Santri Famiglia

Santri Famiglia
Dunia yang akan Datang


__ADS_3

"Kenapa Kakek berkata seperti itu tadi? Dia jadi pergi, kan?" Damiyan melihat punggung Sanubari yang semakin menjauh, lalu menghilang.


Pria santai itu tidak terburu-buru mengejar. Sejauh apa pun Sanubari pergi, dia sama sekali tidak khawatir kehilangan jejak. Semua masih dalam kontrolnya. Perkara mudah menemukan Sanubari kapan pun itu.


Ruangan di sebelah mereka menggelap. Pencahayaan otomatis padam karena tidak terdeteksi ada manusia lagi di sekitar ruangan. Hanya tempat Damiyan dan Fang yang masih terang.


"Bukankah kau bilang untuk memberinya tujuan supaya mau belajar? Aku baru saja memberinya tujuan itu." Fang tersenyum.


"Tapi dia pergi."


"Kau rupanya masih terlalu muda untuk memahami cara kerja strategi orang tua. Kita lihat saja apa dia akan tetap di sini atau pergi seperti katamu setelah ini!"


Sanubari berjalan dengan suasana hati yang tidak keruan. Dia menendang-nendang tanah, tidak peduli tindakannya itu sia-sia. Batinnya menyangkal penghinaan atas dirinya.


"Tanpa bantuan papa pun aku bisa hidup sendiri! Sebelumnya, aku juga hidup tanpa papa, hanya bersama mamak."


Geru Tuannya melemah. Kalimat itu malah mengingatkannya tentang kenangan bersama Sanum, saat-saat mereka harus menghadapi peliknya kehidupan di bawah garis kemiskinan, lalu Aeneas datang membawa kebahagiaan dan kemudahan. Dia berhenti di tepian sungai, lalu duduk sambil memeluk lutut. Tatapannya menengadah ke langit biru.


"Andai mamak masih ada sekarang ...."


Rindu mendadak menyergap. Bibir cemberutnya perlahan berubah menjadi senyuman manakala mengingat kenangan indah bersama Aeneas dan Sanum. Dia tidak lagi menyalah-nyalahkan Aeneas. Yang tersisa dalam memori Sanubari hanya kebaikan demi kebaikan Aeneas. Dia bahkan tidak ingat sama sekali pernah memiliki kenangan buruk.


"Aku hanya perlu membangun kesuksesanku sendiri untuk membungkam mereka. Benar! Aku harus bisa lebih baik dari papa. Semua hadiah itu mungkin juga harus kukembalikan."


Sanubari teringat pesawat dan pulau pribadi yang baru-baru ini dihadiahkan padanya. Itu hanya membenarkan cemoohan Fang. Harga dirinya terluka karena itu. Sanubari melempar-lempar kerikil ke sungai.


"Tapi, bagaimana caranya?"


Pikiran Sanubari menerawang jauh. Dia menghitung-hitung gaji.


"Argh!" Dia berteriak frustasi, "itu sama sekali tidak membantu. Aku harus mencari cara untuk menghubungi Kak Abri atau Kak Eiji."


Bagi Sanubari, Abrizar sangat bisa diandalkan ketika dirinya butuh solusi atas suatu permasalahan, sementara Eiji sangat bisa diandalkan dalam perihal keuangan. Eiji yang selama ini membantunya menyelesaikan transaksi. Eiji pula yang memberi suntikan dana ketika dirinya kekurangan. Sanubari yakin Eiji pasti punya banyak uang. Bila tidak ingin ketergantungan pada Aeneas, Sanubari hanya perlu meminjam uang pada Eiji lagi.

__ADS_1


Sanubari lupa bahwa itu membuatnya terlihat sama saja. Meski bisa terlepas dari Aeneas, tetap saja dia tergantung pada orang lain. Alih-alih menyadari hal tersebut, Sanubari malah teringat tentang Sai.


"Kak Sai bagaimana, ya?"


