Santri Famiglia

Santri Famiglia
Masa Lalu Aldin


__ADS_3

Penjaga gerbang menoleh. Dia menunda kegiatan menutup gerbang ketika seorang bocah menerobos. Pria itu menegur, "Anak Kecil, berhenti!"


Namun, anak itu tidak mengindahkan perintah itu. Pedal terus dikayuhnya. Bunyi perputaran gir mengiringi. Matanya mencari-cari Jin sampai lalai. Alhasil, dia terjebur kolam koi bersama sepeda mininya.


Perbedaan dataran yang tinggi mengakibatkan sepeda oleng. Aldin terjatuh. Air menciprat ke mana-mana.


Aldin gelagapan. Pikiran yang tidak siap membuatnya tenggelam, tidak mampu berdiri di kolam yang dangkal. Ikan-ikan yang menyentuh kulit membuatnya geli.


Aldin ketakutan. Dia ingin meminta tolong, tetapi kepala terendam dalam air. Karena panik, tubuhnya pun bergerak asal.


Dua pria dewasa turun ke kolam. Seorang mengangkat Aldin dari kolam. Seorang lagi mengeluarkan sepeda.


Mereka membawa Aldin ke gerbang. Air menetes sepanjang jalan. Aldin terbatuk-batuk. Hidungnya pengar.


Sampai di luar gerbang, Aldin diturunkan. Sepeda diserahkan padanya.


"Pulanglah, Nak! Kau basah kuyupp," ucap seorang pria.


"Tapi ...." Aldin enggan pulang. Dia masih berharap bisa masuk menemui Jin.


"Pulanglah! Kau bisa masuk angin."


Mereka masuk, mengunci gerbang. Aldin menunggu di sana sampai malam, tetapi Jin tidak muncul lagi. Hanya ada seorang pegawai jasa antar makanan yang muncul, lalu pergi.


Dia pantang menyerah. Keesokan paginya, Aldin kembali subuh-subuh. Dia berdiam diri, lalu pulang ketika lapar. Namun, penantiannya selalu nihil.


Hari berikutnya, Aldin mengulangi kegiatan. Dia berpapasan dengan mobil Jin. Sayang, mobil tidak mau berhenti untuknya. Aldin kehilangan jejak.


Hari berikutnya lagi, dia siaga di depan gerbang sejak pagi buta. Ketika matahari telah menerangi sebagian daratan, Aldin mulai berteriak-teriak, meminta diizinkan untuk menemui jin.


Hujan deras mengguyur. Namun, Aldin tidak pergi. Dia tetap berdiri di sana, menanti gerbang dibuka. Hingga siang berikutnya, dia pingsan akibat kelaparan dan Demam di depan gerbang. Begitu sadar, Jin telah berada di depan matanya.


"Aku salut dengan kegigihanmu. Besok, jika sudah sembuh, datanglah ke mari! Akan kuberikan sisa liburanku untuk mengajarimu. Tapi, aku tidak akan mengajarimu kalau kau baru kembali setelah dua minggu. Sekarang, pulanglah!" kata Jin waktu itu.


Aldin senang bukan main. Dia pulang dan kembali dua hari berikutnya. Jin menepati janji. Namun, baru dua hari jalan, latihan dihentikan.

__ADS_1


"Kak Jin, aku masih ingin berlatih! Aku akan berusaha lebih giat lagi. Jadi, jangan berhenti mengajariku!" mohon Aldin. Tekadnya sudah bulat. Dia ingin menyusul. Dia ingin mengungguli Sanubari.


"Kau harus belajar berjalan dengan benar. Kuasai tekniknya dalam dua hari! Jika tidak, jangan datang lagi!"


Sejak hari itu, Aldin belajar teknik melangkah dengan menyeret kaki ke depan, belakang, kanan, kiri, dan serong. Rupanya, Jin mengarahkannya ke olahraga berpedang lainnya. Hari ketiga setelah belajar melangkah, Jin memberinya pedang kayu. Dia mulai berlatih mengayunkan pedang dan latih tanding melawan Jin. Satu pekan berikutnya berlalu begitu saja.


"Kau sepertinya lebih cocok dengan olah raga ini daripada anggar. Satu tahun belajar, tapi permainanmu sangat buruk. Sementara ini, kau hanya belajar kurang dua minggu, tapi aku yakin kau bisa memenangkan kompetisi setidaknya tingkat kota."


Jin menenggak air mineral dari botol. Keringat bercucuran. Bogi masih melekat di tubuhnya kecuali pelindung kepala. Sama halnya dengan Aldin.


Pedang bambu—shinai tergeletak di antara mereka. Dua hari sebelumnya, Jin memaketkan perlengkapan kendonya. Dia memberikan bekas pakainya waktu masih anak-anak pada Aldin.


