
Sebelumnya, Jin meminta bantuan Kelana untuk mencari data tentang pembeli Aifka. Jin tahu bahwa inovasi animatronik tercanggih itu adalah buatan perusahan BGA—anak perusahaan Baldofrillo yang bergerak di bidang pemproduksian senjata.
Tidak mudah untuk mendapatkan Aifka. Selain harganya yang fantastis, data calon pembeli juga harus diisi dengan sebenar-benarnya dan mendetail. Tentunya calon pembeli harus memenuhi syarat-syarat tertentu supaya bisa memenuhi kualifikasi. Namun, ada kelonggaran bagi calon pembeli yang kurang memenuhi kualifikasi. Yaitu, dengan menyertakan penjamin.
Data penjamin akan dijadikan pertimbangan produsen apakah konsumen layak menerima Aifka atau tidak. Pemeriksaan data sangat ketat. Sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada pelanggan yang bisa memalsukan data. Jika data ketahuan tidak asli, maka perusahaan akan menolak aplikasi pengajuan pembelian.
Kerumitan proses pemerolehan dan harganya yang luar biasa tidak menyurutkan antusiasme beberapa kalangan di seluruh dunia untuk mendapatkan animatronik canggih itu. Mereka berlomba-lomba mengirimkan permintaan ketika pengumuman peluncurannya resmi dikeluarkan. Lebih dari seribu aplikasi pembelian masuk sehari setelah video demonstrasi Aifka tersebar.
Banyak orang yang terpikat dengan fitur-fitur memanjakan mata yang dimiliki Aifka. Terbang dalam kecepatan tinggi, melakukan manuver secara luwes, menembakkan senjata, bersembunyi, berubah bentuk dan lain sebagainya. Tidak heran bila banyak orang rela mengosongkan kocek demi baja terbang itu.
Perusahaan juga menawarkan perlindungan privasi yang menggiurkan. Data pribadi pelanggan sepenuhnya akan menjadi rahasia perusahaan dan pelanggan itu sendiri. Data tidak akan dibocorkan kepada pihak luar. Sekalipun yang meminta adalah negara maupun badan keamanan. Data akan dimusnahkan bila ada pihak yang memaksa memintanya.
Tentunya akan sulit untuk mendapatkan data pembeli dengan sistem kebijakan seperti itu. Namun, itu perkara mudah bila Kelana yang melakukannya. Ditambah lagi, pemilik utama Baldofrillo berada di sisinya. Pemilik utama adalah kehendak absolut yang harus dipatuhi seluruh pekerja di bawah naungannya. Para pekerja mungkin berani menolak aparat negara. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menentang Sang Kehendak Absolut.
Pisau-pisau bawaan unit prototype memiliki ukiran unik. Ukiran ini berbeda di setiap unitnya. Namun, pisau untuk satu unit memiliki ukiran yang sama.
Kelana memosisikan pisau sedemikian rupa sehingga ukiran kecil pada ujung gagang bisa tertangkap kamera ponsel pintar. Ia mengirimkan foto hasil potretannya kepada CEO perusahaan BGA. Kemudian sesegera mungkin menelepon kepala eksekutif itu. Mereka berbicara dalam bahasa Italia sehingga tidak ada yang bisa memahami isi pembicaraan mereka. Termasuk pelaku.
Kelana bahkan meminta Aeneass berbicara secara langsung supaya CEO tersebut mau mencarikan informasi yang diminta. Tanpa basa-basi, CEO tersebut langsung mematuhi perintah Aeneas. Panggilan ditutup.
Tidak lama kemudian pemberitahuan email masuk dari ponsel pintar Kelana berbunyi. Itu adalah email dari CEO BGA. Terlampir file PDF pada email tersebut. Hanya satu lembar berisi informasi singkat tentang Aifka ke lima puluh sembilan dan pernyataan kepemilikan yang telah dilegalisasi perusahaan.
__ADS_1
Itu hanya sebagian kecil data tentang pemilik Aifka unit lima puluh sembilan. Data lebih lengkap sengaja tidak diberikan karena Aeneas mengatakan bahwa data tersebut akan dijadikan bukti untuk polisi. Aeneas juga menyetujui untuk hanya memberikan akta kepemilikan saja tanpa membocorkan informasi lainnya kepada pihak kepolisian.
Dalam file tersebut terpampang foto seorang wanita yang tidak asing bagi Kelana. Sejenak ia melirik penjual tiket. Wanita itu adalah dia. Namanya Kiara Sinaga, usia dua puluh dua tahun. Kelana cukup heran dengan keadaan ini.
