Santri Famiglia

Santri Famiglia
Berbalik


__ADS_3

"Aku tidak apa-apa, Senpai." Yato mengelap darah dari sudut bibirnya.


Lengannya perih karena goresan katana. Punggungnya pun berdenyut nyeri gara-gara terbanting. Kendati demikia, dia merasa masih sanggup berdiri.


"Tapi kau ...." Mahiru memperhatikan kimono Yato yang terkena noda darah. Cairan merah itu merembes dan melebar.


Namun, Yato lekas memotong kalimat itu dengan berkata, "Tadi aku hanya kalah jumlah."


Mahiru merobek lengan kimono Yang memang sudah koyak. Dia memperhatikan sekitarnya sejenak. Orang-orang berpakaian hitam berdiri mengelilingi mereka. Para Yakuza itu tampak berdiri Rapat, sampai-sampai mereka tidak bisa melihat keluar bangunan.


Mahiru menghela napas sebelum akhirnya menunduk untuk merawat luka Yato. Dia melilitkan kain dan mengikatnya untuk menghentikan pendarahan sementara waktu.


"Sekarang pun kita kalah jumlah."


"Setidaknya sekarang kita berempat. Ada Senpai, Rai sama, dan Kakak Bertongkat. Aku tidak harus menghadapi mereka sendiri." Yato tersenyum.


Sementara Mahiru merawat Yato, dialog lain terjadi. Raiden, Anki, dan Abrizar berdiri. Lelaki tua itu menggandeng tangan Anki.


"Serahkan gadis itu baik-baik! Maka, kami juga akan melepaskan kalian tanpa luka." Ketua pasukan itu menunjuk Anki.


"Dia cucuku. Untuk apa aku harus menyerahkannya pada kalian?" Raiden mengeratkan genggamannya.


Jika dia harus mempertaruhkan nyawa di sini demi kesejahteraan cucunya, maka dia siap. Dia sudah kehilangan putranya. Hanya Anki dan Eiji harta berharganya sekarang. Hanya mereka berdualah tujuan hidup Raiden.


"Kakek Tua, aku sudah memperingatkan. Jangan salahkan jika kami di sini menjadi dewa kematian yang menjemputmu." Ketua Yakuza itu tertawa congkak.


"Kalian tidak pantas menjadi dewa," cibir Raiden tanpa tersenyum sedikit pun.


"Kalian, ambil paksa gadis itu, lalu habisi mereka!" Ketua Yakuza itu mengangkat tangan, menggerakkannya sebagai kode untuk beraksi.


"Argh!"


"Ittai!"


Dua teriakan itu saling bersusulan, berasal dari dua Yakuza yang melangkah maju. Satu memegangi mata kanan, sedangkan satu lagi memegangi bagian vital. Mereka baru saja terkena timpukan zori dari Yato.


Benda ringan itu sangat telak. Mata kanan Yakuza yang tertimpuk sampai mengeluarkan darah. Bahkan, yang terkena di bagian sensitif sampai tidak bisa berdiri. Itu sangat menyakitkan.


"Semoga dewi kematian tidak mencabut mata dan itu kalian." Yato berdiri, menunjuk miris seorang yang duduk terbungkuk-bungkuk memegangi benda itu sambil meringis kesakitan.


Mahiru ikut berdiri. Raiden memundurkan Anki, membuat gadis itu berada di tengah. Sementara empat pria itu memunggungi Anki. Mereka melindungi dari empat arah mata angin.

__ADS_1


"Kono Yaro ...." Para Yakuza itu menggeram.


Beberapa Yakuza maju bersamaan. Abrizar memukul perut mereka sampai orang itu mendelik. Yato dan Mahiru menendang sekuat tenaga hingga mereka termundur, menabrak rekan sendiri. Raiden meninju dada mereka yang mendekat hingga terpental. Dia memang tua, tetapi tenaganya tidak bisa diremehkan.


Anki aman di tengah. Belum ada Yakuza yang berhasil menyentuhnya.


Keempat pria berbeda generasi itu kembali siaga. Yato memasang kuda-kuda dengan kedua tangan mengepal, siap meninju siapa pun yang akan maju.


Abrizar mendengar bunyi sesuatu dicabut dari sarungnya. Dia lekas mengatakan, "Anki, duduklah! Ini akan bahaya."


Anki mengikuti saran itu. Dia terus berdoa dalam hati supaya kakek dan teman-temannya baik-baik saja. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka. Ketakutan menguasai tubuhnya. Anki sungguh ingin malam ini segera berakhir.


Selagi para Yakuza yang tersungkur memulihkan diri, yang lain maju. Mereka mengayunkan pedang. Abrizar memukul lengan yang memegang pedang, lalu menendang pinggulnya, membuat pedang terayun pada Yakuza lain yang hendak menyerang Yato.


Ujung pedang mengiris lengan cukup dalam, menyebabkan Yakuza seketika menjerit, ""Ah!"


Pedang berkelontang, terlepas dari tangan Yakuza. Yato bersiul. Dia membungkuk untuk mengambil pedang yang terjatuh setelah menendang Yakuza di depannya.


"Terima kasih, Kakak Bertongkat."


