
Sanubari berlari mendekati lokasi menghilangnya pria yang dikejarnya. Dia berjongkok, menatap penutup drainase baja berelief kastil. Untuk beberapa detik, dia terkagum-kagum dengan desain unik benda berbentuk lingkaran yang sama rata dengan trotoar. Namun, dia lekas menyadarkan dirinya sendiri.
"Aku di sini bukan untuk mengapresiasi estetika penutup lubang jalan."
Sanubari menepuk-nepuk pipinya. Matanya masih belum beralih dari logam pipih dengan kombinasi merah dan hitam. Dia sangat yakin di balik sana pasti ada lubang, mungkin juga jalan, atau bahkan ruang bawah tanah. Sanubari meraba permukaan penutup lubang tersebut sambil menekan-nekannya.
"Mungkinkah di sini ada tombol untuk membukanya?" namun kemudian, dia menyadari pemikiran bodohnya, "ah, mana mungkin seperti itu. Pasti bakal ada banyak orang kecemplung kalau dengan ditekan bisa terbuka. Di sini 'kan tempatnya orang jalan."
Sanubari mencoba memegangi pinggiran. Akan tetapi, dia tidak bisa mengangkatnya. Celah cekung di antara bingkai tidaklah cukup dalam dan lebar. Sanubari kesulitan untuk memegang dan mengangkatnya.
"Ini sulit. Sama sekali tidak mau terangkat. Bagaimana bisa orang tadi masuk dengan mudah?" gerutu Sanubari sambil mengejan.
"Sanu!" panggil Abrizar dengan suara keras.
"Aku di sini!" sahut Sanubari yang masih sibuk mengurusi penutup lubang trotoar.
"Apa yang kau lakukan?" Abrizar berjalan ke sumber suara.
"Membuka jalan."
"Hah, apa maksudmu?" Abrizar mengernyit.
Dia sama sekali tidak mendengar keramaian. Kendaraan pun tidak terdengar lalu lalang. Tidak ada orang di sana, selain Abrizar sendiri dan Sanubari.
"Ini Kak, anu, hm, apa, ya? Aku tidak tahu namanya apa, tapi mungkin disebut penutup lubang. Benda yang ditemplokin ke lantai di antara ubin itu loh. Aku sedang berusaha membukanya."
Abrizar melongo mendengar jawaban Sanubari itu. Remaja tersebut meninggalkannya hanya karena sebuah manhole. Sepertinya, Abrizar harus lebih membiasakan diri dengan kepribadian Sanubari ke depannya. Jika tidak, mungkin dia akan mengidap darah tinggi.
"Untuk apa mengurusi manhole cover? Lebih baik kita cepat pulang."
"Ada orang masuk ke sini tadi."
__ADS_1
"Paling juga petugas kebersihan. Di sana hanya ada gorong-gorong. Untuk apa kau mau membukanya? Mau membantu petugas kebersihan?" sindir Abrizar.
Sanubari terdiam. Dia yakin orang yang baru menghilang bukanlah petugas kebersihan. Batinnya mempertanyakan kebenaran tersebut. Dia bahkan sempat menduga orang itu mungkin perompak udara yang pernah merampok pesawat.
Titik-titik ringan air mulai berjatuhan dari langit. Sebagian mengenai punggung telapak tangan Sanubari. Pemuda itu lantas membalik telapak tangan. Tetesan lain membasahi tangannya yang menengadah.
"Hujan ...," gumam Sanubari.
Dia berdiri, mengambil ponsel di tas, menyempatkan diri untuk memotret penutup lubang saluran air bermotif unik. Entah mengapa, dia ingin mengabadikannya. Mungkin suatu saat akan berguna, walau sekarang dia tidak tahu untuk apa. Dia menyimpan ponsel kembali setelah mendapat gambar cukup jelas.
Berbalik badan, meraih tangan Abrizar sambil berkata, "Ayo!"
Lagi-lagi, Sanubari mengajaknya berlari. Rintik hujan bertambah kerap seiring berembusnya angin, sementara pintu masuk stasiun belum terlihat. Untungnya, ada toserba di dekat sana. Sanubari mengajak Abrizar menepi karena hujan dengan cepat menjadi deras.
Keduanya berdiri di dekat pintu masuk dengan napas tersengal dan baju sedikit basah. Sanubari berpikir sambil memandang hujan. Angin begitu kencang, sampai tempias air mengenai mereka yang berteduh.
