
Cahaya matahari menerobos masuk melalui petak-petak kertas Jepang tembus cahaya, tetapi semi transparan. Biasnya menyinari ruangan tradisional berdinding kayu, memberikan cukup penerangan bagi tiga orang yang duduk dalam ruangan tersebut.
Seorang tak butuh cahaya untuk melihat, sedangkan satu lagi dalam kondisi tidak sadar. Keempatnya tampak serius memusatkan perhatian pada satu raga yang terbaring, entah itu dengan mata kepala atau hati masing-masing.
Segala perlengkapan kedokteran yang tertaut pada gawai diterapkan pada pemuda itu, hingga satu per satu hasil muncul. Semua normal. Hanya saja, kadar hemoglobinnya sangat rendah dan suhu tubuhnya melampaui batas normal.
Darah yang keluar dari hidung masih mengalir. Di seberang pria yang memeriksa itu, Anki mengelap sedikit demi sedikit darah.
Dua bilangan pada layar enam koma lima tiga inci itu membuat dokter dua puluh enam tahun mengambil satu keputusan. "Sebaiknya, anak ini dibawa ke rumah sakit."
Rumah sakit adalah prasarana yang tidak ingin Eiji kunjungi sama sekali saat ini. Para Yakuza itu telah melihat Sanubari membantunya membebaskan Anki. Eiji khawatir Onyoudan akan dengan mudah menemukan jejak Sanubari, lalu mengirimkan tim eksekusi untuk menghakimi remaja tak berdosa itu.
"Tidak bisakah dirawat di sini saja?" Bukannya ingin menghalangi pengobatan Sanubari, tetapi Eiji benar-benar memikirkan keselamatan Sanubari. Dia ingin yang terbaik dengan minim risiko.
Dokter menggeleng lemah. Dia mengarahkan layar ponsel pada Eiji, lalu menjelaskan, "Eiji Kun, suhu tubuhnya terlalu tinggi. Empat puluh satu koma lima derajat celcius—ini bisa membahayakan nyawanya jika tidak segera ditangani dengan tepat. Belum lagi, di sini tidak ada peralatan lengkap untuk melakukan perawatan dan pemeriksaan menyeluruh."
Eiji mengalihkan pandangan pada Sanubari. Bibir pemuda itu masih sepucat sebelumnya, wajah dan kulitnya pun memerah. Entah berapa kali Eiji meliriknya.
"Tetapi kami sekarang sedang ...." Eiji hendak berterus terang. Namun, kehadiran kakeknya dalam ruangan itu membuat kalimatnya terjeda.
"Lakukan yang terbaik, Dok! Selamatkan Sanu!" Anki dan Abrizar mengucapkannya bersamaan.
Beruntung, ketika Abrizar meminta Anki menerjemahkan percakapan sebelumnya, sang dokter menyahut bahwa dia bisa berbahasa Indonesia. Sehingga, Abrizar bisa memahami hasil pemeriksaan ini tanpa bantuan interpreter.
"Tentu, akan kuusahakan sebaik mungkin!" Dokter itu mengangguk.
"Dokter, jika memungkinkan, tolong rahasiakan identitasnya dan bisakah aku meminta kamar khusus untuknya? Kamar yang tidak bisa dimasuki dan diketahui sembarang orang?" dengan penuh harap, Eiji mengucapkannya.
Dia tidak peduli lagi apa yang akan kakeknya katakan setelah ini. Dalam hati, Eiji telah mengaku salah dan kalah. Semua ini terjadi karena dirinya.
"Itu bisa diatur." Dokter tersebut tersenyum sambil merapikan barangnya, "Aku akan segera menghubungi pihak rumah sakit. Siapkan mobilnya! Kurasa itu lebih cepat daripada menunggu ambulans."
__ADS_1
Eiji berbalik pada kakeknya. "Kakek, bolehkah aku ...."
"Temui Mahiru! Dia yang menyimpan kuncinya."
Eiji senang, kakeknya itu tidak menghalanginya. Dia pun lekas berdiri. Namun, ketika dia sampai ke mulut pintu, pria tua itu menghentikannya dengan sebuah panggilan.
"Eiji!"
Cucu sulung Raiden itu menunda langkah, lalu menoleh. Raiden memandangnya dalam posisi duduk.
"Temui aku setelah ini!"
"Baik." Eiji mengangguk singkat, lalu melenggang pergi, mencari pendeta yang tadi menjemputnya.
Lelaki itu ternyata ada di tempat penjualan souvenir, jimat, dan segala pernak-pernik kuil lainnya. Dia lekas meminta apa yang dibutuhkannya dengan tambahan sebuah masker. Setelah memasang masker, dia meminta bantuan Mahiru untuk mengangkat kembali Sanubari.
