Santri Famiglia

Santri Famiglia
Sanubari Jatuh


__ADS_3

Sesal baru saja menghantam jiwa Eiji. Kesalahan besar dia telah menaruh harapan pada orang asing. Karenanya, sang adik menghilang di depan mata kepalanya.


Dadanya terasa sesak menyaksikan fakta tersebut. Urat-urat sampai tampak menonjol pada kedua telapak tangan yang terkepal. Ini salahnya. Dia telah memberi celah yang tidak seharusnya diperlihatkannya. Kelengahan adalah dosa besar baginya.


Sanubari ternganga. Dia tak habis pikir dengan apa yang baru saja disaksikannya. Dalam kotak yang tidak seberapa luas itu, Kini tinggal tiga pria.


Eiji menoleh geram. Dia menekan leher pria bermasker itu dengan lengannya. Kemurkaannya sudah mencapai ubun-ubun.


"Apa yang kau lakukan pada adikku, Sialan!"


Dia baik-baik saja." Itu yang ingin dikatakan pria bermasker. Namun, karena tenggorokannya tertekan, ucapannya menjadi patah-patah serta tidak jelas.


Pria itu meringis menahan muntah dan sakit. Dia sudah menepuk tangan Eiji supaya mau melepaskannya, tetapi Eiji tetap menghimpitnya.


"Hah, apa katamu?" tanya Eiji yang tidak mengerti.


Sekuat tenaga, pria bermasker itu menjauhkan tangan Eiji supaya bisa berbicara, "Adikmu masih hidup di bawah sana. Di ujung tangga portabel ini, dia aman."


"Tangga?" Eiji lantas memperhatikan garis-garis hijau yang berada di belakang pria bermasker. Dia mengendurkan kekuatan.


Baik Sanubari maupun Eiji menelusuri garis yang menjuntai ke bawah. Garis itu bergerak-gerak, bersinar dalam kegelapan. Eiji berjongkok di tepian, melongokkan kepala ke bawah. Namun, pekatnya kegelapan menyulitkannya untuk melihat.


Di ujung tali kaku yang menyerupai meteran gulung itu, Anki terayun-ayun dalam kengerian. Tubuhnya bergetar terisak saking syoknya. Dia pikir, kematian akan menjemputnya.


Akan tetapi, tubuhnya tidak terasa membentur apa pun. Hanya perutnya yang terasa sedikit nyeri dan mual. Badannya seperti digantung. Kakinya mengambang di udara. Andai Anki pernah melakukan terjun lenting, mungkin seperti itulah perasaan yang akan dialaminya ketika pertama kali mencoba.


"Kakak ....," Panggilnya lemah di antara sesenggukan yang hanya membuatnya terdengar seperti racauan tak bermakna.


Di atas, Eiji masih memicingkan mata guna memastikan keadaan Anki, tetapi sia-sia. Dia tidak bisa mendengar suara gadis itu. Sementara Sanubari tidak berani mendekat ke tepian. Pemandangan di hadapannya terasa bergoyang, entah karena gempa atau ada yang salah dengan matanya. Sanubari bergeming, berusaha supaya tubuhnya tetap berdiri tegap.

__ADS_1


"Kalian turunlah dengan tangga ini! Tangga ini cukup kuat untuk menopang sepuluh orang sekaligus."


Seperti sebelumnya, ujaran pria bermasker itu menuai tatapan tajam dari Eiji. Menurutnya, cara pria bermasker ini terlalu eksentrik. Ada jalan-jalan normal untuk memberikan bantuan. Akan tetapi, dia menyajikan solusi yang selalu saja membuat hati Eiji bersungut-sungut memanas.


Mengerti arti dari sorot mata Eiji itu, pria bermasker pun menambahkan kalimat pendukung untuk mendinginkan suasana. "Aku tahu, kau pasti lebih baik melewati pintu ini dan berlari keluar, kan?"


Dia menoleh dan menunjuk pintu elevator. Kata-katanya tidak berhenti di sana. Sembari menoleh pada Eiji, dia melanjutkan, "Percayalah! Itu cara yang buruk. Saat keluar, para Yakuza itu akan langsung menangkap kita. Ini adalh cara satu-satunya yang aman dan santai."


Tatapan Eiji padanya masih saja kurang enak. Dia mengalihkan pandangan, memegang tengkuk yang sampai merinding. "Oke, aku akan turun terlebih dahulu jika kau masih meragukanku. Kalian harus segera menyusul, tapi ingat untuk tidak menyentuh benda ini jika tidak ingin kita semua jatuh!"


