Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tawanan Bajak Laut


__ADS_3

Sanubari dan Sai diikat. Baru saja lolos dari kapal kargo pertama yang menyekap, mereka jatuh ke kapal kargo lain yang berlayar. Para penyerang membawa Sai dan Sanubari ke kapal kargo yang mengapung, tidak bergerak. Semua penerangan kapal dipadamkan. Mereka berjalan dengan bantuan senter menuju salah satu kabin.


Para perompak itu membuat Sai dan Sanubari duduk saling memunggungi. Keduanya lantas diikat. Semua orang di kabin tersebut mengalami nasib yang sama.


"Bagaimana ini? Apa kita akan kabur lagi, Kak Sai?"


Sai bergeming. Sampai tengah malam, orang-orang itu masih siaga. Sulit bagi mereka untuk melarikan diri kali ini.


Orang lain memberikan tanggapan. "Jangan harap bisa lari dari sini! Mereka semua jago bela diri."


Sanubari melihat beberapa orang sebelum dihadapkan ke arah pintu. Jadi, dia tidak terkejut ketika ada orang tak dikenal menyahut.


Sanubari pun membalas, "Kalau hanya bela diri sih bukan masalah."


Orang asing itu tertawa. "Omong-omong, siapa kalian? Apa kalian anggota perampok laut itu yang memberontak? Jadi, kalian dikurung bersama kami."


Sementara itu, Sai masih terdiam. Dia mempertimbangkan langkah berikutnya. Haruskah dia dan Sanubari kabur dengan cara yang sama atau tidak, Sai memikirkannya baik-baik. Meski sama-sama di atas kapal, Sai jelas tahu bahwa kelompok ini lebih dari komplotan Kyai Samad sebelumnya.


Dari kejauhan saja mereka sudah menembaki sekocinya yang tidak disadari komplotan Kyai Samad. Sai merasa perlu lebih berhati-hati.


"Bukan, kami hanya kebetulan lewat, lalu mereka menyerang dan menangkap kami tanpa sebab. Aku Sanubari dan temanku ini Kak Saiyuki."


Orang asing itu mengangguk-angguk, lantas memperkenalkan diri. "Aku Martines. Kapten kapal ini."


Dalam pikiran Sanubari, perjalanan laut pastilah aman. Bajak laut atau perompak hanya ada dalam film. Sanubari baru pertama kali bertemu secara nyata seperti ini.


Dia pun bertanya, "Ini zaman modern, kan? Kenapa masih ada perompak? Apakah zaman bajak laut akan berjaya kembali?"

__ADS_1


Kapten Martines tertawa. "Perkembangan zaman tidak akan memusnahkan kriminal yang ada, Nak. Justru ada di antara mereka yang mampu menyesuaikan dengan perkembangan, lalu diam-diam tumbu menjadi organisasi gelap yang sulit dideteksi. Orang-orang yang terbiasa hidup di zona zona nyaman tidak akan pernah tahu kejahatan seperti itu ada. Hanya mereka yang pernah menjelajah sampai ke sudut-sudut bumilah akan tahu bahwa ada bentuk-bentuk kriminalitas yang terdengar seperti dongeng belaka, tetapi semua itu nyata."


Setelah mendengar itu, barulah Sanubari teringat lagi tentang perampokan pesawat. Ternyata, bukan hanya pasukan keamanan saja yang banyak jenisnya. Perompak pun demikian. Ada perompak udara, perompak laut, dan perompak darat pun mungkin juga ada.


Sanubari mendalami pemikirannya. Jika dilihat dari simbol atribut, Sanubari menduga pembajak pesawat kala itu kemungkinan berkaitan dengan pelaku pembajakan kapal kali ini.


Sanubari membuang napas, lalu mengatakan, "Hidup ini tidak adil, ya! Tumbuhan dan hewan saja bisa punah. Masak kejahatan tidak?"


"Itu karena pengaruh lingkungan. Makhluk hidup yang bisa beradaptasi akan tetap hidup, sedangkan yang tidak, sudah pasti akan mati dan punah. Begitulah seleksi alam."


Sanubari menggumam, "Kalau begitu, mari ciptakan dunia di mana kejahatan tidak bisa menyesuaikan diri biar mereka semua punah!"


Martinez mendapat sedikit hiburan setelah datangnya Sanubari. Si pemuda yang baru datang itu tanpa sungkan berceloteh, mengutarakan harapan yang muluk-muluk. Itu terdengar seperti lelucon di telinga si kapten.


