Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tertangkap basah


__ADS_3

Sanubari dan Abrizar berdiri di sebuah tempat beratap dimana banyak papan doa tergantung saling tumpang tindih. Di sana banyak sekali papan kayu bertuliskan harapan masa depan seperti keinginan masuk perguruan tinggi terbaik, diterima di perusahaan besar, mendapatkan jodoh tampan/cantik, dan sebagainya. Ada yang menulisnya dengan spidol warna-warni. Ada pula yang menggambarinya. Entah gambar anime, bunga, maupun lukisan berseni lainnya. Sanubari memperhatikan satu per satu ungkapan doa kreatif tersebut sambil mendengarkan percakapan pria dan wanita tak jauh dari mereka.


"Kakak yakin itu Shiragami Eiji?"


"Iya."


"Bagaimana bisa? Gadis itu saja sama sekali tidak menyebut namanya. Dia hanya memanggilnya kakak."


"Aku mengenali suaranya. Percaya padaku! Dengarkan saja pembicaraan mereka dan beri tahu aku isinya!"


"Hm, isinya enggak penting sih."


Mereka berdua terus berbisik karena Sanubari tidak bisa diam. Remaja itu tetap berbicara, walau Abrizar sudah memperingatkan untuk fokus menguping. Abrizar sampai ingin menyumpal mulut pemuda berisik di sebelahnya.


Hingga sebuah suara kakek memanggil, "Eiji!"


"Hai!" jawab lelaki yang bersama perempuan berbaju Miko, "Jaa naa, Anki!"


Lelaki itu mengusap lembut puncak kepala sang gadis, lalu berlari kecil meninggalkannya menuju salah satu bangunan di kuil. Sanubari sempat tersentak ketika mendengar panggilan itu. Dia sampai memutar badan, melihat punggung lelaki yang berlari kecil. Lelaki itu menghilang di bangunan tradisional Jepang.

__ADS_1


"Eiji. Dia benar-benar bernama Eiji," ucap Sanubari seakan tidak percaya, matanya membulat lebar.


Kemampuan Abrizar dalam mengenali seseorang sangat luar biasa, padahal lelaki ini sama sekali tidak bisa melihat. Sanubari saja tidak bisa memperhatikan wajah Eiji karena dia berdiri membelakangi. Sanubari masih terhenyak di tempatnya.


"Apa kubilang? Dia benar Shiragami Eiji, kan?" Makanya, jangan meremehkan mata telingaku!"


Sanubari menggeser arah pandangnya. Gadiz itu kini sendirian. Sanubari seketika terkesiap tatkala matanya berserobok dengan tatapan gadis itu. Buru-buru dia berbalik badan, memegangi dada yang diguncang hebat jantung mengamuk dalam sana. Keadaan Sanubari saat ini mirip sekali dengan maling yang ketahuan mencuri.


"Ada apa? Kenapa mendadak diam?" Abrizar heran dengan sikap tenang Sanubari yang tiba-tiba.


"Aku hanya berpikir mungkinkah kuil ini rumah Shiragami Eiji." Sanubari beralasan.


Gadis itu meletakkan sapu, lalu berjalan mendekat. Dia sudah berada di belakang Sanubari ketika pria itu menyebut nama Eiji.


"Untuk apa menyebut-nyebut nama kakakku?" hardik gadis itu berkacak pinggang.


"Uwa!" sentak Sanubari terkejut.


Spontan ia berbalik badan dengan tubuh termundur hingga punggungnya menabrak gantungan doa-doa, menimbulkan bunyi kayu yang saling terantuk. Jantungnya berdebar makin liar.

__ADS_1


"Ah, ketahuan, ya? Belum apa-apa sudah ketahuan," batin Abrizar tertawa kecut.


Terlihat sekali keamatiran mereka dalam mengintai di lapangan. Abrizar sama terkejutnya dengan Sanubari. Akan tetapi, dia bersikap lebih tenang. Hanya saja, ada hal lain yang membuat Abrizar lebih terkejut dibandingkan situasi mereka yang tertangkap basah. Yakni, fakta bahwa gadis yang memergoki mereka ini bisa berbahasa Indonesia.


"Kuharap Nona Anki tidak salah paham dengan kami," ujar Abrizar.


"Hah, kalian juga tahu namaku?" Gadis itu makin menatap tajam pada keduanya.


Kecurigaannya meningkat. Apalagi begitu melihat mata hijau Sanubari, membuat Anki makin berpikir yang tidak-tidak tentang keduanya.


"Siapa kalian ini? CIA, FBI, agen keamanan dunia yang lain, atau penguntit? Menguntit itu kegiatan ilegal. Kalian bisa dipenjara jika ketahuan polisi," tutur Anki yang asal menuduh mereka.


*****


Catatan :


Hai : iya.


Jaa naa : sampai jumpa.

__ADS_1


__ADS_2