"Anki, kau di sini saja bersama Kakek!" titah Eiji begitu berada di kamar sebelumnya lagi.
"Kau aman di sini. Jangan membantah!" bentak Eiji yang kemudian berlalu.
Raiden memegang bahu cucu perempuannya. Mereka berdiri, menatap kepergian para lelaki. Gadis itu hanya bisa memasang wajah murung dengan sorot tak ikhlas ditinggalkan.
"Jelaskan pada kakek, apa yang sebenarnya terjadi?" Raiden tidak memaksa cucunya untuk berbicara, meski kalimat itu terdengar seperti perintah. Namun, dia hanya ingin cucunya itu terbuka padanya.
"Setelah kau pulang, dua teman lelakimu menemuiku. Katanya, kau tidak ada di rumah." Raiden memancing Anki yang masih terdiam cemberut.
"Malam harinya, pria buta bertongkat kembali mencarimu, tetapi kau masih tidak ada juga."
"Kak Abri."
"Ah, iya, namanya Abrizar. Akhirnya, kuputuskan untuk menginap di rumah kalian malam itu, sampai pagi ini. Firasat kakek tidak enak. Kakek tidak tahu harus mencarimu ke mana. Sementara Kakakmu tidak bisa dihubungi sama sekali."
__ADS_1
Anki berbalik badan. Dia memeluk kakeknya terisak. Tidak disangka, dirinya telah menyusahkan banyak orang. Meskipun itu bukan kemauannya sendiri, tetap saja Anki merasa menjadi beban. Dirinya hanya bisa merepotkan orang lain dan tidak berguna.
"Kenapa selalu seperti ini?" keluh gadis itu sesenggukan sembari meremas erat punggung kimono kakeknya.
Di sisi lain kuil, keributan terjadi. Beberapa orang
"Anata sama, katte ni haitte wa ikemasen yo!" Seorang pendeta mencekal pria yang sembarangan masuk ke tempat yang tidak seharusnya.
Peringatan itu berbalas tatapan tajam dari pengunjung asing itu. Dia melepaskan tangan pendeta itu dari tubuhnya, lalu dengan ketus membalas, "Kono basho o sōsaku suru meirei ga aru."
Meskipun diberi tahu seperti itu, sang pendeta tidak langsung percaya. Selama ini, tidak pernah ada perintah penggeledahan semacam itu. Ditambah lagi, orang-orang ini bertindak berlebihan.
"Dare kara desu ka?" Pendeta itu mencoba mengorek informasi sumber perintah tersebut. Perintah itu menurutnya cukup lancang.
Dia bertanya-tanya siapa orang yang telah mengirim orang-orang tidak tahu sopan santun ke tempat peribadatan suci seperti ini. Terlalu banyak orang. Mereka bahkan ada yang masuk bangunan utama seenaknya. Sangat disayangkan, pendeta itu tidak bisa membelah diri untuk menghentikan aksi mereka.
Rombongan Eiji berpapasan dengan dua di antara mereka. Langkah keempatnya pun terhenti.
Jantung Eiji tersentak ketika pria di hadapannya dengan tidak ramah bertanya, "Omaera, Shiragami Anki o Doko ni kakushiteru no?"
Gaya bicaranya dibuat-buat, penuh penekanan pada konsonan r. Khas sekali seperti Yakuza beringas dengan intonasinya yang meledak-ledak.
"Apa yang mereka katakan? Kenapa nama Anki disebut?" Abrizar kebingungan. Inilah hal menyusahkan yang harus dihadapinya ketika keluar sendiri tanpa Sanubari. Dia sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan orang lokal semacam ini.
Dia cukup beruntung karena bahasa Indonesia telah menjadi bahasa internasional utama, bersanding dengan Inggris dan Korea. Jika bukan karena itu, Abrizar tidak akan pernah bisa berbaur dengan orang-orang yang sekarang di sisinya ini.
Eiji mendesak kesal. "Tidak kusangka mereka akan datang secepat ini."
Pada titik ini, hati Eiji gelisah. Dia masih harus mengantar Sanubari ke rumah sakit. Sementara adiknya masih di area kuil. Bagaimana dengan adiknya bila dia pergi, Eiji tidak bisa membuang pikiran itu. Posisinya terjepit sekarang.
Mendengar itu, Abrizar berkonsentrasi memindai area sekitar dengan ketajaman pendengaran, serta rambatan getaran di permukaan. Setiap bunyi dan suara terpetakan dalam kepala layaknya proyeksi tiga dimensi bentang alam sekitarnya. Benaknya mulai menghitung dengan mengecualikan orang-orang yang diketahuinya.
__ADS_1
"Sekitar dua puluh orang."