Abrizar tidak menanggapi ucapan Yato. Di sisi Abrizar yang lain, Raiden berhasil merebut pedang dari lawan. Pun dengan Mahiru.


"Kuso!"


"Ayo, siapa yang mau dipenggal pertama dengan senjata kalian sendiri?" Yato terkekeh mengacungkan pedang rampasannya.


Mahiru menggelengkan kepala mendengar itu. Sepertinya, watak asli sang junior mulai muncul. Dia lekas menasihati, "Yato, ini tempat suci! Kau tidak boleh sembarangan ...."


"Mereka yang ingin membunuh kita, kenapa kita tidak boleh melakukan yang sama? Tempat ini tidak leluasa untuk bergerak jika jumlah mereka tidak dikurangi." Mata Yato berkilat-kilat dipenuhi nafsu untuk mengayunkan pedang.


"Ada cara lain untuk mengurangi. Kau tahu itu, kan?"


Yato mendengus dan terpaksa menjawab, "Baiklah, Senpai."


Sejenak mereka saling mendiamkan raga. Pihak pelindung Anki tidak ingin berpindah terlalu jauh dari Anki. Bergerak sembarangan hanya akan memberi celah pada para Yakuza untuk mendekati Anki.


Abrizar berusaha menghemat tenaga. Dia tidak akan menyerang terlebih dahulu selama mereka tidak bergerak. Perutnya mulai keroncongan. Tangan yang memegang tongkat pun bergetar samar.


"Bagaimana ini, Ketua?"


"Keluarkan pistol kalian!"

__ADS_1


"Tapi itu bisa tanpa sengaja mengenai gadis itu."


"Incar kepala mereka!"


Mendengar itu, Anki langsung berdiri. Gadis itu mengerti, mereka sepertinya enggan melukainya. Dia melawan rasa takutnya untuk melindungi orang-orang yang ada di sisinya. Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk mereka.


"Kita tidak mungkin melakukan itu." Yakuza lain menyuarakan pendapat setelah menyaksikan pemandangan di hadapannya.


"Kalian yang masih membawa katana, serang! Ingat untuk tidak melukainya!" perintah itu pun terkumandangkan.


Mereka pun bertarung sengit. Logam beradu dengan logam. Tendangan beradu dengan tendangan. Pihak ABRIzar sama sekali tidak dibiarkan beristirahat.


Setiap kali satu lawan berhasil dipukul mundur, lawan lain yang siaga langsung maju. Belum lagi, terkadang lebihdari satu orang melakukan serangan kombinasi.


"Mereka payah sekali. Hanya menghadapi empat orang, tapi bisa selama ini," cibir seorang berkacamata yang bersedekap di antara kerumunan.


"Kau lupa bagaimana pasukan kita sama sekali tidak bisa menembak satu pria itu? Kau bahkan tidak bisa memukulnya, Jirou." Satu pria lainnya tersenyum mengejek.


"Ah, kau ini lawan atau kawan, hah?"


Mereka berdua memakai kacamata yang sama. Kacamata yang mampu menembus objek demi objek untuk melihat ke lapisan terdalam.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita lewat atas saja, Tarou? Dia ada di bangunan itu, kan?" lanjut Jirou menunjuk suatu arah.


Dalam diam, keduanya saling mengerti. Mereka mematikan mode menerawang, lalu dengan lincah mencari jalan ke atap layaknya ninja.


Tak berapa lama, mereka tiba di atap yang ditentukan. Mereka membuat lubang dengan mematahkan kayu-kayu penyangga atap setelah memastikan posisi yang tepat. Dengan kekuatannya, Tarou bisa melakukan itu dengan mudah.


Insiden di bawah cukup berisik, sehingga tidak ada yang menyadari bunyi-bunyi dari atas. Anki terhenyak ketika tiba-tiba ada pria mendarat di depannya. Pantatnya sampai ngilu.


Pria itu langsung berdiri, lalu menendang Yato serta Abrizar secara bergantian. Abrizar dan Yato pun tersungkur. Dua celah yang terbuka itu membuat Yakuza lainnya bisa menyerang Mahiru dan Raiden dari belakang.


Sebilah pedang menembus perut Mahiru. Sementara Yato berusaha menahan pedang yang hendak menebasnya dalam posisi berbaring.


"Menurutlah, Gadis Manis! Dengan begitu, mungkin kami tidak akan melukai mereka lebih dari ini." Seorang Yakuza berjongkok di dekat Anki.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Bulir-bulir bening meluncur, melewati pipinya ketika kelopak matanya berkedip. Dia tidak sanggup melihat kondisi sekitar.


Keadaan telah berbalik. Kakeknya telah ditawan. Punggung Abrizar diinjak oleh seorang pria. Kacamata hitamnya pun patah.


"Senang bertemu denganmu kembali, Tongkat Listrik!"

__ADS_1


Itu bukan sekadar ungkapan. Hirou benar-benar puas bisa mendaratkan kaki pada punggung pria yang tidak bisa dia sentuh sebelumnya. Dia bahkan berulang kali mengentakkan kaki ke punggung yang tidak berdaya itu.


Abrizar menahan rasa sakit dan sesak dalam diam. Dirinya yang memang tidak punya cukup tenaga pun tiada mampu untuk melakukan perlawanan lagi.


__ADS_2