
Reruntuhan terus bergerak seolah ada sesuatu di baliknya. Aeneas memandang tanpa berkedip. Di sana, Kelana dan Gafrillo menghilang.
Dari bawah hingga atas, hanya ada puing yang saling tindih. Langit sama sekali tidak tampak. Bongkahan-bongkahan besar merapat. Aeneas tidak bisa menemukan jalan untuk menembus reruntuhan.
Semntara itu, di balik lengan-lengan, makhluk itu mengarahkan satu tentakel ke sesuatu yang menyerupai paruh tepat berada di tengah-tengah bertemunya delapan lengan serta dua tentakel. Tentakel terbuka. Sesuatu yang seperti lidah beralih melilit Kelana. Baju Kelana koyak. Kulit bocah itu sebagian robek akibat penghisap pada tentakel, belum lagi rematan organ yang seperti lidah.
Kelana menangis meraung-raung. Perih taktertahankan sungguh menyiksanya. Tulang-tulangnya terasa mau remuk.
Aeneas gemetaran karena menggigil bercampur ketakutan. Sesuatu menjulur yang membawa Kelana dan Gafrillo amatlah besar. Dia tampak enggan berenang mendekati reruntuhan. Namun, dia akan kehilangan mereka bila tidak melakukan apa-apa.
Satu tentakel kembali terjulur dari balik reruntuhan. Bongkahan-bongkahan terbang, lalu berdebam. Benda licin itu melilit Aeneas, tetapi melepaskannya kembali dengan cepat. Goresan tulang ikan yang dipegang Aeneas melukai kulit makhluk itu. Darah hitam mengalir.
Refleks cepat Aeneas bekerja. Dia menusukkan tulang ikan ke daging tentakel. Bagaimanapun juga, Aeneas harus menemukan Gafrillo. Hanya itu cara yang bisa Aeneas lakukan untuk menemukannya. Dia harus menempel seperti parasit.
Darah hitam terus mengalir. Tentakel menggeliat liar, menabrak bongkahan. Aeneas sempat terhantam. Namun, dia berpegang erat supaya tidak terempas.
Entah apa yang terjadi, makhluk itu tiba-tiba berhenti bergerak bersama kesadaran Aeneas yang kian memudar. Bongkahan besar menghantam tubuh dan kepala Aeneas hingga ubur-ubur pecah. Andai tidak ada ubur-ubur itu, pastilah kepala Aeneas yang pecah.
Kelana juga kehilangan kesadaran akibat syok dan ketakutan berlebih. Dia tidak tahu apa yang terjadi selama diremat-remat makhluk raksasa yang tidak diketahuinya apa. Begitu tersadar kembali, dia telah berada di atas ranjang.
Selama beberapa menit, Kelana hanya mengerjap-ngerjap sambil menatap langit-langit. Retinanya sedang menyesuaikan dengan pencahayaan yang masuk. Sementara kesadarannya berusaha mengendalikan jantung yang berpacu liar.
"Syukurlah hanya mimpi.," begitu pikir Kelana awalnya.
Namun, rasa sakit itu terasa nyata. Saat memeriksa lengan, ada beberapa bagian yang diplester. Dia juga mendapatkan transfusi darah. Selain itu, Aeneas yang baru dikenalnya juga berbaring di sebelahnya.
"Jadi, peristiwa itu nyata?" Kelana menoleh pada Aeneas dengan jantung berdebar-debar. Otot-ototnya melemas kembali begitu menngingat tragedi yang hampir merenggut nyawanya.
__ADS_1
Aeneas masih memejamkan mata. Bocah itu mendapatkan jahitan di kepala dan pelipis.
"Kalau dia ada di sini, berarti Paman Gafrillo juga ...." Kelana mengedarkan pandangan.
Dia mencari-cari pria dewasa itu. Namun, di ruangan yang seperti kamar rumah sakit itu hanya ada dirinya dan Aeneas. Akhirnya, Kelana hanya berbaring dalam diam. Sampai kemudian, Aeneas terbangun, lalu berjalan ke pintu.
Mau ke mana?" tegur Kelana.
"Mencari papa," jawab Aeneas sambil lalu.
"Jangan pergi!" Kelana ingin mengatakan itu, tetapi tertahan di kerongkongan.
Aeneas keluar begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Kelana tidak ingin kehilangan Aeneas. Jadi, dia melompat dari ranjang. Namun, selang infus membuatnya tertahan. Dia lekas mencabutnya asal-asalan supaya bisa berlari.
Begitu sampai di luar, dia menolah-noleh, lalu berlari lagi saat menemukan Aeneas. Dia menarik lengan Aeneas. "Sebaiknya, kita kembali ke kamar tadi!"
Namun, Aeneas menyentakkan tangan. Dia terus berjalan tanpa menghiraukan Kelana.
