
Goldenweek menjadi pekan sibuk bagi divisi Eiji. Baru saja pekerjaan lapangan di Osaka usai, email pekerjaan baru dari cabang Hokkaido datang. Hari itu juga, mereka terbang ke pulau terujung tersebut.
"Dingin!" Sanubari memeluk dirinya sendiri ketika keluar stasiun.
Angin sejuk langsung menerpa wajah membuat suhu enam belas derajat Celcius kian turun. Kabut abu-abu tipis bahkan terkepul di depan bibirnya saat udara lolos dari mulut. Mengekor pada para senior, Sanubari tampak heran. Dia bertanya-tanya, bagaimana bisa ketiga orang itu melangkah biasa.
Kembali melirik pada dirinya sendiri, sama-sama berbalutkan jas. Anehnya, pori-pori Sanubari tetap mengkeret. Giginya pun bergemeretak, terantuk-antuk akibat menahan dingin. Padahal, selembar sarung telah ia selimutkan bak atasan mukenah.
"Ada apa dengan tubuhku?" pikirnya semnbari mengingat masa-masa lampau. Ini musim semi, seharusnya tak sedingin ini. Dia juga pernah melewati musim dingin. Rasanya, aneh bila dia seperti orang yang tak pernah mengenal musim dingin.
Namun, setelah dipikir lebih jauh, dia kesulitan menemukan musim dingin normal baginya. Meraba ingatan awal tahun, dia hanya menemukan dirinya berlari di bawah salju. Dia sendiri tak yakin bagaimana tubuhnya kala itu merespons dingin.
Mundur lebih jauh, hanya perasaan buruk yang didapatkannya. Kegelapan, darah, dan pengasingan. Lekas, digelengkannya kepala dengan mata terpejam. Digenggamnya erat ujung-ujung sarung, merapatkan celah yang ada di depan dada. Entah mengapa, Sanubari acap kali merasa ada yang tidak benar dengan kepalanya akhir-akhir ini.
"Apa setelah ini kita dapat bonus? Enak sih jalan-jalan gratis. Tapi, kalau terus-terusan kerja nonstop rasanya tidak jadi enak." Renji mengangkat tangan, seolah sedang melakukan peregangan sambil jalan.
Hening. Sai mungkin memang tidak memiliki jawaban. Sanubari sibuk menghangatkan tubuh dengan menggosok-gosokkan tangan. Sementara Eiji, pikirannya melayang jauh ke tempat lain.
Sejak mendengar peristiwa penyerangan orang asing terhadap adiknya darri Sanubari, Eiji sama sekali tidak bisa tenang. Dia dudah mencoba menghubungi adiknya. Namun, tidak ada jawaban.
"Kenapa kalian semua mendadak seperti orang bisu? Bahkan, kau juga, Sanu?" celoteh Renji.
"Hawanya terlalu dingin. Jika berbicara bisa menghangatkan tubuh, maka aku tidak keberatan berbicara terus." Suara Sanubari bergetar parah. Persis sekali orang yang dikurung dalam freezer lebih dari dua belas jam.
"Ada apa dengan suaramu, Sanu? Apa kau baru saja menelan katak?" Renji tergelak.
Dia berhenti berjalan, lalu menoleh ke belakang, menatap Sanubari yang berada paling buntut. Di bawah temaram jalan, kulit putih Sanubari tampak lebih pucat. Bibir yang biasanya merah muda segar, kini tampak kebiruan.
__ADS_1
"Kenapa Kak Ren berhenti di situ?" tanya Sanubari tergagap-gagap.
"Kau sakit? Apa pula penampilanmu ini?" Renji kembali berbalik badan, menyusul Sanubari yang baru melewatinya.
"Tidak sakit. Aku hanya butuh kehangatan," jawab Sanubari.
Mereka memasuki lobi sebuah penginapan. Sanubari tersenyum. Akhirnya, dia melonggarkan cengkeramannya dari sarung. Udara dalam ruangan terasa lebih hangat. Cukup nyaman bagi Sanubari.
Mereka melepas sepatu dan memasukkan ke loker. Berganti dengan sandal ruangan yang disediakan, resepsionis membawa mereka menyusuri koridor ruangan terbuka, melewati taman alami. Ketukan bambu dan kucuran air menjadi musik pengiring perjalanan mereka.
Tak lama berselang, resepsionis itu membuka pintu geser. Empat futon telah berjajar di atas tatami. Semua itu memang disiapkan untuk menyambut kedatangan mereka. Setelah memberitahukan letak kamar mandi yang menyatu dengan dinding, resepsionis tersebut berpamitan.
