Santri Famiglia

Santri Famiglia
Perjalanan


__ADS_3

Kata meledak membuat Sanubari merinding. Dia tidak memiliki dasar ilmu kedokteran. Jadi, kurang paham bagaimana otot atau pembuluh darah bisa meletus. Membayangkannya saja sudah membuat Sanubari bergidik ngeri. Kelana dan Canda benar-benar menakutinya.


Kelana meninggalkan tempat berkumpul sesaat. Pembicaraan tidak dilanjutkan setelah kembali. Dia mengajak mereka semua ke ruang makan.


Begitu memasuki ruang makan, mereka disambut ucapan serempak dari para pelayan. "Selamat ulang tahun, Tuan Muda Sanu!"


Bio, Reste, koki, dan pelayan lain berbaris rapi. Mereka tersenyum lebar menyambut Sanubari.


Pemuda itu terbeliak. Di atas meja, tersaji berbagai kudapan dan makanan berat. Di tengah, terdapat singkong keju yang disusun seperti gunung. Berdiri singkong goreng yang dibentuk menjadi angka sembilan belas di puncaknya. Singkong angka itu menyala seperti lilin.


"Tanggal berapa sekarang?"


Sanubari tidak pernah memperhatikan bulan dan tanggal sejak berhenti sekolah. Itu tidak terlalu berguna baginya.


"Lima Mei. Ini hari kelahiranmu," jawab Aeneas tersenyum.


Dia senang bisa berkumpul dan merayakannya bersama Sanubari hari ini. Tahun lalu, dia gagal memberikan hadiah pada Sanubari karena pemuda itu mendadak sakit. Kali ini, meski musibah lain menimpa sang putra, tetapi kondisi pemuda itu lebih baik secara mental dibandingkan tahun sebelumnya.


"Terima kasih."


Sanubari memeluk ayahnya. Dia terharu dengan kejutan kecil ini.


"Ayo cepat tiup singkong itu sebelum menjadi singkong gosong!" ucap Renji yang ditanggapi dengan anggukan oleh Sanubari.


Mereka makan bersama. Setelahnya, Aeneas memberikan dua kunci pada Sanubari. Mata Sanubari berbinar melihat kunci-kunci bergantungan seperti dompet lipat.


"Ini, aku mendapat dua mobil untuk hadiah ulang tahunku?"


Sanubari mengangkat kepala. Dia menatap Aeneas dengan luapan kebahagiaan.


Kelana menjawab, "Bukan. Itu kunci pesawat jet dan vila di sebuah pulau pribadi."

__ADS_1


Beberapa tahun yang lalu, Aeneas membeli tanah-tanah warga di salah satu pulau Indonesia hingga satu pulau menjadi miliknya. Dia membangun bandara kecil di sana, juga vila megah. Awalnya, dia hanya ingin menjadikan tempat itu sebagai tempat bersantai bersama keluarga.


Namun, Sanum telah tiada. Aeneas kehilangan selera untuk berlibur. Belum lagi, dia tidak memiliki kebebasan bergerak bersama anak-anaknya. Jadi, dia memutuskan untuk memberikan itu pada Sanubari yang sering kabur-kaburan.


Hadiah yang seharusnya diberikan tahun lalu, tetapi tertunda. Kendati demikian, Aeneas bersyukur. Karenanya, dia bisa menyerahkannya sendiri secara langsung.


"Tapi aku tidak bisa menyetir pesawat."


Sanubari tertunduk lesu. Hadiahnya sangat keren. Namun, percuma saja bila tidak bisa menggunakannya.


Saat itulah Renji menyahut, "Jangan khawatir tentang itu, Sanu! Aku akan menjadi pilot pribadimu."


Renji sangat percaya diri dengan kemampuannya. Dia tidak bisa menandingi kelihaian Eiji dalam menyetir mobil. Akan tetapi, tidak ada yang bisa mengalahkan Renji dalam mengendalikan besi terbang.


Seperti yang dikatakannya, akhirnya, jet itu melakukan penerbangan perdana menuju Afrika pada hari yang telah ditetapkan. Sementara Renji duduk di balik kemudi, semua orang berkumpul di kabin. Kursi diatur berhadapan supaya mereka bisa ngobrol dengan leluasa. Sementara untuk istirahat disiapkan tempat lain.


"Ingat untuk memakai lotion ini saat mendarat nanti, pakai baju panjang, sarung tangan, masker! Negara tujuan kita adalah habitat lalat tsetse. Aku tidak ingin kalian semua menjadi pangeran tidur gara-gara kecerobohan kalian sendiri."


