Santri Famiglia

Santri Famiglia
Wabah


__ADS_3

"Kalian mau tahu?" tanya Arti.


Dia mengedarkan pandangan secara merata. Para pemuda di hadapan tampak serius. Eiji mengangguk.


"Akan kuberi tahu jika Sanu jadi membeli."


Arti sengaja menahan diri untuk memberikan informasi lebih lanjut. Tentu, dia tidak ingin rezeki di depan mata melayang karena info itu. Setidaknya, kesepakatan mutlak harus terbentuk sebelum mengatakannya.


Sanubari berpikir keras. Sebenarnya, dia bisa saja melepas tanah yang diklaim Arti. Toh, tanpa membelinya pun dia tetap memiliki rumah. Rumahnya di Italia bahkan lebih dari layak untuk ditinggali.


Namun, setelah mempertimbangkan ini itu, Sanubari tetap memutuskan, "Aku akan membelinya."


Arti manggut-manggut. Dia puas mendengar jawaban Sanubari, lalu mendesak, "Bagus. Sekarang, mana uangnya?"


Sanubari tersenyum canggung. Pastinya, dia tidak membawa uang sebanyak itu. Jadi, dia diam-diam berharap teman-temannya bisa membantu.


Kemudian, dia berkata, "Um, Kak Eiji, Kak Abri, Kak Ren, Kak Sai, boleh pinjam uang kalian?"


Sanubari menoleh ke kanan dan kiri. Dia hanya membawa uang tunai lima juta rupiah. Dia berpikir, mungkin uangnya akan mencapai nominal yang telah ditetapkan bila menggabungkan uang masing-masing.


Andaipun tidak cukup, Sanubari berpikir akan melunasi esok setelah mengambil uang ke bank. Kelana mengingatkannya sebelum pergi, "Gunakan ini jika uang sakumu habis. Seluruh tabunganmu ada di sini. Kau juga bisa bilang padaku. Nanti, akan kutransfer sejumlah uang padamu. Mengerti?"


Kelana menunjukkan gantungan kunci berisi kartu-kartu yang tidak diketahui Sanubari waktu itu. Kartu yang juga Sanubari bawa ke Jepang, tetapi tidak tahu cara penggunaannya. Malam itu, Kelana memintanya memperlihatkan sekali lagi dan menjelaskan kegunaannya.


"Aku saja sudah cukup," balas Eiji mengangguk.


Dia membuka resleting tas, mengeluarkan amplop cokelat dari Aeneas, meletakkannya ke atas meja. Dia juga menambahkan tiga puluh tujuh lembar uang kertas lima ratus euro. Pesangon tunai dari Aeneas itu belum dia bongkar sama sekali.


"Jika kalian menukarkan ini ke bank, kalian akan memperoleh satu miliar lebih," tambahnya.


Eiji sudah melakukan perhitungan cepat. Berdasarkan perhitungan kasarnya, enam puluh delapan ribu lima ratus euro seharusnya lebih dari cukup.


"Jika perhitunganku meleset dan uang ini ternyata kurang, kalian bisa menemui kami untuk meminta kekurangannya," imbuhnya lagi.


"Tunggu sebentar! Akan kupanggilkan aparat desa dan beberapa warga sebagai saksi!" ucap suami Arti.

__ADS_1


Selagi suaminya pergi, Arti menjabarkan apa yang ingin diketahui Eiji. Sekitar satu bulan yang lalu, Indonesia dilanda musibah besar yang merebak dari Sabang sampai Merauke. Wabah penyakit misterius menginfeksi hampir seluruh warga.


Pandemi menggemparkan seluruh lapisan dalam negeri ketika terjadi kematian masal di minggu pertama. Tidak tanggung-tanggung-, berkisar satu juta jiwa wafat pada hari yang sama.


Bahkan, diberitakan bahwa sebuah desa mendadak menjadi desa mati karena seluruh penduduknya meninggal. Berita itu disusul himbauan untuk membatasi interaksi dan menerapkan tips-tips kesehatan yang disosialisasikan.


Menilik sejarah, fenomena ini tidak bisa dianggap enteng. Pemerintah langsung mengambil tindakan. Penelitian tentang penyebab kematian masal pun dilakukan.


Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya penuh. Korban-korban yang berjatuhan pun terus bertambah. Banyak sektor terhenti karena mereka yang terjangkit akan mengalami kelumpuhan di hari ketiga.