Itu membuat Aldin bertambah senang. Mendapatkan perlengkapan gratis, lalu memperoleh pujian berbakat dari Jin, kebanggaannya terhadap diri sendiri langsung melambung tinggi.


"Selanjutnya, kau hanya perlu mencari guru baru untuk meneruskan."


"Aku mau Kak Jin tetap menjadi guruku."


"Ini hari terakhirku di sini. Besok aku pergi."


Aldin sungguh berharap itu bisa terjadi. Dia merasa sudah cocok dengan Jin. Pikir Aldin, dirinya tidak akan bisa menemukan guru yang lebih baik bila Jin pergi.


"Kehidupanku tidak akan berjalan kalau tetap di sini. Kompetisi, kuliah, pekerjaan, dan urusan lain menanti. Jadi, meski bukan aku lagi pengajarmu, tetaplah berjuang! Kau harus bisa masuk kualifikasi paralimpiade atau olimpiade berikutnya!" tutur Jin tersenyum.


"Apa itu paralimpiade?"


"Olimpiade untuk difabel atau orang berkebutuhan khusus seperti kau ini. Kau mungkin bisa masuk kualifikasi atlet paralimpiade dengan kondisi mata seperti itu. Masak kau tidak tahu?"


Jin memberikan informasi tentang banyak hal. Berkat lelaki itu pula Aldin berhasil debut menjadi atlet dan memenangkan kompetisi. Namun, dia tidak pernah satu panggung dengan Sanubari.


"Jadi, karena itu kau selalu menantikan kedatangannya?" tanya Antonn.


"Begitulah."


Aldin tidak sabar ingin sampai rumah dan menemuinya. Empat tahun sejak pertemuan terakhir mereka, Aldin ingin mengetes seberapa jauh perkembangannya. Tingginya sekarang mungkin sudah setaraf Jin. Dengan tingginya sekarang, Aldin berpikir akan bisa mengalahkan Jin.

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman juru kunci kuburan, para pengikut berlutut. Dua pria duduk saling berhadapan. Dua pria lain berdiri merapat tembok, membawa tas panjang berisi pedang. Dua tas itu milik pria dua puluh delapan tahun yang sedang duduk.


Pria itu berkata, "Dari lima kematian, hanya satu yang masuk laporan. Penjelasan apa yang kau punya kali ini?"


Dialah Jin. Tatapan Jin begitu dalam. Wongso seakan tersedot ke kedalaman lensa gelap di hadapan. Dia terjerat, tidak bisa ke mana-mana. Mulutnya dipaksa memuntahkan kejujuran. Namun, dia tahu harus menahan sedikit fakta supaya bisa selamat.


"Itu karena ada kuburan baru yang dibangun. Terlebih lagi, kuburan itu gratis. Jadi, warga memilih untuk menguburkan jenazah ke sana."


Suara Wongso bergetar. Serangan kecemasan membuat jantungnya berdebar.


"Kau terdengar tidak yakin."


Tudingan Jin itu tepat sasaran. Udara terasa menyesakkan bagi Wongso.


"I–itu karena Anda membuat saya grogi."


Wongso tertawa canggung. Dia sangat berharap Jin akan segera pergi.


"Tapi, kami sudah membereskannya. Si biang kerok sudah dijebloskan ke penjara," lanjut Wongso segera.


"Kau tahu, Wongso? King sudah kehilangan kepercayaan pada keluarga ini sejak kasus juru kunci sebelumnya. Sekali saja kau ketahuan bermain-main, maka pembersihanlah yang akan menemuimu," ancam Jin.


"Anda tahu sendiri, Ketua Jin. Sejak menggantikan ayah, saya tidak pernah melakukan kecurangan, kan? Mana mungkin saya berani mendadak melakukan perbuatan semacam itu?"


Hening tercipta. Wongso berulang kali menelan ludah guna membasahi kerongkongan. Tatapan tajam pria di hadapan seakan mengulitinya. Satu demi satu tabir terkoyak, semakin dalam dan dalam. Wongso merinding, khawatir tatapan itu mampu menembus lapisan terdalam di mana kebohongan bersembunyi.


"Kau dalam pengawasan."


Selesai mengatakan itu, Jin berdiri. Dia pergi tanpa menyentuh minuman dan gorengan yang disuguhkan. Dua asistennya mengikuti. Pandangan Wongso mengantar kepergian mereka.


Lelaki itu baru bisa bernapas lega setelah mobil jin menghilang dari halaman rumah. Satu mobil lain masuk tidak lama setelah mobil Jin pergi. Wongso masih berdiri di teras, tersenyum melihat sosok yang keluar dari mobil.


"Aldin anak Bapak! Pulang juga kau, Nak!" sambutnya.


Mereka berpelukan, melepas rindu di bawah terik matahari. Para pengikut Wongso memberi hormat pada Aldin.

__ADS_1


__ADS_2