
Damiyan tersenyum lebar. Dia sangat yakin keputusannya bersembunyi dalam mobil adalah tepat. Jika mengikuti rencana awal, belum tentu juga mereka akan setuju memberi tumpangan. Terlebih lagi, ada Fang yang sudah pasti akan menghalangi.
Si pria tua Fang selalu berpikiran Damiyan sebagai anak yang tidak berguna. Ego Damiyan tidak selemah itu untuk bersabar lebih lama dengan anggapan semacam itu. Berpuluh-puluh latihan berat pernah dia lakukan. Satu-satunya kelemahan dalam diri Damiyan yang diakui bocah itu adalah sifat ragu.
Ketakutan akan menyebabkan luka fatal pada seseorang melemahkannya. Selama mampu mengatasi kelemahan itu, Damiyan yakin bisa menjadi lebih kuat lagi. Dia tidak akan kalah dari orang dewasa, apalagi perempuan.
Damiyan berdebar-debar antusias. Dia mengatur napas sedemikian rupa supaya tidak sampai terdengar. Meski belum ada seorang pun yang mendekati mobil, berjaga-jaga tetap patut dilakukan menurutnya.
Damiyan tidak boleh mengeluarkan suara sekecil apa pun. Dia tidak boleh gagal. Dia Akan membuktikan bahwa anggapan Fang itu tidak benar. Kemudian, Vladimir akan menghadiahkan liburan panjang satu tahun penuh atas pencapaiannya. Angan-angan semacam itu menyibukkan Damiyan hingga bunyi pintu dibuka terdengar.
"Aneh sekali?" Kelana berkerut dahi. Pria itu mengusap-usap jok.
Bunyi tepukannya sampai ke telinga Damiyan. Dia menahan napas sesaat. Hatinya berharap mereka tidak akan mengetahui persembunyiannya.
"Mustahil atap mobil bisa bocor, kan?" Kelana masuk, lalu menutup pintu.
Dia mendongak. Tentu tidak ada yang salah dengan atap mobilnya. Aeneas sudah lebih dahulu duduk di sebelah Kelana. Dia memasang sabuk pengaman, tidak terdengar menanggapi.
"Mungkinkah anak tadi bermain-main di mobil kita?" Kelana menoleh ke belakang. Tatapannya tajam mengamati jok.
Damiyan merutuki kecerobohannya. Seharusnya, dia membersihkan kursi-kursi setelah menjadikannya sebagai pijakan. Damiyan akan mengingat-ingat ini sebagai pelajaran berharga. Di masa depan, dia tidak boleh melakukan kesalahan yang serupa.
"Kursi belakang pun kotor. Sepertinya memang benar anak itu baru masuk sini." Kelana menatap ke belakang cukup lama.
"Kumohon! Jangan sampai ketahuan!" batin Damiyan. Dia berbaring di sela-sela kursi tanpa berani bergerak. Tempatnya sangat sempit. Namun, Damiyan harus bertahan. Dia tidak boleh sampai terusir keluar. Jantungnya sangat berisik. Damiyan berharap kedua oran dewasa itu tidak akan mendengar detak jantungnya yang sudah seperti drum yang ditabuh.
"Jalan, Lan!"
"Oh, baik, Tuan Aeneas." Kelana kembali menghadap ke depan. Dia memutar kunci.
__ADS_1
Mesin mobil menderum halus. Tak berselang lama, roda-roda berputar. Pergerakan itu dapat dirasakan Damiyan.
Dalam perjalanan, Kelana terdengar menelepon seseorang. Dia berbahasa Rusia. Damiyan mengerti isi percakapannya. Kelana menanyakan tentang Vladimir.
"Benar kata Kakek Fang. Kakek Vladimir tidak ada di Rusia. Dia ikut mengantar cucunya ke negara ini untuk mengikuti olimpiade maraton dan tembak bagi anak-anak. Tidak kusangka, anak gemuk tadi bisa lari cepat." Kelana seperti sedang bermonolog karena Aeneas hanya diam.
"Tentu saja aku bisa lari. Berat badanku mungkin memang bertambah, tapi kakiku tidak sakit. Siapa pun yang punya kaki pasti juga bisa lari," sahut Damiyan dalam hati.
Kecepatan Damiyan memang menurun. Namun, dia masih bisa mengalungi medali emas. Itu mungkin sebuah keberuntungan baginya. Mengingat itu semua, Damiyan menjadi pongah. Dia yakin bisa melakukannya andai kondisi mendesaknya untuk melarikan diri.
