Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ilusi Masa Lalu


__ADS_3

Sanubari sungguh gugup. Berulang kali, dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar, mensugesti diri untuk tetap tenang. Ini bukanlah apa-apa dibandingkan peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau.


Namun, jantungnya tetap tak mau memelan. Debarannya sungguh membuat tak nyaman. Seakan-akan mengalami kemunduran mental, teramat aneh yang dirasa Sanubari sekarang. Seharusnya, dia bisa menghadapi ini. Bukankah penuduhan serupa pernah terjadi waktu dia masih kanak-kanak? Pertanyaan semacam itu hadir dalam pikiran Sanubari.


Bagaimana perasaannya kala itu, Sanubari mencoba menggalinya dari tumpukan memori. Dia butuh dirinya yang dahulu. Dia memerlukan kekuatan dari masa silam itu.


"Tak apa-apa. Tak apa-apa."


Mulutnya lirih berkomat-kamit. Masih dengan menunduk, memainkan kaki, dia berusaha mengalihkan kegelisahan. Tiba-tiba saja, ukuran sepatunya mengecil, celana bahan yang dipakainya berubah menjadi celana olahraga selutut.


Keramik yang dipijaknya pun menjadi tumpukan daun kering dengan tetesan darah. Sanubari tersentak. Diangkatnya kepala takut-takut. Seketika itu juga, mata Sanubari membelalak.


"Aldin ...."


Kata-katanya tergagap, menyaksikan benda tajam yang menusuk bola mata. Menoleh ke kanan dan kiri, tiada seorang pun di sana. Kecuali, dirinya dan bocah seumuran yang meraung-raung di tengah kebun lebat bak hutan.


Jeritan itu Mengiris hati. Sejenak, Sanubari memalingkan muka, tak sanggup menyaksikan pemandangan yang terlalu mengerikan baginya. Namun, nalurinya tak cukup egois untuk abai.


Melirik dalam keraguan dan ketakutan, Sanubari mencoba mengusir bimbang. Pelan-pelan, dia merangkak mendekati Aldin yang terisak. Dia berlutut di hadapannya.


"Din, tak ewangi njebol, yo?" Suara Sanubari sangat pelan, menawarkan bantuan pada Aldin untuk mencabut benda tajam dari matanya.


Dia sendiri sebenarnya tidak berani. Akan tetapi, dia kasihan melihat Aldin seperti itu. Tangannya pun bergerak ke wajah Aldin. Belum sempat Sanubari menyentuh ujung pimes, pergelangan tangannya dicekal.


"Emoh!" Aldin meneriakkan penolakan dengan suara parau.


Teriakan yang sepertinya memicu hardikan dari para guru. "Sanu!"


Sanubari pun sontak menoleh. Tiga guru pria dan dua wanita menatapnya bengis. Tiga sahabat Aldin turut serta bersama mereka. Murid-murid yang penasaran pun berkumpul di pinggir kebun.


"Apa-apaan, kamu?" Seorang guru pria memisahkan tangan Aldin dari Sanubari.


Dia mendorong bocah beriris hijau itu hingga terjatuh. Sanubari meringis menahan sakit. Cengkeraman sang guru terlalu kuat. Namun, dibandingkan luka Aldin, Sanubari tahu ngilu yang dirasakannya tidak seberapa.


"Siapa yang mengajarimu untuk melukai teman sendiri, hah?" Cacian pedas dengan nada tinggi itu menusuk hati Sanubari.


"Mau belajar jadi pembunuh, kamu? Dasar Anak Nakal!"


"Kami menerimamu bersekolah di sini karena kasihan dengan Bu Sanum. Kami ingin memberi kesempatan, tapi apa yang kamu lakukan? Inikah didikan orang tuamu di rumah?"


Semua mata menyalahkannya. Sanubari hanya bisa menunduk, mendengarkan nyinyiran pedas itu dalam diam. Mereka berlomba-lomba memaki tanpa bertanya kejadian sesungguhnya.


"Sebaiknya, kita bawa Aldin ke rumah sakit dulu!" Seorang guru memeluk bocah yang terluka, memberikan kehangatan padanya.


Mereka pergi, mengabaikan satu lagi bocah yang juga terluka—bukan fisik, melainkan batinnya. Sungguh Sanubari ingin menangis. Dadanya terasa penuh. Kelopak matanya pun tak bisa menahan cairan yang memaksa keluar.