Namun, keheranannya harus ia simpan untuk nanti. Prioritas utama saat ini adalah membebaskan Sanum. Segera diperlihatkannya email tersebut kepada Jin.
Dengan adanya bukti tambahan lain, Jin tidak ragu lagi untuk mengungkap siapa dan apa alat yang dilakukan untuk melakukan kejahatan. Jin juga menunjukkan file di ponsel Kelana kepada polisi sehingga penjelasan rumitnya tentang Aifka bisa diterima.
Salah seorang polisi mengenali BGA. Perusahaan tersebut merupakan pemasok senpi berkualitas tinggi serta terbaik untuk polri saat ini. Sebagian besar perlengkapan polisi lainnya juga diimpor dari perusahaan Italia tersebut. Tidak diragukan lagi bila perusahaan seperti BGA mampu menciptakan animatronik luar biasa.
"Apakah ini pengendali Aifka?" tanya penyidik pemegang ponsel yang diduga milik Kiara.
"Ya, itu adalah pusat pengendali Aifka. Apakah kalian ingin tahu bagaimana alat itu bekerja dan bagaimana pelaku membunuh korban?"
"Pinjam ponselnya!" pinta Jin.
Penyidik memberikan ponsel kepada Jin. Dia mengajak para polisi kembali ke studio tiga. Semua orang berduyun-duyun menuju ruangan sebelumnya. Kiara ikut berjalan dikawal polisi supaya tidak kabur.
Sesampainya di ruangan itu, Jin meminta sesuatu yang bisa ditusuk. Seorang pengunjung memberinya apel merah muda. Kemudian, Jin meminta seorang polisi untuk duduk di kursi bekas korban dan meletakkan apel tersebut ke atas kepala.
"Kenapa kita harus melakukan pose klise ini? tentang polisi itu.
__ADS_1
Dia takut berakhir sama seperti korban. Raut mukanya menggambarkan kekhawatiran itu dengan sangat jelas. Yang lain bersyukur karena bukan mereka yang disuruh.
"Ini aman. Asal Pak Polisi tidak bergerak apa pun yang terjadi," kata Jin dengan ringannya.
"Lakukan saja! Kita butuh mempelajari kasus ini."
Polisi tersebut pun dengan berat hati melaksanakan perintah. Dua penyidik lain berdiri di pinggir kursi untuk mengamati apa yang akan terjadi sementara ketua penyidik berdiri di sebelah Jin. Demonstrasi pun dimulai.
Jin membuka aplikasi Aifka. Terdapat beberapa panel di sana. Riwayat, Misi, pelacak dan lain-lain. Jin mengetuk tombol misi. Muncullah jendela layar mengambang dengan tulisan pengingat.
[Misi sebelumnya telah berhasil dilaksanakan. Apakah Anda ingin melanjutkan misi lama? Lanjutkan/Buat misi baru/Tutup.]
Jin mengetuk tombol misi baru. Kemudian muncullah dua pilihan 'autopilot/manual'. Jin memilih manual. Berikutnya barulah ia masuk ke meja kerja. Layar ponsel terbelah menjadi dua. Setengahnya menampilkan video studio tiga hasil rekaman kamera Aifka yang telah dihubungkan dengan kamera pengawas ruangan asli.
Setengahnya lagi berisi alat-alat untuk mengendalikan Aifka. Di antara semua menu yang ada, Jin memilih target. Ia memperbesar tampilan video lalu mengarahkan kotak kecil seperti pengatur fokus ke apel yang berada di kepala polisi.
[Objek ditentukan. Aifka mendeteksi objek berupa apel Fuji. Apakah Anda ingin mengunci target? Ya/Tidak.]
[Target terkunci. Tentukan sudut tembakan! Deteksi otomatis/manual.]
Jin memilih pengaturan manual. Gambar apel kembali diperbesar. Jin membentuk belahan apel secara horizontal. Kemudian mulai memosisikan Aifka pada sudut yang diinginkan. Setelah pemberitahuan Aifka berada pada posisi yang telah ditentukan muncul, Jin menekan bulatan di pinggir bawah kanan video.
__ADS_1
Sesuatu terlihat melesat dengan kecepatan tinggi. Polisi itu membelalakkan mata sambil menggigit bibir. Jantungnya berdebar-debar, tangannya mengepal menahan keringat dingin dalam sepersekian menit sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Benda itu mengarah padanya. Semua orang ikut membelalakkan mata menyaksikan kejadian itu.