
Pria berpakaian serba hitam menarik tangan Anki sambil terus memaksanya untuk berdiri. Semua orang dalam gerbong menjadi bingung menyaksikan perlakuan kasar itu. Seorang pria yang duduk di dekat pintu diam-diam keluar, berlari ketakutan.
"Hanase!" dengan suara berat, Sanubari menyuruh pria itu untuk melepaskan Anki. Dia mencengkeram kuat pergelangan tangan pria itu.
"Ittai." Pria berpakaian serba hitam itu menggeram kesakitan.
Cengkeraman Sanubari sangat kuat, sampai genggamannya pada Anki terlepas. Pria lain mencabut senjata. Moncong pistol diarahkan ke kepala Sanubari, dan ujung mata pedang pendek terhunus ke lehernya.
"Jangan ikut campur bila masih sayang nyawa!" ancam pria pemegang pistol yang ternyata kurang pandai berbahasa Jepang. Dari cara berbicaranya pun dia tidak terdengar seperti orang Indonesia. Kalimat itu terdengar seperti, 'jan gan aikot Cempo bila masih sayang nyawa' dengan nada cadel dan intonasi yang tak seperti ancaman.
__ADS_1
Nada bicara yang terdengar lucu. Namun, ini bukan waktunya untuk tertawa. Kini, kecemasan tergambar jelas di wajah Anki. Gara-gara dirinya, Sanubari dalam bahaya. Gadis itu bingung. Dia tidak tahu siapa orang-orang ini. Dia tidak tahu juga apa tujuan mereka menemuinya.
"Sanu wo kizutsukanaide! Kimitachi wa dare desu ka? Doushite watashi wa kimitachi to ikanakereba naranai no desu ka?" Anki memberanikan diri untuk berbicara. Yang artinya, 'Jangan lukai Sanu! Kalian ini siapa? Mengapa aku harus ikut dengan kalian?'. Kalimat itu, diucapkannya dalam bahasa formal.
"Iku to wakaru," jawab pria di tengah yang bermakna, 'kau akan tahu bila ikut'.
Di ujung lain kereta, masih dalam satu gerbong, pria berambut putih berdiri bersedekap. Punggungnya tersandar nyaman pada dinding alumunium. Mulutnya sibuk mengemut permen min gang dipindahkannya ke kiri dan kanan dengan lidah. Hanya dia yang tampak santai menatap pada sumber keributan dalam suasana tak menyenangkan ini.
Ketegangan terus merangkak naik sejak dua senjata dicabut dari tempatnya. Dilihat dari mana pun, senjata-senjata tersebut tampak seperti asli. Tidak ada yang berani bergerak dan mengusik adegan penodongan tersebut.
__ADS_1
Abrizar yang duduk di sebelah Sanubari pun hanya bisa diam. Dia memang mendengar bunyi gesekan benda seperti senjata tajam yang ditarik dari sarungnya. Walaupun begitu, dia tidak tahu detail kondisinya, sehingga dia lebih memilih untuk tidak mengambil tindakan yang bisa membahayakan rekan-rekannya. Itulah alasan mengapa dia pernah menolak saat Sanubari menyarankan untuk menyerang SM secara langsung.
Abrizar memang memiliki ilmu bela diri lumayan tinggi. Dia mungkin tidak akan kalah bila harus berhadapan satu lawan satu tanpa bisa melihat sekali pun. Namun, lain halnya bila harus melakukan pertarungan dengan banyak variabel sekaligus.
Anki memandang Sanubari. Dia memohon pada tiga pria di hadapannya untuk menyingkirkan senjata-senjata itu dari Sanubari, tetapi mereka tidak mau melakukannya. Anki—satu-satunya perempuan yang dikepung para lelaki antara teman-teman dan pria asing, merasa amat ketakutan. Sudah lama dia tidak mengalami peristiwa semacam ini.
Anki bisa sedikit karate. Dia memutuskan untuk mengikuti klub karate setelah mengalami cukup sering penculikan di masa kecil. Kendati demikian, dihadapkan pada tiga pria bersenjata sekaligus membuat nyalinya ciut. Hidupnya terlalu damai semenjak beranjak remaja. Dia sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk mempraktikkan secara langsung apa yang telah dipelajarinya.
"Yorokonde ikeba, nakamatachi wo kizutsuki wa shinai zo." Pria berpakaian serba hitam menambahkan bahwa mereka tidak akan melukai temannya bila Anki mau ikut dengan suka rela.
__ADS_1