
Sejuk angin malam menerpa wajah Sanubari, menggerak-gerakkan rambut yang masih sedikit basah. Pandangan remaja itu merendah, tertuju pada kotak balok cukup besar dengan capung meja raksasa di atasnya. Selama dua malam ini dia selalu menyempatkan diri berdiri di beranda.
"Aneh, sebelumnya tidak ada mainan di sini," batin Sanubari kian penasaran.
Ia ingin menyentuhnya, tetapi takut terluka. Capung raksasa itu mengingatkan Sanubari pada kasus pembunuhan di bioskop tujuh tahun silam. Bentuknya sama persis dengan alat pembunuh yang bisa menembakkan pisau dari jauh seperti waktu itu.
"Jangan-jangan ini ...."
Cukup lama Sanubari mematung. Tiba-tiba mata majemuk capung menyala. Sanubari terjingkat.
"Bom!" jeritnnya yang spontan menutup pintu geser.
"Apaan sih, an?"
"Itu ada capung membawa kotak bom di beranda." Sanubari menjauhi pintu kaca.
"Aku yakin itu bukan bom. Ambillah!"
"Tapi Kak—"
"Bawa kemari! Kau akan segera tahu isinya!" perintah Abrizar tegas.
Sanubari ingin menolak, tetapi Abrizar terus memaksa. Dengan gentar, Sanubari pun maju. Jantungnya berdebar lebih cepat.
"Semoga tidak meledak."
Sanubari mengangkat dua benda tersebut. Buru-buru dia meletakkannya di depan Abrizar. Tunanetra itu pun membongkar isi kotak. Ternyata berisi satu set laptop.
__ADS_1
"Kau ingat perampokan pesawat waktu itu, kan?"
"Iya." Sanubari mengangguk.
"Ini curian mereka yang kuambil Kembali."
"Apa Kakak juga mengambil tas kita?" Sanubari kagum.
Abrizar selalu saja memiliki kemampuan yang tak terduga. Padahal mereka terus berdua, tetapi lelaki itu bisa mengambil barang yang entah berada dimana. Kapan Abrizar melakukannya pun tak Sanubari sadari.
"Untuk apa? Baju kita bisa beli lagi. Yang penting laptopku kembali."
"Tapi sayang baju yang masih bisa dipakai, kan?"
"Biarkan saja pakaian yang sudah dirampok! Lebih baik pikirkan rencanamu untuk besok! Sekalian besok kita beli kartu SIM. Susah kalau kita tidak bisa berkomunikasi selama di sini."
"Kau sendiri yang masuk. Ini 'kan rencanamu, jangan libatkan aku!"
"Kita masuk sama-sama sajalah, Kak! Ya, ya, ya?" Sanubari mengatupkan kedua telapak tangan.
Cukup gigih Sanubari membujuk Abrizar. Namun, Abrizar sama sekali tidak terpengaruh. Dia menyerahkan segalanya pada Sanubari.
Keesokan harinya, mereka hanya bersama saat ke pusat perbelanjaan saja. Setelah keduanya berhasil mengaktifkan kartu SIM, mereka berpisah."
Sanubari berdiri sendirian di depan gedung Onyoudan. Hatinya tidak tenang. Tangan sudah menyentuh gagang pintu, tetapi butuh waktu lama untuk mendorong.
"Duh, kenapa kak Abri enggak mau ikut sih?" keluh Sanubari dalam hati.
__ADS_1
Walaupun Sanubari dikuasai ketakutan akan prasangka-prasangka yang terimajinasikan liar, ia harus maju. Sudah sejauh ini melangkah, rasanya sayang jika dibatalkan. Ia harus berhasil membangun eranya, menciptakan perdamaian sejati di seluruh dunia.
Sanubari mulai mendorong pintu. Hanya pintu kaca, tetapi rasanya seperti mendorong beban berton-ton. Perlahan pintu pun mulai terbuka. Sanubari langsung disambut teriakan keras begitu berhasil menciptakan celah di antara dua pintu.
"Fuzakeruna, Boke!" bentak pria berjas hitam yang artinya 'Jangan bercanda, Idiot!'
Dia berdiri garang sambil menginjak kepala lelaki yang tersungkur di lantai. Tampak beberapa kursi terguling. Sebagian orang menepi seolah tidak peduli.
"Gomen ne, Aniki!" ucap lelaki yang diinjak. Dia meminta maaf kepada lelaki penginjak yang dipanggilnya kakak.
Lelaki itu mengangkat kaki, memberi kesempatan pada pria yang tertindas untuk duduk Lantas, lelaki penindas itu berjongkok. Dia menjambak rambut pria yang sudah babak belur.
"Yurusu wake nai ndarou! Shippai wa shippai da," geramnya yang bermakna 'mana mungkin bisa ku maafkan. Kegagalan tetaplah kegagalan'.
Setelah mengatakan itu dengan mata melotot, pria tersebut melepaskan jambakan. Dia kembali berdiri, berbalik badan, dan mendekati kerumunan. Sementara pria yang ditindas langsung bersujud.
"Nanitozo, oyurushi kudasai! MOU ichido chansu o agetara ...." Dia memohon ampunan dengan lebih sopan serta meminta kesempatan kedua.
" Nee, omaera! Naifu Toka Aru?" Pria penindas itu bertanya apakah ada yang membawa pisau atau semacamnya di antara mereka.
Salah satu dari mereka maju, menyerahkan sebuah pisau tepat. Sanubari masih tertegun di tempat. Pintu pun belum dia tutup kembali.
"Bunshun o kire!" Pria penindas itu melempar pisau di depan pria yang sedang bersujud, menyuruhnya memotong bagian tubuh.
Jantung Sanubari makin membuatnya lemas setelah mendengar itu. Nuraninya tidak tega menyaksikan penyiksaan ini. Di waktu yang sama, sulit baginya untuk menolong karena ini markas Onyoudan. Ia takut mati konyol.
"Korya!" Pria penindas itu berteriak dengan suara serak-serak seram, tiba-tiba memandang tajam sambil menunjuk Sanubari.
__ADS_1
Sanubari menelan ludah kasar. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan. Dia panik.