
Angin mengabarkan padanya untuk bergerak ke kiri. Secepat yang dia bisa, Abrizar mengayunkan kaki. Namun, timah panas susulan mengikutinya.
Tunanetra itu menekan sebuah tombol pada tongkat bajanya. Direct Current (DC) atau arus searah dengan segera mengubah tongkatnya menjadi elektromagnet. Tongkat hitam milik Abrizar ini memang didesain dengan berbagai fitur khusus. Tentunya sesuai dengan permintaannya.
Toya difabel terangkat ke atas secepat mata berkedip, terayun sana sini, menangkap proyektil yang gagal dihindari. Misil yang meleset dari jangkauan tongkat pun tertarik gaya magnet. Seperti yang diharapkan dari peralatan besutan BGA. Hasilnya tidak pernah mengecewakan.
Para orang Jepang tercengang. Mereka bertanya-tanya bagaimana semua peluru itu bisa ditangkis. Beberapa yang menempel pada tongkat pun rontok seperti biji jagung yang berguguran. Walaupun begitu, mereka masih mencoba menembak sampai mengganti magazine. Hasilnya, sama.
Jirou memerintahkan mereka menembak dari dua sisi. Abrizar menekuk tangan, membentuk lintasan busur. Pria berkacamata hitam itu bahkan bisa mematahkan jalur pelurusambil berlari maju.
Tidak satu pun bunyi kecil yang dilewatkan telinga Abrizar. Semua getaran dikirimkan rumah siput pada cerebrumnya.
Lobus temporal mengatakan padanya, "Enam orang."
Sementara lobus parietal memberitahukan posisi mereka. "Dua di depan, satu arah jam dua, dan tiga sebelah kanan."
Otak Abrizar benar-benar bekerja dengan sangat baik. Lobus frontal bahkan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat. Tangan diperintahkan untuk mengarahkan tongkat ke depan, bergerak dari bawah ke atas agak menyerong. Dalam dua pukulan, dua pistol terlempar ke keramik.
Dua pria Jepang menjerit. Ujung tongkat Abrizar yang mengenai pergelangan tangan mereka dengan sangat keras, sungguh menyakitkan. Telapak tangan kedua Jepang itu sampai bergetar nyeri, lemas seakan kehilangan tenaga.
__ADS_1
Abrizar mengayunkan tongkatnya ke arah lain. Gerakan itu nyaris saja mengenai Jiro. Lelaki itu menggeser tubuhnya untuk menghindari Abrizar.
"Chikuso!" umpat Jiro yang terus dikejar serangan Abrizar.
Yang lain tidak berani menembak karena takut mengenai rekan sendiri. Formasi mereka menjadi kacau. Abrizar sama sekali tidak memberi kesempatan pada Jiro untuk menembak tepat sasaran. Sebagian pelurunya bahkan bersarang di langit-langit.
"Shou ga nai na." Jiro tak punya pilihan lain. Dia menyimpan pistol, lalu menghadapi Abrizar dengan tangan kosong. Lelaki itu menangkap tongkat yang mengarah padanya dengan kedua tangan, berusaha merebut satu-satunya senjata dari sang pemilik.
Sang Empunya tersenyum. Detik berikutnya, Jiro melepaskan pegangannya dengan satu teriakan panjang. Dia mengambil jarak seraya mengibaskan tangan. Rasanya seperti baru saja tersetrum. Andaikan Jirou tidak memakai sarung tangan, mungkin tangannya sudah melepuh saat ini.
Abrizar memang baru saja melepaskan aliran listrik dengan voltage cukup tinggi, tetapi masih dalam batas toleran manusia. "Jangan mengambil apa yang bukan menjadi hakmu! Tongkat ini hanya mau disentuh pemiliknya."
Mereka tidak pernah menyangka akan direpotkan hanya dengan satu orang. Tarou lekas mengambil tindakan. Dia memandang pada anggotanya yang masih siaga.
"Omaera, kanojo wo oe!" Perintah pengejaran itu keluar dari mulut Tarou.
"Gawat!" batin Abrizar terperangah.
Dia tidak mengerti ucapan Tarou. Akan tetapi, dia bisa mendengar empat orang berlari ke arah Anki pergi sebelumnya. Abrizar ingin menyusul. Sayangnya, Tarou dan Jirou menghalangi.
__ADS_1
Di balik tembok tidak jauh dari tempat Abrizar berkelahi.
Anki bersandar pada dinding tanpa berani mengintip. Dia terlalu takut terkena tembakan yang melesat ke segala arah. Di saat yang bersamaan, dia juga mengkhawatirkan Abrizar yang terkepung.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" Anki panik.
Dia berharap Abrizar akan segera menyusul. Sampai saat itu tiba, dia akan menunggu di sini. Sempat terbesit untuk kembali ke tempat Sanubari dan Mitsuki guna meminta bantuan. Namun kemudian, dia ingat mereka pun sedang dalam masalah.
"Polisi ... ya, aku harus telepon polisi!"
Anki mengambil ponsel. Dengan berdebar-debar, dia mencoba mendial nomor darurat kepolisian. Beberapa kali diulanginya, telepon tetap tak tersambung.
"Kenapa tidak bisa dihubungi?" Anki kian panik. Dia memikirkan siapa yang bisa dimintainya bantuan.
"Kakek, kakak." Dua sosok itu terbayang dalam benak Anki. Tangan gemetarnya bergegas mencari nomor salah satunya. Dia lebih mendahulukan sang kakak yang bekerja di lokasi tidak jauh dari tempat kejadian.
"Ketemu."
"Mitsuketa."
__ADS_1
Dua bahasa satu makna itu terucap bersamaan ketika Anki baru saja hendak menekan tombol panggilan. Sesaat napasnya tertahan. Beberapa pria bermasker didapati Anki telah berdiri kurang dari satu meter di sebelahnya begitu kepala tertoleh kaku.