
Jam digital pada ponsel menunjukkan pukul dua puluh dua lebih dua puluh dua. Anki dan Sanubari duduk di ruang tamu depan. Mereka terkantuk-kantuk.
Sanubari menunggu kedatangan Abrizar dan yang lain. Dia tidak sabar ingin menyampaikan apa yang diperolehnya. Sementara Anki duduk di sana hanya untuk menemani Sanubari.
Angka menit pada ponsel terus berganti. Sanubari berulang kali memeriksanya. Sampai akhirnya, daun pintu bergerak.
Sanubari bangkit. Dengan antusias dan ceria menanti pintu terbuka lebar. Jantung Sanubari berdebar liar. Tangannya sampai terasa dingin.
"Kak Abri, syarat kedua Kakak sudah clear!"
Sanubari mengangkat tangan kanan, menyatukan ujung telunjuk dan jempol membentuk gestur 'oke'. Dia tersenyum lebar menyambut mereka.
Pulang-pulang, Abrizar mendapat sambutan seperti itu. Untungnya, otaknya cukup cepat untuk menangkap maksud Sanubari.
"Benarkah?" tanyanya meragukan.
Saat ini, Eiji bersamanya. Sementara Sanubari tidak terlihat selama beberapa hari ini.
Sanubari menjawab dengan mantap, "Anki sudah setuju."
Itu membuat Abrizar mengangkat alis. Dia tidak pernah menyuruh Sanubari merekrut Anki.
"Apa hubungannya dengan persetujuan Anki?"
"Asal aku mendapatkan izin dari Anki, maka Kak Eiji akan bersedia."
__ADS_1
Kalimat itu membuat Eiji bisa memasuki percakapan. Tentu, Eiji tidak melupakan janjinya pada Sanubari.
"Betul ini, Anki?"
Eiji langsung melempar pandangan pada gadis yang berdiri di belakang Sanubari. Anki mengangguk sebagai tanggapan.
Mereka semua masih terhenti di pintu. Angin sepoi bahkan berembus ke dalam rumah, membawa hawa dingin. Anki yang hanya memakai kaos lengan panjang memeluk dirinya sendiri.
Gadis itu menutupi mulutnya yang menguap, lalu mengusap air di sudut kelopak mata. Rasa kantuknya menyerang kian kuat.
"Hei-hei, apa yang sedang kalian bahas? Kenapa mendadak melakukan obrolan tidak jelas di depan pintu seperti ini?" sela Renji kebingungan.
Dengan singkat, Sanubari menjawab, "Tentang keluarga."
Sanubari tersenyum. Dia tampak seperti orang kasmaran di mata Eiji. Kakak Anki itu masih berpikir bahwa Sanubari ingin menikahi adiknya. Dia menghela napas pelan.
Kebahagiaan adiknya adalah kebahagiaannya juga. Dia tidak ingin menjadi sosok kakak yang terlalu kaku atau penghalang kebahagiaan. Melihat ekspresi Anki, gadis itu pun tampak senang dengan ini. Eiji hanya bisa membalasnya dengan senyuman tipis.
Sanubari bersorak, "Asyik!"
"Keluarga apa? Apa hubungannya dengan Eiji, Anki, dan Abri? Kalian membuatku pusing."
Renji tolah-toleh. Sepertinya, dia tertinggal sesuatu. Sama halnya dengan Sai. Percakapan mereka terdengar abstrak.
Gerutuan Renji membuat Eiji ikut berpikir. Obrolan ini memang dimulai dari pernyataan Sanubari tentang syarat yang pada akhirnya berkaitan dengannya dan sang adik. Eiji ikut bingung memikirkan ini.
__ADS_1
Di tengah kebingungan semua orang, Abrizar menyela, "Kita bahas ini besok saja! Ini sudah terlalu larut. Memangnya kau tidak pulang?"
"Aku menginap di sini."
Mereka membubarkan diri, menuju kamar masing-masing. Sanubari menempati kamar lamanya. Kamar tersebut masih dibiarkan kosong sepeninggalnya.
Ketika memasuki kamar, Sanubari cukup terkejut. Dua kelincinya masih duduk di meja dengan rapi. Dia mengambil kelinci pembawa kotak dan membawanya duduk ke tepian ranjang.
Dia mengusapnya. Tidak ada debu yang menempel—pertanda kamar sering dibersihkan, meski tidak dihuni.
Sanubari melihat kotak panjang yang dipeluk boneka kelinci. Kotak itu selalu ada di sana. Dia belum pernah membukanya sejak pertama kali mendapatkannya.
Karena penasaran, dia mengambil kotak kayu itu. Sanubari membukanya.
"Pisau? Untuk apa Zunta memberiku pisau bersama kelinci ini?" batin Sanubari.
Ingatan tentang pisau itu terkunci bersama kenangan buruk lain. Sanubari yang sekarang tidak tahu pisau apa itu. Pikirannya buntu. Dia mengembalikannya ke tempat semula, lalu memutuskan untuk tidur.
Sementara itu, Abrizar melepas jumper di kamarnya. Dia meraba tempat gantungan, meninggalkan jaketnya di sana, lalu merebahkan tubuh ke ranjang. Malam ini, dia tidak memiliki pekerjaan. Jadi, dia bisa santai.
Dia memikirkan perbincangannya dengan Aeneas tadi. Sanubari telah mengeluarkan syarat mutlak yang dia berikan. Abrizar tidak lagi bisa ingkar dari janjinya.
"Tawaran itu ... mungkin aku memang harus melakukannya."
Abrizar melepaskan kacamata. Diletakkannya benda itu ke meja samping. Dia memejamkan mata sambil merenungkan perkataan Aeneas.
__ADS_1
Di kamar lain, Eiji pun melamun di atas ranjang. Seperti halnya Abrizar, dia juga memikirkan dalam-dalam tentang perkataan Aeneas.
Malam bergulir dengan cepat. Usai salat subuh, Sanubari mengikuti Abrizar.