"Kau ini lucu, Nak! Lingkungan seperti apa yang bisa menghapuskan kejahatan? Menyediakan pekerjaan layak bagi semua orang? Itu saja tidak cukup. Dalam jiwa manusia, ada keserakahan, iri, cemburu yang apabila berlebih bisa memicu timbulnya tindak kejahatan."


Sanubari dan para tawanan lain memejamkan mata. Mereka mengistirahatkan tubuh. Pagi setelah sarapan diantar, Sanubari kembali membuka percakapan.


"Kita berdua puluh dua kalau bekerja sama, pasti bisa menghadapi mereka, kan?"


Sanubari menunggu tanggapan. Khususnya dari Sai. Pesan dari Eiji masih diingatnya.


"Belajarlah dari Sai! Jangan seenaknya bertindak seperti bocah cilik!"


Begitulah yang dikatakan Eiji sebelum mereka berangkat. Jadi, pendapat Sai sangat penting baginya. Sanubari sudah melihat banyak hal yang dilakukan Sai dalam misi ini, dan semua itu hal baru baginya.


Sanubari berpikir, setelah berhasil pulang nanti, dia mungkin akan meminta Sai mengajarinya mengendarai perahu bermotor dan perihal perkapalan lainnya. Jadi, dia bisa mengatasi sendiri andai suatu saat mengalami peristiwa serupa tanpa dampingan seorang rekan. Sanubari sudah merencanakan itu dalam kepala. Namun, dia harus menyimpannya untuk sekarang.

__ADS_1


"Bagaimana caranya kabur sementara kami saja terikat?"


"Selain itu, kami yang berdua puluh saja bisa ditaklukkan sebelumnya. Pasti mudah bagi mereka untuk menangkap kita lagi."


"Kita belum mencobanya, mana boleh berkesimpulan langsung seperti itu? Untuk ikatan, tidak perlu khawatir! Kak Sai bisa melepaskannya. Mari rebut kembali kapal ini dari para bajak laut!" bujuk Sanubari.


Semangatnya berapi-api. Dia sedikit penasaran dengan topeng yang dipakai para perompak semalam. Topeng itu seperti melambangkan sesuatu.


"Apakah itu kelompok tertentu atau hanya trend?" Benak Sanubari bertanya-tanya.


Dengan mengalahkan mereka, Sanubari mungkin bisa mengorek informasi tentang simbol itu. Kemudian, jika terbukti itu merupakan identitas asosiasi kejahatan tertentu, dia mungkin bisa memasukkan mereka ke daftar organisasi yang harus disadarkan selanjutnya. Sanubari tersenyum membayangkannya.


Para awak kapal diam menggigit makanan masing-masing. Sebenarnya, mereka bukanlah orang yang tidak bisa bertarung. Untuk menjadi awak kapal BGA, mereka harus melakukan serangkaian tes. Salah satunya adalah berkelahi.


Sembarang orang tidak bisa menjadi awak kapal layaknya kapal-kapal pada umumnya. Departemen personalia sangat selektif dalam melakukan perekrutan anggota. Terlebih lagi untuk kapal pengangkut senjata. Kemampuan fisik merupakan syarat mutlak. Bukan hanya dari segi kekuatan saja, tetapi juga teknik bertarung.


Ajakan Sanubari itu membangkitkan semangat mereka. Namun, belum ada yang angkat bicara. Keraguan masih tersisa.


"Kak Sai, katakan sesuatu!" desak Sanubari, "Jika semalam mereka begadang, hari ini pasti lelah, kan? Bukankah ini kesempatan bagus untuk melancarkan pemberontakan?"


"Kita coba!" balas Sai.


Sanubari pun bersorak, "Yai!"


"Tapi, jika hari ini gagal, kita akan menunggu sampai berlabuh dan turun kapal. Pergerakan kita terbatas bila masih Di lautan," lanjut Sai.


Menceburkan diri ke laut untukmelarikan diri pun tidak menjamin keselamatan. Musuh memiliki senapan. Mereka bisa menghujamkan tembakan. Seseorang akan kesulitan menghindari peluru dalam keadaan berenang.

__ADS_1


Selain itu, posisi mereka belum jelas. Bisa lolos pun belum tentu bantuan akan segera datang. Sai juga belum tahu seberapa besar kekuatan musuh. Dia sama sekali tidak merencanakan pelarian lagi selama masih berlayar.


__ADS_2