Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tentang Anki


__ADS_3

Sanubari menjelajahi sisi lain Osu. Sudah dua Minggu jalan sejak Sanubari bekerja di Onyoudan. Namun, baru area sekitar kantor saja yang diketahuinya. Dia dan rombongan berjalan melewati jajaran pertokoan. Mulai dari bangunan dengan sentuhan budaya populer sampai bergaya klasik yang memberikan kesan kuno pun ada.


"Sanu pernah ke maid cafe?" tanya Mitsuki ketika matanya melihat kafe dengan standy karakter anime terkini seukuran manusia di kanan jalan.


"Mad cafe?" Sanubari membalas tanpa mengalihkan pandangan dari hiruk pikuk orang lalu Lalang.


Di tengah arus manusia yang berjalan kaki ke segala arah ini, ternyata ada satu, dua pengendara sepeda. Terlihat seorang pengendara sedang berhenti di perempatan jalan. Pemuda itu tidak mengayuh pedalnya kembali sebelum gerombolan pejalan kaki benar-benar lewat.


Adapun orang-orang yang searah dengan rombongan Sanubari, sama-sama memakai baju tradisional. Sanubari sempat memperhatikan gadis-gadis Jepang dengan pakaian serupa dengan Anki. Mereka bersenda gurau. Tidak ada satu pun yang lebih menarik dari Anki. Padahal, riasan dan pakaian Anki jauh lebih sederhana.


Sementara itu, Mitsuki yang mendengar intonasi tanya dari balasan Sanubari pun menunjuk kafe berjarak sekitar lima meter di depan. Dia berkata, "Seperti kafe di sana itu! Gadis-gadis berpenampilan pelayan gotik akan melayani kita bila datang di hari Senin sampai Jumat. Sementara di hari Sabtu Minggu, para pelayan akan cosplay. Cobalah sesekali! Itu cukup menyenangkan."


Awalnya, Sanubari tidak tertarik. Namun, perkataan Mitsuki berikutnya membuat sepasang netra Sanubari tertuju padanya. Bagaimana tidak, bila yang dikatakan Mitsuki adalah, "Dulu, Anki pernah bekerja paruh waktu di sana. Aku bahkan pernah menyuruhnya berperan sebagai kekasihku saat aku sengaja datang ke kafe setelah mengetahui kabar itu. Dan kau tahu apa yang terjadi?"


Anki langsung meninju lengan Mitsuki. "Jangan membahas itu!"


Mitsuki tertawa. "Itu kenangan yang manis. Kamu juga memukulku hari itu."


Melihat Mitsuki yang tidak juga berhenti, Anki beralih mencubit lengan Mitsuki. Dia tidak ingin Sanubari dan Abrizar mendengarnya. Dengan rasa kesal bercampur malu, Anki mengucapkan, "Sudah kubilang jangan bicarakan itu!"


"Aw," Mitsuki berpura-pura meringis sambil mengusap lengannya, "Sayangnya, itu masa kerja yang sangat singkat. Padahal, akan lebih bagus bila kamu lebih lama di sana. Coba saja kalau waktu itu tidak ketahuan kak Eiji."


Mitsuki masih saja bercerita setengah bercanda. Sedangkan bola mata Sanubari bergerak mencari bangunan yang dimaksud. Karena tangan Mitsuki telah diturunkan saat Sanubari mulai memperhatikan, dia kehilangan jejak.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan dari rumah, di kereta, sampai keluar stasiun, Sanubari mendengar banyak hal tentang kisah persahabatan Anki dan Mitsuki dari mulut Mitsuki. Seakrab apa pun mereka, keduanya tidak pernah menjalin hubungan di luar itu. Anki sendiri juga menjelaskannya.


Dari seluruh isi percakapan, hanya topik yang baru saja dibahas benar-benar mengusik pikiran Sanubari. Pura-pura jadi kekasih, cosplay, gotik—semua itu membuat Sanubari ingin membayangkannya. Namun, imajinasinya tak sampai. Remaja itu tidak tahu apa itu gotik, maid cafe, dan segala yang berhubungan dengannya.


"Lelaki yang banyak bicara dan sangat terbuka," batin Abrizar yang menjadi pendengar setia di antara mereka.


