohon persik seajaib ini?" lanjut Robert.


"Kaisar yang memberikannya padaku. Sebuah kebetulan yang lucu menurutku. Waktu itu, aku sedang menjalankan misi untuk mencari tahu kelemahan musuh. Keadaan menjadi kacau, misi memata-matai berubah menjadi misi pelenyapan. Siapa sangka, cucu satu-satunya kaisar disandera orang yang menjadi targetku.


"Orang itu menginginkan pohon persik legendaris ini. Karena kaisar enggan memberitahukan lokasi penyimpanan pohon ini, dia nekat menculik sang cucu."


"Tunggu dulu! Bila penculik itu adalah target pengintaianmu, bukankah ia seharusnya seseorang yang berkekuatan atau berkekuasaan seperti ketua mafia, kepala keamanan negara, atau semacamnya? Bukankah mudah bagi orang sepertinya untuk mengancam langsung kaisar?"


"Memang benar, tapi penjagaan kaisar sangat ketat waktu itu. Beliau disokong keluarga mafia terkuat. Jadi, tidak mudah menyentuhnya. Kalau tidak salah namanya Shiragami. Putra Kaisar menikah dengan putri satu-satunya pemimpin keluarga Shiragami. Mereka memiliki seorang putra. Sayangnya, sepasang suami istri itu meninggal karena sebuah peristiwa.


"Jadi, sebagai keturunan terakhir keluarga kaisar sekaligus Shiragami, anak itu diistimewakan. Dia dijaga ketat 24 jam penuh. Namun, cucu kaisar itu tipikal anak muda pemberontak yang suka menghalalkan segala cara untuk kabur dari pengawasan.


" Di saat-saat seperti itulah dia diculik. Dia ikut bersamaku setelah aku berhasil mengeksekusi orang itu. Melihat cucunya pulang dengan selamat, kaisar menghadiahkan pohon ini padaku. Tidak lama kemudian, kaisar meninggal. Anak itu naik takhta.


"Tapi kudengar dua puluh, tiga puluh atau beberapa tahun kemudian, aku lupa pastinya. Malas sekali menghitung waktu yang telah berlalu," Fang tertawa di tengah cerita, "yang jelas, dia saat itu sudah menikah dan memiliki dua putra. Dia menyerahkan takhta pada putra keduanya yang baru menjalani upacara kedewasaan. Kemudian, dia dan putra pertamanya keluar dari kekaisaran. Mereka sama-sama tidak mau hidup terikat. Sejak saat itu, keluarga Shiragami seolah lenyap dari peradaban. Yang kudengar terakhir kali, dia menjadi pendeta di sebuah kuil. Setiap kali melihat ini, aku jadi teringat kenangan waktu itu. Maaf, aku jadi bercerita panjang lebar. Sepertinya, penyakit tua sudah menjangkitiku."


Fang tertawa. Damiyan dan Patrick berdiri di depan gawang pintu. Damiyan ingin sekali langsung menghampiri mereka. Namun, Patrick yang lebih besar darinya menghalangi. Katanya, "Jangan asal menyela pembicaraan orang tua! Tidak sopan!"


"Pohon ini benar-benar memiliki sejarah yang luar biasa takternilai. Ditilik dari usia dan keunikannya saja, harga bonsai ini pasti mencapai satu juta dolar. Kenapa hanya kau biarkan di luar? Bagaimana bila ada yang mencurinya?" Robert mengernyit.


"Tidak akan ada yang mengira ada tanaman seharga ratusan juta dolar di sini. Kau tahu sendiri, kan? Hanya ada tiga kepala keluarga di sini, sementara yang paham tanaman hanya aku dan kau. Selain itu, aku sedang mencoba membiakkannya. Tidak masalah yang ini hilang kalau kultivasiku berhasil."

__ADS_1


__ADS_2