Santri Famiglia

Santri Famiglia
Penculik Baik Hati


__ADS_3

"Mati aku!" batin Jin panik.


Tidak disangka bocah cilik itu akan ceplas-ceplos begitu saja. Tidak terpikirkan olehnya bahwa Sanubari akan menyematkan panggilan semacam itu kepadanya. Ia yang merasa panggilan penculik itu ditujukan padanya pun deg-degan tidak karuan. Kendati demikian, Jin tetap berusaha tersenyum tenang, berpura-pura seola ia tidak tahu yang dimaksud Sanubari.


"Sanu, siapa yang kau panggil penculik?" tanya Sanum yang sempat terkejut dengan teriakan Sanubari.


"Ini Mak, paman yang menyetir ini namanya Paman Penculik Baik Hati," jawab Sanubari sambil menunjuk-nunjuk Jin, "wah, Paman Penculik Baik Hati mau jalan-jalan sama kami juga, ya? Asyik, keren nih. Aku jadi tambah teman baru."


"Tuan muda, Paman ini namanya bukan penculik tapi Jin. Tidak seharusnya Anda memanggilnya penculik. Penculik itu kata yang kurang baik," jelas Kelana membenarkan panggilan Sanubari yang dirasa kurang pantas.


"Tuan muda? Oh, ya ampun. Jadi, bocah ini benar-benar ada kaitannya dengan bos? Tenanglah Jin, tenang! Setidaknya posisimu masih aman karena paman Kelana masih belum menyadari yang sesungguhnya," nasihat Jin pada dirinya sendiri dalam hati.


Ia tidak boleh gegabah dan membuat Kelana mencurigainya. Habislah riwayatnya bila Kelana melapor pada Aeneas yang juga dalam satu mobil. Bisa-bisa dia dibunuh di tempat. Untuk saat ini, Jin hanya berharap agar Kelana tidak melakukan hal tersebut. Ia akan memikirkan alasan sambil jalan.


"Tapi Paman ini memang penculik." Sanubari tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


"Kalau dipikir-pikir, Sanubari memang sempat tidak pulang selama beberapa hari kemarin-kemarin. Apakah sopir ini yang menculikmu beberapa hari lalu, Sanu?" kata Sanum mulai curiga.


"Sial! Wanita ini bisa memperburuk posisiku. Aku harus segera melakukan sesuatu. Ini tidak baik. Sungguh tidak baik," batin Jin sembari sedikit melirik Kelana, "lihatlah! Paman Kelana sepertinya juga mulai mencurigaiku."


Sanubari menoleh, mengangguk-angguk kepada ibunya sambil menunjuk Jin, "Hu-um, Paman ini yang menculik dan mengurungku selama beberapa hari. Ah, maksudku salah satunya adalah dia. Ada banyak lagi yang lainnya tapi aku tidak ingat."


"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Ha ha. Kami hanya pernah bermain bersama. Aku berperan sebagai penculik dan bocah ini sebagai korbannya. Karena itulah dia memanggilku penculik. Padahal itu cuma sekadar permainan saja. Ha ha ha." Inspirasi Jin datang tepat waktu. Ia berbicara senatural mungkin untuk menutupi kebohongannya.


"Kupikir Paman benar-benar menculikku waktu itu," celetuk Sanubari.


"Kau ini bicara apa, Bocah? Jelas waktu itu kulihat kau sedang kesepian bermain sendirian. Makanya kuajak bermain. Untuk apa aku memulangkanmu bila aku benar-benar ingin menculikmu?" kilah Jin.

__ADS_1


"Ah, benar juga. Paman tidak akan membelikanku banyak makanan lezat bila Paman ini memang penculik, bukan?" Sanubari mempercayai pengakuan Jin begitu saja.


"Nah, itu kau tahu," Jin bernapas lega, batinnya pun bersuara, "syukurlah waktu itu aku memberinya makanan layak. Walaupun aku sempat menyuruh orang untuk menyekap dan mengikatnya."


Jin terselamatkan berkat makanan. Padahal tidak terbesit sedikit pun niatan untuk menyuap si Bocah dengan makanan.


"Mamak-mamak, paman penculik baik hati ini loh yang membelikanku gurameh bakar, jamur Krispy, tumis kangkung juga susu dan roti isi ayam yang waktu itu kita makan bersama. Kamar di rumah paman ini juga besar dan nyaman." Sanubari mulai menceritakan semua bagian baiknya kepada sang Ibu.


"Tapi Sanu, kamu tidak boleh bermain selama itu tanpa izin. Aku khawatir. Apa kamu tahu itu? Berhari-hari aku mencarimu." Sanum membelai lembut rambut Sanubari.


"Maaf." Sanubari tertunduk penuh penyesalan karena telah membuat ibunya cemas.


