
"Ceritamu aneh sekali. Tidak kusangka, sekalinya banyak bicara, kau malah mengatakan hal tidak jelas seperti ini." Renji geleng-geleng.
Sai tidak memaksa Renji untuk mengungkapkan pendapatnya. Dia membiarkan diskusi itu berhenti di sana. Namun, Sai yakin bahwa Renji menyimak dengan baik. Mereka saling diam kemudian, sampai ketua tertinggi itu datang.
"Menginaplah selama beberapa hari lagi. Seluruh transportasi ke luar pulau sedang dihentikan saat ini," kata ketua itu setelah mendengar semuanya dari mereka.
"Kami akan tetap kembali ke Nagoya malam ini juga. Bukankah asosiasi memiliki helikopter?" Sai tetap bersikukuh.
"Masalahnya, tidak ada pilot yang siap saat ini."
"Ren Senpai bisa menjadi pilot." Sai menoleh pada Renji.
Dia ingat, latar pendidikan Renji berkaitan dengan teknik penerbangan. Seniornya itu bahkan memegang lisensi sebagai pilot. Entah apa yang dipikirkannya, hingga dia lebih memilih menetap di Onyoudan daripada bertahan menjadi pilot.
Ketua itu sejenak menatap Renji. Sorot matanya menyiratkan kerumitan untuk berkata. Entah apa yang membuatnya begitu berhati-hati. Padahal, mereka sama-sama orang satu asosiasi.
"Bukannya aku meremehkan, tetapi helikopter itu akan segera dipakai. Jadi, aku tidak bisa memberikan izin."
Alasan berbelit itu membuat Sai kian merasa aneh, seolah ada sesuatu yang sengaja ditahan di tempat ini. Akan tetapi, mereka yang tidak seharusnya ditahan pun ikut terimbas perlakuan itu—yang kemungkinan dilakukan supaya terlihat natural, juga menutupi kebusukan. Makin dicegah, Sai makin ingin segera kembali.
"Kalau begitu, pinjami kami mobil!" Sai mengamati roman ketua itu.
Ketua itu tampak gelisah dan berpikir keras. Meskipun begitu, dengan enggan, dia menyetujui permintaan Sai.
Renji yang ingin bermalas-malasan pun terpaksa mengikuti kemauan Sai. Hampir seharian mereka menghabiskan waktu di jalan. Sore harinya, mereka tiba di kantor Onyoudan pusat Nagoya.
Parkiran lebih penuh dari biasanya. Beberapa Yakuza anggota Onyoudan pun tampak berseliweran. Mereka memasuki lobi bertepatan dengan seorang Yakuza yang memapah Yakuza lain yang tak sadarkan diri.
"Tasukete!" Yakuza itu meminta pertolongan.
"Ada apa?" tanya Renji yang tampak penasaran, atau lebih tepat disebut basa-basi karena bosan diam seharian bersama Sai.
Dalam perjalanan pulang, mereka menyetir bergantian, tidur pun bergantian. Renji kekurangan hiburan.
__ADS_1
"Orang-orang kuil menyerang kami," jawab Yakuza itu.
Kata kuil mengingatkan Sai pada Anki. Kuil di Jepang memang ada banyak. Pendeta dan biksu yang bisa kungfu pun bisa dibilang tidak sedikit. Namun, tidak banyak dari mereka yang berani menghajar Onyoudan.
Kemungkinan terbesar itu hanya bisa terjadi di kuil tempat kakek Anki berada. Bisa jadi, Sanubari sudah ada di sana dan menghajar mereka. Begitulah analisa Sai.
Anki memang cukup sering menjadi incaran anggota Onyoudan, dan Eiji selalu melindunginya. Meminta bantuan Sai dan Sanubari adalah salah satu cara Eiji menjaga adiknya ketika dirinya sendiri tidak bisa.
Waktu itu, Sai pernah bertanya, "Eiji senpai, kenapa menyuruh anak baru itu untuk menemani Anki?"
Bisa-bisanya Eiji mempercayai orang yang baru dikenalnya, Sai sungguh tidak habis pikir. Namun, waktu itu Eiji menjawab, "Anak itu seorang muslim yang lugu. Cara pandangnya berbeda dengan orang-orang di sini. Tidak ada salahnya mencoba mempercayakan Anki padanya. Lagipula, kemampuan bertarungnya juga bagus."
Sai tetap tidak mengerti apa yang istimewa dari Sanubari. Bagaimanapun, pikiran semua manusia pastilah berbeda.
"Bagaimana bisa?" sontak Renji meninggikan nada bicara.
