
"Rasanya seperti memiliki adik baru," celetuk Eiji tiba-tiba.
Sudah lama dia tidak menggendong seseorang di punggungnya seperti ini. Mungkin sepuluh tahun yang lalu terakhir kali dia melakukannya. Bersama rasa nostalgia itu, dia terus melangkah.
Sai yang berjalan disebelahnya, menoleh. Sanubari masih terlelap dalam gendongan Eiji. Lelaki itu ikut tersenyum melihat Eiji yang melengkungkan bibir, lalu menyingkirkan kelopak sakura yang bersarang di rambut Sanubari.
Sai tidak mempunyai kata-kata untuk menanggapi selain, "Sou ka."
Mendengar logat Sai yang mendadak berubah, Eiji mengangkat sebelah alis. "Apa-apaan peralihan bahasa yang tiba-tiba ini?"
"Aku hanya tidak tahu bahasa Indonesia yang tepat untuk merespons."
"Kurasa bukan karena kau tidak tahu, tapi karena kebiasaan irit bahasamu," kelakar Eiji yang berusaha menghidupkan suasana.
"Hm, mungkin." Selalu seperti itu—sangat singkat. Begitulah jawaban dari Sai di kebanyakan waktu.
Jalanan terlalu lengang untuk dilewatkan tanpa percakapan. Biasanya, Renji yang meramaikan ketika mereka bertiga. Dia adalah pria paling banyak bicara di antara mereka.
Sayangnya, keduanya berpisah dengan Renji di jalan dekat kuil. Eiji terjebak bersama Sai yang pendiam, dan Sanubari yang tak sadarkan diri. Tawaran Renji untuk mengantar dengan mobil sampai rumah, ditolaknya.
Eiji memang pribadi yang sangat berhati-hati bila menyangkut Onyoudan. Dia tidak ingin memakai mobil yang digunakannya untuk menjalankan misi. Jadi, dia hanya membiarkan Renji mengantar sampai ke jalan di dekat kuil. Selanjutnya, dia berjalan beriringan dengan Sai yang membantunya membawa barang-barang Sanubari.
Keduanya terus menapaki gang-gang perumahan. Matahari musim semi cukup menghangatkan dikombinasikan dengan semilir angin sepoi.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai. Sai membantu membukakan pintu. Semerbak aroma kare tercium begitu mereka masuk.
"Sepertinya Anki ada di rumah. Ayo masuk, Sai!" ajak Eiji yang sedang melepaskan sepatu hanya dengan kaki.
"Terima kasih. Tapi, aku mau langsung pulang saja. Ada sedikit urusan," ucap Sai seraya meletakkan sepatu ke lantai keramik dan lainnya ke lantai kayu.
"Oh, sayang sekali." Eiji naik ke lantai kayu.
"Ini kutaruh di sini tidak apa-apa, kan?"
"Ya, biar saja di situ."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa!" pamit Sai.
Eiji menoleh untuk melihat kepergian Sai. Tepat saat itu, Anki berjalan dari dalam rumah. Gadis yang masih memakai celemek itu menyambut sang kakak dengan riang.
__ADS_1
"Selamat datang kembali, Kak Eiji!" Senyuman gadis itu kian memudar ketika jarak mereka makin dekat.
Eiji berbalik badan. "Oh, hai, Anki! Aromanya sedap sekali. Masak apa?"
Anki mengerutkan dahi. Rasanya dia mengenali lelaki yang digendong sang kakak. Untuk memastikannya, dia pun berjalan lebih dekat.
Anki memegang wajah pemuda yang terkulai di pundak sang kakak. Dia mendongakkannya dan memperhatikan lekat-lekat.
Eiji yang tidak mengerti dengan tindakan sang adik pun bertanya, "Apa yang kau lakukan, Anki?"
"Astaga, Sanu! Ini benar Sanu, kan?"
Histeria sang adik itu membuat Eiji melebarkan mata. "Kau mengenalnya?"
"Dia temanku." Anki mengangguk seraya makin mendekatkan wajahnya pada Sanubari.
"Sejak kapan kau mengenal orang luar negeri seperti dia?"
"Dia tanpa sengaja menemukan buku yang tertinggal di masjid."
"Kau masih suka pergi ke tempat itu?"
"Ya."
"Suka-suka aku." Hidung Anki kembang kempis, mengendus-endus aroma yang menempel pada Sanubari.
Seketika itu, dia langsung mendongak, menatap tajam pada sang kakak. Dengan nada ketus, dia berkata lagi, "Kalian minum-minum?"
"Ren yang memaksanya. Aku tidak ...."
