
Sekitar setengah sembilan pagi, Sanubari tiba di Stasiun Tokyo. Dia menjadi satu-satunya penumpang yang keluar dari gerbong. Peron tempatnya berpijak tampak lengang. Namun, Ada petugas stasiun yang menyadari kedatangannya.
Dengan berpura-pura linglung, Sanubari menyambut petugas tersebut. Dia pun dibawa ke kantor petugas dan diinterogasi.
"Kereta hantu?" tanya petugas tersebut mengerutkan dahi setelah mendengar penjelasan Sanubari.
Sanubari yang duduk dihadapannya pun mengangguk. "Mungkin saja."
Dia memang mengarang cerita bahwa dirinya berangkat dari Hokkaido pagi ini pukul enam pagi. Menurut pengakuannya, kereta pagi itu sangat padat. Saat kereta berhenti pun gerbong masih penuh. Siapa sangka, setelah dia keluar, seluruh penumpang dalam kereta lenyap begitu saja.
"Jika Hayabusha tadi memang berangkat pukul enam pagi, seharusnya kau tiba di sini sekitar pukul dua siang. Tidak mungkin perjalanan yang kau tempuh hanya memakan waktu dua setengah jam. Coba lihat ini!" Petugas stasiun itu menyodorkan tablet pada Sanubari.
Di sana tertera jadwal keberangkatan serta estimasi waktu yang diperlukan. Sanubari hanya melihatnya sekilas, lalu bertanya, "Memangnya sekarang jam berapa?"
"Kau bisa melihatnya sendiri di pojok kanan atas."
Sebenarnya, Sanubari pun sudah memperhatikan jam tersebut. Pukul sembilan lebih sedikit. Dia membelalakkan mata. Ternyata, cukup lama juga dia ditahan petugas stasiun ini. Setelahnya, dia pun menggeleng.
"Tidak mungkin. Semalam aku mendapat kabar bahwa saudaraku tertimpa musibah. Jadi, aku pergi ke stasiun dengan tergesa-gesa. Kira-kira pukul setengah dua belas malam."
Sanubari menggerakkan bola matanya ke atas, seolah sedang mengingat-ingat. Dia tidak sepenuhnya berbohong pada poin ini, sehingga bisa agak tenang saat mengucapkan. Angannya memikirkan Anki dan Eiji ketika bercerita. Dirinya beranggapan, mungkin tidak ada salahnya menganggap Eiji sebagai saudara yang tertimpa musibah.
Toh, lelaki itu memang mendadak pergi karena adiknya tiba-tiba menghilang, dan Sanubari menyusul untuk membantunya. Sanubari mencoba mencari pembenaran atas tindakannya.
"Aku langsung ke agen travel dan menanyakan kereta yang langsung berangkat malam itu juga. Sayangnya, tidak ada. Dengan sangat terpaksa, aku membeli tiket Shinkansen pertama. Petugas stasiun membiarkanku menunggu dalam peron. Entah berapa lamanya, hingga peron yang awalnya sepi menjadi ramai, dan kereta siap berangkat. Aku pun masuk."
__ADS_1
Sanubari menjeda ceritanya sejenak. Dia menunduk. Tak perlu berpura-pura, wajah pucat Sanubari nmembuat petugas stasiun mengiranya ketakutan. Sanubari memelankan suara, lebih mendramatisasi kalimat berikutnya.
"Saat transfer di stasiun Shinhokudate, aku bertemu hantu menyeramkan. Kepalanya mengambang di atas badannya. Dia tak punya leher. Karena ketakutan, kupukullah hantu tersebut sampai tumbang. Lalu, bergegas naik kereta berikutnya." Sanubari menyentuh tengkuknya.
Dirinya yang berusia sepuluh tahun mungkin tidak akan berani membahas cerita semacam ini. Sanubari menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Waktu benar-benar membuatnya berubah.
Tiba-tiba, telepon berdering. Petugas stasiun pun mengangkatnya. Ekspresinya berubah setelah mendengar dari seberang. Dia sesekali memandang dengan raut muka aneh pada Sanubari, mencoba mencerna informasi sambil membandingkan keterangan dari Sanubari.
Petugas dari seberang mengatakan bahwa ada pencuri kereta peluru beriris hijau dengan rambut hitam. Cocok sekali dengan ciri-ciri Sanubari. Orang itu juga mengatakan bahwa pencuri itu membuat pingsan seorang petugas. Sementara Sanubari baru saja berkata bahwa dia memukul sesosok hantu.