Perjalanan membosankannya berlangsung lama. Selama itu pula, Damiyan harus mendengar celotehan Kelana. Dia bahkan sempat mengolok-olok Kelana.
"Dasar pria bodoh! Kenapa pula terus-terusan mengajak bicara patung? Membuat kering kerongkongan sia-sia saja."
Semua itu hanya Damiyan suarakan dalam pikiran. Kesan pertamanya terhadap Aeneas setelah pengalaman itu adalah membosankan. Aeneas seperti orang yang tidak bisa diajak komunikasi atau mungkin mengidap suatu kelainan.
Hingga akhirnya, mobil berhenti. Damiyan tetap diam. Setelah terdengar pintu ditutup, baru dia mengintip.
Tempat itu bukan penginapan Damiyan. Damiyan sedikit bingung. Namun, jelas dari monolog Kelana, tujuan mereka tidak berubah. Mereka ke tempat ini untuk mencari Vladimir. Dengan keyakinan itu, Damiyan memutuskan untuk ikut masuk ke bangunan yang tak dikenalinya.
Saat Aeneas menghilang ke dalam gedung, Damiyan keluar. Dia menolah-noleh waspada. Kemudian, Damiyan berlari.
Para perempuan tergeletak. Dari kondisinya, Damiyan tahu mereka telah meninggal. Perempuan yang menyerang Kelana menggunakan pisau berakhir dengan leher tertusuk pisau. Sementara yang sempat menodongkan pistol tertembak di kepala.
Damiyan tercengang. Pria yang dianggapnya ramah rupanya seorang pembunuh tanpa pandang bulu. Damiyan mengambil pijstol dari salah satu tangan mayat. Memiliki senjata adalah keharusan.
Memasuki gedung, Damiyan menemukan mayat perempuan lagi. Bulu kuduknya meremang. Dia berusaha mengabaikannya.
"Apa-apaan paman-paman tadi?"
__ADS_1
Damiyan semakin merinding ketika menjumpai lebih banyak mayat. Dia sungguh tidak tahu kedua pria dewasa tersebut datang untuk melakukan pembantaian. Itu membuatnya khawatir. Damiyan takut Aeneas dan Kelana juga akan membunuh kedua orang tuanya sama seperti para perempuan yang mereka anggap tidak berguna.
Tempat tersebut sangat luas. Damiyan bingung harus mencari ke mana, apalagi ketika jalan menjadi bercabang. Dia asal menelusuri, membuka setiap pintu yang bisa dibuka. Hingga akhirnya, dari salah satu pintu yang dibukanya, seorang perempuan berdiri.
"Adik Kecil, apa yang kau lakukan di tempat ini?" Perempuan itu mengernyit.
"Mencari papa dan mama."
Damiyan sama sekali tidak menutupi niatnya. Dia lelah berlari tanpa tujuan. Kehadiran seorang pemandu akan mempermudah pencariannya. Itulah yang dia pikirkan ketika melihat seorang perempuan masih hidup.
"Orang tuamu tidak ada di sini, Nak," kata perempuan itu, "sebaiknya kau lekas pergi dari sini. Ada dua orang jahat sedang berkeliaran. Di sini tidak aman untukmu."
"Papaku Iziaslav pasti ada di sini."
"Oh, kau putra Iziaslav. Kau ingin menemuinya?"
"Ya."
"Baiklah, Ayo ikut aku!" ajak perempuan itu.
Dia tersenyum pada Damiyan. Akan tetapi, Damiyan merasa ada yang janggal. Kewaspadaan dijaganya sepanjang jalan. Perempuan itu membawanya menaiki elevator, melewati jalan berkelok-kelok, memasuki sebuah ruangan.
Tiga perempuan berada dalam ruangan. Dua perempuan berdiri menghadap seorang perempuan lain yang sedang duduk.
"Inikah pengacau yang kalian katakan?" Perempuan yang duduk itu menatap Damiyan.
"Bukan, Madam. Mereka dua pria dewasa. Yang satu berambut pirang, sedang satunya lagi berambut hitam," jawab salah satu perempuan.
"Madam, anak ini putra Izias. Anak ini datang sendiri untuk menemuinya katanya." Perempuan yang membawa Damiyan memegang kedua pundak Damiyan dari belakang.
__ADS_1
Perempuan yang dipanggil madam tersenyum. Damiyan yakin senyum itu mengandung makna tersembunyi. Perempuan itu mengerlingkan sebelah mata, lalu berkata, "Bawa anak ini ke tempatnya!"