
Sanubari terlihat murung saat sarapan. Lauk yang biasa digasak sampai ludes pun dibiarkan tersisa di atas meja. Kelana menyadari ada yang tidak beres dengan Sanubari.
Saat sedang belajar bahasa pun Sanubari nampak tidak fokus. Kelana terpaksa menghentikan pelajarannya. Percuma saja dilanjutkan. Tidak akan ada banyak yang bisa diserap Sanubari dalam kondisi seperti ini.
"Hari ini belajarnya cukup sampai di sini saja!" Kelana menutup bukunya.
"Eh?" Sontak Sanubari mengangkat kepala terkejut.
"Tumben cepat? Baru juga dimulai. Belum ada lima menit loh," sahut Embara yang duduk tidak jauh dari Kelana dan Sanubari.
Embara duduk bersama kembarannya. Mereka berdua selalu menunggu Sanubari selesai belajar sambil memakan camilan yang diberikan Sanum.
Kumbara ikut menyahut, "Apakah itu artinya kita akan berlatih anggar lebih awal hari ini?"
Kumbara sangat menggebu-gebu bila diajak bermain anggar. Kumbara sudah seperti maniak anggar. Kelanalah yang membuatnya seperti itu.
Sejak kecil dia diperkenalkan dengan anggar. Video-video pemain anggar dipertontonkan padanya. Menurut Kumbara, cara para atlet anggar itu memainkan pedang serta kelincahan langkah dan geraknya terlihat sangat keren. Kekerenannya tidak kalah dengan film animasi.
"Tidak. Ada yang harus papa bicarakan dulu dengan Sanu. Kalian berdua jangan menyela!" ucap Kelana.
Serempak Si Kembar menjawab, "Baik."
"Aku tahu ada yang kau pikirkan, Sanu." Kelana mengawali pembicaraan.
"Paman tahu?" Jantung Sanubari berdebar lebih cepat. Dia seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Kau tidak terlihat seperti biasanya hari ini. Katakanlah apa yang membebani pikiranmu supaya bisa merasa lega!" kata Kelana tersenyum. Kelana berusaha menciptakan suasana nyaman untuk Sanubari supaya anak itu mau terbuka.
Namun, Sanubari tetap terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Selama ini Sanubari terbiasa memendam masalahnya sendiri.
Jika terlalu menumpuk dan Sanubari tidak bisa menahannya maka dia akan tidur supaya tidak ketahuan ibunya. Biasanya beban itu akan berkurang setelah bangun tidur. Namun, kali ini berbeda. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak.
"Katakan saja! Akan kudengar," ucap Kelana lagi.
Sanubari masih enggan berbicara. Dia tertunduk. Pikirannya menimbang-nimbang antara perlu atau tidaknya mengungkapkan semua ini.
"Sanu, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan berdiam diri. Ada kalanya kita harus berbagi dengan orang lain. Jika kau ingin dimengerti orang lain maka ceritakanlah tentangmu, tentang apa yang kau rasa supaya yang lain tahu! Kaulah yang lebih tahu tentang dirimu sendiri. Orang lain tidak bisa membaca isi pikiranmu. Orang lain tidak akan tahu bila kau tidak berbicara," rayu Kelana.
"Paman, aku mau mundur saja dari olimpiade. Apa bisa?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Mengalahkan Kumbara saja aku tidak bisa. Aku hanya akan mempermalukan Indonesia dengan kemampuanku yang buruk. Lalu, lalu orang-orang akan memandangku sebagai pecundang karena permainanku masih amatir tetapi berani maju dalam kancah internasional. Mereka pasti akan berpikir macam-macam."
"Kau tidak boleh berpikir seperti itu! Kumbara bisa lebih unggul darimu karena dia memang sudah lebih lama belajar anggar. Andaikan Tuan Muda—maksudku kau belajar sama lamanya, aku yakin kau pasti bisa mengimbanginya. Belajar itu butuh proses. Masih ada waktu untuk berlatih. Aku yakin selama itu kemampuanmu akan terus berkembang dan membaik."
