Santri Famiglia

Santri Famiglia
Penembakan di Saugerties


__ADS_3

Dalam olimpiade musim panas di Amerika, Sanubari memperoleh medali emas ke duanya di cabang olahraga anggar. Selain itu, dia juga mendapat emas dalam perlombaan renang gaya bebas putra lima puluh meter. Prestasi Sanubari di bidang olahraga memang cukup gemilang. Sebelum mengikuti olimpiade musim panas, Sanubari juga menjuarai beberapa kompetisi renang. Dalam pertandingan kualifikasi pun Sanubari selalu menjadi yang terbaik.


Setelah jadwal perlombaan Sanubari selesai, mereka menyempatkan diri berjalan-jalan di objek wisata sekitar. Dua anak kembar Kelana juga diajak karena mereka juga sedang libur musim panas. Liburan dari bulan Juli sampai September sehingga mereka bisa lebih lama bersantai tanpa harus diburu waktu.


Minggu pertama Sanubari sibuk berlatih untuk persiapan kompetisi. Mereka baru bisa bersenang-senang di Minggu ke dua. Hari-hari mereka habiskan dengan bersepeda mengelilingi pedesaan Saugerties sebelum beranjak ke kota berikutnya.


Aeneas menyewa sebuah sepeda yang ada boncengannya. Dia bersepeda membonceng Sanum. Sedangkan di bagian depan setir dipasangi boncengan bayi.


Anak-anak asyik balapan sepeda dengan Kelana dan istrinya. Sedangkan Sanum dan Aeneas bersantai di belakang sambil menikmati bentangan pesawahan, bertegur sapa dengan para petani lokal yang sangat ramah. Aeneas menikmati setiap menit yang ia lalui. Jarang-jarang ia bisa merasakan momen keluarga seperti ini.


Aeneas merasa seperti sedang berkencan. Bayinya yang berada di boncengan depan sama sekali tidak rewel. Kondisi ini membuatnya merasa seperti hanya berdua dengan Sanum. Pedal terus dikayuh hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah jembatan untuk beristirahat. Suasananya sungguh asri. Bunyi aliran sungai dan gerajakan Air terjun Esopus sangat menenangkan hati.


Dari lawan arah para bocah melajukan sepedanya. Sanubari berAda di barisan paling depan. Dia meluncur melewati Aeneas dengan kecepatan tinggi.


"Wiiiii sepedanya bisa nyetir sendiri," teriak Sanubari cekakaan sambil bertepuk tangan dan mengangkat-angkat kedua tangan.


"Sanu, pegang setirnya dengan kedua tanganmu!" teriak Kelana yang bersepeda agak jauh di belakang.


Sanum dan Aeneas yang sedang menikmati aliran sungai pun menoleh akibat mendengar keributan itu. Mereka berdua melihat Sanubari yang melepas setir.


Sanum panik. Dia takut terjadi apa-apa kepada Sanubari. Wanita itu pun turut menegur, "Sanu, bahaya! Jangan lepas setir!"


Namun, Sanubari tidak mengacuhkan peringatan Sanum dan Kelana. Dia tetap tertawa riang sambil melakukan gerakan aneh sambil bersepeda. Ia semakin terlihat menjauh.


"Ini seru!" katanya.


"Sanu keren. Bisa bersepeda tanpa memegang setir seperti itu," puji Embara yang kemudian bertanya, "kau bisa, Kumbara?"


"Aku tak mau jatuh," jawab Kumbara.


"Pengecut!" ledek Embara.


"Memangnya kau sendiri bisa?" balas Kumbara dengan senyuman mengejek.


Aeneas dan Sanum menyusul mereka. Kali ini giliran Sanum membonceng Aeneas atas permintaannya sendiri. Sanum ingin merasakan bagaimana rasanya membonceng. Kendati demikian, Aeneas tetap membantu Sanum mengayuh pedal dari belakang.


Pria itu tidak merasa malu dibonceng oleh wanita. Dia justru mensyukuri inisiasi Sanum. Dengan posisinya saat ini, Aeneas bisa melingkarkan tangan bebasnya ke perut Sanum.

__ADS_1


*****


Pemandangan air terjun di pegunungan dan pantai memanjakan mata para undangan siang ini. Beberapa orang bergerombol, berbincang sambil menikmati minuman maupun panorama alam yang menyegarkan. Angin laut yang bertiup menyejukkan udara di bawah terik mentari musim panas.


Hotel di pinggir pantai yang terletak di Saugerties merupakan pilihan terbaik untuk menghabiskan liburan musim panas. Letaknya strategis, keindahan alamnya pun memukau.


"UKA, UKA, UKA aiu thristy?"


Sanubari berbicara dalam bahasa Inggris dengan pengucapan yang dibuat-buat bak balita yang baru belajar berbicara. Dia juga mendekatkan serta menjauhkan segelas air putih dari bibir mungil bayi yang baru berusia satu tahun lebih. Bayi itu pun mencoba meraih-raih gelas kaca yang disodorkan Sanubari.


