Santri Famiglia

Santri Famiglia
Hampir Ketahuan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau biarkan dia hampir mati beberapa kali? Padahal, kau memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya dari tempatmu duduk, kan? Seharusnya ...."


Damiyan hanya tersenyum mendengarceramah panjang itu. Aeneas sempat memarahinya juga karena panggilan pertama diabaikannya. Mau bagaimana lagi, dia harus berpacu dengan waktu untuk menyusul Sanubari.


"Ah, kebijakan transportasi sialan! Menyebalkan!" umpatnya dalam hati ketika teringat sulitnya mendapatkan tiket pesawat untuk kembali ke Tokyo. "Si Buta itu juga keterlaluan!"


Gara-gara rencana Abrizar itu, Damiyan tertinggal jauh dari Sanubari. Waktu menyadari dia tidak mungkin menyusul Sanubari dari tempatnya berada, Damiyan langsung menuju bandara. Satu-satunya transportasi yang bisa mengimbangi kereta peluru. Namun, ketika dia sampai ke bandara, hal di luar dugaan disampaikan padanya.


Tengah malam benar-benar waktu yang merepotkan untuk bepergian jauh. Hampir semua layanan dihentikan.


"Apa? Bagaimana dengan pesawat pertama pagi ini?" sentak Damiyan terkejut setelah mendengar kalimat resepsionis.


"Mohon maaf, tetapi untuk tiga hari ke depan, penerbangan ke Kantou, Kansai, Chubu, hingga Kyushu dihentikan untuk sementara waktu."


Keterangan itu tentu membuat Damiyan kian kesal. Tidak ada pemberitahuan ramalan cuaca buruk yang membuat penjelasan tersebut menjadi masuk akal. Damiyan pun sekali lagi memastikan.


"Yang benar saja! Kenapa harus menunggu selama itu? Apa xeluruh pesawat yang dimiliki semua maskapai sedang rusak?"


Resepsionis itu tidak menjelaskan lebih lanjut. Dia hanya menjawab, "Ini sudah menjadi kebijakan maskapai demi keamanan penerbangan. Anda harus menunggu sampai hari yang ditetapkan bila ingin keluar dari Hokkaido."


Tak ingin membuang waktu dengan diskusi yang muluk-muluk, Damiyan pun meninggalkan pusat layanan. Untung, otak Damiyan tidak dangkal. Dia mencari persewaan mobil yang buka dua puluh empat jam. Gagal mendapatkan tiket pesawat, dia langsung berlari ke gerai persewaan di sekitar bandara.


"Irasshaimase!"


Mengabaikan sambutan selamat datang ketika masuk gerai, Damiyan langsung berkata, "Aku ingin menyewa mobil untuk dua Minggu."


Paham dengan bahasa Damiyan, sang resepsionis pun mengikuti. "Apakah Anda sudah melakukan reservasi sebelumnya?"


"Belum. Bisa tolong cepat sediakan? Aku sedang buru-buru. Ah, satu lagi. Seandainya Minggu depan aku ke Nara, bisakah aku mengembalikan di sana? Aku ingin berkeliling Jepang dari ujung ke ujung."


Dengan berkata demikian, Damiyan berharap sang resepsionis tidak akan menerka ke mana dia akan pergi. Entah mengapa, Damiyan merasa tidak akan diizinkan menyewa bila petugas ini sampai tahu mobilnya akan dibawa ke Osaka.


"Tentu, Anda bisa mengembalikan mobil ke cabang mana pun. Perusahaan kami memiliki cabang yang tersebar di seluruh Jepang. Sebelumnya, bisa perlihatkan IDP, SIM, dan paspor Anda terlebih dahulu?" ucap resepsionis sambil menyalakan tablet.


Damiyan mengeluarkan seluruh dokumen yang disebutkan. Dia sering bepergian ke luar negeri, sehingga selalu memperpanjang masa aktif izin mengemudi internasionalnya. Siapa sangka, itu berguna sekarang.


Resepsionis tersebut melihat SIM Damiyan. Dia mengambilnya, lalu meletakkannya Ke mesin pemindai untuk memperoleh data pria itu.


"Mohon isi ini!" katanya kemudian menyodorkan tablet.

__ADS_1


Damiyan menurunkan pandangan. Aksara yang terpampang membuatnya pusing sebelum membaca. "Aku tidak mengerti bahasa Jepang."


Resepsionis langsung menggantinya ke versi Indonesia. Damiyan tidak membacanya dengan teliti. Sekilas pandang, itu hanyalah kontrak sewa yang berisi biaya, jaminan, serta denda yang harus dibayarkan andai merusakkan properti.


Lelaki itu lekas menyelesaikan administrasi, lalu meluncur dengan kecepatan tinggi begitu mobil di tangan. Enam belas jam lebih perjalanan berlangsung, tetapi Sanubari masih di Tokyo.


"Anak itu pasti mengalami peristiwa yang sama. Ini konspirasi." Damiyan tersenyum bisa menebak apa yang terjadi pada Sanubari.


Tanpa membuang waktu, Damiyan memarkir mobil di halaman restoran yang Sanubari masuki. Dia melanggar larangan Aeneas untuk mendekati Sanubari secara gegabah setelah menyaksikan remaja itu menjerit-jerit tidak jelas di ruangan petugas Stasiun.