"Tapi waktunya terlalu singkat. Aku pasti akan kalah karena tidak siap."
"Sanu, pertandingan ini bukan tentang kalah atau menang. Tetapi tentang apa yang bisa kau dapat selama proses panjang belajar dengan keras. Hasil tidak lebih berharga daripada pengalaman yang bisa menambah ilmu serta membentuk jati dirimu. Kemenangan hanyalah bonus dari perjalanan kerasmu. Yang penting lakukan dengan senang, terus maju tanpa memikirkan kalah dan menang! Dengan begitu, kau pasti bisa melangkah tanpa beban," tutur Kelana.
Sanubari mengerti. Tidak semua orang yang mendapatkan hasil memuaskan bisa mendapatkan pelajaran berharga dalam perjalanan prosesnya. Beruntunglah orang yang bisa memperoleh keduanya.
Mungkin karena itu pula ada orang kaya tetapi tidak bahagia. Ada idol sukses tetapi ingin mengakhiri hidup. Mereka merasa tidak puas karena hanya hasil yang diperoleh. Lain halnya dengan orang yang bisa membuka mata selama proses meraih hasil, dengan membuka pandangan lebih luas maka akan ada banyak hikmah yang bisa dipetik.
Sekeras apa pun tekanan, sebesar apa pun batu penghalang yang akan hadir di kemudian hari, asalkan pandangan sudah lebih terbuka dan jati diri terbentuk dengan baik maka jiwa pasti tidak akan mudah goyah. Bukan hasil yang harus dijadikan target uttama dalam kehidupan. Akan tetapi, diri sendirilah yang harus dicari dan dijadikan target utama. Sanubari mulai merubah pola pikirnya.
Dia paham, sumber masalah berasal dari dalam dirinya. Apa pun hasilnya menang atau kalah, memuaskan atau tidak itu semua tergantung pada dirinya sendiri. Apa pun kata orang, pada akhirnya dirinyalah yang mengambil keputusan atas apa yang akan dia lakukan berikutnya. Orang lain memang bisa membantu mengambil keputusan tetapi bila dirinya menolak maka orang lain pun tidak akan bisa ikut campur.
"Aku mengerti. Dengan berlatih anggar maka aku bisa menjadi kuat dan mahir beladiri menggunakan senjata. Walaupun nanti aku kalah dalam pertandingan tetapi aku tetap bisa melindungi mamak bila aku belajar sungguh-sungguh. Menang atau kalah itu sama saja. Benar 'kan, Paman?" ucap Sanubari.
"Benar. Mulai sekarang sepertinya kita harus menambah porsi latihanmu. Sabtu dan Minggu akan dijadikan jadwal latih tanding tambahan jika tidak keberatan."
"Setuju!" seru Kumbara yang tiba-tiba menyahut.
"Aku tidak bertanya kepadamu, Kumbara! Aku bertanya kepada Sanu."
Sanubari bersemangat kembali. Pelajaran bahasa tetap tidak dilanjutkan. Mereka langsung berlatih anggar.
Sebelum duel dimulai, Kelana membenarkan gerakan-gerakan Sanubari yang masih salah. Setelah berlatih gerakan sejenak, barulah Sanubari memulai duelnya dengan Kumbara. Dia masih kesulitan mengalahkan Kumbara. Namun, Sanubari tidak menyerah.
Sanubari sering melakukan serangan tidak terarah dan membuat pertahanannya terbuka. Kelana sering mengingatkannya untuk membuat strategi dan memperhatikan gerakan lawan supaya bisa bertahan.
"Semangat, Sanu! Kau pasti bisa! Kalahkan Kumbara! Go Sanu, Go!" teriak Embara memberi dukungan.
