
Tumbukan antara besi tebal dengan besi lainnya terdengar nyaring dalam ruangan yang laksana aula. Mata hijau bocah cilik bergeming menyaksikan naik-turunnya alat berat yang memipihkan potongan daging ayam. Lembaran ayam gepeng itu kemudian dimandikan dalam telur berbumbu dan dibaluri tepung panir.
Minyak panas yang tenang siap menyambut daging ayam yang usai bersolek. Minyak pun bergejolak ketika ayam bertepung itu ditenggelamkan ke dalamnya. Bunyinya begitu berisik. Ayam yang menyerupai fillet pun diangkat dan ditiriskan setelah aroma sedap menguar serta warnanya berubah coklat keemasan. Terakhir, lembaran ayam lebar tersebut dipotong-potong menggunakan gunting makanan dan dikocok dengan serbuk bumbu. Kelana membayar satu bungkus rasa keju untuk Aeneas, dua bungkus rasa sapi panggang untuk dirinya sendiri dan Sanumm, serta tiga bungkus lagi rasa pedas—dua untuk Sanubari dan satu untuk Jin. Setelahnya mereka meninggalkan stand makanan tersebut.
"Menurutku ini lebih tepat disebut ayam cedel atau mungkin ayam penyet daripada Pok-pok'. Bikinnya saja ditumbuk-tumbuk begitu. Ah, atau mungkin ayam bang-bang. Alat tadi 'kan bunyinya seperti bang-bang,' ' kata Sanubari berpendapat dengan napas yang terengah-engah.
Wajahnya memerah, ingus mengalir bersama air mata dan keringat. Bibirnya pun seperti memakai gincu. Semua ini gara-gara ayam Pok-pok'.
Jin melihat Sanubari yang terdengar seperti baru saja maraton ratusan kilometer. Jin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Sanubari yang menurutnya lucu. "Begitu menghayatinya Kau menikmati rasa Pok-pok ini, sampai-sampai kau menangis, Bocah."
"Ini pedaaaaaas!" keluh Sanubari.
"Sanu, kamu bisa tukaran sama punyaku bila punyamu terlalu pedas," saran Sanum yang merasa kasihan kepada putranya.
Akan tetapi, Sanubari menggeleng. "Ini pedas tapi enak."
Sanubari tetap memaksakan diri untuk memakannya. Padahal lidahnya sudah seperti terbakar. Namun, ia enggan berhenti.
"Bagus, Bocah! Lelaki pantang menyerah dengan mudah!" ucap Jin yang terlihat biasa saja walaupun ia memesan rasa yang sama dengan milik Sanubari.
Sanubari menyedot ingus dan mengusap air matanya. "Aku tidak akan kalah dengan Paman Penculik Baik Hati!"
Sanubari senang bersama Jin. Pria yang lebih dewasa darinya itu sangat pandai mengakrabkan diri. Baru kali ini Sanubari bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki teman. Keduanya berjalan beriringan seperti kakak beradik diikuti Sanum, Aeneas dan Kelana. Setelah selesai makan, mereka memasuki toko pakaian.
"Ayo Bocah, kau ikut denganku biar cepat! Akan kupilihkan pakaian yang keren untukmu," ajak Jin sambil menggandeng tangan Sanubari menuju tempat pakaian anak-anak.
"Nyonya Sanum juga silakan memilih baju! Jangan khawatirkan tuan muda Sanubari! Dia aman bersama Jin," ucap Kelana.
Dia juga sudah menjelaskan kepada Aeneas sehingga pria itu bisa tetap tenang. Kendati usianya masih sangat muda, namun Jin adalah pria yang sudah bisa dibebani tanggungjawab. Dia selalu menjalankan tugasnya sepenuh hati. Kurang lebih seperti itulah informasi yang diketahui Kelana dari profil Jin.
Sanum melihat-lihat baju. Model dan kainnya memang bagus. Akan tetapi, melihat harganya saja sudah membuatnya enggan untuk mengambil kain berjahit itu dari tempatnya. Harga-harga pakaian di toko ini sepuluh kali lipat dari kemeja yang sedang ia kenakan.
Aeneas memperhatikan gerak-gerik Sanum. Karena wanita itu tidak kunjung memilih, Aeneas pun mengambil beberapa pakaian dan menyodorkannya kepada Sanum.
__ADS_1
"Untukku?" Sanum menunjuk dirinya sendiri.
Aeneas mengerti isyarat tangan Sanum. Ia lantas mengangguk sebagai pengganti jawaban ya. Sanum memandang pakaian-pakaian tersebut dengan penuh keragu-raguan. Sementara Aeneas tetap menyodor-nyodorkan pakaian tersebut seolah memaksa.
"Tapi harganya ...."