Eiji tahu ini akan terjadi. Adiknya memang membenci peminum, dan dia hafal kebiasaan Anki saat memergokinya minum. Eiji sendiri tidak terlalu suka minum-minum, tetapi dia sesekali melakukannya untuk formalitas atau sedang ingin saja. Itu pun hanya seteguk, dua teguk. Meskipun demikian, Anki tetap bisa mencium aroma samar yang tertinggal.
Anki selalu memarahinya setiap kali dia pulang dengan aroma ini. Sekarang pun sepertinya Eiji harus menahan berat badan Sanubari lebih lama. Saat ini, gadis di hadapannya sudah memasang wajah cemberut maksimal sambil bersedekap.
"Kakak!"
Benar saja dugaan Eiji. Intonasi Anki meninggi. Gadis itu langsung menyerocos tanpa peduli penjelasan Eiji. Padahal, dia sendiri tidak ikut minum. Akan tetapi, dia juga yang kena Omelan.
"Kakak, Sanu ini seorang muslim!"
__ADS_1
"Muslim?" batin Eiji yang baru mengetahui fakta ini.
Eiji sendiri tidak terlalu peduli dengan kepercayaan dan agama. Namun, sedikitnya dia tahu tentang umat muslim—sebutan bagi penganut Islam. Agama ini sudah cukup umum di Jepang. Persebarannya pun merata. Tidak ada orang Jepang yang tak tahu hal-hal yang diharamkan bagi penganutnya.
"Alkohol terlarang baginya. Itu sama saja melanggar pantangan agama jika mengkonsumsinya. Kakak tidak boleh mengajak Sanu berbuat dosa seperti itu!"
"Ah, sudahlah! Aku tidak mau mendengar ceramah panjangmu. Sebaiknya, siapkan air hangat dan handuk kecil, lalu bawa Ke kamarku!" Eiji berjalan melewati Anki.
"Kakak!"
Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin Anki tanyakan pada kakaknya. Seperti, bagaimana Sanubari yang beberapa hari lalu mengaku sebagai penggemar Eiji bisa berakhir bersamanya. Namun, lelaki itu terburu meninggalkannya.
Anki hanya bisa melihat sang kakak berbelok ke tangga lantai dua. Tiba-tiba, lelaki itu berteriak, "Keringkan juga sepatu yang masih agak basah di sana!"
Anki menunduk. Dia menemukan helaian pakaian dan tas. Dia berjongkok, mengambil barang-baarang tersebut dan sepatu yang dimaksud sang kakak. Tanpa protes, dia membawanya masuk.
Di kamar Eiji.
Lelaki itu membaringkan Sanubari ke tempat tidur sebelum membuka almari. Eiji mengambil kemeja dan celana untuk Sanubari. Beberapa saat kemudian, Anki membawa sebaskom air hangat dan handuk.
"Kakak tidak boleh minum alkohol. Islam itu mengharamkan alkohol bukan tanpa alasan. Alkohol itu tidak baik untuk kesehatan. Makanya, itu dilarang," tutur Anki sambil berjalan mendekat ke sebelah Eiji yang duduk di pinggir dipan.
Eiji merotasikan bola mata malas. Adiknya masih saja melanjutkan ceramah. Padahal, mereka sudah berpindah tempat.
"Aku tahu," tanggap Eiji acuh tak acuh seraya melempar satu setel pakaian ke sebelah Sanubari, lalu menunjuk ke bawah, "letakkan itu ke sini!"
"Ngomong-ngomong, bagaimana Kakak bisa bertemu Sanu? Tadi kudengar ada suara Kak Sai juga." Anki meletakkan baskom dan handuk ke karpet.
"Bocah ini sekarang juniorku. Kami hanya makan-makan untuk menyambutnya sebagai anggota baru. Lalu, Ren meminumkan sake secara paksa sampai jadi begini. Aku tidak ikut minum."
"Mengapa Kakak tidak menghentikannya?"
"Sudah, tapi aku kecolongan."
"Maaf sudah salah paham tadi." Anki berdiri.
"Hm."
"Tapi, tunggu dulu! Kakak bilang apa tadi? Junior? Ada kak Sai dan kak Ren juga? Apa itu artinya Sanu masuk Onyoudan?" cecar Anki.
__ADS_1
"Sebaiknya kau keluar sekarang, atau kau mau melihat tubuh Sanu di sini?" ucap Eiji yang mulai mengangkat kaos Sanubari ke atas.
Anki langsung berlari keluar setelah melihat abnomem sempurna yang baru saja terekspos. Eiji tersenyum. Dia senang adiknya masih polos seperti biasa.