Sanubari seharusnya bersama lelaki itu. Namun, sesuatu yang tidak diketahuinya membuat mereka terpisah jauh, sangat jauh. Dalam aliran waktu yang sama, pada detik yang sama, satu dari mereka menatap siang, sementara yang lain terperangkap dalam gelap malam.


Sai dan Renji mengendarai mobil di jalan bulan. Mobil mereka mengambang di atas garis putih yang terbentuk di permukaan air. Garis lurus yang terbentuk dari pantulan bulan purnama itu meliuk-liuk.


"Aku merasa seperti baru saja datang dari bulan hanya dengan mobil." Renji terkekeh.


Sai hanya diam. Dia fokus memperhatikan rekaman animatronik yang dikirim ke dermaga. Benda itu menyorot kapal kargo yang berlabuh.


Malam ini, sebuah transaksi ilegal akan dilakukan. Abrizar telah melaporkan kegiatan gelap itu pada kepolisian. Hal tersebut tentu tidak Abrizar lakukan secara sembarangan.


Sebelum mengirimkan informasi tentang penyelundupan narkoba, Abrizar mengetes aparat yang bersangkutan. Dia mengirimkan partisi aifka untuk memata-matai gerak-gerik mereka, lalu mengirimkan petunjuk kasus kecil untuk melihat reaksi mereka.


Selama pengawasan, ada polisi yang rupanya berkomplot dengan penjahat. Jadi, operasi penyergapan unit polisi lain gagal akibat campur tangan aparat bertangan kotor. Abrizar langsung menandai mereka dan hanya memberikan informasi penyelundupan pada polisi bersih.


Para pria berbeda kewarganegaraan itu tidak menyangka misi pembersihan nama akbar akan berkembang pada kasus global. Kasus itu bahkan berkembang lebih pelik hingga mereka kehilangan Sanubari. Sai teringat percakapan mereka saat makan malam dengan Aeneas.


Malam itu, Kelana berkata, "Tuan Muda Sanu mungkin tidak akan kembali pada kalian untuk sementara waktu."


Kelana sudah merencanakan pelatihan lain untuk Sanubari bahkan sebelum Damiyan meminta. Rencana itu hanya spontanitas setelah melihat sekilas rekaman Sanubari. Dari latar belakang rekaman, Kelana bisa menebak di mana mereka berada, dan kebetulan dia dan Damiyan memiliki pemikiran yang sama sebelum saling bicara.


"Kalian merencanakan apa pada Sanu? Kami baru saja mulai. Sudah cukup banyak gangguan yang mengakibatkan agenda kami tertunda. Kalau kalian ikut mengganggu ...." Abrizar sedikit keberatan.


Jika Sanubari memang selamat dari penculikan, seharusnya dia dikembalikan pada mereka. Sanubari yang ngotot ingin mendirikan organisasi. Tidak lucu bila pada Akhirnya mereka harus melanjutkan Santri Famiglia tanpa Sanubari.


"Kami tidak akan menghambat kalian. Ini malahan bisa menguntungkan kalian. Hanya sedikit pelatihan. Kuharap kalian juga tetap bisa membimbingnya setelah kembali nanti. Tuan Muda akan menjadi lebih baik lagi bila bisa menyerap ilmu dari kalian," kata Kelana.


"Di mana Sanu?" tanya Abrizar.


"Dia berada di tempat yang tepat, bersama orang yang tepat pula. Tidak perlu khawatir!"

__ADS_1


"Janjiku masih berlaku untukmu, Abri."


"Anda membuat perjanjian itu, tapi Anda juga menjauhkan Sanu dari kami. Tidakkah ini konyol?" Abrizar menuntut penjelasan.


Sanubari itu payah menurutnya. Eiji dan yang lain pun sepakat dengan Abrizar. Jika dibiarkan berkeliaran tanpa dibiasakan menjalankan misi lapangan, bisa jadi anak itu hanya akan menjadi benalu saat kembali nanti. Itulah kekhawatiran Abrizar, dan itu membuatnya merasa Aeneas hanya mempermainkannya untuk mengingkari janji.


