
Seorang pria berusia tiga puluh enam tahun menaiki panggung. Pria tersebut memakai baju berkualitas tinggi serta aksesoris mahal. Dengan senyuman penuh percaya diri, pria tersebut berjalan menuju ke tengah panggung dengan membawa mikrofon yang telah diberikan oleh staff panggung.
"Selamat siang saudara-saudaraku setanah air!" sapanya sambil mempertahankan senyuman yang terkesan ramah.
"Siang!" jawab semua orang yang berada di depan panggung.
Semua orang sangat antusias menyambutnya. Tidak ada yang tidak mengenalinya. Wajahnya terpampang di baliho-baliho yang tersebar di sejumlah spot selama beberapa hari ini. Dialah Ethan Kulon Armada—penggagas acara apresiasi atlet tahun ini.
[Selamat datang, Om Ethan! Silakan dimulai sambutan singkatnya!]
"Terimakasih untuk semua sponsor dan panitia yang telah bekerja keras demi terlaksananya acara ini. Terimakasih juga untuk semua pihak yang menyempatkan hadir ke acara sederhana ini. Tanpa kalian acara ini tidak akan sukses. Tidak perlu berpanjang-panjang lagi, mari kita lanjut saja ke acara berikutnya!" ucap Ethan.
[Loh, sambutannya sudah, Om? Enggak mau nambah lagi?]
"Panjang-panjang membosankan. Lebih baik langsung ke inti saja biar acara cepat selesai."
[Wah, Om Ethan ini pengertian sekali. Tahu aja maunya anak muda zaman sekarang. Yakin nih mau lanjut aja?]
"Iya."
"Baiklah kalau begitu. Berikutnya mari kita sambut sultini nusantara—Bahagiana Salawase!]
Semua orang bertepuk tangan meriah. Seorang wanita cantik berambut ikal menaiki panggung. Dia berpenampilan lebih sederhana daripada Ethan. Wanita itu hanya memakai setelan olahraga dengan polesan riasan tipis natural. Namun, pesonanya mampu menghipnotis para lelaki yang hadir.
Dia sangat menawan. Banyak lelaki yang berpikir tidak masalah bila menjadi suami ke duanya. Kecuali Jin dan Ethan. Ethan memiliki alasannya sendiri. Sedangkan Jin tidak menyukai wanita yang lebih tua darinya.
"Waoh, kakak itu sangat cantik," puji Sanubari yang berada di samping panggung.
"Biasa saja," kata Jin dengan acuh tak acuh.
"Mungkin Kak Penculik Baik Hati keseringan dikerumuni cewek cantik makanya kakak secantik itu jadi terlihat biasa."
Jin mengusap wajah Sanubari dengan telapak tangannya sambil berkata, "Tahu apa kau, Bocah?"
__ADS_1
[Kalau boleh tahu, apa sih alasan atau mungkin motivasi Acik Gia sampai rela mengeluarkan banyak dana, berkolaborasi dengan om Ethan untuk melaksanakan acara ini?]
"Saya setuju dengan gagasan kak Ethan. Menurut saya, atlet merupakan salah satu sosok yang harus kita hargai jasanya. Berkat mereka, Indonesia semakin dikenal. Sudah sepatutnya kita memberikan penghargaan bagi semua orang yang telah mengharumkan nama bangsa," jawab Bahagia dengan elegan.
Bincang-bincang singkat dilanjutkan sebentar. Kemudian semua atlet peraih medali dipanggil ke panggung. Di antara sembilan atlet yang hadir, Sanubari menjadi satu-satunya yang terkecil sekaligus termuda. Secara instan Sanubari menjadi sorotan semua orang.
Ethan memberikan uang sebesar tujuh setengah miliar rupiah kepada setiap peraih medali emas, lima miliar untuk peraih medali perak serta dua setengah miliar untuk peraih perunggu. Sedangkan Bahagia memberikan uang tunai sebesar dua miliar untuk setiap peraih medali dengan tiket pesawat ekslusif yang berbeda-beda.
Untuk para peraih emas, mereka mendapatkan unlimited ekslusif free pass (UEFP). Tiket tersebut berlaku selama satu tahun dihitung mulai hari pemakaian pertama. Pemegang tiket bisa memakai mascapai mana pun, ddengan tujuan kemana pun tanpa dipungut biaya. Tentunya dengan pelayanan kelas pertama. Tiket tidak akan hangus selama belum digunakan.
"Ini hadiah terbaik daripada uang," batin Jin ketika menerima tiket tersebut.
Sementara Sanubari hanya menerimanya tanpa tahu apa yang ia dapatkan. Dia bahkan tidak tahu seberapa banyak uang yang disebut miliar. Sanubari menyerahkan semua urusan itu kepada Kelana.
