Santri Famiglia

Santri Famiglia
Keputusan Sanubari


__ADS_3

"Jadi, kak Abri tahu tentang semua keluarga korban?"


Abrizar menggeleng. "Tidak juga."


"Lah, terus bagaimana caranya Kakak bisa membagikan semua uang itu kepada keluarga korban? Bagaimana pula Kakak membebaskan korban? Apakah Kakak yakin dengan mencuri semua uang itu, mereka akan membebaskan korban yang masih dalam cengkraman mereka?" cecar Sanubari gang tanpa sadar meninggikan suaranya.


"Ruang lingkup ku terbatas. Hanya sebagian yang berhasil kudapatkan. Beberapa kali aku menyerang secara online dan mengancam supaya mereka membebaskan orang-orang yang mereka sekap. Nyatanya, sampai sekarang mereka tidak menghentikan aktivitas perdagangan budak itu." Abrizar menghela napas lesu.


"Kenapa tidak langsung menyerang markas mereka saja lalu membebaskan semua yang diculik?"


"Jangan konyol! Dengan kondisiku, mana mungkin bisa menyergap sendirian? Sekalipun aku tahu tempatnya."


"Kak Abri bisa meminta bantuan ayah Kakak. Bukankah Kakak bilang ayah Kakak adalah tentara yang menjadi anggota tim gabungan pemberantas sindikat perdagangan manusia?"


"Tidak mungkin aku meminta bantuan ayah," lagi-lagi Abrizar menggeleng, "pertama, kasus perbudakan tersebut ditutup setelah cabang ke dua mereka berhasil dirazia. Ke dua, ayahku diberhentikan secara tidak hormat beberapa tahun yang lalu gara-gara ulah mafia. Ke tiga, tidak semua abdi negara bisa dipercaya. Beberapa pejabat korup malah bekerja sama dengan para mafia. Tidak ada pilihan lain, aku harus bergerak sendiri."


Sebenarnya bisa saja Abrizar tidak memedulikan semua kejahatan itu. Toh, dirinya saat ini sudah bisa hidup tenang. Bukan kewajibannya pula ikut campur urusan orang lain. Namun, nuraninya tidak bisa tinggal diam ketika mengingat masa lalu.


Ia tidak tega mendengar rengekan anak-anak yang direnggut kebebasannya, dibunuh hanya untuk memenuhi keegoisan iblis berwujud manusia. Belum lagi, adiknya pernah pula menjadi korban. Sebisa mungkin ia ingin melenyapkan organisasi tersebut.

__ADS_1


Mereka berdua tenggelam dalam pembicaraan yang sangat serius sampai Sanubari melupakan sarapan yang telah ia siapkan di meja makan. Sepertinya, Sanubari mulai terpengaruh dengan pemikiran Abrizar. Mengingat dirinya sendiri pernah menjadi korban penculikan, rasa-rasanya ia juga tidak bisa membiarkan organisasi penculikan berdiri di tengah masyarakat tanpa terusik.


Entah mendapatkan ide dari mana, tiba-tiba saja Sanubari menawarkan diri, "Bagaimana jika kita lakukan bersama? Akan lebih efektif jika kita terjun ke lapangan langsung untuk membebaskan korban daripada hanya lewat tulisan. Iya, kan? Aku bisa melihat. Aku bisa membantu Kak Abri melawan mereka secara langsung."


"Kau sendiri?"


"Iya." Sanubari mengangguk penuh percaya diri tanpa mengetahui apa yang akan ia hadapi.


"Jangan ngawur kau! Dikejar empat orang saja lari, pakai sok mau nyemplung ke kandang harimau."


"Aku enggak ma ke kandang harimau kok."


"Oh."


"Tempat penyekapan itu biasanya dijaga banyak orang. Mereka semua setidaknya bisa berkelahi, walau hanya tingkat dasar. Apa lagi ada yang mahir memakai senjata," jelas Abrizar sambil membuka-buka file di laptop.


Meskipun mata Abrizar buta, kemampuannya dalam mengoperasikan benda digital tersebut tidak kalah dengan orang melek. Ia juga bisa menghasilkan uang dengan menjadi programmer lepas. Pelanggannya pun bukan kaleng-kaleng. Banyak perusahaan besar yang menyewa jasanya. Ia tidak perlu keluar rumah untuk bekerja. Dari pekerjaannya itu pula Abrizar bisa curi-curi informasi yang dibutuhkan.


"Kalau berkelahi sih aku juga bisa. Kak Abri tenang saja! Aku yakin. Bersama-sama, kita pasti bisa membersihkan penjahat dari bumi ini," ucap Sanubari yang mendapatkan keberanian entah dari mana.

__ADS_1


Padahal dirinya sendiri saja sedang dalam pelarian. Tentu saja hal tersebut membuat Abrizar mengangkat alis. Ia sudah menyelidiki tentang Sanubari—pemuda tujuh belas tahun dari pasangan Sanum dan Bari, pemenang medali emas dalam olimpiade cabor anggar dan renang dua kali berturut-turut. Sedangkan untuk riwayat pendidikan, tidak banyak yang bisa Abrizar temukan.


Sejauh ini, Abrizar masih tidak tahu apa alasan Sang Kehendak Abadi mengincar Sanubari. Tidak ada yang istimewa dari latar belakang Sanubari, kecuali prestasi dalam bidang olahraga yang cemerlang.


"Waktu itu kupikir lebih baik kabur daripada menghadapi mereka. Selama bisa menghindar, untuk apa capek-capek berkelahi? Iya, kan?" Sanubari terkekeh.


Abrizar Melongo mendengar alasan Sanubari. Dalam pikiran Abrizar, anak ini benar-benar lubu. Mungkin karena ini pula Abrizar bisa terbuka dengan Sanubari.


Abrizar merasa bahwa Sanubari bukanlah orang yang berbahaya atau bermuka dua.


"Pemikiranmu itu salah, Sanu. Jika bisa melumpuhkan maka lumpuhkan terlebih dahulu baru kabur! Lari itu hanya membuang-buang tenaga. Lebih bagus lagi jika kau bisa menuntaskan masalah sampai ke akarnya. Kau tidak ingin hidup dalam pelarian terus, kan?" tutur Abrizar.


"Karena itulah aku mengajak Kakak bekerjasama. Kisah Kakak mencerahkanku. Aku terinspirasi untuk membuat mafia baik hati seperti Sang Kehendak Abadi. Ah, tidak-tidak! Tetapi lebih baik dan besar daripada Sang Kehendak Abadi. Jadi, aku tidak perlu khawatir lagi dengan kehadiran mereka." Sanubari tersenyum lebar.


Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Namun, ia tekan setitik keraguan itu dalam-dalam. Sanubari lelah hidup dalam pelarian dan di bawah gangguan orang-orang yang tidak dikenal. Ia ingin menciptakan perdamaian bagi dirinya sendiri serta mereka yang merindukan ketenangan.


"Anak ini benar-benar paham apa itu mafia enggak sih?"


"Paham. Makanya, aku ingin mendirikan mafia sendiri yang memberantas semua mafia jahat. Mafia perbudakan, mafia kuburan, mafia miras, mafia koruptor, mafia pemalak—semua itu harus dimusnahkan dari muka bumi ini, kecuali mafia singkong dan mafia yang tidak merugikan lainnya."

__ADS_1


__ADS_2