Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tahanan


__ADS_3

Berbekal informasi dari internet, Abrizar dan Eiji menuju lapas kota. Sanubari meninggalkan ponsel di rumah. Tidak ada cara untuk mengetahui lokasinya selain mengira-ngira bahwa polisi akan membawanya ke sana.


Lima belas menit berjalan, mereka sampai di lapas. Keduanya mendaftarkan diri sebagai penjenguk sebelum diizinkan menemui Sanubari. Petugas menggeledah mereka.


"Apa ini?" tanya polisi ketika Eiji menyerahkan kantung plastik berisi botol yang tampak mencurigakan. Dalam kantung plastik juga ada nasi kotak dan air mineral.


Sanubari pergi saat sebelum sempat makan. Jadi, Abrizar dan Eiji berinisiatif membelikan di tengah perjalanan, khawatir Sanubari kelaparan karena belum diberi jatah makan.


"Itu hanya obat Sanu. Dia masih dalam masa pengobatan dan harus mengkonsumsinya secara rutin," jawabnya.


"Benda ini akan kami uji terlebih dahulu di lab kepolisian. Kami akan memberikannya setelah terbukti tidak mengandung barang terlarang. Ini prosedur untuk menghindari peredaran barang tak semestinya dalam lapas. Saya harap kalian bisa mengerti."


Polisi menyita obat. Dia menempelkan label pada bungkus. Tongkat Abrizar pun diminta. Mereka disuruh menitipkan semua yang terlihat bisa dijadikan senjata.


"Bisa tolong secepatnya? Siang ini, dia belum minum obat," pinta Abrizar.


"Kami akan segera memberikannya setelah terbukti aman," ulang polisi.


Setelah itu, mereka dibimbing melewati lorong, menuju sebuah ruangan. Abrizar dan Eiji dipersilahkan duduk. Mereka menunggu sesaat sebelum Sanubari dibawa masuk.


"Waktu kalian hanya lima belas menit. Saya akan kembali setelah waktu habis," kata polisi yang kemudian keluar, berjaga di dekat pintu.


"Syukurlah kalian tahu aku ada di sini. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa."


Sanubari tersenyum melihat kedatangan dua sahabatnya. Dia sungguh tidak kerasan berada dalam jeruji. Ruangan itu pun membuatnya merasa tidak nyaman.


"Sanu, kau harus jujur pada kami! Apa selama ini kau pernah melakukan tindakan melanggar hukum?" selidik Abrizar.


"Kurasa tidak, selain masalah kuburan itu. Tapi, sungguh aku tidak tahu. Andai tahu, pasti sudah kulakukan sesuai prosedur. Apa aku akan tetap dihukum karena ketidaktahuanku?"


Sanubari tertunduk penuh penyesalan. Jantungnya berdebar kencang. Kedua tangan pun meremas lutut.

__ADS_1


Tidak banyak yang bisa mereka obrolkan karena Sanubari sendiri tidak tahu apa-apa. Sebelum pulang, Abrizar berbicara dengan sipir.


Polisi menjelaskan, "Sanubari telah melanggar UU nomor sebelas tentang perlindungan lahan pangan berkelanjutan. Kemungkinan akan mendapatkan hukuman penjara maksimal lima tahun dan dikenai denda lima miliar rupiah. Bisa juga mendapat keringanan. Itu tergantung hasil sidang nanti."


"Tapi, dia hanya menjadikan kebun sebagai kuburan. Itu bermanfaat bagi masyarakat. Apa salahnya? Kenapa harus sampai dipenjara?" tuntut Abrizar.


"Jelas salah karena dia telah menghilangkan lahan yang berpotensi menjadi sumber pangan dan lapangan pekerjaan. Di era yang semakin berkembang ini, lahan hijau sangat diperhatikan pemerintah untuk menghindari krisis."


"Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang membuka lahan pribadi, kemudian mendirikan rumah di atasnya? Saya rasa ada yang seperti itu dan mereka tidak dipenjara."


Abrizar ingin menggali lebih dalam. Dia hanya bisa mengungkapkan apa yang terjadi di sekitar karena dirinya sendiri buta hukum.


"Hari seperti itu bisa ada di tahun-tahun sebelumnya, tapi UU yang berlaku tahun ini berbeda. UU mengalami perubahan berkala demi menyesuaikan perkembangan. Tahun demi tahun, lahan hijau di Indonesia semakin berkurang. Hukum perlindungan lahan diberlakukan supaya orang-orang tidak mengalami kesulitan pangan maupun bencana alam di masa depan. Kalian pasti bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila lahan hijau habis, kan?"


