Santri Famiglia

Santri Famiglia
Hantu Pembunuh


__ADS_3

Wanita itu terpeleset. Ia mendesis kesakitan. Untungnya kaki tidak keseleo sehingga ia bisa langsung berdiri. Ia tidak ingin berlama-lama terduduk di lantai karena tidak jauh darinya ada pria yang sedang berdiri memegang alat pengepel.


Wanita itu berkacak pinggang. Dengan nada yang tidak menyenangkan dia berkata, "Untuk apa laki-laki ada di toilet perempuan?"


Petugas kebersihan itu sadar bahwa dirinyalah satu-satunya lelaki di sana. Ia pun menjawab, "Saya bekerja, Mbak."


"Ngeles aja! Kau pasti ingin mengintipku. Karena itu kau basahi lantainya supaya aku terpeleset dengan harapan rokku akan tersibak, kan?"


"Di luar ada papan peringatannya. Mbak tidak lihat?"


"Dasar pria rendahan! Jangan kau pikir aku tidak tahu siasatmu! Awas saja kalau kau berani macam-macam!" ancam wanita itu mengarahkan kepalan tangan kepada sang Pria. Puas berkata-kata, wanita itu memasuki salah satu bilik dan membanting pintu dengan keras.


"Andaikan saja di luar sana tidak ada kamera pengawas. Pasti sudah kucekik ini Mak Lampir. Cerewet, nyebelin pula! Mentang-mentang bisa jalan-jalan ke mal menghamburkan uang. Seenaknya saja ngatain orang. Ah, aku kan juga bisa jalan-jalan ke mal. Malah bisa menghasilkan uang dengan berjalan-jalan pula. Benar, aku lebih baik daripada wanita itu," rutuk petugas bersih-bersih itu dalam hati.


Jin dan Sanubari belum sepenuhnya menjauh ketika pertengkaran itu terjadi sehingga mereka masih bisa mendengar sebagian. Apalagi wanita itu selalu berbicara dengan nada tinggi.


Di mata Jin, wanita itu hanyalah orang yang rasionalnya kurang dipakai dan egois. Wanita semacam itu sama sekali tidak perlu diperhatikan dan dibantu. Andaikan dia yang jadi tunangannya, pasti sudah dipecatnya sejak lama wanita itu.


"Nanti kalau cari istri, jangan wanita darah tinggi seperti dia! Hidupmu tidak akan bahagia. Disenggol dikit marah. Beli tiket marah. Di toilet pun marah-marah tidak jelas. Lama-lama dia bisa jadi burung merah yang hobinya marah-marah. Lalu boom! Meledak jadi asap."


Sepanjang jalan, Sanubari tertawa terkekeh mendengar penuturan Jin. Pria itu sangat menghayati dan ekspresif saat berbicara. Gestur tubuhnya pun menambah kekayaan ekspresi. Jin benar-benar cocok menjadi pendongeng.


Mereka berlima memasuki gedung bioskop bersama setelah Sanubari kembali. Kelimanya duduk bersebelahan dengan urutan Jin, Kelana, Aeneas, Sanubari dan Sanum dari kiri ke kanan. Awalnya, bangku di kanan Sanum kosong. Namun, sesaat sebelum film dimulai, seorang wanita menduduki kursi tersebut.


Tepat pukul tujuh malam seluruh lampu dimatikan. Layar lebar di depan mulai menyala dan suara dari pengeras suara berkualitas tinggi pun menggelegar.


Semua orang menikmati jalannya cerita dengan tenang. Sanubari menonton sambil makan pop corn. Mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah. Melirik pada ibunya, pop corn di tangan sang ibu masih utuh. Ia pun berbisik memintanya karena sang ibu fokus menonton tanpa makan sedikit pun.


Hingga di pertengahan cerita, dua ember pop corn telah berhasil digasak habis olehnya. Masih belum bisa berhenti, diam-diam Sanubari mencomot sedikit demi sedikit milik ayahnya. Menyadari sang Anak menginginkannya, Aeneas pun memberikan miliknya. Sanubari mendapatkan keberuntungan ganda. Kelana juga memberikan jatahnya kepada Sanubari.


Film terus berjalan, adegan-adegan menegangkan dan menyeramkan pun semakin intens bermunculan. Banyak orang yang memejamkan mata ketika adegan kejutan ditampilkan. Efek suara semakin membuat jantung berdebar. Tiba-tiba wanita di sebelah Sanum menyandarkan diri padanya.

__ADS_1


"Mbak, kalau mau tidur jangan di sini, Mbak!" tegur Sanum dengan suara lirih sambil membatin, "kok samar-samar mendadak ada bau anyir, ya? Apa Mbak ini bocor?"


Wanita itu tetap tidak bergerak. Sanum sedikit mengangkat-angkat bahu kanannya karena merasa pegal. Pergerakannya itu membuat tubuh sang Wanita semakin merosot padanya. Kepala wanita itu pun terjatuh pada paha Sanum. Suatu cairan terasa membasahi sebagian pahanya. Sanum menunduk. Dalam kegelapan ia menyaksikan sesuatu yang janggal.


Terlihat seperti ada luka sayatan pada leher wanita yang menimpanya. Sanum memberanikan diri menyentuhnya untuk memastikan. Jarinya tanpa sengaja masuk ke dalam luka yang menganga lebar. Sontak saja Sanum berteriak.


"GYAAAA!"