Kesupelan Mitsuki membuat siapa pun akan menggiring setiap orang untuk memberikan penilaian bahwa lelaki itu memiliki kecenderungan absolut baik. Kendati demikian, kecurigaan Abrizar terhadapnya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Ada sesuatu dalam dirinya yang menyuruh Abrizar untuk selalu waspada bila berada di sekitarnya.


Keempatnya memasuki sebuah gedung. Sebuah Baner besar terbentang di langit-langit menyambut mereka. Baner tersebut bertuliskan 'Utagaruta Taikai' dalam huruf Jepang. Tulisan kaligrafi Jepang tersebut memancarkan keeleganan dalam kesederhanaan dengan ranting-ranting berkelompok sakura sebagai latar.


Ikebana—rangkaian bunga Jepang mendekorasi beberapa sudut. Lukisan gulung pun tidak ketinggalan. Panitia acara langsung menyambut mereka, membimbing peserta untuk registrasi ulang dan menuju tempat peserta. Para panitia juga memandu pengunjung yang ingin ke area bazar atau menyaksikan pertandingan.


Keempatnya berpisah. Anki pergi bersama Mitsuki. Sementara Sanubari dan Abrizar mengamati mereka berdua dari kursi khusus penonton. Alunan musik menenangkan diperdengarkan sebelum pertandingan dimulai.


"Bos, ada tiga pria bersamanya. Rasanya mustahil bila aku sendirian," lapornya dengan suara cukup lirih pada seseorang di seberang telepon.


———©———


Catatan :


Sepertinya ada komentar yang terkena sensor platform lagi. Pemberitahuan ada komentarnya masuk. Tetapi waktu saya klik untuk memberi balasan, komentarnya hilang. Ini terjadi beberapa kali. Saya pun kurang tahu daftar kata apa saja yang membuat komentar teman-teman sekalian disembunyikan pihak platform.


Andaikan tahu, mungkin kita bisa menggunakannya sebagai acuan supaya komentar tidak tercekal badan sensor platform. Kalimat yang saya anggap biasa, ternyata mengandung kata terlarang. Ini sulit dikenali.

__ADS_1


Hm, mungkin kita harus bersama-sama meningkatkan kepekaan untuk menyensor kata sendiri supaya tetap bisa berinteraksi melalui kolom komentar. Haha.


Menulis komentar itu sulit. Saya pun tidak cukup kreatif untuk menorehkan sebuah komentar. Mungkin juga lebih sukar dari menulis cerita itu sendiri. Entahlah. Haha.


Ngomong-ngomong soal cerita, saya pun sebagai penulis sering lupa siapa saja tokoh yang sudah saya buat dan bagaimana alur yang berlangsung. Untuk menjaga kekonsistenan, tentunya saya harus membaca ulang bab-bab tertentu (sekalian revisi kecil-kecilan), daftar tokoh pun terkadang perlu saya intip.


Jangankan mengingat separuh jalan, menulis satu baris saja terkadang lupa. Alhasil, ada kalimat yang berulang atau hilang. Kebiasaan buruk paling parah adalah typo bertebaran ketika kejar tayang.


Itulah beberapa hal yang membuat proses menulis terkadang lebih lama. Ditambah lagi, risetnya sambil jalan. Ini pula yang membuat saya belum bisa up tiga episode sekaligus seperti penulis lain. Saya belum sehebat dan selancar mereka dalam mengetik. Hehe. Semoga bisa dimaklumi.


Oh iya, ada juga tokoh-tokoh lama yang akan muncul lagi karena peran mereka sebagai pendukung belum selesai. Sebagian mungkin sudah bisa ditebak. Termasuk si Damiyan.


Dia mah kerjaannya jalan-jalan santai di balik layar selama Sanubari bisa mengatasi masalahnya. Akan benar-benar beraksi bila suatu saat terdesak. Ketika Sanubari tenggelam pun aslinya Damiyan ada di sekitar pusat kontrol bangunan—siap menolong kapan pun. Tapi, kebanyakan kegiatan Damiyan belum ditulis di sini.


Astaga!


Ini catatan panjang amat. Sudah seperti curhatan saja.


*Utagaruta Taikai' : pertandingan utagaruta


*Utagaruta : permainan kartu Jepang.


Permainan yang membutuhkan kecerdasan dan kecepatan. Seperti apa permainannya?

__ADS_1


Saya akan mencoba menarasikannya secara sekilas di episode berikutnya. Semoga bisa.


__ADS_2