
Salju turun sangat lebat semalaman. Sanubari menyaksikannya dari balik dinding kaca. Entah mengapa, dia ingin tahu bagaimana rupa butir-butir putih itu saat turun dari langit.
Mungkin, akan lebih baik bila dirinya berdiri langsung di luar sana, di bawah hujan salju. Namun, Aeneas melarang.
Sanubari baru saja sembuh. Pria itu tidak ingin putranya kambuh karena bermain di tengah udara dingin terlalu lama. Sanubari masih sering bengong, tetapi keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tidak mudah jalan Canda untuk memulihkan kesadaran Sanubari. Ketika mereka membiarkan Sanubari bersenang-senang sesuka hati, remaja itu makin tenggelam lebih dalam ke zona nyamannya. Itu berlangsung selama berbulan-bulan.
Hingga akhirnya, Canda memutuskan untuk menyinggung hal-hal sensitif di setiap sesi terapi. Hasilnya, tidak jarang Sanubari kembali berhalusinasi tentang hal-hal buruk.
Terkadang dia melihat mayat, darah, hantu, dan hal menyeramkan lainnya. Saat itu terjadi, Sanubari akan berlari ketakutan. Dia juga berubah menjadi sangat pendiam. Meskipun begitu, Sanubari akan kembali ceria setelah berkonsultasi pada Canda.
Puncaknya ketika panen singkong dua hari sebelumnya. Sanubari mendadak menjerit-jerit. Dia melempari siapa pun dengan umbi singkong. Dia juga berusaha lari, tetapi terjatuh karena tersandung.
Dia sempat mematahkan batang pohon singkong dan hendak menusukkan ke diri sendiri. Sai dan Renji dengan sigap memegangi Sanubari. Canda juga langsung melakukan hipnotis di tempat.
Setelahnya, Sanubari tidak ingat sama sekali tentang histerianya. Dia hanya ingat tentang memanen singkong dan teman-teman yang entah sejak kapan berada di sana.
Canda dan Zunta masih menginap di rumah Aeneas. Kakek itu harus memastikan mental Sanubari cukup kuat sebelum pulang. Malam itu, Zunta duduk bersama Sanubari. Dia tertidur bersandar pada lengan Sanubari. Sanubari pun membopong Zunta ke kamarnya, lalu kembali ke tempat semula, duduk menghadap beranda sendiri.
Salju sangat lebat. Angin pun teramat kencang. Sanubari tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wujud butiran salju sebenarnya. Serbuk putih itu kian menumpuk di pagar. Suhu di luar pun mencapai minus lima derajat celcius.
Badai salju bergemuruh di luar. Hati dan jiwa Sanubari pernah diterpa badai sedingin itu. Bahkan, lebih dingin dari badai di luar sana. Cuaca ekstrim yang tidak bisa diprediksi layaknya hati Sanubari yang terombang-ambing. Andaikan tidak ada penghangat ruangan, mungkin dirinya sudah membeku sekarang. Begitu pula hati Sanubari tanpa kehadiran orang-orang di sekeliling yang senantiasa mendukungnya.
Malam kian larut, hingga tanpa sadar Sanubari tertidur di ruang keluarga lantai dua. Dia terbangun ketika terdengar bunyi seperti aspal digaruk.
Pemandangan di luar masih gelap, tetapi Sanubari berjalan ke dinding kaca, menggeser pintu.
Angin dingin seketika terembus ke wajah Sanubari, membuatnya menggigil dan tidak bisa menahan gigi yang saling terantuk. Kendati demikian, dia tetap berjalan keluar, menjejakkan kaki ke tumpukan salju setinggi mata kaki.
Sanubari melongok ke bawah. Ternyata, ada beberapa pekerja yang sedang mengeruk salju di bawah. Suara berisik itu datang dari mereka, dari ujung-ujung sekop yang beradu dengan ubin.
Melihat salju di sekelilingnya, Sanubari ingin membuat sesuatu. Dia mengumpulkan tumpukan salju di pagar. Rasanya tidak sedingin angin yang berembus.
Sanubari terus membuat bola-bola salju berbeda ukuran. Ketika terkumpul tiga, dia menumpuknya menjadi boneka salju, lalu membuat lagi yang lain.
"Sanu, apa yang kau lakukan di luar?" tegur Aeneas yang baru datang.
"Membuat keluarga."
__ADS_1
Sanubari masih berjongkok, asyik membulatkan salju dengan tangan telanjang. Dia hampir selesai membangun boneka salju keempatnya—boneka terkecil sekaligus terakhir.
"Cepat masuklah! Nanti kamu bisa demam lagi."
"Setelah aku menyelesaikan ini."
Mendengar jawaban itu, Aeneas tidak memaksa. Dia meninggalkan Sanubari. Empat boneka telah berjajar. Sanubari tersenyum melihatnya.
Namun, terasa masih ada yang kurang. Dia celingukan. Tidak ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Sanubari melihat ke bawah.
Sebuah pemikiran seketika terlintas. Dia menarik semua kancing piyamanya hingga terlepas. Pas sekali jumlahnya. Lima kancing utama, dua cadangan, dan satu saku. Mereka bisa menjadi empat pasang mata. Dalam waktu singkat, semua kancing baju telah menempel ke kepala boneka salju.
Tidak lama kemudian, Aeneas kembali membawa dua muk besar susu hangat. Diletakkannya minuman tersebut ke atas meja.
"Sanu, jangan lama-lama di luar!" katanya.