Pada saat itu, putri Arti turut menjadi korban. Awalnya, Arti mengira putrinya terkena demam biasa. Namun, ketika dibawa ke rumah sakit, gadis itu divonis terkena virus yang sedang memporak porandakan negeri.


Untuk menyembuhkannya, Arti harus membeli serum seharga seratus juta. Menit itu juga, putrinya yang lumpuh bisa sehat kembali.


Sayangnya, hari berikutnya, Arti yang ganti terinfeksi. Begitu sembuh, putrinya lagi yang sakit. Suaminya juga dipecat karena pandemi ini.


Banyak tetangganya yang meninggal karena tidak mampu membeli serum. Arti dan keluarga menjadi beberapa yang cukup beruntung bisa bertahan di masa sulit ini.


"Sepertinya, kita datang di hari yang salah," komentar Renji setelah mendengar cerita itu.


"Jika memang separah itu kondisinya, kenapa beritanya tidak sampai ke negara lain?" tanya Abrizar.


Menurutnya, itu sedikit aneh. Berita sebesar itu seharusnya sudah sampai ke telinga internasional, apalagi bila penyebarannya memang melalui udara dan interaksi antar manusia. Cepat atau lambat, angin pasti akan membawa wabah ke negara sekitar.


Sayangnya, Arti hanya menjawab singkat, "Mana aku tahu."


Tidak lama kemudian, suami Arti kembali bersama bayan, kepala desa, ketua RT, serta dua warga lain. Mereka menuntaskan transaksi. Tanpa menunda, Arti dan suami langsung berkemas. Mereka meninggalkan para pria yang masih berkumpul di ruang tamu.


Setelah menyaksikan transaksi tersebut, Pak RT memberanikan diri untuk menawarkan, "Anu, Sanu, maukah kamu juga membeli rumahku? Lima ratus juta saja. Rumahku tidak sebagus ini. Kita bisa nego harga, tapi kuharap tidak kurang dari empat ratus juta."


"Beli juga tanahku, Sanu!"


"Kalau mau, punyaku juga."


Yang lain ikut-ikutan. Sanubari kebingungan dengan serbuan tawaran ini. Eiji, Abrizar, Renji, dan Sai pun sama. Warga sekampung seolah ingin menjual tanahnya serempak—itu terlalu ganjil untuk dianggap kebetulan belaka.

__ADS_1


"Kenapa kalian ingin menjual rumah padaku?" tanya Sanubari.


"Aku butuh uang untuk pengobatan anak dan istriku."


"Sama."


"Desa ini menjadi salah satu zona merah, aku ingin pindah ke tempat yang belum terjamah wabah."


"Lebih baik menjual padamu daripada pentolan desa itu!"


"Benar. Mereka seenaknya ingin membeli tanah kami dengan harga rendah."


"Iya. Bahkan, tidak cukup untuk Membeli serum itu.


Mereka dengan suka rela saling bergantian memberi keterangan. Para penduduk desa di ambang keputusasaan. Dalam setiap kepala, dapat dipastikan sedikitnya satu anggota keluarga terinfeksi.


Gara-gara biaya pengobatan yang selangit, hampir seluruh warga sekampung mengalami keterpurukan ekonomi. Para warga miskin meninggal tanpa bisa berobat. Yang tersisa tinggallah warga menengah ke atas.


Itu terdengar seperti ancaman yang serius. Kecurigaan Abrizar luntur setelah mendapat pengakuan serupa dari warga.


Tanpa bertanya, Sanubari bisa menebak. Pentolan yang dimaksud pastilah mafia tanah, oknum yang dahulu mempersulit penguburan kakeknya. Sanubari geram mendengarnya.


Dia berjanji akan membantu warga. Karena sudah larut, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Keluarga Arti juga sudah keluar.


"Tidak akan kubiarkan oknum-oknum semacam itu memanfaatkan bencana untuk memeras seseorang."


Sanubari mengepalkan tangan. Kemarahannya bergejolak.


"Sepertinya, kita harus segera kembali ke Italia. Tidak baik menetap terlalu lama Di sini dalam kondisi seperti ini," usul Abrizar.


Dia mulai cemas. Terlalu banyak hal yang tidak mereka ketahui.


"Abri benar. Melawan musuh biologis itu lebih merepotkan daripada menghadapi sesama manusia," timpal Renji.


"Setelah menyelesaikan transaksi, kita pulang," balas Sanubari.

__ADS_1


Dia berpikir, tinggal satu atau dua hari mungkin tidak masalah. Dia merasa sangat sehat, tidak akan dengan mudah jatuh sakit.


__ADS_2