
"Bwahahahaha!"
Tawa perempuan memenuhi telinga para polisi. Mereka berjengit karena volume suara yang mendadak meninggi. Sebagian dari mereka spontan memegang alat komunikasi pada telinga.
"Zaman begini masih percaya klenik. Dasar Polisi Kurang Pengetahuan! Para kriminal itu pasti menggunakan cairan kimia untuk memasukkan benda-benda ke dalam buah agar tidak meninggalkan bekas. Begitu saja tidak tahu. Payah!"
"Siapa ini?" Komandan operasi mengernyit.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu suara siapa itu. Satu yang mereka tahu—wanita itu bukan polisi karena tim penyergapan hanya beranggotakan polisi pria.
"Siapa ini,?" ulang sang komandan. Namun, tiada berbalas. Alat komunikasi mereka hanya menyalurkan suara-suara yang ada di sekitar.
"Pasti ada orang yang menjebak saya! Saya hanya berbisnis buah-buahan impor." Samad mengelak keras. Dia memberontak dari cengkraman polisi.
"Bukti nyata ada di depan mata. Anda tidak akan bisa menghindar dari hukum!" Polisi memborgol Samat.
Anak buah kapal sudah terlebih dahulu diborgol ketika barang-barang terlarang ditemukan. Mereka juga melontarkan protes.
"Kenapa aku ikut ditangkap, Pak?"
"Sudah menjadi tugas kami untuk menangkap pelaku tindak kriminal."
"Saya hanya kru biasa kapal, Pak. Saya mencari rezeki halal di sini. Sungguh saya tidak tahu kalau kapal kargo ini mengangkut barang haram!"
Satu demi satu anak buah kapal membela diri. Mereka berwajah panik. Akan tetapi, para polisi menganggap pembelaan diri mereka sekadar dusta belaka. Mereka digiring menjauhi dermaga.
"Buah sebanyak ini. Bila semua isinya narkoba, kalian pasti akan dijatuhi hukuman mati." Polisi melihat tumpukan buah.
"Periksa kapal! Kita harus mengumpulkan semua barang bukti yang ada."
"Siap, Komandan!"
Namun, ketika polisi mulai berlari ke jembatan, kapal tiba-tiba bergerak. Tak pelak, sebagian polisi tercebur ke air. Dari lambung kapal, terlihat sosok bersenjata. Orang itu menembak satu demi satu polisi yang bertahan. Polisi-polisi yang tertembak pun berjatuhan.
Polisi lain balas menembak. Namun, sosok itu bersembunyi di balik dinding kapal. Bunyi berdentang terdengar. Desisan keras mengganggu fokus para polisi. Asap tebal lekas memenuhi udara.
"Gas Air mata!"
Para polisi terperanjat. Mereka tidak siap untuk ini. Mereka memang memakai rompi antipeluru. Meskipun begitu, mereka tidak memakai pelindung kepala yang memadai untuk menangkis serangan perih gas air mata.
"Argh! Mataku!" Seorang anak buah kapal menjerit.
Yang lain ikut berteriak, "Panas!"
"Perih!"
__ADS_1
"Jalan lebih cepat!" bentak polisi.
Mereka menyeret tawanan. Bunyi berdentang terdengar lagi bersama desisan. Asap semakin tebal. Mereka semua berusaha keras untuk tidak menutup mata.
Beberapa polisi saling bertabrakan saat berusaha menjauhi area sebar gas air mata. Mereka tidak kuasa untuk tidak menutup mata. Air mata membanjiri siapa pun. Mata dan hidung mereka memerah.
Rekan Samad memanfaatkan kekacauan tersebut untuk melawan. Kera peliharaannya membantu. Primata tersebut naik ke kepala, lalu mencakar-cakar wajah polisi.
"Argh! Hentikan!" Polisi tersebut pun melepaskan pegangan dari rekan Samad. Si kera melompat ke polisi lain. Kemudian, dia mencuri kunci borgol.