Sanubari berlari masuk, melewati Aeneas, membiarkan pintu kaca tetap terbuka lebar. Aeneas berdiri bingung melihat Sanubari pergi begitu saja.
"Apa dia masih membenciku?" pikir Aeneas muram.
Embusan hawa dingin dari belakang menyadarkan pria itu bahwa pintu masih terbuka. Dia berbalik badan, melangkah keluar. Di salah satu sudut beranda, berdiri dua boneka salju besar mengapit boneka salju sedang. Sementara boneka salju kecil berdiri di depan boneka salju sedang. Aeneas tiba-tiba teringat ucapan Sanubari.
Aeneas tersenyum menatap Mahakarya Sanubari. Boneka itu seolah mengatakan bahwa dia masih dianggap sebagai ayah.
Tanpa kata, Sanubari kembali. Dia berdiri, berjongkok, berlutut mencari sudut pandang yang pas untuk memotret. Ternyata, kepergiannya tadi untuk mengambil ponsel.
Di tengah kesibukannya itu, Sanubari tiba-tiba bertanya, "Kenapa Papa meninggalkan mamak?"
Sanubari baru terpikirkan tentang ini. Dirinya sendiri heran. Dahulu, dia tidak pernah mempertanyakan mengapa ayahnya tidak pernah ada di sekitarnya sejak lahir hingga menginjak sepuluh tahun. Gara-gara itu, dia bahkan sempat berpikir sungguh-sungguh anak setan seperti olokan warga atau memang sama sekali tidak memiliki ayah.
"Maksudmu?"
"Aku, mamak, dan kakek. Kami hanya bertiga, lalu papa menjemputku dan mamak saat usiaku sepuluh tahun. Kenapa tidak sejak awal saja papa tinggal bersama kami?"
"Aku tidak tahu kalau ibumu dan aku ternyata sudah menikah."
"Hah, apa itu artinya Papa tidak mencintai mamak?"
"Aku tidak tahu. Aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan, sampai tidak punya waktu untuk memikirkan wanita. Kalau bukan karena nenekmu yang mendesakku untuk menikah, mungkin aku tidak akan ingat ada Sanum di Indonesia. Aku juga tidak akan pernah tahu kalau kamu ada."
__ADS_1
Penjelasan itu tidak memuaskan hati Sanubari. Dia sedikit kecewa, Aeneas ternyata datang kepadanya bukan atas kemauan sendiri. Itu terdengar seperti ayahnya tidak tulus.
"Jadi, benar. Papa tidak peduli pada kami."
Kalimat demi kalimat yang diutarakan Sanubari itu membuat Aeneas merasa sedang diuji. Jawabannya mungkin menentukan membaik dan memburuknya hubungan mereka.
"Maksudku, aku jatuh cinta lagi pada ibumu setelah mengingatnya."
"Tapi Papa melupakan kami. Papa juga melupakan pernikahan Papa sendiri. Apa itu yang disebut mencintai? Papa terdengar tidak yakin."
Kamera Sanubari masih menyala, beberapa jepretan sudah dia peroleh. Dia masih menatap layar hanya sebagai pengalihan.
"Sanu, jika aku tidak pernah mencintai ibumu, maka kamu tidak akan pernah lahir. Adik-adikmu juga. Jikw sudah selesai memotret, ayo masuk! Akan ku ceritakan semuanya."
Aeneas bersikap terbuka pagi itu. Dia menceritakan kisahnya dengan Sanum, juga fakta Sanubari memiliki adik selain UKA.
"Dari semua cerita Papa, rasanya ada yang janggal. Mustahil seseorang tidak menyadari pernikahannya sendiri, kan? Kecuali, amnesia."
Sanubari duduk menekuk lutut di sofa. Dia mendekap susu yang masih hangat.
Aeneas mengambil ponsel Sanbari yang tergeletak di meja. Dia mengetik.
"Aku tidak bisa berbahasa Indonesia waktu itu. Mereka mengira aku bisu dan tidak bisa bahasa isyarat. Mereka menyuruhku menyalin tulisan ke selembar kertas. Tidak kusangka, hanya karena tulisan tangan itu kami bisa terikat pernikahan."
Aeneas menyerahkan ponsel Sanubari. Sanubari melihat kalimat yang tertulis pada catatan. Di sana ada kalimat yang berbunyi, 'Saya terima nikah dan kawinnya Sanum binti Salamun dengan mas kawin satu ikan pindang goreng dibayar menyusul.'.
"Apa ini?"
"Ijab kabul," jawab Aeneas lugas.
Perbincangan ini membuatnya mengenang masa lalu. Dia Kimi mengerti mengapa orang yang menolongnya di masa lampau mendadak menyuruhnya melaut dan menggoreng ikan kala itu.
"Katanya tidak bisa bahasa Indonesia, kok ingat?"
"Ibumu yang memberitahuku ketika kami kembali bersama."
"Jadi, hanya dengan menulis ini di kertas dan disaksikan beberapa pria dewasa, kita bisa menikah?"
Sebagai respons atas pertanyaan sang putra, Aeneas mengangguk. Aeneas sendiri tidak paham bagaimana pernikahan di Indonesia dijalankan. Apalagi, Sanubari yang tidak pernah mengenyam pendidikan dengan benar.
__ADS_1
Sanubari berpikir harus berhati-hati ke depannya. Akan merepotkan jika dia sampai tanpa sengaja menikahi seseorang sama dengan yang dialami ayahnya.