"Tuan Aeneas tidak menjauhkan Tuan Muda Sanu dari kalian. Seperti yang kubilang sebelumnya, Tuan Muda Sanu hanya akan melakukan pelatihan persiapan."


"Persiapan untuk apa?" Abrizar mengangkat sebelah alis.


"Menghadapi dunia yang akan datang. Sedikit kekacauan yang terjadi baru-baru ini mungkin tidak seberapa dibandingkan sesuatu yang akan terjadi. Saat ini, Tuan Aeneas mungkin bisa menekan negara mana pun untuk tunduk di bawah kekuasaannya dan memberikan perlindungan pada Tuan Muda Sanu secara diam-diam. Tapi, dua atau lima tahun lagi, itu mungkin sulit dilakukan. Tuan Muda harus sudah bisa melindungi diri sendiri. Kita semua juga."


Perkataan Kelana itu membuat Abrizar dan yang lain penasaran. Kelana melanjutkan penjelasan. Di era yang semakin modern, sudah menjadi hal lumrah lapisan permukaan bumi bertambah.


Sebagian besar tanah yang dihuni manusia bahkan merupakan buatan. Beberapa tahun silam, ketika Aeneas bahkan belum lahir, permukaan air laut meningkat drastis. Hujan tak berkesudahan mengguyur sepanjang tahun. Pulau-pulau pun mulai tenggelam satu demi satu.


Pakar lingkungan dari seluruh dunia berusaha mengatasi krisis. Manusia tidak bisa terus-terusan berdesakan di atas kapal guna mengungsi. Demi menciptakan tempat nyaman kembali, para arsitek,, ahli geologi, dan ilmuwan lain bekerja sama. Mereka mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk membangun lapisan pada pulau-pulau layaknya bangunan bertingkat.


Ragangan-ragangan besi diproduksi. Para mekatronika diminta untuk menciptakan alat efisien untuk mengeruk tanah. Astronom pun dilibatkan untuk mendatangkan material dari luar angkasa.


Mereka merekayasa supaya hujan meteor terjadi. Titik-titik lokasi jatuhnya meteor ditandai. Manusia pun dievakuasi dari wilayah tersebut.


Hujan meteor sungguh terjadi. Akibatnya, sebagian permukaan naik dengan sendirinya. Ada pula yang bertambah luas. Meskipun begitu, tempat lain tetap harus dinaikkan sendiri oleh manusia.


Tidak ada pengangguran pada masa itu, kecuali para balita. Mereka yang tidak terlibat dalam pembangunan, ditugaskan untuk berburu di lautan, menyiapkan makanan untuk semua orang. Ternak-ternak yang dibawa mengungsi kian sedikit. Mereka membiarkan yang tersisa untuk dilestarikan.


Peristiwa itu tidak diceritakan dalam sejarah. Faktanya terkubur bersama para saksi mata yang meninggal satu demi satu karena usia. Bisa dipastikan 90% atau bahkan 99% penduduk bumi tidak tahu bahwa jauh di bawah tanah yang mereka pijak, terdapat peradaban yang tenggelam.


Aeneas kecil pernah dibuang ke laut. Saat sang ayah berusaha menyelamatkan, keduanya malah terseret arus. Aeneas tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena pingsan. Ketika terbangun, dia berada di sebuah bangunan yang seperti akuarium. Di luar jendela, gedung-gedung terendam air dan lumayan gelap seolah tidak ada cahaya yang menembus.


Saat itu, Aeneas bertemu dengan Kelana untuk pertama kalinya. Kelana mengaku sedang iseng mengikuti kakek buyutnya. Dia terpisah, lalu tanpa sengaja melihat dua manusia yang dimuntahkan ikan paus.


"Ikannya bersendawa!" begitu pikir Kelana kala itu sambil menempelkan tangan dan wajah ke kaca.

__ADS_1


__ADS_2