Selama ini, Onyoudan tidak pernah terang-terangan berkonflik dengan warga sipil, kecuali Meiwa atau keluarga Yakuza lain yang berulah.
"Mereka menghalangi kami mencari sesuatu di kuil," terang Yakuza itu lagi.
Sai dan Renji memilih pergi. Mereka menuju lantai ruangan mereka berada.
"Jadi ini yang kau maksud, Sai? Ah, tapi analogimu itu sama sekali tidak cocok." Renji membaringkan tubuhnya ke sofa.
Sementara Sai berjalan lurus. Dia menyibak gorden yang menutupi dinding kaca. Pandangannya tertuju ke bawah. Begitu banyak orang berkumpul di sana, tampak seperti kerumunan semut dari posisi Sai berdiri.
"Jadi, apa yang akan dilakukan kucing jingga?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun.
"Ikut berpetualang bersama kucing putih dan hitam. Lagipula, rumah itu tidak sepenuhnya menyenangkan bagi si Jingga. Semenyebalkan apa pun Si Putih, masih tidak lebih menyebalkan daripada Si Majikan. Si Jingga mungkin tidak akan pernah menemukan rekan semembosankan Si Hitam lagi, tetapi memiliki selera yang cukup serupa bila melewatkan kesempatan."
Jawaban itu membuat Sai berbalik badan. Dia menutup kembali gorden dan tersenyum.
"Kalau begitu, ayo!" Sai melangkah ke ruangan lain—tempat di mana senjata, peralatan, serta item-item pertahanan disimpan.
__ADS_1
Ada beberapa yang belum diproduksi secara masal, dan itu memang dikhususkan untuk divisi mereka sendiri. Produksi masal biasanya akan dilakukan ketika inovasi terbaru telah direalisasikan. Selalu seperti itulah yang dilakukan Eiji selama Sai ikut dengannya.
Meski eksperimen mereka sukses mengungguli versi sebelumnya, tetapi Sai tidak mengerti mengapa Eiji lebih memilih menyerahkan versi lama itu ke departemen produksi. Dia tidak pernah bertanya. Kendati demikian, dia senantiasa menghargai keputusan Eiji.
"Kurasa kita membutuhkan ini." Sai mengambil setelan pakaian serba hitam, lalu menunjukkannya pada Renji yang sedang mengamati senjata.
Itu adalah pakaian super kuat. Kainnya cukup elastis, halus dan nyaman dipakai. Benda setajam apa pun tidak bisa menggoresnya.
"Ide bagus." Renji membawa empat senapan dan beberapa magazin, lalu meletakkannya ke atas meja.
"Banyak sekali?"
"Akan merepotkan bila kita harus mengisi ulang di medan perang. Lebih baik membawa yang siap pakai." Renji tersenyum.
Sementara Sai, dia lebih memilih banyak membawa granat dan satu senapan serupa. Selesai mempersiapkan segalanya, mereka berangkat ke kuil. Dia dan Renji sepakat untuk menghabisi semuanya, daripada dipojokkan kemudian karena kalah jumlah.
Tak lama setelah pembantaian itu, sirene mobil-mobil ambulans dan polisi meraung-raung di jalanan malam. Sepuluh unit mobil merah putih satu per satu berhenti di dekat tempat kejadian. Paramedis bergerak setelah lingkungan dinyatakan aman.
Lusinan pasukan khusus berseragam lengkap melompat dari mobil dengan gesit. Dipimpin beberapa komandan, mereka berlari melewati mayat demi mayat untuk mengejar jejak pelaku.
"Bagaimana ini, Rai sama? Terlalu banyak mayat?" Yato melihat ke sekeliling.
"Entahlah, memanggil ambulans pun rasanya tidak mungkin."
"Ngomong-ngomong soal ambulans, bukankah itu suara ambulans?" sela Renji.
Semua berkonsentrasi. Samar-samar, mereka memang mendengar sirene, disusul dengan derap yang kian mendekat, membuat Renji sontak mengumpat.
"Sial! Apa masih ada pasukan tambahan?"
Mereka tidak bisa bergerak cepat. Sai sedang memapah Mahiru yang terluka parah. Anki merapat, memeluk lengan kakeknya. Gadis itu tidak mau melihat luka Mahiru atau jenazah di bawah.
Diluar dugaan, yang muncul adalah segerombolan polisi. Namun, polisi-polisi tersebut menodongkan senjata secara serempak kepada mereka.
__ADS_1
"Angkat tangan kalian!"
"Serahkan diri kalian baik-baik.