Sanubari terus berlatih sambil memikirkan perkataan Kelana. Dalam hati dia berkata, "Benar kata paman Kelana. Aku tidak boleh terpaku dengan hasil. Aku harus menikmati proses ini. Tetap fokus dan terus berjuang menjadi lebih baik."
Beberapa ronde berlangsung. Namun, Sanubari masih tetap kalah. Dia sampai meminta ronde tambahan. Setelah berjuang sangat keras, akhirnya Sanubari berhasil menusuk dada Kumbara.
"Satu-empat," kata Kelana.
"Yahu!" Sanubari bersorak kegirangan.
Untuk pertama kalinya dia berhasil mencetak poin. Walaupun dia tetap kalah tiga poin dari Kumbara tetapi dia sudah cukup senang bisa mencuri satu poin darinya. Rasa percaya diri Sanubari semakin tumbuh. Dia yakin permainannya akan membaik.
__ADS_1
"Oke, latihan kita akhiri sampai di sini!" ucap Kelana.
"Tapi ini belum selesai." Sanubari masih belum mau berhenti.
"Kalian berdua butuh istirahat."
"Aku belum lelah. Aku masih bisa lanjut," ungkap Sanubari.
"Kau mungkin masih memiliki banyak tenaga tapi perhatikan pula lawan mainmu!" nasihat Kelana.
"Aku tidak apa-apa, Papa. Aku juga masih bisa lanjut kalau Sanu mau," sahut Kumbara.
Jelas kondisi Kumbara terlihat sangat berbeda dengan Sanubari. Napasnya saja sudah terdengar sangat berat. Sedangkan Sanubari masih segar bugar. Cukup lama mereka bertanding. Sampai Embara yang menonton jatuh tertidur.
"Jangan egois! Tubuh kalian butuh istirahat. Aku tidak akan membiarkan kalian memaksakan diri. Sana ganti baju!" tegas Kelana.
"Baik," jawab serempak Kumbara dan Sanubari.
Kelana membangunkan Embara. Setelah selesai berganti pakaian, mereka semua turun ke lantai dasar untuk makan siang. Kemudian mereka beristirahat di ruang keluarga sambil memakan makanan ringan.
"Apa kalian juga belajar di rumah seperti aku?" tanya Sanubari sambil memasukkan keripik tempe ke mulutnya.
Kumbara menggigit keripik tempe lalu menjawab, "Kami bersekolah di sekolah dasar Garda."
"Tapi dari kemarin kalian seharian bersamaku. Bukankah kemarin hari Senin?"
"Tanggal satu dan dua November adalah hari libur nasional makanya kami tidak ke sekolah. Besok kami sudah harus masuk sekolah lagi," jelas Kumbara.
"Libur? Tapi kok papa kemarin berangkat kerja, ya?" Sanubari teringat dengan Aeneas yang berpamitan kemarin tetapi belum juga pulang sampai sekarang.
"Entahlah," jawab Kumbara mengangkat bahu, "aku tidak tahu urusan orang dewasa."
"Ternyata masih enak anak kecil, ya? Masih bisa dapat jatah libur ketika orang dewasa tidak bisa," kata Sanubari.
Emnbara yang sedari tadi sibuk memakan kripik talas rasa rumput laut pun menyahut, "Jangan merindukanku kalau besok kita tidak bertemu selama seharian, ya!"
"Mana mungkin bisa begitu. Aku pasti akan merindukanmu, Em," kata Sanubari.
Embara tersipu mendengarnya. Aktivitas mengunyah keripik talasnya pun sejenak terhenti. Ada sesuatu yang menggetarkan dadanya.
"Kau dan Kumbara adalah teman pertamaku. Selain kakak Penculik Baik Hati. Aku pasti akan menantikan waktu-waktu dimana aku bisa bersama dengan kalian lagi. Sebenarnya aku juga ingin bersekolah tetapi paman Kelana belum mengizinkanku," lanjut Sanubari.
__ADS_1
"Oh."