Sanubari mandi pertama. Dia bergegas meringkuk di balik selimut tebal futon dan membuka ponsel. Puluhan panggilan tak terjawab memenuhi riwayat panggilannya.
"Kak Abri? Kenapa dia telepon sebanyak ini?" batinnya dengan dahi mengerut. Dia pun menelepon balik lelaki itu.
"Sanu, Anki tidak ada."
"Tidak ada bagaimana maksud kakak?" Persimpangan alis Sanubari kian mengerut. Kekhawatiran mulai bertunas di hatinya. Kata 'tidak ada' terdengar terlalu ambigu Di telinganya. Tangannya bergetar begitu saja ketika tiga patah kata itu sampai padanya.
"Anki tidak ada di rumah."
"Bukankah dia menginap di rumah kakeknya?"
Sanubari ingat terakhir kali bertemu, mereka bertiga mengantar Anki ke rumah kakeknya. Wajar bila tidak ada di rumah. Namun, Abrizar menambahkan hal lain.
"Dua hari yang lalu memang begitu. Tapi, katanya kemarin dia pulang. Aku dan Mitsuki sudah ke rumah kakek Anki. Bahkan, aku sengaja berada di sekitar rumah Anki dan kembali ke sana untuk memastikan apa dia sudah kembali. Rumahnya tetap kosong."
__ADS_1
"Mungkin dia menginap di rumah temannya. Coba Kakak tanya lewat telepon?"
"Sudah. Teleponnya tidak diangkat. Pesan pun tidak dibuka. Aku khawatir orang-orang di stasiun waktu itu datang dan membawanya. Sampaikan ini pada Eiji. Mungkin, dia bisa melacaknya dengan bantuan orang dalam. Paham maksudku, kan?" pungkas Abrizar.
Sanubari langsung bangkit, meninggalkan selimutnya yang berantakan. Dia menggedor pintu kamar mandi sambil memanggil, "Kak Eiji!"
"Oi-oi, Sanu! Apa yang merasukimu! Berisik woi!" protes Renji tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
"Apa?" jawab Eiji seraya menggeser pintu kamar mandi. Dia sudah memakai jinbei yang disediakan pihak penginapan.
"Anki hilang."
Mendengar itu wajah Eiji bertambah serius. Renji dan Sai ikut terpancing memperhatikan Sanubari.
"Aku baru saja dapat kabar dari kak ABRI. Katanya, Anki tidak ada di rumah kakek Shiragami dan di rumah kalian sendiri," lanjut Sanubari yang diliputi kepanikan.
Tak ubahnya Sanubari, kecemasan juga merayap dalam diri Eiji. Dia mengutuki kebodohannya sendiri. Karena bosan dengan permintaan berulang sang kakek, Eiji memblokir kontak lelaki tua itu.
Andaikan dia tidak melakukan itu, kabar sang adik pasti sudah sampai padanya sejak tadi. Jika apa yang dikatakan Sanubari itu benar, maka dia benar-benar manusia terbodoh. Perasaannya campur aduk. Sesal, cemas, marah, entah bagaimana mendeskripsikannya.
"Sanu, jangan bercanda berlebihan seperti itu! Lihatlah! Kau membuat ketua kita kacau," ujar Renji memperhatikan Eiji yang berjalan melewati Sanubari.
Lelaki itu menyambar ponsel yang terletak di sebelah futon. Eiji memasang transmisi pada adiknya. Lebih tepatnya, kalung yang disisipi transmisi.
Firasatnya sudah tidak enak semenjak Shima membujuknya supaya mau melibatkan sang adik dalam politik bisnis. Oleh karena itu, dia memberikan kalung istimewa melalui perantara Sanubari. Siang tadi, dia memantau keberadaan Anki melalui ponselnya. Gadis itu masih di rumah.
Eiji tidak curiga sama sekali, meskipun ada perasaan tak nyaman menggentayanginya dan ponsel sama sekali tak terhubung. Dia belum memeriksa ulang sejak naik pesawat.
__ADS_1
Kini, pria itu membuka aplikasi yang menghubungkan ponselnya pada transmisi di kalung sang adik. Titik biru dalam peta telah berubah. Tulisan di balon keterangan tak lagi menampilkan alamat rumahnya.
"Abe no Harukas," lirih Eiji. Tangannya meremas erat ponsel di genggaman.