
Eiji mengeluarkan peralatannya untuk membongkar koper. Ring yang menautkan alat-alat mini serba guna bergemerincing. Dia selalu membawanya kemana pun dia pergi. Dengan cekatan dan hati-hati, Eiji memutar ujung obeng kecil, beralih memakai pisau mini untuk memotong pengait.
"Apa maksudmu? Bukankah itu seharusnya paket dari BGA? Mengapa malah bom yang kalian bawa pulang?" tanya Shima mengernyit.
"Barangnya memang ada di dalam. Tapi, di bawahnya ada bom yang sepertinya aktif karena kode pembuka kopernya salah. Sebaiknya cepat pergi sekarang! Satu menit tersisa."
Eiji dengan cermat memperhatikan kuncian. Dia tidak boleh lengah dan tanpa sengaja menyentuh pemicu yang mungkin bisa mempercepat ledakan. Kouhei langsung keluar dari tempat itu.
Renji, Sai, Shima, dan Sanubari masih di tempat. Mereka masih duduk bersama Eiji sepertinya karena memiliki alasan masing-masing.
"Kau bisa menjinakkannya dan menyelamatkan barang itu, bukan?" Setidaknya, itu yang dipercaya Shima.
"Aku mungkin bisa mengambilnya, tetapi tidak akan ada cukup waktu untuk menjinakkan bom. Cepat pergi! Empat puluh detik tersisa," perintah Eiji tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
Eiji tidak ingin memaksakan diri membuka koper. Dia hanya akan mencoba sampai tiga puluh detik tersisa. Jika dalam kurun waktu itu dia belum juga berhasil, Eiji akan langsung lari.
__ADS_1
Shima meninggalkan tempat itu seraya menggerutu, "Sialan! Apa ini jebakan dari Meiwa? Mereka benar-benar ingin membuatku rugi dengan meledakkan benda itu."
Sai dan Renji berlari mengikuti. Dua puluh sembilan detik tersisa, Eiji sukses membuka koper. Dia bergegas mengambil koper yang ada di dalam. Sanubari melihat layar hitam dengan angka merah seperti jam digital.
"Ayo pergi, Bocah!" Eiji meraih lengan Sanubari yang tampak terbengong.
Mereka berdiri. Betapa terkejutnya Eiji ketika mendapati Sanubari menyambar koper luar berisi bom. Lelaki itu melotot tidak percaya.
"Tinggalkan itu di sini! Apa kau mau bunuh diri?" bentak Eiji panik.
Shima, Kouhei, Sai, dan Renji memasuki rumah utama yang cukup jauh dari ruang pertemuan sebelumnya. Suara ledakan terdengar sangat keras. Mereka sedikit menegang. Shima berbalik badan, memperhatikan beberapa orang yang mengikutinya. Hanya dua orang.
"Dimana Eiji?" tanya Shima dengan tegas.
Eiji adalah sumber daya berharga Onyoudan. Kehilangan Eiji sama halnya dengan mengalami kerugian besar. Sai dan Renji sama-sama menoleh sebelum saling pandang sesaat.
__ADS_1
"Sempai masih di dalam ketika kita memasuki rumah. Kuharap dia berhasil melarikan diri tepat waktu," jawab Sai dengan nada bicara sangat tenang.
"Apa dia benar-benar baik-baik saja? Mengapa dia dan bocah baru itu belum juga menyusul kita?" sahut Kouhei yang bersandar pada dinding.
"Sempai bukan orang yang ceroboh," balas Sai masih dalam ketenangan yang sama.
"Tapi, bagaimana dengan anak itu? Bukankah dia bersama anak baru itu?" sahut Kouhei lagi.
Keheningan menyelimuti mereka. Seharusnya, tidak butuh waktu lama bagi Eiji untuk menyusul mereka. Jarak mereka hanya beberapa detik.
Namun, tidak terdengar derap kaki mendekat. Penglihatan mereka pun terhalang tembok. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana kondisi dua orang yang tertinggal. Tiba-tiba, Sai berlari.
"Oi, Sai! Mau ke mana kau?" Renji mengejarnya.
Debuman tidak lagi terdengar dari dalam ruangan semi kedap suara. Shima mengikuti mereka. Kouhei yang penasaran pun mengekor.
__ADS_1