Dia sendirian, bernaung suram di bawah rimbunnya dedaunan yang tak membiarkan kehangatan penguasa langit siang menyentuh kulitnya. Seolah semua kehangatan menjauh darinya, kekelaman kebun mengembuskan angin dingin padanya.


Sanubari kecil lekas menghapus jejak luruhnya sang air dari pipi. Dia berlari. Begitu keluar kebun, seragamnya telah berganti begitu saja menjadi setelan cokelat Pramuka. Entah sejak kapan, ransel pun tersandang di bahunya.

__ADS_1


Semua siswa menyingkir ketika Sanubari melewati bangku demi bangku dalam kelas. Mereka meliriknya sinis sembari berbisik-bisik.


"Ancene anak setan. Yo mesti wae kelakuane koyok setan."


Dibilang anak setan dengan perilaku layaknya setan seperti itu sudah biasa bagi Sanubari. Dia lebih memilih berpura-pura tidak mendengar, lalu bersikap biasa. Namun, gunjingan berikutnya membuat Sanubari kecil terguncang.


"Mosok ndek wingi AREP mateni Aldin?"


Tuduhan itu sama sekali tidak benar. Sanubari kecil sama sekali tidak mengenal apa itu pembunuhan. Menghilangkan nyawa semut saja tidak tega, apalagi mematikan sesama manusia yang lebih besar.


Dia tertunduk risih, memainkan jari dan menggigit bibir. Dia berusaha menyibukkan pikiran. Namun, telinganya tetap menangkap perbincangan itu secara utuh.


"Hi serem."


"Hus, Ojo kakehan ngomong! Cahe wis teko. Mengko lak krungu terus kumat piye?"


Kekhawatiran mereka itu sama sekali tak berdasar. Sudah Dari tadi Sanubari mendengar, dan dia lebih memilih untuk diam. Betapa pedihnya hati Sanubari kecil. Mereka bahkan menyamakannya dengan orang hilang akal yang bisa kambuh dan mengamuk kapan saja.


Dua di antara mereka menoleh. Yang pada akhirnya, tanpa sengaja berserobok dengan sorot hijau mata Sanubari yang juga baru mengangkat kepala. Tak ayal, keriuhan pun menggemparkan ruangan.


"Kabur!"


"Gyaaa enek wong gendeng!"


Semuanya keluar kelas. Mereka beralih membuat keributan di luar. Tak satu pun berani kembali masuk kelas.


Melewati pintu belakang, Sanubari menuju ruang guru. Dia berdiri di depan meja wali kelasnya. Tak ada obrolan, sampai guru-guru lain benar-benar meninggalkan kantor semua.


"Mulai sekarang dan seterusnya, kamu tidak usah datang lagi ke sekolah!" ucap sang wali murid yang seketika membuat Sanubari tersentak.


"Tapi Pak, bagaimana saya bisa mengikuti pelajaran bila tidak boleh datang ke sekolah?" Mata jernih Sanubari megerjap polos.


Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari sang guru. Meski satu kalimat itu menunjukkan makna yang sangat jelas, pikiran Sanubari tetap terisi dengan positivitas.


"Ya, tidak usah ikut pelajaran." Wali kelas tersebut menarik laci, dia mengambil selembar kertas persegi panjang.


"Tidak bisa begitu dong, Pak! Bisa-bisa saya mengulang kelas karena tertinggal pelajaran dan kurang total kehadiran. Saya tidak mau diliburkan."


"Tidak ada yang namanya mengulang kelas untukmu. Sebaiknya, kamu pulang sekarang dan berikan ini pada ibumu!" Wali kelas memberikan amplop putih pada Sanubari.


"Tapi Pak, kelas baru saja mulai."


"Pulanglah! Kamu bukan lagi murid di sini. Kami tidak bisa membiarkan murid nakal sepertimu tetap di sini."


Ultimatum terakhir yang membuat jantung Sanubari bagai tertikam golok. Teramat perih. Satu peristiwa itu benar-benar memperburuk status Sanubari. Bukan hanya dipandang sebelah mata oleh warga dan teman sepantaran, para guru pun menjauhinya saat itu juga.


Sanubari berjalan murung. Sebelum masuk rumah, Sanubari berulang kali menganjur napas, berusaha menormalkan ekspresi. Dia tidak ingin terlihat buruk di depan ibunya.


"Loh, kok wis wangsul? Bebas to, Le?" Begitulah sambutan Sanum ketika melihat anak laki-lakinya pulang lebih awal, mengira bahwa sekolah dibebaskan.