"Oi-oi, bisakah kau berhenti memanggilku paman penculik baik hati? Kau bisa membuat mereka salah paham," ucap Jin yang agak risih dipanggil demikian.


"Paman Penculik 'kan memang baik hati," jawab Sanubari yang terlanjur menyukai panggilan itu.


Sebenarnya dia belum begitu yakin dengan Jin. Namun, saat ini Sanubari terlihat baik-baik saja. Ia juga sama sekali tidak menceritakan perlakuan buruk Jin terhadapnya atau pun menunjukkan ekspresi traumatis ketika melihat Jin sekali lagi. Sebaliknya, bocah itu malah bisa menyapa Jin dengan entengnya. Jikalau pun benar Jin pernah menculik Sanubari, Kelana tidak akan mengusutnya lebih dalam.


Selama Sanubari tidak terluka, baik secara mental maupun fisik itu sudah cukup. Tidak ada masalah yang perlu diungkit-ungkit atau diperpanjang.


Lima belas menit perjalanan pun berlalu. Mereka tiba di salah satu mal di kota Blitar. Tepatnya di Blitos (Blitar Town Square). Blitos merupakan pusat perbelanjaan terbesar di kota Blitar. Pusat perbelanjaan ini beralamatkan di jalan Merdeka, dekat alun-alun kota.


Mereka berlima memasuki mal bersama-sama. Sanubari terkagum-kagum ketika memasuki gedung maha luas itu. Ini kali pertama ia dan ibunya mendatangi tempat semacam ini.


Hembusan pendingin ruangan menyambut kala mereka menjejakkan kaki ke dalam ruangan, memberikan sedikit hawa dingin. Aroma lezat makanan menyapa para tamu yang datang, mengundang mereka untuk mendekati stand makanan yang kebetulan berada di lantai satu. Mata Sanubari pun mengikuti ajakan aroma yang baru ia kenal. Pandangannya terkunci pada gerobak bertuliskan 'Chicken Pok-pok'.


"Chicken Pok-pok' itu apa? Apakah ayamnya ditampari, makanya disebut chicken Pok-pok'?" tanya Sanubari tanpa mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Bukan. Tapi itu salah satu camilan enak berbahan ayam. Mau coba?" balas Jin.


Sanubari tergoda. Aroma yang menyeruak dari penggorengan stand makanan tersebut menggelitik hidung, memprovokasi nafsunya untuk membeli. Namun, segera digelengkannya kepala.


"Aku tidak punya uang." Sanubari tertunduk lesu. Ia tidak ingin meminta kepada ibunya. Karena ia tahu bahwa mereka tidak akan punya cukup uang untuk makan sehari-hari bila ia banyak jajan.


Sanum merasa kasihan pada Sanubari. Anak itu tidak pernah makan enak. Sekalinya makan enak pun waktu dibelikan Jin. Mungkin sesekali membelikan keinginannya tidak masalah. Sanum bisa berpuasa satu, dua hari supayya uang cukup untuk kelangsungan hidup mereka.


"Sanu mau beli? Kebetulan aku ada uang. Dagangan kita tadi 'kan laris. Tidak apa kalau Sanu mau beli," tawar Sanum.


"Jangan! Nanti kalau uangnya habis buat jajan, kita tidak punya uang lagi buat makan besok. Harga camilannya mahal. Uangnya bisa buat beli beras sekilo," tolak Sanubari.


Bocah itu begitu pengertian. Satu kilogram beras memang sangat berharga bagi mereka. Setidaknya bisa dijadikan persediaan makan selama satu minggu. Agaknya kedua anak dan ibu ini belum terbiasa dengan kehadiran Aeneas. Padahal tinggal minta saja dan pria luar negeri itu akan membelikannya.


"Tuan muda Sanu mau beli? Saya akan membelikannya untuk Anda bila mau," ucap Kelana.


"Tidak perlu repot-repot, Paman!" Sanubari membentuk gestur penolakan dengan kedua tangannya.


"Ini mandat dari papa Anda. Bila Anda ingin sesuatu, bilang saja, jangan sungkan! Pasti akan saya belikan," papar Kelana.


"Benarkah?" tanya Sanubari yang ditanggapi dengan anggukan oleh Kelana.


Jauh di seberang namun masih dalam gedung yang sama, beberapa orang mengawasi mereka. Salah satu dari penguntit itu terlihat sedang menelepon seseorang.


"Kami tidak bisa mendekat, Bos. Ada ketua Jin di dekatnya."


"Berhati-hatilah! Jangan sampai ketua Jin tahu! Curi kesempatan di saat ia lengah!"

__ADS_1


Panggilan diputuskan secara sepihak. Penguntit itu Mengumpat. Bosnya dengan seenaknya memberikan misi yang mustahil. Jin terkenal dengan kewaspadaannya dan mata elangnya yang sangat tajam. Seharian menguntit pun mereka belum tentu berhasil menjalankan misi.


__ADS_2