"Ini salahmu. Gara-gara kau buang-buang waktu, kita terjebak di sini," rutuk Abrizar.
"Ayo masuk! Siapa tahu ada jas hujan. Jadi, kita bisa pulang," ajak Sanubari.
Mereka pun masuk. Sayangnya, tidak ada jas hujan yang mereka temukan. Mustahil menggunakan payung dalam kondisi selebat ini. Apalagi, hujan bercampur angin kencang. Dengan sangat terpaksa, mereka menginap di toserba atas saran Sanubari.
Sanubari tidur duduk dengan merebahkan badannya ke meja. Sedangkan Abrizar tidur sambil menyangga kepala.
Keesokan paginya.
Sanubari terbangun akibat kelaparan. Suasana luar sudah terang ketika remaja itu membuka mata. Hujan pun sudah reda. Dia menegakkan badan, lalu menoleh pada Abrizar setelah melakukan peregangan.
"Kak, bangun!" Sanubari menggoyang pundak Abrizar.
"Sudah dari tadi."
__ADS_1
"Oh, Kak Abri jangan pakai kacamata hitam terus dong! Aku 'kan jadi tidak bisa melihat mata Kakak sudah terbuka atau belum," protes Sanubari.
"Kebiasaan lama."
Waktu kecil, Abrizar tidak pernah memakai kacamata dan membawa tongkat ke mana-mana. Banyak yang salah paham—mengiranya bisa melihat seperti orang pada umumnya. Sebab, dia bisa berjalan tanpa menabrak. Sekolah pun di sekolah umum. Dia hanya masuk SLB waktu SD saja.
Karenanya, banyak yang menuduh Abrizar berpura-pura buta, mengira Abrizar sombong ketika ada orang lewat di hadapannya, tetapi tidak dia sapa. Ada pula yang menganggapnya tak berperasaan karena tidak menolong anak yang terjatuh di depannya.
Padahal, dia benar-benar tidak bisa melihat. Kelebihannya dalam mengolah suaralah yang membuat Abrizar bisa bergerak leluasa. Dia tidak bisa mengenali sesuatu yang tak dapat diidentifikasi dengan suara.
Orang-orang tidak tahu akan hal itu. Mereka hanya menilai dari apa yang terlihat. Bahkan, mereka pernah menyumpahi supaya Abrizar benar-benar menjadi buta.
Risih dengan cacian dan olok-olok, Abrizar pun mengadu pada ayahnya. Kala itu, ayahnya berkata orang buta identik dengan kacamata hitam dan tongkat. Sejak itulah dia mulai memakai kacamata hitam dan membawa tongkat ke mana pun. Sampai saat ini, kebiasaan itu tetap melekat padanya.
"Mulai hari ini, Kak Abri tidak usah pakai kacamata saat keluar!" ucap Sanubari seraya melepas kacamata Abrizar, ditenggerkannya kacamata tersebut ke kepalanya sendiri seperti bandana.
"Sanu, kembalikan kacamataku!"
"Ah, lapar. Kakak mau makan apa? Kakak tunggu di sini saja, biar kubelikan!"
"Terserah kau saja! Yang penting kembalikan kacamataku!"
"Oke, terserah aku, ya!" ucap Sanubari yang langsung melesat tanpa menghiraukan permintaan Abrizar.
Dia menuju rak makanan, mencomot dua udon, empat onigiri isi udang mayones, dua sandwich sayur, dua sandwich telur, dua telur rebus setengah matang, dan nasi lauk makarel. Dia hampir lupa mengambil minuman. Dia kembali ke belakang, mengambil dua calpis sebelum menuju kasir.
"Oatatame shimashou kA?" ucap pria kasir seraya memegang bento pilihan Sanubari, menawarkan untuk menghangatkan makanan tersebut.
"Hai, onegai!" Sanubari mengangguk setuju.
Pria itu memasukkan bento ke microwave, lalu kembali menghitung belanjaan Sanubari di meja sambil memasukkan ke kantung plastik. Di bangku istirahat, Abrizar terkejut. Lokasi meja kasir tidak jauh darinya. Dia bisa mendengar dengan jelas suara pria kasir yang berusaha beramah tamah dengan Sanubari. Seketika itu, suara pramugara yang merampok pesawat, pria pemandu yang mengantar mereka sampai masjid terngiang kembali dalam benak Abrizar.
__ADS_1