Sepanjang perjalanan, dia mengaktifkan mode video untuk mengawasi Sanubari. Ketika Sanubari pingsan setelah histeris, dia pun melihatnya.


Damiyan tidak tahu apa yang terjadi. Akan tetapi, dia tidak bisa membiarkan Sanubari melanjutkan perjalanan ke Nagoya dalam kondisi seperti itu dengan cara Abrizar lagi.


Meski cara Abrizar lebih cepat, tetapi itu akan membuat jaraknya dengan Sanubari lebih jauh lagi. Dia tidak akan bisa membantu bila terjadi sesuatu pada Sanubari. Andaikan Sanubari dalam kondisi normal, mungkin Damiyan tidak akan terlalu memikirkan jarak itu. Sayangnya, kondisi memprihatinkan Sanubari membuatnya harus terjun langsung.


"Di mana dia?" Memasuki restoran, Damiyan mengedarkan pandangan. "Jangan sampai dia selesai membuat rencana dengan si buta itu lagi!"


Kekesalan atas kesulitan demi kesulitan hari ini masih memenuhi dada Damiyan. Namun, dia tetap menjalankan tugasnya dengan profesional.


"Itu dia!" lirihnya ketika menemukan Sanubari.


"Tidak kusangka, aku bisa bertemu orang Eropa di sini." Damiyan basa-basi untuk mengakrabkan diri.


"Aku orang Indonesia." Sanubari meletakkan ponselnya.


"Oh, kupikir orang Asia iris matanya itu gelap-gelap."


"Ah, ini, aku memang mewarisi warna mata ayahku yang keturunan Italia." Sanubari tersenyum. Namun, tampak Ada kegetiran di balik ekspresinya.


"Jadi, kau ini campuran?"


"Begitulah."


"Wow, keren!"


"Kau juga. Apa itu warna asli rambutmu? Ini pertama kalinya aku melihat rambut seputih itu."


"Sejak lahir rambutku sudah seperti ini." Damiyan tertawa. "Senang bisa bertemu orang yang bisa bahasa Indonesia. Berkeliling Jepang tanpa bisa berbicara Jepang itu merepotkan. Jadi tidak bisa ngobrol dengan siapa pun."

__ADS_1


"Berkeliling Jepang?"


"Ya, aku sedang berlibur di sini. Setelah ini, aku akan ke Osaka."


"Sama, tapi sayangnya tidak ada transportasi ke sana yang beroperasi malam ini." Sanubari mendadak murung.


"Bagaimana kalau kau ikut denganku? Kebetulan, aku membawa mobil. Sepertinya, enak jika memiliki teman berbincang sepanjang perjalanan," tawar Damiyan.


"Benarkah?"


"Tentu." Damiyan mengangguk.


"Tapi, aku harus ke Nagoya dulu. Ada titipan yang harus kuambil."


"Tidak apa-apa. Kita bisa mampir sebentar sebelum melanjutkan perjalanan."


"Terima kasih!"


"Tidak masalah. Oh, iya! Namaku Damiyan." Damiyan mengulurkan tangan.


"Sanubari. Panggil saja Sanu!" Sanubari menyambut jabatan tangan Damiyan.


Malam itu, Sanubari ikut Damiyan setelah makan malam. Tidak banyak obrolan selama perjalanan. Sebab, Sanubari langsung tertidur beberapa menit setelah perjalanan sepanjang kurang lebih empat jam itu dimulai.


Selama itu pula, ponsel Damiyan terus berdering. Dia pun mengubahnya ke mode senyap. Kembali ke masa kini, Aeneas masih melanjutkan ceramah panjangnya.


"Ah, sial! Seharusnya aku tidak mengirimkan video-video itu," lagi-lagi Damiyan menggerutu dalam hati.


Aeneas memang memberlakukan wajib lapor sebulan sekali. Bodohnya, Damiyan malah mengirimkan video Sanubari tenggelam di markas Meiwa, terjebak dalam kecelakaan kereta, serta membahayakan diri membawa bom yang hampir meledak.


Meskipun Damiyan menyertakan pesan bahwa Sanubari baik-baik saja, tetapi itu tak membuat Aeneas urung untuk memarahinya. Damiyan sungguh menyesali tindakannya. Dua malam dia tidak tidur untuk mengejar Sanubari. Sekarang, dia kehilangan waktu istirahat gara-gara Aeneas.


"Bukankah Bos sendiri yang berkata bahwa aku tidak boleh sembarangan mendekatinya?" Damiyan menyampaikan pembelaan begitu mendapat celah.


"Aku memang bilang seperti itu, tetapi aku juga bilang kau harus membantunya saat terdesak. Tetapi, apa yang kau lakukan?" Wajah Aeneas tampak masam dalam video.


"Kurasa itu tidak cukup mendesak. Tuan Muda masih bisa menyelamatkan dirinya sendiri."


"Apanya yang tidak cukup mende—"

__ADS_1


Belum sempat Aeneas menyelesaikan kalimatnya, Damiyan memutus sambungan. Dia melepas headset-nya setelah mendengar ketukan. Saat menoleh ke kanan, Sanubari sudah berdiri di balik jendela yang tertutup rapat.


__ADS_2