
Petahana meringkas jilbab, menaikkan gamis, dan mengikatnya, menampilkan celana semata kaki yang membalut kakinya. Dia menggandeng Fukai keluar. Berikutnya, Sanubari melompat bersama Abrizar.
Sanubari menyuruh Abrizar untuk tetap bersamanya. Bagaimanapun juga, Abrizar adalah tuna netra. Dia tidak bisa melihat. Di antara mereka, Abrizar mungkin yang akan paling kesulitan menemukan daratan. Sanubari juga akan kesulitan mencari bila terpisah. Begitu pikir Sanubari.
Dengan susah payah, mereka semua meninggalkan helikopter yang berputar-putar liar. Deburan demi deburan memercik. Sanubari memegang erat tangan Abrizar. Dia mengoper batang pada Abrizar dan membawanya naik ke permukaan. Batang itu cukup membantu untuk mengapung.
Mereka terombang-ambing di tengah perairan luas. Sanubari kehilangan orientasi arah. Dia celingukan, tidak tahu harus berenang ke mana.
Bubungan asap memberinya petunjuk. Dia harus menjauhi sumber asap itu. Sanubari mulai berenang ke pulau sebaliknya sambil membawa Abrizar yang tidak bisa berenang.
Setelah empat jam berenang tanpa henti, Sanubari dan Abrizar menjadi orang pertama yang mencapai bibir pantai. Abrizar bisa berjalan sendiri tanpa bantuan Sanubari lagi. Bulir-bulir air menetes dari tubuh mereka.
Sanubari berbalik badan, membiarkan pasang menerjang kakinya, sementara Abrizar terus berjalan ke pantai. Pandangan pemuda itu menyapu lautan. Kepala-kepala terombang-ambing jauh di tengah laut.
"Kita harus membantu mereka," ucapnya beralih mengedarkan pandangan, mencari pemukiman, perahu, atau orang pesisir yang bisa menolong.
Sementara itu, Fukai di tengah sana merasa letih. Rasanya, berjam-jam dia menggerakkan kaki dan tangan, tetapi daratan belum juga mendekat. Petahana di sebelahnya. Beberapa kali, Fukai memastikan perempuan itu tetap di sampingnya.
Kecepatan Petahana menurun. Agaknya, perempuan itu pun juga kelelahan. Kepalanya timbul tenggelam. Ketika perempuan itu sedikit lama tidak muncul, Fukai menariknya. Mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mencari parasut dan pelampung sebelum terjun.
Helikopter yang hilang kendali membuat mereka pusing dan kesulitan bergerak. Bila tidak segera melakukan tindakan, mereka mungkin akan terbawa capung raksasa yang kini sudah hancur tanpa awak.
"Kenapa jarak daratan jauh sekali?" batin Fukai.
Berenang di laut lepas sungguh berbeda dengan kolam renang. Ombak berulang kali mendorong mereka, menghambat perjalanan menuju daratan.
"Sepertinya, kita harus menggunakan teknik mengapung sampai bantuan tiba jika sampai malam ini belum juga sampai darat,"
Air asin masuk ke mulutnya ketika Fukai mengucapkan itu. Dia masih memegangi Petahana.
"Bantuan. Itu dia! Kita harus menelpon bantuan."
Petahana teringat sesuatu. Dia lekas mengambil ponsel anti air dari tas.
"Memangnya bisa menelepon dari laut?"
"Seharusnya bisa."
Namun, perahu motor cepat lebih dahulu menjemput Fukai. Dari atas kapal, Sanubari melambaikan tangan sambil berteriak.
__ADS_1
"Paman Fukai, jangan tenggelam! Kami akan segera sampai."
Fukai tersenyum. Dia bersyukur tidak jadi berenang semalaman untuk mencapai daratan. Sison dan Abrizar juga sudah ada di atas perahu.
"Syukurlah, kau bertemu seseorang yang melaut, Sanu," ucap Fukai setelah naik ke perahu.
"Aku memaksanya. Tidak ada yang mau berlayar setelah mendengar bunyi gemuruh tadi."
Mereka menjemput dua kepala lain, lalu melanjutkan perjalanan ke pelabuhan. Mereka sampai ketika senja tiba. Tiada lagi pelayaran. Penerbangan pun ditunda karena kabar buruk dari Pemba.
Petahana mengajak mereka menginap ke Stonetown. Kastil-kastil khas Eropa, bangunan kubah khas Arab mewarnai perjalanan mereka.
Azan berkumandang ketika mereka sampai di rumah Petahana. Binar kekaguman terpancar dari mata Sanubari. Rumah Petahana tampak lebih normal daripada milik Fanon. Perpaduan arsitektur khas Eropa, Arab, Persia, dan India menyajikan harmoni yang elegan.
"Ini istana," puji Sanubari.
"Setiap rumah adalah istana bagi pemiliknya," balas Petahana tersenyum dan membuka gerbang.