Acara dilanjutkan dengan konser Akbar. Beberapa musisi tanah air tampil memukau. Pertunjukan musik sesekali diselingi pembagian hadiah kejutan dan mini game.
Sanubari tidak mengikuti rangkaian acara sampai akhir. Ia hanya menonton sebentar lalu pergi makan dan kembali ke rumah sakit bersama Jin dan Kelana. Setibanya di kamar rawat Sanum, mereka bertemu dengan tamu yang tidak terduga.
"Kudengar istri bos besar masuk rumah sakit. Jadi, sekalian saja kutengok berhubung kebetulan aku juga berada di kota ini," jawab Ethan.
"Terus apa hubungan bosnya Om sama mamak? Kok Om sampai ada di sini juga?"
Sanubari masih belum paham bahwa bos besar yang dimaksud adalah Aeneas. Sanubari tidak tahu pekerjaan Aeneas. Ia juga tidak pernah berpikir bahwa ayahnya adalah seorang bos. Ia hanya tahu bahwa ayahnya adalah ayahnya.
"Maksudku aku memang ke sini untuk menjenguk ibumu. Bos Aeneas adalah bos besar yang kumaksud," ungkap Ethan.
"Tunggu dulu! Jika Sanum adalah ibu Sanubari, itu artinya Sanubari anak bos Aeneas?" Bahagia nampak bingung dengan kondisi ini.
"Iya, Sanubari adalah anak bos besar," jawab Ethan.
"Jadi kalian ini bekerja di bawah papa?" tanya Sanubari.
"Tidak juga tetapi kami semacam berafiliasi," balas Ethan.
__ADS_1
"Apa itu berafiliasi?"
"Semacam kerjasama," sahut Kelana.
"Oh," kata Sanubari manggut-manggut, "wah, papa keren, ya? Bisa kenal orang-orang hebat seperti om Ethan dan kak Gia."
Mereka berbincang-bincang sejenak. Para orang dewasa terlihat akrab seperti sudah kenal lama. Hanya Sanubari, Sanum dan Jin yang tidak banyak bicara. Sanubari memperhatikan Ethan.
"Lama kelamaan kalau diperhatiin kok rasanya seperti pernah melihat om Ethan, ya? Tapi dimana?" batin Sanubari.
Tidak lama kemudian, Ethan dan Bahagia berpamitan. Sanum mencoba bangun sendiri. Dia ingin ke kamar mandi. Akan tetapi ada sesuatu yang aneh. Sanum terdiam.
"Bibi Sanum perlu apa?" tanya Jin yang melihat Sanum bergerak.
Semua orang melihat Sanum. Aeneas dan Sanubari langsung menghampiri Sanum.
"Mamak sudah sehat?" tanya Sanubari. Namun, Sanum tetap bergeming.
"Haus?" Aeneas berganti bertanya tetapi Sanum masih terdiam, Aeneas kembali bertanya, "lapar?"
"Kakiku tidak bisa digerakkan," lirih Sanum.
Kelana segera memanggil dokter. Serangkaian pemeriksaan dilakukan. Dokter memvonis Sanum mengalami kelumpuhan sementara. Racun yang masuk ke tubuhnya telah membuat sistem syaraf Sanum terganggu. Namun, Sanum masih mempunyai harapan kesembuhan dengan pengobatan dan terapi.
*****
Hari ke tujuh Sanum dirawat di rumah sakit, kandungan Sanum masih dalam pengawasan dokter. Kondisinya masih rawan dan riskan sehingga belum diperbolehkan pulang. Kendati demikian, kondisi fisik Sanum mulai pulih meskipun kakinya masih belum bisa digerakkan. Aeneas tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia berpamitan untuk suatu urusan kepada anak dan istrinya lalu pergi bersama Kelana. Dia menyerahkan penjagaan Sanubari dan Sanum kepada Jin.
Sekarang Aeneas berada di rumah dimana para tersangka dikurung. Orang-orang Jin serta tim penyelidik yang dibentuk Kelana sudah berusaha menginterogasi para tersangka. Namun, mereka tetap bungkam
Para tersangka diikat dikursi dan didudukkan secara berjajar. Aeneas duduk di hadapan mereka. Dia sedang memeriksa sisa peluru dalam magazin. Ada lima. Pas sekali dengan jumlah tersangka. Dia mulai mengarahkan pistol ke arah pria yang berpura-pura menjadi pegawai hotel.
Pria itu langsung panik lalu berseru, "Baiklah-baiklah akan kukatakan tapi jangan bunuh aku!"
__ADS_1