Sesaat, keheningan tercipta di antara mereka. Abrizar bingung harus membalas apa. Namun, polisi berkata kembali, "Jika ingin menangguhkan penahanan, kalian harus membayar jaminan penangguhan sebesar dua puluh miliar. Dengan begitu, kalian bisa membawa pulang saudara kalian hari ini juga. Pastinya, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi."


Itu nominal yang sangat besar. Bukannya tidak memiliki uang sebanyak itu, tetapi Abrizar merasa masalah ini terlalu sepele dan aneh. Menurutnya, penahanan itu bahkan tidak perlu dilakukan.


Setelah itu, mereka berpamitan. Meskipun Abrizar tidak setuju dengan penahanan Sanubari, tetapi penjelasan polisi terdengar meyakinkan dan masuk akal. Dia tidak memiliki argumen lebih untuk menentang.


Eiji pun tidak bisa membantu. Selain sama-sama tidak mengerti hukum, dia bukanlah orang Indonesia.


"Jadi, memang ada peraturan semacam itu, ya?" tanya Eiji begitu mobil keluar dari halaman rumah sakit.


"Entahlah. Aku tidak pernah menghafal isi dari kitab undang-undang yang mungkin berisi ratusan pasal."


Abrizar mengangkat bahu. Hukum terlalu ruwet baginya. Terkadang, banyak pula pasal-pasal yang tidak benar-benar diterapkan dalam kehidupan. Jadi, dia malas mempelajarinya kecuali memang diperlukan.


Mobil terus melaju menuju stasiun kota. Sebelum berangkat, Fanon berpesan pada mereka untuk menjemput seseorang di stasiun. Mereka tiba lebih awal. Keduanya duduk di ruang tunggu.


Deru kereta mendekat. Pengumuman pun dikumandangkan. Kereta silih berganti datang dan pergi. Tidak lama kemudian, suara pria terdengar.

__ADS_1


"Eiji Kun!"


Eiji menoleh. Dua pria dan dua wanita kembar keluar dari peron, berjalan ke arah mereka.


"Paman Fukai, kalian ...." Eiji berdiri.


"Kami kebetulan bertemu di stasiun. Jadi, bisa sekalian bersama. Sepertinya, kami memang berjodoh," kekeh Fukai melirik gadis berjilbab di sebelahnya.


"Paman kenal Petahana?"


Eiji melihat keduanya bergantian. Dia sudah melihat foto Petahana, tetapi ada tambahan satu pria asing di depannya. Selain itu, ada dua Petahana. Eiji sedikit bingung.


"Kami pernah bertemu di Zanzibar. Dua orang ini yang menculik aku, ABRI, dan Sanu, tapi Hana menyelamatkan kami," terang Fukai.


"Diculik? Kalian tidak pernah cerita tentang itu," balas Eiji.


"Ah, itu hanya masa lalu. Kami sungguh menyesal. Maka dari itu, kami datang untuk bertanggung jawab pada Sanubari. Aku Petamana dan rekan kepala telurku ini Juma."


Gadis itu mengulurkan tangan, tersenyum pada Eiji. Mereka saling berjabat tangan.


Eiji mengajak mereka berjalan ke mobil. Eiji menawarkan diri untuk membawakan barang-barang para gadis. Namun, mereka menolak.


"Untuk apa Paman ke mari? Tidak kabar-kabar pula."


"Kau lupa? Aku ini dokter pribadi Sanu. Tentu aku datang untuk mengontrol kesehatannya. Apalagi, kudengar kalian akan menetap lama Di sini. Jadi, aku dimutasikan ke sini," jawab Fukai.


"Sanu sudah baik-baik saja. Persediaan obatnya juga masih ada," kata Eiji.


"Bagaimanapun keadaannya, dia masih tanggung jawabku. Kau bilang baik-baik saja, apa kau yakin dia tidak lagi mudah mengalami pendarahan?" tanya Fukai.


Sampai di mobil, Eiji membuka bagasi. Sebagian yang tidak muat dibawa ke kursi penumpang. Abrizar dan Eiji duduk di depan. Para gadis di tengah. Sedangkan Juma dan Fukai di kursi paling belakang.

__ADS_1


Mereka memanfaatkan internet untuk mencari restoran terdekat. Enam orang itu makan sebelum pulang. Mereka juga membungkus makanan untuk yang lain.


__ADS_2