
"Kelana, menjauh dari retakan!"
Kelana bangkit, lalu berlari. Namun, dia tidak berani terlalu dekat dengan dinding kaca, sementara untuk melanjutkan perjalanan sendiri, Kelana semakin takut. Dia menyesali tindakannya. Seharusnya, dia tetap di rumah saja. Seandainya itu dia lakukan, Kelana pasti bisa membaca buku sambil bersantai saat ini. Kecemasan mulai memenuhi benaknya. Bagaimana bila dia tidak bisa menemukan jalan keluar selamanya?
Gafrillo mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan panik. Dia membutuhkan sesuatu untuk melawan sesuatu yang menangkap Aeneas. Waktunya sangat sempit. Sesuatu itu sepertinya menyeret Aeneas ke dalam air. Jika tidak bergegas, Aeneas bisa kehabisan napas. Gafrillo tidak ingin membayangkan kemungkinan lebih buruk.
"Tidak ada yang cukup berguna untuk senjata."
Gafrillo berdecak kesal. Dia berlari ke tengah ruangan. Pria itu berusaha mencabut kabel berlampu yang dililitkan pada rangka. Kabel Nya cukup alot. Gafrillo kesulitan memutuskan meski sudah menariknya sekuat tenaga.
Bunyi percikan air bergema keras. Kelana tersentak. Sesuatu melompat tinggi dari lubang di lantai, mendarat dengan delapan kaki. Pijakan Kelana dan Gafrillo bergetar. Gafrillo spontan menoleh. Mata mereka terbelalak seketika.
Melihat ikan sebesar kapal pesiar sudah biasa bagi mereka. Melihat makhluk hidup bersinar di perairan dalam pun biasa bagi Gafrillo. Binatang-binatang aneh di luar dinding kaca hanya Gafrillo anggap sebagai video. Sedari tadi, dia tidak berpikir kaca transparan itu menampilkan pemandangan sesungguhnya.
__ADS_1
Akan tetapi, makhluk ini sungguh di depannya, menjulang tinggi hampir sepertiga tinggi ruangan. Gafrillo bahkan tidak lebih tinggi dari kakinya.
"Bagaimana menjatuhkannya tanpa senjata?" Gafrillo berkeringat dingin.
Kelana tercekat. Tubuhnya memberat karena ketegangan. Dia tidak tahu bagaimana caranya kabur dari makhluk sebesar itu.
Makhluk itu memdkik nyaring. Kelana sontak menutup telinga. Suaranya membuat telinga berdenging tidak nyaman. Telinga mereka sampai terasa sakit.
Kemudian, makhluk itu berlari cepat, menjulurkan satu capitnya pada Gafrillo. Gafrillo lekas menghindar. Ragangan patah. Sebagian kabel putus. Gafrillo memegang kabel yang menjuntai.
Gafrillo tidak bisa menemukannya di kedua capit makhluk berwujud kepiting itu. Kedua matanya menonjol aneh, tegak 90 derajat dari tubuh. Bulu matanya berjajar kaku layaknya pisau yang dibariskan. Bola matanya seperti mata kucing, bersinar dalam keremangan. Kedua capitnya bisa memanjang dan memendek seperti pegas.
Kepiting raksasa itu berjalan mendekati Kelana. Saking syoknya, Kelana sampai terjatuh. Lutut lemas, tidak bisa diajak kompromi ketika dia membutuhkannya untuk melarikan diri. Tak ayal, bocah itu menangis.
__ADS_1
"Muntahkan Aeneas, Kepiting Obesitas! Lihatlah tubuhmu! Kau sudah kelebihan nutrisi!" Gafrillo melemparinya dengan bohlam. Lampu-lampu menabrak cangkang kepiting raksasa, lalu pecah.
Tangan Gafrillo terkepal erat. Dia tidak rela bila Aeneas sampai ditelan makhluk itu.
Makhluk itu memutar sebelah mata. Satu capit terjulur ke belakang. Gafrillo lekas berlari menghindari. Namun, capit memendek, lalu memanjang lagi secepat kilat. Gafrillo terpental karena terhantam ujung capit. Dia terdorong ke lorong arahnya berasal, lalu jatuh ke genangan air. Deburan keras mengudara.
Kelana menangis makin keras. Tubuhnya diangkat capit raksasa. Akan tetapi, makhluk itu tiba-tiba memekik lagi, lalu menjatuhkan Kelana. Kepiting bergerak mundur.
Gafrillo terbatuk-batuk. Dia berjalan terhuyung. Pukulan tadi sangat menyakitkan, sampai membuatnya muntah darah. Namun, Gafrillo tetap memaksakan kakinya untuk melangkah.
Dahinya berkerut manakala menyaksikan pemandangan mengherankan. Kepiting itu bergerak liar, menabrakkan diri pada dinding dan kaca. Ia memasukkan capit sendiri ke mulut. Kemudian, capit putus seolah ia baru saja menggigit capit sendiri.
Darah mengalir deras, berceceran di mana-mana. Kepiting kian menggila, tak henti-hentinya menabrakkan diri pada apa saja.
__ADS_1
Kelana muntah-muntah karena amis yang teramat menyengat. Bau bangkai dan nanh bercampur pada anyir yang perlahan memenuhi gedung.
"Ada apa dengan kepiting itu?" Gafrillo menatapnya lekat. Akan tetapi, dia lekas mengedarkan pandangan lagi, mencari-cari benda yang berguna untuk menjeratnya. Dia ingin memanfaatkan perilaku aneh si kepiting.