"Apa hubungannya pangeran tidur dan lalat?" tanya Sanubari polos. Dia sungguh tidak mengerti.


"Kecupan seekor lalat bisa membuatmu tidur selamanya. Serangga lain juga berbahaya. Jadi, ada baiknya melakukan pencegahan dini. Oleskan lotion ini ke sekujur tubuh supaya mereka membenci kita!" jawab Fukai setengah bercanda.


Dia mengangkat sebuah lotion dan menunjuknya. Meskipun intonasinya dan kata-katanya terdengar main-main, tetapi Fukai sangat serius dengan apa yang disampaikannya.


Itu akan sangat fatal bila Sanubari terjangkit tripanosoma atau penyakit tidur. Kondisi saraf Sanubari akan membuatnya sulit untuk ditolong.


"Persiapanmu matang sekali, Paman Fukai. Bahkan, lebih matang dari kami," kata Eiji sedikit curiga.


"Tentu saja. Aku adalah dokter. Tentu aku harus mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi. Terlebih lagi, aku bertanggung jawab atas kesehatan Sanu," jawab Fukai. Beban ini cukup berat baginya.


"Kami tidak pernah memberitahumu tentang rencana perjalanan kami. Tapi, kau seolah tahu segalanya, atau kau yang memberi tahu ayahmu, Sanu?" selidik Eiji.

__ADS_1


Meskipun Fukai diutus untuk membersamai mereka, tetapi dokter itu belum menjadi bagian dari kelompok kecil mereka. Entah mengapa, Eiji ingin mengintrogasinya.


"Aku memang bilang akan pergi dengan kalian, tapi aku tidak pernah bilang mau kemana pada Papa atau Paman Kelana."


"Dari percakapan waktu itu pun jelas sekali Gafrillo tahu. Apa kalian lupa?" sahut Abrizar.


"Apa yang kalian bicarakan? Tidak perlu mewaspadaiku seperti itu. Jelas, aku berada di pihak kalian, bukan oknum yang ingin mencelakakan kalian. Bukankah kau mengenalku, Eiji Kun?"


Fukai tertawa canggung. Mendadak dipojokkan seperti ini, sungguh di luar dugaannya. Padahal, keberadaanya bersama mereka karena perintah Aeneas dan para pemuda ini tahu tentang itu.


Mereka sendiri ada di sana ketika permintaan itu diungkapkan. Akan tetapi, Eiji seolah memandangnya sebagai orang luar yang kurang layak dipercaya.


"Entahlah. Aku hanya merasa sedang dimata-matai. Tapi, di luar itu kurasa aku bisa percaya Paman. Paman sudah cukup lama bersama keluargaku."


Eiji mengedipkan bahu. Dia tidak tahu apakah ini baik atau buruk.


Fukai membenarkan firasat Eiji itu. Dia mengangguk. Aeneas memang tahu banyak tentang kegiatan Sanubari di luar. Fukai sendiri tidak tahu dari mana Aeneas mendengar.


"Tanpa kalian sadari, Tuan Aeneas memang memiliki sumber terpercaya, pengintai yang memantau pergerakan kalian secara real time. Jadi, dia tahu segalanya tentang rencana Sanu. Termasuk yang terjadi pada Sanu. Sekarang pun mungkin kita sedang diintai.


Fukai tidak tahu bahwa ucapannya itu akan menuai tatapan tajam dari Eiji dan Sai. Siapa yang suka kehidupannya dikuntit? Jelas itu akan membuat mereka risih.


Sanubari dan Sai sontak mengedarkan pandangan. Namun, mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sai bangkit. Dia memeriksa kursi, bahgasi, dan tempat lain. Dia tetap tidak menemukan apa pun.


"Tidak ada apa-apa," lapor Sai yang kembali berdiri.


Sai dan Eiji kembali menatap Fukai. Dokter itu tampak grogi dan kebingungAn.


"Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"


Sai dan Eiji saling berpandangan sejenak. Mereka mengangguk dalam diam seolah baru saja berkomunikasi dengan telepati. Fukai sama sekali tidak bisa menebak rencana keduanya.

__ADS_1


Sanubari ikut bingung dengan gelagat mereka. Akan tetapi, dia lebih memilih untuk tidak ambil pusing. Yang terpenting, pesawatnya bisa mendarat dengan aman dan selamat. Sanubari menggaruk ringan kulit kepala yang terasa sedikit geli.


__ADS_2