Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ke Kereta


__ADS_3

Stasiun yang awalnya sepi, kini bergemuruh seperti dikejar waktu. Berderap-derap saling sahut menyahut dari seluruh penjuru pintu keluar, bergerak layaknya air mengalir pada muara. Aliran tersebut menuju pusat Tsurumai Line, mengepung buruan cantik yang dijaga tiga ksatria.


Selusin pasukan menghadang di depan. Satu menyerukan supaya mereka mau berhenti dan menyerahkan sang gadis. Langkah sang gadis pun memelan. Rambut panjangnya bergoyang, terpengaruh kepala yang menolak penangkapan ini.


Kekhawatiran itu dijawab dengan teriakan Mitsuki. "Apa pun yang terjadi, tetap maju!"


Genggaman tangan Abrizar juga meyakinkannya. Lelaki itu diam, tetapi niatnya untuk melindungi Anki tersampaikan padanya melalui tangan yang saling tertaut. Tak sedikit pun laju dipelankan, membuat Anki mau tak mau menyelaraskan kecepatan.


Belum genap dua bulan mereka saling mengenal. Namun, menyelamatkan Anki adalah suatu keharusan baginya. Demikian pula dengan Sanubari dan Mitsuki. Ketiga pria itu memegang alasan sendiri-sendiri untuk memperjuangkan Anki.


Sanubari yang berada di belakang Anki dan Abrizar, mempercepat lajunya,, mendahului menubruk sekaligus melepaskan tendangan, membuat dua pria termundur. Tangan kanannya mengeluarkan bilah silet, mengantarkan gelombang kejut yang mengakibatkan tiga orang jatuh setelah bersinggungan.


Sanubari berhasil membuka celah. Namun, sedikit celah itu segera tertutup kembali sebelum sempat dilewati. Abrizar mengangkat tongkat, menyodokkan ujungnya pada perut pria bermasker. Anki terombang-ambing mengikuti pergerakan Abrizar. Lelaki itu seolah mempermainkan tubuh sang gadis, menarik ke sana ke mari untuk menghindarkan dari sentuhan para pria bermasker.


Mereka—lawan yang jatuh bangkit kembali. Rombongan Sanubari hanya bisa maju sedikit demi sedikit seraya saling bertukar serangan. Abrizar mengangkat tubuh Anki yang jatuh dalam pelukannya.

__ADS_1


"Anki, julurkan kakimu!" Pinta Abrizar dengan cepat.


Anki tidak mengerti, tetapi mengikuti instruksi Abrizar secara refleks. Lelaki itu berputar, membuat sepatu sport Anki mengenai pinggul pria bermasker. Beberapa musuh pun saling bertabrakan. Keduanya terlihat seperti pasangan penari yang sedang berlatih.


"Maaf, kakimu Pasti sakit," ucap Abrizar tidak enak hati.


Anki menggeleng. Membaca ada sedikit jalan terbuka, secepat kilat Abrizar mengubah posisi Anki. Sambil membawa tongkat dan membopong Anki, Abrizar berlari maju.


"Kak Abri, salah arah! Hadap kanan, maju lurus!" gegas Anki membetulkan haluan Abrizar.


Mitsuki yang telah berhasil menumbangkan beberapa orang pun berlari lagi seraya berteriak, "Sanu, lari! Tinggalkan saja mereka!"


Sanubari menyusul menuju peron. Keduanya memisahkan diri. Mitsuki bergerak ke kepala kereta, sedangkan Sanubari menuju pintu yang baru saja dilewati Anki dan Abrizar.


Gedebak-gedebuk masih saja sangat berisik di belakang Sanubari, disusul dengan rentetan menggelegar pemantik energi kinetik. Sanubari melompat masuk melewati pintu yang mulai tertutup. Peluru-peluru berkaliber kecil pun menancap pada pintu. Sementara proyektil-proyektil berkaliber dua belas koma tujuh kali lima puluh lima milimeter menembus pintu, memecahkan jendela.

__ADS_1


Beruntung, Sanubari jatuh terduduk setelah kening dan lututnya membentur pintu seberang dengan sangat keras. Remaja itu terbelalak kaku, sebuah peluru menancap pada pintu setinggi kepalanya dalam posisi duduk. Andaikan dia tidak jatuh, sudah dipastikan timah panas itu akan menembus pinggang atau mungkin punggungnya.


Begitu syoknya, sampai-sampai remaja itu tidak sadar bahu kanannya berdarah. Anki langsung menghampiri Sanubari yang tercenung menyangga tubuh setelah diturunkan Abrizar. Gadis itu melihat cairan merah merembes dari kaos putih Sanubari yang koyak.


"Sanu, bahumu terluka. Apa ada luka lain?" tanya Anki khawatir. Dia takut ada luka yang lebih parah.


"Aku baik-baik saja." Suara Sanubari bergetar selaras dengan tubuhnya yang seakan mengalami gempa lokal.


Ini kedua kalinya dia jatuh setelah menabrak kaca. Kedua kalinya pula terserempet peluru. Namun, dia belum juga terbiasa.


Kereta meninggalkan stasiun Fushimi. Para pria bermasker yang tersisa mengumpat. Mereka pun meninggalkan peron, mengabaikan pria berambut putih yang sedang duduk di kursi tunggu sambil menggigit stik Pocky.


Pria beriris secerah lautan itu berkata setelah satu bunyi tak, "Ah, aku ketinggalan kereta. Seharusnya aku tadi tidak turun."


Selesai mengucapkan itu, dia menggigit lagi stik yang baru saja digigit seraya membatin, "Tapi, tak apalah. Setidaknya dia selamat. Kepalaku nyaris saja terpenggal gara-gara mereka. Sepertinya aku harus memikirkan langkah berikutnya. Masinis ngawur itu memberangkatkan kereta tidak pada jadwalnya."

__ADS_1


Pria itu memandang pemberitahuan yang menyatakan bahwa seluruh kereta yang melewati Fushimi diberhentikan lebih awal hari ini, dan akan dioperasikan kembali besok pagi.


__ADS_2