Mereka berjalan melewati Selasar seperti masjid. Pilar-pilar dirambati tanaman, memberikan nuansa alami nan klasik.
"Ini mengingatkanku pada arsitektur di game-game fantasi."
"Assalamualaikum," salam Petahana, tetapi tidak ada jawaban dari dalam rumah. Sebagai gantinya, Abrizar dan Sanubari yang membalas pelan.
Sasin, Sison, dan pria lain memisahkan diri sejak dari pelabuhan. Mereka memiliki tujuan masing-masing.
Pakaian bersih telah disiapkan untuk rombongan Sanubari. Petahana meminta orang kepercayaan untuk menyiapkannya saat masih dalam perjalanan. Usai mandi dan beribadah mereka berkumpul di ruang makan.
Tidak banyak obrolan selama makan. Setelahnya, mereka berpindah ke ruang keluarga.
"Terima kasih. Kami banyak berhutang Budi pada Kak Hana," ucap Sanubari.
Petahana menggeleng. "Saudariku hampir membahayakan nyawa kalian. Apa yang kulakukan tidak pantas mendapatkan ucapan terima kasih dari kalian."
"Kapan? Memangnya siapa saudara Kak Hana? Tidak ada yang menyerang kami selama di sini," kata Sanubari.
"Kau tidur pulas sampai tidak sadar ada yang mengikatmu, makanya kau tidak tahu apa-apa. Sudah kuperingatkan malam itu untuk tidak meminumnya," tutur Abrizar.
"Memang apa yang terjadi setelahnya? Bukankah kita semua tidur?"
__ADS_1
Abrizar dan Fukai menceritakan apa yang mereka alami. Kisah mereka saling melengkapi. Petahana tidak membeberkan semuanya. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya mendapatkan tugas untuk menghentikan sebuah operasi terlarang. Sebagian sengaja dirahasiakan dari mereka.
"Jadi, Sanu, apa ada keanehan yang kau rasakan?" selidik Petahana. Dia masih khawatir dengan keadaan Sanubari.
"Kurasa tidak ada."
Sanubari mengangkat bahu. Dia merasa lebih segar dan itu tidak aneh menurutnya.
"Untungnya tadi kau tidak pingsan di tengah laut, Sanu. Meskipun kau melewatkan obatmu. Oh, astaga!"
Fukai terbelalak. Dia baru ingat akan hal itu setelah peristiwa mendebarkan sebelumnya. Dia buru-buru ke kamar.
"Kurasa aku tidak memerlukannya lagi. Ah, benar juga! Mungkin bisa kucoba dengan berlari mengelilingi rumah ini. Boleh, kan Kak Hana?"
"Kamu baru keluar dari rumah sakit dan ini sudah malam. Sebaiknya istirahat."
"Sedikit olahraga malam sebelum tidur kurasa bagus juga. Lagi pula, aku belum lelah. Hanya sebentar. Aku akan segera kembali setelah cukup berkeringat."
"Tidak boleh! Kau sudah berenang cukup jauh hari ini. Aku tidak ingin mengambil risiko memperlambat kesembuhanmu lagi atau membuatmu kambuh dengan mengizinkanmu melakukan itu. Minum obat ini dan lupakan olahraga malammu!"
Fukai kembali duduk di sebelah Sanubari. Dia meletakkan sebuah kapsul di telapak tangann pemuda itu. Fukai juga mengambilkan air minum setelah meminta izin pada tuan rumah.
"Ngomong-ngomong soal aneh, sebenarnya memang ada," ungkap Fukai.
"Mana mengatakan belum melakukan apa pun padamu dan Abrizar. Tidak mungkin kalian juga ...."
"Bukan aku, tapi Sanu," kata Fukai.
Selesai menenggak habis air putih, Sanubari langsung menyahut, "Apa yang aneh dariku?"
"Yeah, aku tidak yakin juga apakah ini aneh atau tidak. Tapi, kita bisa mengetesnya sekali lagi jika di sini ada pisau atau benda tajam lain?" ujar Fukai.
"Paman Fukai jangan konyol! Paman pikir aku memiliki ilmu kebal antigores?"
Sanubari melotot pada Fukai. Hanya itu yang terpikirkan olehnya saat Fukai menyebutkan benda-benda itu. Tanpa banyak tanya, Petahana mengambilkan sebuah pisau, lalu menyerahkannya pada Fukai.
"Sanu, aku ini dokter. Percaya padaku! Andai kecurigaan ku salah, aku bisa mengobati luka yang akan kubuat dan kupastikan tidak akan fatal. Jadi, menurut saja, oke!"
Fukai mengambil beberapa lembar tisu. Dia menumpukkan di atas paha sendiri. Menarik lengan Sanubari, dia menggesekkan pisau dengan tekanan cukup kuat.
__ADS_1
"Tahan! Jangan berontak!" lanjut Fukai.