
"Terdakwa Sanubari telah melakukan pelanggaran hukum pasal ... mengenai penyalah guna lahan. Kedua, terdakwa Sanubari telah melanggar pasal ... tentang pengunaan dan pengedaran obat-obatan terlarang.
"Dengan demikian, terdakwa Sanubari dikenai sanksi pasal berlapis dan terancam hukuman mati."
"Bagaimana, terdakwa Sanubari?"
Suasana persidangan memanas. Penyejuk ruangan ruangan tidak mampu menyejukkan hati Sanubari. Dia tidak banyak berharap pada apa yang akan dikatakan Jin. Namun, mulutnya tetap terbuka untuk merespons.
"Saya serahkan semua pada penasihat hukum," kata Sanubari pasrah.
Semangatnya menguap. Hatinya gelisah mendengar sanksi tersebut. Kematian begitu dekat dengannya. Namun, di hari-hari sebelumnya, Jin telah mewanti-wantinya. Pria itu menyuruhnya untuk tidak banyak bicara supaya cepat selesai.
"Apakah ada pembelaan, Penasihat Hukum?"
"Ada, Yang Mulia. Berdasarkan pasal ... ayat ... Saya sudah memeriksa. Lahan yang dialihfungsikan oleh Sanubari merupakan lahan pribadi dengan kategori kebun. Bukan lahan pangan. Bukan pula lahan pertanian.
"Memang benar lahan tersebut merupakan area hijau. Namun, bukan wilayah yang masuk dalam daftar perlindungan pemerintah. Selain itu, sebelum area dibersihkan dan menjadi kuburan, kebun tersebut hanya ditanami bunga kantil dan pohon langsep yang telah roboh karena tua. Tidak banyak pohon yang ditanam di sana.
"⁸Jadi, Sanubari sama sekali tidak bisa dikatakan merusak lingkungan maupun mengurangi paru-paru negara. Walaupun tanah tersebut dijadikan lahan pemakaman, area masih bisa ditanami ulang dengan pohon baru layaknya pemakaman pada umumnya.
Kedua, saya telah menerima rekam medis Sanubari. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi tubuh Sanubari memang menyebabkannya tergantung pada obat-obatan.
"Namun, yang dikonsumsinya bukan dari kategori obat-obatan terlarang. Saya telah membawa sampel asli obat Sanubari. Kandungan dalam obat pun terlampir.
"Obat tersebut sama sekali tidak dijual. Dibuat khusus untuk kondisi tubuh Sanubari yang unik.
"Dikarenakan adanya praduga kesalahan pemeriksaan atau kesalahan yang disengaja, maka diharapkan akan dilakukan pemeriksaan ulang."
Jin mengakhiri pembelaannya. Itu sangat panjang dan tersusun rapi. Lebih mudah dipahami daripada kalimat pengacara sebelumnya yang lebih berbelit.
"Eksepsi diterima. Permohonan pemeriksaan ulang dikabulkan. Sidang akan dilanjutkan tiga hari lagi."
Sidang ditutup. Sanubari dibawwa kembali ke lapas. Sebelum masuk sel, dia dipanggil ke ruang kunjungan. Jin sudah menunggu di sana.
__ADS_1
Sanubari duduk dengan lesu. Dia belum bisa tenang sebelum sidang putusan ditetapkan.
Jin memperhatikan ekspresi Sanubari. Wajah itu masih sama pucatnya dengan beberapa hari yang lalu. Raut mukanya sangat kuyu.
"Kenapa masih murung? Obatmu habis? Atau dalam sel banyak napinya?" tanya Jin.
Sanubari tertawa setengah hati. "Pertama, aku tidak pernah minum obat sejak masuk penjara. Bagaimana mungkin bisa habis? Kedua, aku sudah tidak takut lagi dengan hantu."
Dia menunduk. Bukannya takut saling bertatapan dengan Jin. Hanya saja, semua tentang kasus ini berjubal di otak hingga Sanubari tidak tahu bagaimana bersikap normal.
"Wow, itu perkembangan bagus untuk seorang bocah udik. Kupikir kau masih suka melompat dan memeluk orang kalau melihat hantu." Jin bertepuk tangan.
Pelan, Sanubari menjawab, "Itu dulu."
"Jadi, sampai kapan kau bisa bertahan tanpa obat?"
"Mungkin aku sudah tidak butuh lagi."
"Jujur padaku! Apa ada hal aneh yang kau rasakan selama tidak minum obat?"