Rekan Samad melarikan diri. Dia terjun ke air. Si peliharaan mengikuti.
"Target membawa kabur barang bukti!" ucap komandan pasukan.
Pesan itu sampai ke seorang kapten yang menunggu di atas kapal angkatan laut. Kapal militer berggerak cepat dari bbalik pulau. Kapal tersebut memang sengaja bersembunyi, bersiaga untuk kondisi seperti ini.
"Kapal kargo Moza, berhenti di tempat!" Kapten angkatan laut menggunakan pelantang.
Namun, kapal kargo tetap melaju dengan menambah kecepatan. Kejar-kejaran tidak terelakkan. Tembakan meriam peringatan dilontarkan.
Ledakan bergemuruh. Peluru jatuh di sebelah kanan badan kapal kargo. Lautan bergolak. Air muncrat ke langit. Kapal kargo tetap melaju tanpa gentar.
Helikopter di buritan kapal angkatan laut terbang. Tali-tali diturunkan, mendaratkan beberapa prajurit ke kapal kargo. Para prajurit dengan cepat menyebar.
Tali penghubung ditembakkan ke seberang. Ujungnya menembus dinding, lalu mekar, menjadi pengait kokoh antar kapal. Tentara-tentara berselancar menyusuri tali yang terbentang. Mereka menyeberang ke kapal kargo. Baku hantam terjadi di beberapa area kapal.
"Sepertinya, mereka tidak butuh bantuan kita." Renji menyangga kepala dengan tangan kiri. Sikutnya bertumpu pada kemudi. Dia menyaksikan aksi kejar mengejar di atas lautan.
Dua perahu motor mesin cepat diturunkan dari kapal angkatan laut. Mereka bergerak ke arah dermaga. Kabar kaburnya salah satu tahanan telah sampai ke telinga mereka.
"Bagaimana kalau pergi sekarang?" Renji menoleh pada Sai.
Sai masih memperhatikan monitor. Animatroniknya masih terus merekam. Para polisi di dermaga telah berhasil keluar dari jerat gas air mata.
"Siapa yang melempar gas air mata?" Para polisi bertanya-tanya.
"Tidak tahu, Pak. Tahu-tahu, itu sudah menyebar begitu saja."
"Tapi, masih ada tersangka yang belum tertangkap." Sai tetap terpaku pada layar. Dia sudah menyalakan kamera 360 derajat. Namun, tidak bisa menemukan siapa pun, kecuali para polisi dan komplotan Samad.
"Kau masih memikirkan kera pelempar gas air mata tadi? Serahkan saja itu pada mereka!" Renji menunjuk angkatan laut yang mengendarai perahu motor cepat, "mereka pasti bisa menemukannya di bawah sana."
"Kurasa ada orang lain yang terlibat sedang bersembunyi di dermaga. Jika tidak, dari mana kera itu memperoleh gas air mata? Pasti ada yang memberikannya padanya, lalu mengarahkannya untuk membantu pelarian."
"Hm, sulit juga sih kalau kita mencari sesuatu yang tidak kita ketahui. Kita bisa saja berpapasan dengan yang kita cari tanpa menyadari bahwa itu dia."
__ADS_1
Ketika mereka sedang bimbang untuk ikut campur atau tidak, sebuah suara mengalir ke telinga mereka. "Kalian tidak perlu terlibat lebih jauh. Masih ada hal lain yang harus kita kerjakan setelah ini. Serahkan sisanya pada polisi!"
Itu Abrizar. Eiji sedang mengurus hal lain bersama Akbar. Mereka berbagi tugas.
"Roger, Wakil Ketua!"
"Aku bukan wakil ketua!"
"Baiklah, Konselor Abri!" Renji terkekeh.
Mereka langsung terbang menuju dermaga. Di bawah, para tersangka digiring ke mobil polisi. Renji mengemudikan mobil ke arah yang ditunjuk Sai.