__ADS_1


Sanubari tersenyum. Namun, air mata tetap saja luruh ketika dia menyerahkan amplop putih pada sang ibu. Kesedihan atas rasa bersalah mengecewakan sang ibu tak bisa dibendungnya.


Sanum lekas membaca sepucuk surat tersebut. Tangannya lekas mengusap pipi Sanubari setelah selesai membaca, lalu mendongakkan kepala sang putra.


"Ora opo-opo, ngilmu iku ora mung Doko sekolah."


Sanum meyakinkan Sanubari bahwa menuntut ilmu itu tidak terbatas di sekolah saja. Dia sama sekali tidak keberatan dengan dikeluarkannya Sanubari. Terlihat jelas dari senyum yang mengembang lebar. Sanubari kecil bingung dibuatnya.


"Tapi, Mak ...."


"Lulus sekolah durung Tamtu njamin wong ISO lulus ujian urip. Yo wis ben ora nduwe ijazah sekolah, sing penting iso ngadepi Ujiane Sing Nggawe Urip."


Sanum menasihati Sanubari, lulus sekolah belum tentu menjamin seseorang bisa lulus dari ujian hidup. Biarlah tak memiliki ijazah sekolah, yang terpenting bisa menghadapi ujian Sang Pemberi Kehidupan. Dia memeluk Sanubari, mengelus punggungnya lembut.


Sanubari kecil bisa merasakan kehangatan kasih sayang Sanum. Hati yang terluka parah pun perlahan disembuhkan oleh kehangatan tersebut. Kekuatan Sanubari seolah baru saja diisi ulang.


"Mamak ...."


Sanubari sadar, sumber kekuatannya dahulu berasa dari Sanum. Semangatnya, keceriaannya, ketabahannya akan pulih secara instan setiap kali dia mendapat perlakuan hangat semacam itu. Namun, pelukan itu mendadak menjauh.


Sanubari seperti melihat dirinya sendiri. Dia berdiri kebingungan. Sosok kecil itu menghilang, bagai air yang tiba-tiba ambyar. Lagi-lagi darah tercecer di mana-mana.


Transisi terus bergerak tanpa bisa Sanubari hentikan. Sanum yang semula sehat, terbaring dengan wajah pucat dan pakaian berlumur darah. Sanubari tercekat. Sumber kekuatannya telah pergi. Tumpuan hidup satu-satunya telah tiada.


Tidak berhenti di sana, sekitarnya menggelap dengan sangat cepat, melahap segala objek yang ada. Sanubari be.rlari, menggapai-gapai kekosongan dalam kegelapan sambil berteriak.


"Mamak! Mamak! Mamak!"


Namun, sia-sia. Wujud wanita itu telah hilang sempurna. Bunyi tetesan menggema dalam keheningan. Bersamaan dengan dimulainya simfoni itu, sekujur tubuh Sanubari diserang rasa nyeri yang luar biasa hebat.


Saat mengangkat tangan, jajaran besi telah menembus lengannya, membuatnya mendesah terkejut. Napasnya memberat. Tak hanya lengan, kedua kaki dan perutnya pun ditembus besi panjang. Darah mengalir deras dari tubuhnya. Dia menjerit sejadi-jadinya.


"Argh!"


Sanubari memegangi kepalanya. Itu terasa seperti baru saja dipukul Godam. Kegelapan berubah menjadi pemandangan buram.


Pintu dibuka. Beberapa orang masuk. Salah satunya menghampiri Sanubari.


"Daijoubu desu ka?"


Suara itu terdengar sangat jauh di telinga Sanubari. Padahal, bayangan-bayangan itu terlihat mendekat. Pikirannya kacau, hingga dia seperti orang linglung yang tak bisa merespons dunia luar.


Bagaimana jika dia ditangkap sekarang, bagaimana jika dia dibunuh sekarang, bagaimana jika dia dalam kegelapan selamanya, bagaimana jika dia tak memiliki keluarga selamanya, bagaimana jika dia sendirian selamanya, bagaimana ... bagaimana ... bagaimana ... bagaimana—semua itu tumpang tindih dalam kepala sampai Sanubari tak tahu lagi apa yang dipikirkannya.


Kegelapan kedua dalam satu hari ini menyapanya. Tangan yang menjambak rambut sendiri pun mendadak terkulai begitu saja.


"Doushiyo?" salah satu dari mereka bertanya bagaimana.


"Kare o byōin ni tsurete ikanakereba naranai yōdesu." Yang lain mengusulkan untuk membawa Sanubari ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2