Akan tetapi, Aeneas tetap tidak mengacuhkan. Bocah itu memasuki elevator. Kelana terpaksa ikut karena tidak ingin ditinggal sendirian.
Aeneas menekan tombol lantai yang lebih tinggi. Pemandangan lantai yang tenggelam, bangunan yang runtuh, serta satwa bawah air yang abnormal masih terbayang-bayang dalam benaknya. Dia tidak ingin kembali ke tempat itu. Dia juga yakin Gafrillo mustahil ada di sana.
"Aeneas ... kita kembali saja yuk! Paman Gafrillo pasti akan mencari kita ke kamar itu."
"Kembali saja sendiri kalau mau! Aku juga tidak memaksamu untuk mengikutiku, kan?"
"Mana mungkin aku kembali! Sendirian pula. Iya kalau aman. Kalau kepiting raksasa, buaya, sarden mendadak menjebol dinding ...," batin Kelana merinding. Menyantap sarden memang lezat, tapi menjadi santapan sarden sampai kapan pun Kelana tidak akan mau.
__ADS_1
Kelana masih bisa hidup mungkin berkat Gafrillo juga Aeneas. Jika dia tetap tersesat sendirian, dirinya mungkin sudah tinggal nama sejak dinding jebol. Jangankan bertahan sampai saat itu, kemungkinan lebih buruknya dia pasti telah tiada sejak kepiting raksasa mendadak melubangi lantai.
Setelah mempertimbangkan ini dan itu, Kelana memutuskan untuk membuntuti Aaeneas. Mereka menjelajahi bangunan yang begitu sunyi.
Langkah kaki-kaki telanjang mereka pun begitu senyap. Hanya ada bunyi knok ditarik sesekali ketika mereka membuka pintu. Setiap kali memasuki ruangan, hanya kekosongan yang menyambut mereka.
Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan penuh dengan monitor. Ditengah ruangan, terdapat diorama bumi berdiameter 50 meter. Bola dunia tersebut dilapisi irisan melingkar denganpasak-pasak yang menancap di permukaan globe dan sisi dalam irisan. Seekor ular melingkar, melekat pada irisan, seolah irisan tersebut merupakan langit berpilar, dan ia sedang terbang menyangganya. Sementara pada bagian luar irisan terdapat miniatur peradaban layaknya di bumi. Terdapat pula duplikasi hologram setiap berjarak beberapa meter.
Selain itu, lapisan transparan berada di antara irisan, menyelubungi bumi. Dalam lapisan itu, air terperangkap. Bumi tak ubahnya telur ikan yang melayang dalam air.
Selagi Kelana terkagum-kagum dengan desain miniatur bumi berpasak itu, Aeneas memperhatikan monitor-monitor dan tombol-tombol di sana. Sebagian monitor menampilkan ular raksasa terendam air, menempel pada permukaan lengkung. Itu persis seperti diorama yang sedang diperhatikan Kelana.
Ketika Aeneas iseng menekan tombol, tubuh ular dalam monitor menggeliat, pun dengan ular pada diorama. Lapisan yang seolah dipikul ular berguncang dahsyat. Air bergejolak hingga menyapu daratan.
"Gempa!"
Kelana tersentak akibat gemuruh yang mendadak terdengar. Matanya melotot memperhatikan diorama yang bergetar akibat pergerakan ular.
Dihari yang sama, gempa dan tsunami sungguh terjadi di permukaan. Para ilmuwan permukaan menganggap itu sebagai akibat pergerakan lempeng bumi. Faktanya, jauh di lapisan yang berlapis-lapis, ada ular raksasa yang menyangga, dan ular itulah yang menyebabkan gempa atau pergerakan pada lempeng.
Aeneas menoleh. Dia menyaksikan apa yang dilihat Kelana, lalu ke monitor secara bergantian. Menyadari sesuatu, dia menjauhkan tangan dari tombol. Diorama berhenti bergetar. Kemudian, dia menekan tombol lagi lebih lama. Ular kembali bergerak, mengguncangkan diorama.
Jadi, Aeneas menganggap tombol-tombol yang ada di sana sebagai alat kontrol diorama. Sementara diorama tersebut hanya dianggapnya sebagai mainan. Aeneas terus menekan tombol-tombol tanpa tahu yang dilakukannya menyebabkan bencana sungguhan bagi orang permukaan.
Salah satu pasak retak, patah. Cairan merembes dari celah patahan dan retakan. Air yang menyelubungi bumi dengan prlahan berubah warna.
Kelana bergegas berlari menghampiri Aeneas. Dia khawatir benda itu meledak.
__ADS_1
"Ayo pergi dari sini!" ajaknya sambil sesekali menoleh pada diorama yang berguncang.
Derap langkah terdengar mendekat dengan cepat. Bunyinya nyaring, menyiratkan ketergesaan. Dua bocah itu geming di tempat kala pintu dibuka dengan kasar.