
Langit pagi nampak mendung. Gadis kecil berusia lima tahun mematung. Mata bulatnya tidak berkedip menatap kebun semangka yang telah hancur. Pecahan semangka merah segar tercecer digilas mobil hitam yang tidak lagi bergerak.
"¡Zunta, vámonos a casa! Va a llover pronto".
(Zunta, ayo cepat pulang! Hujan sebentar lagi turun.)
Seorang kakek memanggil-manggil nama gadis kecil berkuncir dua itu. Namun, Zunta masih terdiam. Dia mengamati mobil yang sudah penyok di beberapa bagian. Semua kaca pecah. Sedangkan pintu di salah satu sisi di bagian depan terlepas, mengekspos dua manusia yang bersimbah darah. Zunta ingin mendekat tetapi urung ia lakukan. Deru mesin yang masih menyala membuatnya takut untuk berjalan lebih dekat.
"Zunta!" Teriakan itu kembali terdengar.
"¡Sí, abuelo!"
(Iya, Kek!(
Gadis kecil itu pun berbalik badan lalu berlari menaiki lereng. Di atas lereng, seorang kakek berusia tujuh puluh lima tahun menyunggi karung besar berisi sekitar dua kwintal melon segar. Gadis itu tergopoh-gopoh menghampirinya. Ada guratan kecemasan di muka imutnya. Zunta menubruk pria tua itu tanpa memikirkan apa yang sedang dibawanya. Untungnya tubuh mungil Zunta tidak seberapa kuat sehingga pria tua itu tidak kehilangan keseimbangan.
"¡Abuelo Canda, abuelo Canda, por favor salva mi jardín de sandías, abuelo! Hay una mala persona celebrando Halloween que arruinó mi jardín de sandías".
__ADS_1
(Kakek Canda, Kakek Canda, tolong selamatkan taman semangkaku, Kek! Orang jahat yang merayakan Halloween merusak taman semangkaku!)
Dengan polosnya, Zunta menarik-narik kaos Canda. Ia terus mengulang kalimatnya, berharap Canda akan segera menuruti keinginannya.
"¿Dónde hay alguien aquí? ¿Quién quiere jugar a un disfraz de fantasma en medio del bosque como este? ¿Qué estás haciendo?"
(Mana ada orang di sini? Siapa yang mau main kostum hantu-hantuan Di tengah hutan begini? Ada-ada saja kamu.)
Canda tertawa. Menurutnya, Zunta sedang berusaha membuat lelucon. Akan tetapi, candaannya Sama sekali tidak lucu. Wajah Zunta bahkan lebih lucu daripada gurauannya.
"¡Hablo en serio, abuelo!"
"Sí-sí. Como no tenemos dulces, solo los darás cuando vengan, ¿de acuerdo?"
(Iya-iya, nanti kamu kasih semangka saja kalau mereka datang, ya? Kita 'kan tidak punya permen.)
Zunta memukuli Canda dengan tangan mungilnya. Kesal karena Canda tidak mau membantunya, Zunta pun merajuk. Ia bersedekap sambil berbalik badan dengan sedikit hentakan kaki.
__ADS_1
"No quiero ir a casa si el abuelo no los echa. No quiero que mi huerto de sandías muera porque han estado durmiendo en él demasiado tiempo".
(Aku tidak mau pulang kalau Kakek Canda tidak mau mengusir mereka. Aku tidak ingin Taman semangkaku mati gara-gara mereka kelamaan tidur di atasnya.)
Canda sangat menyayangi cucu semata wayangnya. Pada akhirnya dia juga yang harus mengalah. Perkataan gadis kecil itu sukses membuat hati Canda penasaran.
Tidak ada pemukiman di sekitar lembah belantara yang rindang ini. Manusia pun hampir tidak ada yang menjamah alam liar di sekitar sana. Canda satu-satunya yang menjadikan lahan tak bertuan ini sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Sehingga dapat dipastikan mustahil jika ada manusia yang tiduran di tengah hutan.
Canda menurunkan sekarung melonnya lalu menuruti permintaan Zunta. Gadis kecil itu menggandeng tangan Canda, membawanya masuk hutan, menuruni lereng menuju perkebunan semangka.
Zunta menunjuk mobil yang telah bobrok sambil berkata, "¡Ese es el tipo, abuelo! ¡Tíralos! Su maquillaje es demasiado realista. Espeluznante. Tengo miedo".
(Itu orangnya, Kek! Usir mereka! Make up mereka terlalu realistis. Menyeramkan. Aku takut.)
Zunta bersembunyi manja di belakang Canda. Pria tua itu cukup terkejut dengan pemandangan mengerikan di hadapannya. Di sekitar sini dipasangi pagar supaya tidak ada mobil yang bisa mencapai dasar. Tidak biasanya ada kendaraan bisa mencapai area ini. Sepertinya pagar itu telah rusak.
Canda langsung menghampiri pria dan wanita yang berada di kursi depan. Dia memeriksanya. Kedua orang itu telah wafat.
__ADS_1
Di kursi tengah ternyata masih ada korban yang tidak kalah mengenaskan dari kedua orang di kursi depan. Seorang anak kecil terbaring dengan kepala di bawah kursi dan salah satu kakinya tersangkut di kursi. Darah segar membasahi wajahnya. Sedangkan sebuah payung menancap di area perut bocah laki-laki itu. Ada pula pecahan kaca yang menancap di kaki dan tangannya.