"Itu dia!"
Mobil turun, parkir di sebelah mobil yang sangat berdebu.
"Itu mobil Abri?"
"Um." Sai mengangguk.
"Wow, mengejutkan itu masih ada di sana setelah selama ini. Kalau aku penjahatnya, mungkin sudah kujual mobil itu." Renji tertawa pelan.
Sai keluar. Dia memeriksa mesin mobil dan bagian-bagian lainnya. Semua dalam kondisi bagus. Tidak ada tanda-tanda disabotase. Barang-barangnya dan Sanubari pun tetap ada dalam mobil. Para penjahat benar-benar tidak menjamah mobil setelah menangkapnya.
Misi mereka malam ini berakhir dengan dibawa pulangnya mobil ayah Abrizar. Sai harus menyemprotkan air dan menyalakan penyeka sebelum melajukan mobil. Renji berkendara di belakang Sai yang mengendarai mobil ayah Abrizar.
Di malam yang sama, ketika Sai dan Renji berangkat ke pesisir, Akbar memberikan siraman rohani pada Aldin dan anak buahnya. Mereka para mafia kuburan yang beralih di bawah Santri Famiglia setelah Sanubari menyelamatkan Wongso dari amukan Jin. Di akhir ceramah, Akbar menekankan beberapa peraturan mendasar bila ingin tetap dalam perlindungan Santri Famiglia.
"Tidak boleh sembarangan membunuh. Tidak boleh minum alkohol. Tidak boleh bermain perempuan. Harus menjunjung tinggi kesetiaan. Kami tidak memaksa siapa pun untuk bergabung. Bila kalian tidak sanggup mematuhi peraturan yang ada, silakan pergi! Hak kalian untuk memilih."
Bagaimanapun juga, yang Akbar hadapi sekarang adalah mantan preman yang mengasosiasikan diri sebagai mafia kampung. Pastilah sulit bagi mereka untuk meninggalkan dunia haram. Akbar paham itu. Satu atau dua hari tidaklah cukup untuk melakukan pembebasan dari candu.
"Kami siap melakukan apa pun."
Mereka terdengar kompak. Nyali mereka ciut untuk terang-terangan mengatakan keberatan. Terlebih lagi, mereka tahu bila Jin sangat dekat dengan Sanubari. Mereka tidak ingin berakhir mengenaskan seperti orang-orang yang dibantai Jin. Beruntung, mereka tidak nongkrong di rumah Wongso di malam pembantaian. Jika tidak, pastilah mereka berakhir sama dengan mayat-mayat yang mereka urus di keesokan paginya.
"Bagaimana dengan pekerjaan yang kalian janjikan? Kami sudah menganggur beberapa hari ini."
"Benar. Bisa-bisa aku mati kelaparan karena kehabisan uang."
Akbar menjawab dengan tenang, "Sebagian dari kalian akan dialokasikan menjadi petani. Sebagian lagi akan menjadi penjual singkong."
"Akan ada kursus otomotif juga untuk kalian. Siapa pun boleh mencoba. Aku akan memilih orang-orang berpotensi berdasarkan hasil kursus, lalu memberikan pendidikan lanjutan. Bagi yang tidak terpilih harus memilih pekerjaan lain seperti petani atau pedagang. Aku tidak akan memberikan pendidikan lebih lanjut pada yang tidak terpilih. Tapi, kalian tetap boleh mencoba ketika kursus pendek kembali dibuka. Kedepannya, kami akan membutuhkan mekanik tambahan," tambah Eiji.
"Jadi, pikirkan baik-baik mana yang akan kalian pilih malam ini! Kami akan memberikan arahan yang lebih tepat sasaran sesuai minat kalian. Kami harap, kalian sudah bisa memberikan jawaban besok pagi. Kita bertemu lagi besok di sini jam 10 pagi. Ada yang keberatan?" pungkas Akbar.
__ADS_1