"Coba saja! Jangan pedulikan harganya! Tuan Aeneas menghendakinya."
Perkataan Kelana itu membuat Sanum bersedia mengambil pakaian dari tangan Aeneas. Sanum pun lekas menuju ruang ganti untuk mencoba pakaian lalu menunjukkannya kepada Aeneas.
"Bagaimana?" Sanum tersenyum memperagakan baju pilihan Aeneas. Sanum tahu bahwa Aeneas akan tetap membisu tetapi dia tetap mengajaknya berbicara.
Aeneas tidak mengerti perkataan Sanum. Akan tetapi, dia mengangkat dua jempol pertanda puas dengan penampilan wanita itu.
Di sisi lain toko yang sama, Sanubari sedang memilih-milih baju bersama Jin. Lebih tepatnya Jinlah yang memilihkan semua setelan untuknya.
"Hai, Bocah! Aku belum cukup tua untuk kau panggil paman, kau tahu?" Jin masih berusaha menegosiasi panggilannya.
"Kalau begitu akan kupanggil Kakak Penculik Baik Hati."
"Oh, kepanjangan, ya? Bagaimana kalau Kak Penculik BH?"
Keluguan Sanubari membuat otak Jin berkelana. Benda feminim bertali menari-nari di pikiran Jin. Pria itu malu sendiri membayangkannya.
"Aku tidak mau menjadi penculik BH!" tolak Jin tegas.
Ia tidak ingin reputasinya hancur karena julukan itu. Menjadi pria mesum bukanlah cita-citanya. Akan tetapi, dia berharap bisa mendapatkan istri cantik kelak.
"Oke deh, aku tidak akan mengganti panggilan Kakak," kata Sanubari memandangi pakaian yang tertumpuk di pondongannya, "anu ... mm ... kak, ini kebanyakan. Aku ambil dua setel saja, ya?"
Begitu bersemangatnya Jin memilih baju, ia sampai tidak sadar sudah mengambilkan lebih dari sepuluh pasang. Pada akhirnya, dari sekian banyak baju, hanya tiga pasang yang diambil Sanubari karena tidak ingin terlalu menghambur-hamburkan uang. Walaupun bukan dirinya sendiri yang membayar. Berikutnya mereka menuju lantai dua.
"Wow, ajaib! Tangganya bisa berjalan sendiri." Sanubari berdebar-debar memijakkan kaki pada aluminium pracetak berlapis karet. Separuh hatinya merasa kagum. Sementara separuh lainnya merasa takut. Ia takut terjatuh dihempaskan tangga bernyawa tersebut.
__ADS_1
"Ini namanya es-ka-la-tor, Bocah! Ada motor penggerak yang membuat tangga terus memutar. Makanya bisa bergerak naik dan turun sendiri," jelas Jin.
"Maksudnya di bawah tangga ini ada yang mengendarai motor untuk menggerakkannya?"
"Bayangkan saja sesuka hatimu!" Jin menuruni tangga dengan santai.
Sanubari yang berada di belakangnya mengambil ancang-ancang agak berlebihan. Ia sedikit melompat dan berlari.
"Perhatikan langkahmu supaya tidak tersangkut atau terjatuh, Bocah!"
Baru saja Jin selesai memperingatkan, Sanubari sudah mengambil tindakan yang tidak perlu. Alhasil, Sanubari pun kebablasan. Dia menabrak dinding kaca toko di seberang. Bunyi benturan keras pun tidak terelakkan.
"Adududuh," rintih Sanubari.
"Astaga!" Jin menutupi wajahnya dengan tangan kanan.
"Sanu!"
"Tuan muda!"
"Sanubari!"
Sanum, Kelana dan Aeneas berteriak secara bersamaan. Ketiganya segera menghampiri Sanubari begitu menuruni tangga naik itu. Mereka sama-sama khawatir.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Sanum memegangi pipi Sanubari.
"Bagaimana dengan hidung Anda? Apa ada yang patah?" Timpal Kelana.
"Aku baik-baik saja. Hidungku sepertinya juga. Hanya saja rasanya nhgilu."
"Pemandangan ini ... bikin iri saja," batin Jin mendengus.
Kejadian tersebut sempat menyita perhatian pengunjung yang lalu lalang. Sebagian menahan tawa sekaligus kasihan. Sebagiannya lagi tertarik kepada para pria tampan yang berkumpul di sana. Terutama kepada pria yang terlihat seperti bule. Bahkan ada pula yang curi-curi foto.
__ADS_1
Kelana meminta maaf atas kejadian itu. Massa pun kembali ke urusan masing-masing. Mereka berlima kini beristirahat sejenak di food court sambil menunggu pesanan datang.
"Kak Penculik Baik Hati, apa eskalator tadi bisa dimakan?" tanya Sanubari sambil mengayunkan kaki.