Dia mengetuk sesuatu yang menempel pada dinding elevator. Itu adalah rumah tangga gulung. Pria bermasker itu telah menyesuaikan panjang tangga dengan ketinggian tempat mereka. Setelah itu, dia turun dan melompat saat mencapai batas akhir tangga.


Lelaki itu berdiri, menyalakan senter yang diraih dari saku untuk membantu menerangi. Dia berjalan mendekati Anki.


"Maaf sudah membuatmu ketakutan." Pria itu mengusap pipi Anki. "Berpeganglah padaku! Mari kubantu turun!"


Pria bermasker itu tidak mengacuhkan keengganan Anki. Dia memanggulnya, lalu melepas ujung tangga yang melingkar seperti sabuk.


"Kakakmu sedang menuju ke sini. Tenanglah! Aku tidak akan macam-macam."


Tak lama kemudian, bunyi gedebuk terdengar bersamaan dengan suara, "Turunkan adikku!"


Itu Eiji yang baru saja melompat. Dia masih belum bisa beramah tamah yang mendadak muncul di antara mereka. Untuk menghindari konflik, pria itu menurunkan Anki dari panggulannya.


Eiji mengedarkan pandangan. Sekitarnya benar-benar gelap. Mereka seperti berada di antara pondasi bawah tanah.


"Sekarang, bagaimana kita keluar? Kau membawa kita ke jalan buntu," ketus Eiji.


"Ini bukan jalan buntu. Akan kucari kan jalan keluar untuk kalian. Tunggu sebentar!" Pria bermasker itu menyenter ke bawah.

__ADS_1


Sementara Sanubari masih bergelantungan di atas. Dia berpegangan pada ruas-ruas tangga dengan erat sambil sesekali mengusap darah yang mengalir. Mimisan itu membuatnya kerepotan.


"Kenapa tidak berhenti-berhenti sih?" batinnya risih.


Darah itu mengalir seperti ingus yang membuatnya geli, tetapi dia tidak boleh menyerotnya. Waktu kecil, Sanum selalu melarangnya ketika hendak melakukan itu.


Katanya, "Biarkan saja darah kotor itu keluar. Nanti bisa bahaya kalau kamu serot, terus membeku di dalam."


"Ah, sejak kapan mamak berbahasa Indonesia seperti itu?" Sanubari mendadak pusing. Akhir-akhir ini, pikirannya selalu saja menerjemahkan kenangan bahasa Jawanya secara otomatis.


Namun, kepeningannya kali ini bukan hanya karena memori yang aneh semacam itu saja. Tubuhnya mendadak merinding. Dia menggigil, tetapi kian mengeratkan pegangan supaya tidak jatuh.


"Sedikit lagi!" Sanubari bermonolog.


Segalanya terasa melayang. Tubuhnya pun seakan mati rasa. Dia merasa sudah mengeluarkan kekuatan penuhnya. Namun, dia tetap merasa lemah.


Tubuhnya kehilangan rasa atas kenyataan yang sedang berlangsung. Pikirannya secara perlahan digiring menjauh ke alam bawah sadar.


"Aku kuat. Aku harus tetap bangun. Apa yang salah denganku? Kenapa segalanya mendadak terasa hampa? Ini tidak baik! Sungguh tidak baik! Mungkin, aku harus berusaha lebih keras lagi supaya bisa merasakan panca Indraku." Pikiran Sanubari terus berbicaAara, hingga genggamannya tergelincir tanpa dia sadari.


Kesadaran pikiran dan tubuhnya terbelah. Pikirannya tidak tahu jika tubuhnya terjatuh. Pikirannya tidak tahu jika mulutnya berteriak. Yang Sanubari tahu dalam pikirannya adalah, dia masih sadar, dia masih berpegangan pada tangga, dia masih menuruni tangga dengan hati-hati.


Mendengar teriakan, semua orang spontan mendongak. Senter pun secara refleks terangkat ke atas. Tampak tubuh seseorang terjatuh.


"Sanu!" Eiji terbeliak. Dia tahu betul bahwa yang masih di atas hanyalah remaja itu.


Anki menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kepalanya menggeleng. Itu bukanlah ketinggian yang aman untuk terjatuh dalam posisi seperti itu. Terlebih lagi, yang ada di bawah bukanlah air yang mampu mengurangi dampak benturan.


Siapa yang bisa selamat bila terjatuh dari ketinggian itu, Anki tidak bisa membayangkannya. Dia menutup mata rapat-rapat, tak ingin menjadi saksi hidup atas apa yang akan segera terjadi.

__ADS_1


__ADS_2