Sanubari, Aeneas, Kelana dan Jin menoleh pada Sanum. Ibu Sanubari itu panik. Ia terus meminta tolong.


"Berisik woi!" Pria yang duduk di belakang Aeneas melempar kepala Sanum dengan pop corn.


"Nonton kok lebay amat. Santai saja, Sis!"


"Mayat, tolong ada mayat!" Sanum terus berteriak.


Namun tidak ada yang mempercayainya. Karena kebetulan dalam film yang mereka tonton juga menampilkan adegan pembunuhan yang dilakukan oleh hantu.


Namun, Kelana segera berteriak, "Ada pembunuhan. Cepat panggil polisi! Jangan ada yang menyentuhnya sebelu polisi datang!"


Kelana berusaha mengeluarkan suara terkerasnya supaya bisa bersaing dengan kegaduhan. Sanubari memuntahkan isi perutnya gara-gara kejadian itu. Ia bisa melihat pemandangan mengerikan itu dengan sangat jelas. Walaupun studio saat ini dalam kondisi gelap gulita tetapi minimnya cahaya tidak menyamarkan pemandangan menjijikkan itu dari mata mudanya.


Aeneas melihat putranya yang sepertinya tidak baik-baik saja. Bocah itu mungkin tertekan dengan pengalaman menyeramkan pertamanya. Kenyataan ini bahkan lebih mengerikan daripada filmm yang sedang berputar.


Aeneas menggendong tubuh bocah itu begitu selesai muntah-muntah. Tubuh Sanubari gemetaran. Ini bukan kali pertama ia melihat darah sebanyak itu. Akan tetapi, kondisi wanita itu lebih parah daripada Aldin waktu itu.


"Non possiamo lasciare che Sanubari rimanga qui. Ma non posso nemmeno lasciare Sanum così."


(Kita tidak bisa membiarkan Sanubari tetap di sini. Tetapi aku juga tidak bisa membiarkan Sanum seperti itu.)


Aeneas memandang Sanum yang sama syoknya dengan Sanubari. Wanita itu masih duduk di tempat sambil memalingkan wajah dari mayat yang tergeletak. Dia menangis.

__ADS_1


"Posso portare via il giovane maestro Sanubari."


(Saya bisa membawa pergi tuan muda Sanubari.)


"Ho ancora bisogno di te come traduttore."


(Aku masih membutuhkanmu sebagai penerjemah.)


"C'è ancora Jin qui. Possiamo affidargli il giovane maestro Sanubari."


(Masih ada Jin di sini. Kita bisa mempercayakan tuan muda Sanubari padanya.)


Aeneas menyetujui saran Kelana. Diserahkannya Sanubari pada Jin. Pemuda itu membawa Sanubari agak menjauh. Sementara Aeneas menenangkan Sanum yang telah berada dalam pelukannya.


Seseorang telah memanggil polisi. Selang beberapa menit, sebuah pengumuman diperdengarkan ke seluruh gedung. Film yang belum selesai diputar pun mendadak dihentikan sebelum pengumuman dimulai.


[Kepada Pengunjung yang terhormat! Kami mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Berhubung saat ini ada suatu hal yang mengharuskan pemeriksaan terhadap semua orang yang ada di gedung, diharapkan Pengunjung tetap berada di gedung Blitos sampai waktu yang ditentukan. Mohon kerjasamanya dan terimakasih.]


Pihak pengelola pusat perbelanjaan pun bergerak cepat. Tanpa banyak tanya, mereka melaksanakan instruksi dari kepolisian. Semua pintu keluar ditutup dan dijaga petugas keamanan. Kemudian, sebuah pengumuman susulan dikumandangkan.


[Bagi pengunjung yang berada di studio tiga, harap untuk tidak keluar ruangan terlebih dahulu!]


Tanpa diminta pun para penonton banyak yang bertahan. Lampu telah dinyalakan kembali. Kengerian semakin terekspos nyata. Ada di antara mereka yang sengaja mengabadikan momen tersebut untuk kepentingan konten media sosial. Ada yang berkerumun hanya untuk mengobati rasa penasaran dan mungkin banyak lagi alasan lainnya.


Seorang pria berusaha menerjang kerumunan. Ia menjadi salah satu yang penasaran dengan korban. Ia mencari posisi sedekat mungkin supaya bisa melihat wajah korban. Setelah bergerak ke sana kemari, akhirnya ia berhasil melihat sebagian wajah korban.


Lelaki itu mengenalinya. Wanita itu memakai baju pemberian ibu-ibu yang sempat dicaci tunangannya. Jelas itu adalah pasangannya.


"Dia pantas mendapatkannya" lirih lelaki itu yang tidak merasa sedih sama sekali atas tewasnya sang Tunangan.


Tidak lama kemudian, sirene mobil-mobil polisi dan ambulans berhenti di sekitar gedung Blitos. Sepertinya Kapolres kota Blitar ingin menangkap tersangka tanpa penundaan. Satuan Reskrim langsung dikirim untuk olah TKP begitu laporan masuk.

__ADS_1


Para petugas berseragam polisi langsung mendatangi tempat kejadian perkara. Mereka dengan efektif mengerjakan tugas masing-masing. Memasang garis polisi, menandai tempat tergeletaknya korban, mencari barang bukti serta melakukan investigasi. Tim evakuasi membawa jenazah kepada dokter ahli yang telah menunggu di mobil ambulans khusus dengan perlengkapan canggih nan lengkap.


__ADS_2