"Nyu, nyu, nyu, nyu mimimimi!" racau bayi itu.


"Sanu, jangan goda terus adikmu!" tegur Sanum.


Sanubari malah cengengesan lalu berkata, "Habis ucu sih."


"Kacian adik Ukanya, kan? Awass loh, Kakak Sanu! Siap-siap menerima pembalasan dendam adik Uka kalau nanti sudah gede!" canda Embara.


"Tidak akan. Adik Uka 'kan baik. Chayang chama kakak Sanu. Iya 'kan, UKA?" balas Sanubari.


Bayi itu akhirnya bisa menangkap segelas air putih yang dipegang Sanubari. Dia memegangi bibir gelas dengan erat. Sanubari membantu meminumkan air sedikit demi sedikit supaya tidak tumpah.


"Darah! Darah!" teriak Embara panik.


Berikutnya bayi itu berhenti menangis bersamaan dengan pekikan Sanum. Sanum memegangi lengannya yang mendadak perih dan mengeluarkan darah. Rasanya ngilu seperti baru disuntik dengan jarum besar.


Perhatian semua orang tertuju pada sumber keributan. Seketika kepanikan pun menjalar karena ada gelas-gelas lain yang pecah dengan sendirinya.


"Anak-anak pergi dari sana!" teriak Kelana.


Semua orang kocar-kacir. Mereka histeris, berhamburan meninggalkan tempat terbuka itu. Embara dan Kumbara berlari ke arah Kelana. Sedangkan Sanubari enggan meninggalkan ibunya.


"Mamak!" teriak Sanubari ketika melihat ibunya terduduk.


Aeneas menumpahkan beberapa makanan. Dia mengambil sejumlah nampan, menyatukannya lalu berlari ke arah anak dan istrinya. Dia berdiri tepat di dekat mereka.


Dengan lihai Aeneas menggerak-gerakkan tumpukan nampan ke udara kosong. Bunyi dentingan pun beberapa kali terdengar ketika beberapa peluru menancap pada permukaan nampan aluminium, membentuk ceruk-ceruk kecil.

__ADS_1


Melihat aksi Aeneas yang menangkis hujan peluru, Kelana menyadari ada seseorang yang sedang menembak dari lantai atas hotel. Dia langsung menemui resepsionis, memintanya menghubungi kepala keamanan untuk memblokir seluruh jalan turun. Resepsionis yang tanggap juga menghubungi polisi.


Mendadak tembakan berhenti. Aeneas masih tetap siaga, berjaga-jaga andaikan ada tembakan susulan. Ia mengamati seluruh gedung tinggi, mengantisipasi kalau-kalau ada serangan dari arah lain. Namun, tembakan itu hanya datang dari satu arah dan kini telah berhenti.


"Ayo pergi dari sini!" ajak Aeneas yang masih berdiri memunggungi anak dan istrinya.


*****


"Which rooms are occupied upstairs?"


(Kamar mana saja yang ditempati di lantai atas?)


Kelana ingin segera menyergap pelaku sendiri. Akan butuh waktu lama jika menunggu polisi datang. Meskipun petugas keamanan cukup sigap menutup semua akses turun tetapi mereka tidak menyelidiki keberadaan pelaku sama sekali. Firasat Kelana mengatakan bahwa pelaku akan memanfaatkan kesempatan ini jika tidak segera ditangkap.


"I'm sorry, Sir. But we can't give guests data to just anyone."


(Maaf, tapi kami tidak bisa memberikan data tamu kepada sembarang orang.)


"This is an emergency. Can't you make an exception?"


(Ini kondisi darurat. Tidakkah kalian bisa memberi pengecualian?)


"This is already a policy at our hotel."


(Ini sudah menjadi kebijakan di hotel kami.)


"Didn't you see outside there was a wild shooting? Do you want to protect the perpetrators?"


(Tidakkah kalian lihat di luar baru saja terjadi kasus penembakan liar? Apakah kalian ingin melindungi pelaku?)


"We are not associated with any criminals. We will cooperate with the authorities if necessary but we cannot arbitrarily provide information to other parties who are not included in the authorities."


(Kami tidak berasosiasi dengan pelaku kejahatan mana pun. Kami akan bekerjasama dengan pihak berwenang andaipun diperlukan tetapi kami tetap tidak bisa memenuhi permintaan pihak lain yang bukan termasuk aparat berwenang.)


Di saat mereka sedang berdebat, tiba-tiba bunyi helikopter terdengar dari luar. Kelana yakin bahwa pelaku itu pasti sudah meninggalkan hotel.


Beberapa orang masih ketakutan di lobi hotel. Terutama anak-anak. Mereka terlihat trauma dengan peristiwa penembakan ini. Peluru-peluru berjatuhan dari langit tanpa bunyi sedikit pun. Itu adalah pengalaman yang amat menyeramkan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian polisi dan ambulans datang. Para polisi mengamankan tempat tersebut. Para petugas medis mengangkut mayat-mayat yang tergeletak serta memberikan pertolongan pertama kepada korban terluka.


__ADS_2