
Akhir pekan, kafe Sanubari penuh dengan pelanggan. Tidak ada kursi kosong sama sekali di kafe. Baik di lantai dasar maupun lantai atas. Kursi akan segera terisi kembali setiap kali ada yang selesai makan.
Meskipun harus menunggu lama tetapi semua orang rela mengantri demi menikmati hidangan dengan cita rasa unik. Terdapat mesin antri elektronik di dekat pintu masuk. Di sana pun barisan manusia mengular untuk mengambil nomor antrian. Saat hendak mengambil nomor antrian, mereka harus memasukkan nomor telepon.
Pegawai akan mengirim pesan jika sudah tiba giliran mereka. Tidak jarang waktu tunggu bisa sampai satu jam sehingga antrian digital sangat diperlukan. Dengan begitu, pelanggan bisa memanfaatkan waktu tunggu untuk jalan-jalan di sekitar sana yang merupakan kawasan wisata. Progres antrian pun bisa ditinjau melalui situs web. Situs diluncurkan satu Minggu setelah meledaknya nama kafe Sanubari.
Disediakan juga kursi tunggu bagi pelanggan yang tidak membawa ponsel. Pelanggan juga bisa pesan untuk dibawa pulang jika tidak ingin menunggu lama tempat kosong.
Para tim dapur sibuk menyiapkan pesanan. Sanum mulai kewalahan memasak sendiri. Seusai kafe tutup, dia mengajari Natasha dan Bella cara memasak singkong supaya bisa bertekstur lembut dan gurih. Mereka juga merekrut pegawai baru untuk meringankan tugas.
Kafe Sanubari hanya libur dua hari selama satu bulan. Yaitu pada hari Sabtu dan Minggu pertengahan bulan. Selama dua hari itu kafe hanya akan memasak untuk dibagikan secara gratis. Di hari ini pula Sanubari sering ke kafe untuk membantu. Dia ikut menyebarkan singkong keju ke toko terdekat.
*****
Patisier pria melihat kedatangan Sanubari. Dia pun menyapa dan berkata, "Ah, a quanto pare sei il Fratello Piccolo Imprenditore."
(Ah, rupanya kau lagi Adik Pengusaha Kecil.)
Sanubari meletakkan bawaannya ke meja lalu membalas, "Oggi voglio portare dell'altro formaggio manioca e comprare focaccia."
(Hari ini aku mau mengantar singkong keju gratis lagi sekalian membeli focaccia.)
Patisier wanita menerima pemberian Sanubari lalu memujinya. "Wow, al fratello di questo piccolo uomo d'affari piace davvero condividere, vero?"
(Wah, Adik Pengusaha Kecil ini suka sekali berbagi, ya?)
"Voglio solo che tutti si godano la manioca al formaggio. He he he he. Oh, sì! Mi chiamo Sanubari. Zio e zia possono chiamarmi Sanu"
(Aku hanya ingin semua orang menikmati singkong keju saja. He he he he. Oh, iya! Namaku Sanubari. Paman dan Bibi bisa memanggilku Sanu.)
"Va bene, Sanu. Visto che spesso regali manioca al formaggio gratituo. Questa volta ti regaliamo anche focaccia gratituo."(Baiklah Sanu. Berhubung kau selalu memberi kami singkong keju gratis, maka kali ini kami juga akan mentraktirku focaccia gratis.)
"Non devi farlo. Ho portato dei soldi."
(Paman tidak perlu melakukan itu. Aku bawa uang kok.)
Sanubari menyodorkan selembar uang seratus euro pada kedua patisier tersebut. Namun, mereka tidak menerimanya.
(Dilarang menolak pemberian orang.)
"Non puoi rifiutare il regalo di qualcuno! Ah, che ne dici di mangiare e chiacchierare casualmente insieme? Faremo un po' di focaccia da mangiare qui più tardi. Ne faremo anche un'altra da portare a casa."
(Ah, bagaimana kalau kita makan sambil ngobrol? Kami akan membuatkan focaccia untuk dimakan di sini. Nanti kami juga akan membuatkan satu lagi untuk kau bawa pulang.)
"Zio e zia devono badare al negozio. Non voglio disturbarvi, ragazzi."
(Paman dan Bibi 'kan harus menjaga toko. Aku tidak ingin merepotkan kalian.)
__ADS_1
"Nessun problema. È l'ora di chiusura. Vieni di sopra! Voglio sentire i consigli di successo del tuo caffè."""
(Tidak repot. Lagipula sebentar lagi waktunya tutup. Ayo kita ke atas! Aku ingin mendengar tips sukses kafemu.)