Petugas stasiun tersebut hanya memiliki tiga spekulasi. Antara Sanubari berbohong, tidur sambil jalan, atau orang gila delusif. Keterangan Sanubari memang tidak masuk akal, tetapi kurang bijak bila mengambil keputusan tanpa penyelidikan. Kereta yang dimaksud pun kini terparkir di stasiun. Jadi, Sanubari tidak bisa disebut sebagai pencuri.
"Apa aku boleh pergi sekarang?" tanya Sanubari begitu petugas stasiun menutup telepon.
"Kau tunggu di sini sebentar!" Petugas stasiun itu bangkit.
"Terkunci."
Sanubari kembali duduk dengan pasrah. Dia berpikir keras. Dia sudah menciptakan alibi sesempurna mungkin. Dia tidak boleh menghancurkannya dengan bertindak gegabah.
Berkaca pada kejadian di kantor Onyoudan sebelum pergi ke Osaka, Sanubari yakin di tempat ini pun pasti ada kamera pengawas. Dia harus terlihat tenang, seolah tidak tahu apa-apa. Jika kabur sekarang, Naka dapat dipastikan statusnya akan naik menjadi buronan.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Sampai kapan aku harus ada di sini?" benak Sanubari kebingungan.
Dia ingin segera menemukan Anki. Akan tetapi, keadaan membuatnya terjebak di sini. Hatinya gelisah. Kedua telapak tangan yang terkepal pun mendingin. Bahkan, tubuhnya mendadak merinding. Dengan debaran yang tak terkontrol, sekujur tubuh Sanubari bergetar.
__ADS_1
Di luar ruangan, petugas stasiun tersebut terus berjalan, menuju peron yang telah diamankan. Tidak ada pengunjung yang diizinkan masuk. Di jalan keluar masuknya dipasang papan peringatan.
Pihak stasiun bergerak dengan cepat. Beberapa teknisi hadir untuk memeriksa kereta. Kepala stasiun pun turut hadir di lapangan bersama beberapa polisi.
Petugas kepolisian mengumpulkan bukti untuk menangani kasus. Melakukan segala teknik, seorang petugas mencari-cari sampel sidik jari pada kabin masinis. Namun, dia tidak bisa menemukan apa pun. Dia beralih mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti lainnya.
Di salah satu sisi peron, kepala stasiun berdiri dengan kedua tangan saling tertaut di belakang punggung. Dia mengamati jalannya pemeriksaan.
"Ekiin Chou!" Petugas stasiun yang mengunci Sanubari, memanggil kepala stasiun.
"Doushita?" Kepala stasiun itu menoleh, bertanya ada apa.
"Saki no Shounen nan desu ga,Kare no tokuchō wa, genkyū sa reta dorobō to hijō ni nite imasu." Petugas stasiun tersebut mengatakan tentang kemiripan Sanubari dengan pencuri yang dimaksud.
Dia juga menceritakan semua yang dikatakan Sanubari padanya tanpa terkecuali. Kepala stasiun mendengarnya sambil mengangguk-angguk. Dirinya sendiri tidak percaya dengan yang disebut hantu. Dalam pikirannya, Sanubari pastilah hanya beralasan.
"Anata wa keisatsu ni sore o tsugerubeki desu!" Kepala stasiun menyuruhnya untuk mengatakan segala yang diketahuinya kepada pihak kepolisian.
Begitu pihak kepolisian selesai melakukan pemeriksaan, teknisi pun diizinkan melakukan pekerjaannya. Mereka harus memeriksa kondisi mesin.
"Dou deshita?" Kepala stasiun menanyakan hasil penyelidikan ketika inspektur datang padanya.
"Shimon shōgō to mashin chekku no kekka o matsu hitsuyō ga arimasu. Tashikana shōko ga nakereba, taiho wa fuchūi ni jikkō suru koto wa dekimasen."
Inspektur tersebut mengatakan bahwa penangkapan tidak bisa dilakukan asal-asalan tanpa bukti yang kuat. Untuk itu, mereka harus menunggu hasil pencocokan sidik jari dan pemeriksaan mesin.
__ADS_1
"Kensankan san, Ano Shinkansen kara, tada hitori no orita jyoukyaku wo mita no desu ga ...." Petugas stasiun itu memberitahukan kesaksiannya yang melihat satu-satunya penumpang yang turun dari kereta tersebut.
Seakan tertarik, inspektur itu pun memandang si petugas stasiun. Para staf kepolisian sedang bekerja keras mengolah bukti. Mereka juga baru saja menerima rekaman kamera pengawas dari stasiun-stasiun sebelumnya, serta laporan dari kontrol pusat perkeretaan.