"Aku memang sedang berusaha menjadi dokter sementara," Jin terkekeh, "Teman doktermu itu bercerita banyak hal. Sanu inilah. Sanu itulah. Ngomong-ngomong, aku punya hadiah untukmu."
Jin merogoh ransel. Dia mengeluarkan burger, air mineral, dan bungkusan kecil. Ditatapnya semua ke atas meja.
"Tara! Makan dan minum sekarang juga! Maaf, tidak bawa banyak. Aku khawatir ada oknum yang akan menukarnya untuk menjebakmu bila kaubawa ke sel. Jangan bilang tidak butuh! Kau mungkin masih memerlukannya sampai beberapa waktu," lanjut Jin.
Sanubari melihat butiran kecil yang digeletakkan di atas meja. Itu obatnya. Dia lekas makan burger pemberian Jin, lalu minum obat. Tidak banyak waktu yang tersisa.
Petugas kembali membawa Sanubari ke sel begitu waktu habis. Malam harinya, Sanubari tidur lelap. Istirahat ternyaman bagi Sanubari sejak masuk penjara meski statusnya belum jelas. Kepala Sanubari terasa lebih ringan setelah minum obat. Esok paginya, dia tampak lebih segar. Dia dipanggil ke sebuah ruangan.
Seorang dokter, polisi, dan Jin menemaninya dalam ruangan. Dokter mengambil sampel darah dan urin milik Sanubari serta polisi. Masing-masing hanya dilabeli angka, kemudian diberikan pada dokter lain untuk diperiksa. Selama pemeriksaan, mereka tetap bersama.
Itu taktik Jin supaya tidak ada kecurangan seperti menukar hasil tes Sanubari dengan milik orang lain. Sebab, jika sampai salah tukar, maka si polisi yang akan terseret masalah. Dokter yang digunakan pun berbeda dengan yang menangani Sanubari sebelumnya.
__ADS_1
"Sampel satu negatif. Sampel dua negatif," kata dokter begitu hasil keluar.
Jin menyimpan salinan hasil tes. Hasil pemeriksaan juga diteruskan pada jaksa penuntut umum, hakim, dan pihak berwenang lainnya.
Maka, ketika hari sidang tiba, hakim menyatakan, "Berdasarkan hasil peninjauan ulang, terdakwa Sanubari terbukti tidak bersalah. Terdakwa Sanubari dibebaskan tanpa syarat. Seluruh biaya persidangan dan penyelidikan selama ini ditanggung pemerintah."
Burhan menonton hasil sidang dari televisi. Dia tidak berani lagi menghadiri persidangan secara langsung.
"Kenapa keberuntungan anak itu begitu besar?" geram Burhan mendengar berita.
Sanubari selalu saja bisa lolos dari berbagai masalah, menyebabkan setiap upaya Burhan berujung pada kegagalan. Aldin dan Wongso merasakan kekecewaan yang sama.
Sementara itu, Sanubari dan kawan-kawan bersuka cita atas kebebasan Sanubari. Mereka merangkul Sanubari yang baru keluar dari kantor polisi. Tiga mobil berjajar. Salah satunya milik Jin.
"Kita harus merayakan kebebasanku, Sanu!" cetus Renji.
"Ayo makan-makan! Aku yang traktir!" ajak Sanubari girang.
"Itu ide bagus."
Semua orang setuju. Tempat parkir kepolisian ramai karena mereka. Kegaduhan terdengar sampai kantor. Sanubari menoleh pada Jin. "Kak Penculik Baik Hati juga harus ikut! Berkat Kakak, aku bisa bebas."
"Hei, dia pengacaramu! Kenapa kau panggil penculik?" Renji mengeplak kepala Sanubari.
"Kak Penculik Baik Hati memang penculik baik hati kok."
Jin tersenyum mendengar jawaban Sanubari. Itu salahnya sendiri di masa lalu. Andai dia tidak melakukan itu, panggilan semacam itu mungkin tidak akan pernah lahir.
"Kupikir setelah ini kau akan memanggilku Pengacara Baik Hati, Sanu."
"Sampai kapan pun, Kak Penculik baik Hati tetaplah Kak Penculik Baik Hati."
Sanubari nyengir lebar. Mereka baru pergi ketika diusir polisi karena membuat keributan di area parkir. Sanubari ikut mobil Jin dalam perjalanan menuju rumah makan.
__ADS_1
"Kak Penculik Baik Hati, ayo bergabung ke organisasiku! Dengan masuknya Kakak, kita pasti akan jadi lebih baik," ajak Sanubari.