Patisier pria itu mengajak Sanubari ke lantai dua toko. Di sana ada beberapa kamar dan sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang tamu. Patisier pria segera mempersilakan duduk Sanubari lalu berpamitan ke bawah sebentar. Dia menemui istrinya.
"Sembra che dobbiamo mettere in atto quel piano ora."
(Sepertinya kita harus melakukan rencana itu sekarang.)
"Quale piano?"
(Rencana apa?)
"Faresti meglio a prendere dei sonniferi che siano efficaci e funzionino velocemente."
(Sebaiknya kau segera pergi beli obat tidur yang paling efektif dan cepat bereaksi!)
"Sei sicuro che dovremmo farlo adesso?"
(Kau yakin kita harus melakukan rencana ini sekarang?)
"Certo. Lo sai che il nostro negozio non durerà a lungo nelle nostre condizioni attuali, vero? Accettando la sua offerta possiamo vivere all'estero e costruire una nuova attività."
(Tentu. Kau tahu sendiri bahwa toko kita tidak akan bertahan lama dengan kondisi kita saat ini, bukan? Dengan menerima tawarannya maka kita bisa hidup di luar negeri dan membangun bisnis baru di sana.)
(Tapi ....)
"Fallo e basta! Non c'è nessuno qui. Non ci sono testimoni per incriminarci. Farò una chiacchierata con lui per guadagnare tempo mentre ti prepari."
(Lakukan saja! Di sini tidak ada siapa pun. Tidak ada saksi yang akan memberatkan kita. Aku akan mengajaknha mengobrol untuk mengulur waktu selama kau melakukan persiapan.)
"Va bene."
(Baiklah)
Patisier wanita segera pergi ke apotek terdekat dengan mengendarai motor. Jaraknya hanya tiga menit dari toko. Sedangkan patisier pria membuatkan minuman untuk Sanubari dan membawakan sedikit cookies.
Setelah itu dia kembali ke atas dan mengajak Sanubari mengobrol. Beberapa menit kemudian patisier wanita datang dengan membawa focaccia. Ia meletakkan focaccia tersebut di depan Sanubari.
"Scusa se ti ho fatto aspettare così tanto."
(Maaf, sudah membuatmu menunggu lama.)
"Hm... ha un profumo delizioso."
(Hm ... aromanya lezat.)
__ADS_1
"Ha un sapore ancora più buono. Mangiamolo in fretta!"
(Rasanya lebih lezat lagi. Ayo cepat habiskan!)
"Perché, zio e zia non mangiano?"
(Loh, Paman dan Bibi tidak makan?)
"Ci è capitato di mangiare."
(Kebetulan kami baru saja makan.)
"Sì, spendilo tu stesso! È speciale per te.)
(Iya, habiskan saja sendiri!)
Itu sepesial untukmu.)
"Grazie mille!)
(Terimakasih banyak.)
Tentu Sanubari senang mendapatkan makanan lezat itu. Dia melahapnya sampai habis tanpa rasa curiga. Pasangan patisier itu tetap mengajak Sanubari berbincang meskipun focaccia di piring Sanubari tidak lagi tersisa.
Tiba-tiba rasa kantuk yang amat berat melanda Sanubari. Ia ingin pulang tetapi kepalanya terasa sangat berat, tubuhnya pun seperti tidak bertenaga. Pandangan Sanubari terasa melayang-layang, suara obrolan pun bagaikan mimpi setengah sadar. Detik demi detik berlalu, Sanubari tidak lagi bisa menahan kelopak matanya yang hendak menutup. Akhirnya Sanubari pun tertidur di sofa.
Pasangan patisier itu tersenyum senang. Rencana mereka berjalan lancar. Obat tidur yang diberikan bekerja lebih cepat. Dengan ini Sanubari tidak akan bangun selama lima sampai tujuh jam ke depan.
"Dopo questo cosa dovremmo fare?"
(Setelah ini apa yang harus kita lakukan?)
"Contattala!"
(Hubungi dia!)
Patisier wanita mengambil ponsel lalu menelepon seseorang.
"Ti manda l'indirizza. Portalo lì! Poi cancellami il messaggia!"
(Aku akan mengirim alamat ke ponselmu. Bawa dia ke sana lalu hapus pesanku!)
"Va bene, ho capito."
(Baik, mengerti.)
Telepon pun ditutup. Patisier wanita mengemas pakaian. Sementara patisier pria memakaikan masker pada Sanubari. Selain itu, dia juga memakaikan Hoodie kepada Sanubari, melubangi saku di bagian perut untuk menyembunyikan ikatan pada tangan Sanubari.
__ADS_1
Patisier pria menggendong Sanubari ke mobil dikuti patisier wanita yang membawa barang-barang. Malam ini juga mereka berencana mengantar Sanubari ke tempat yang telah ditentukan sekalian meninggalkan Verona.