Santri Famiglia

Santri Famiglia
Santai Sejenak


__ADS_3

Mahiru dan Yato memisahkan diri dari Anki. Kedua pendeta itu menaiki ambulans dikawal polisi yang mengantar. Sementara Anki, serta Abrizar menuju mobil yang dibawa Sai dan Renji.


Mobil tersebut merupakan properti Onyoudan. Renji telah mematikan pelacak yang tertanam supaya keberadaan mereka tidak terdeteksi.


Renji melepaskan seluruh senjata bawaannya, lalu meletakkannya ke bagasi sebelum menyusul Sai ke kursi depan. Lelaki itu memegang pundak kiri dan memitar-mutar bahunya.


"Ah, pundakku terasa ringan. Lega rasanya tidak membawa beban berat lagi." Renji menyandarkan punggungnya dengan nyaman ke kursi.


Sai telah menyalakan mesin. Namun, mereka belum bergerak. Dia tidak tahu tempat yang harus dituju. Itu belum dia pikirkan sama sekali.


"Ngomong-ngomong, di mana Eiji dan Sanubari?" Renji menoleh ke belakang.


Hanya ada Anki dan Abrizar di kursi tengah. Bila diingat kembali, dia pun sepertinya tidak melihat mereka berdua di kuil. Padahal, keduanya meninggalkan Hokkaido terlebih dahulu dari dirinya dan Sai.


Pertanyaan Renji itu mengingatkan Anki. Gadis itu pun menjawab, "Rumah sakit."


"Apa orang-orang tadi berhasil melukai mereka berdua?" sentak Renji terkejut.


Bersamaan dengan itu, Sai bertanya, "Rumah sakit mana?"


"Tidak," Anki menggeleng, "Sanu sakit. Jadi, kakak membawanya ke rumah sakit. Aku tidak tahu rumah sakit mana, tapi aku tahu dokter yang dipasrahi kakek."


"Siapa?" Sai mengejar jawaban. Tidak masalah tidak mengetahui lokasi yang ingin dituju. Dengan bermodal nama, dia dan Renji bisa mencari tahu sendiri.


"Dia dokter pribadi keluarga. Namanya, Mori Fukai."


"Ren Senpai ...."


"Mengerti. Akan kucari kan segera informasi tentangnya." Renji melepas sarung tangan, lalu meletakkannya ke dashboard. Dia lekas mengambil ponsel yang tersimpan ke saku.


"Anu, bisakah kita membeli makanan dulu sekarang?" sela Abrizar. Dia benar-benar butuh pengisi perut sekarang.


"Aku juga lapar," timpal Anki memegangi perut. Terakhir kali dia makan adalah kemarin malam. Tentu dia juga membutuhkan asupan sekarang.


Sai menjalankan mobilnya. Selagi Renji mencari informasi, Sai memutuskan tujuan pertamanya. Dia mencari toserba yang agak jauh dari lokasi kerusuhan. Makan di tempat sekarang sangatlah riskan.


Jadi, Sai bermaksud membelikan bento atau makanan instan. Itu opsi terbaik untuk saat ini.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi pada polisi-polisi tadi? Kenapa bisa mendadak terbagi menjadi dua kubu?" celetuk Renji yang sibuk dengan ponselnya.


"Entahlah." Sai terdengar tidak acuh. Namun, dia sebenarnya sama penasarannya dengan Renji.


"Kau tahu sesuatu, Anki?" tanya Renji.


"Tidak." Anki menggeleng. Selama ini, Anki hanya tahu bahwa kakeknya adalah pendeta Shinto yang taat. Sehari-hari kakeknya menghabiskan waktu di kuil sampai waktu tutup tiba.


Setelah jam kunjung berakhir, biasanya kakeknya itu akan pulang bersamanya, mengajak makan di luar, atau sekadar jalan-jalan. Terkadang pula, kakeknya itu akan berada lebih lama di kuil. Anki mencoba mengingat-ingat.


"Ah, sudahlah! Masa bodoh dengan semua itu. Yang penting kita tidak jadi ditangkap polisi," ucap Renji. Dia tidak mau terlalu memikirkan apa yang bukan menjadi masalah baginya.


Sangat disayangkan pembicaraan tentang keluarga Shiragami itu tidak berlanjut. Abrizar jadi tidak mendapatkan informasi apa-apa.


"Sepertinya, aku harus menggali lebih dalam tentang keluarga Eiji," batin Abrizar yang merasa kurang memahami targetnya. Dia pikir, segala informasi tentang Eiji telah digenggamnya. Kenyataannya, ada sisi lain dari keluarga Shiragami yang tidak diketahuinya.


Percakapan mereka terjeda karena mereka sampai di sebuah toserba. Sai melepas sarung tangan dan mantel atasnya, menyisakan kaos putih dengan lengan pendek.


"Kalian di sini saja! Akan kubelikan. Apa kalian menginginkan sesuatu yang spesifik?" tanya Sai.


"Apa pun yang penting mengenyangkan. Yang penting jangan babi! Maaf, nanti akan kuminta kakak untuk menggantinya." Anki tertunduk malu.


"Ini."


"Tidak perlu. Simpan kembali uangmu! Aku yang traktir," tolak Sai tersenyum ramah.


Dia masuk toserba. Tak lama kemudian, dia kembali dengan menenteng empat kantung kresek besar. Satu berisi enam botol air mineral satu setengah liter dan enam botol teh susu enam ratus Mili liter. Satu kantung berisi aneka camilan. Dua kantung berisi bentuk siap saji yang sudah dihangatkan. Dia menyerahkan semua itu ke kursi tengah.


"Banyak sekali." Anki tidak menyangka akan dibawakan sebanyak itu.


"Satu mungkin tidak kenyang," balas Sai ynyalakan mesin kembali.


"Kak Ren mau minum?" tawar Anki.


"Nanti saja. Ngomong-ngomong, aku sudah menemukan tempat dokter itu bekerja dan nomor kontaknya."


Renji langsung menghubungi dokter tersebut mengatas namakan kakek Anki. Mobil pun dilajukan ke rumah sakit. Tak berselang lama, mereka tiba.

__ADS_1


Fukai menyambut mereka di lobi rumah sakit. Lelaki itu membimbing mereka menuju lantai khusus. Tidak ada nomor lantai yang bisa ditekan pada elevator.


Ketika memasuki elevator, Fukai mengarahkan sebuah kartu ke dinding elevator di bawah tombol darurat. Dinding tersebut tampak seperti dinding biasa. Namun, elevator bergerak ke bawah setelah Fukai melakukan itu.


"Ruangan itu hanya bisa diakses dengan kartu khusus. Kartu aksesnya pun hanya ada empat. Salah satunya dipegang Eiji Kun sekarang," jelas Fukai.


Saat berhenti, pintu yang terbuka pun bukan di hadapan mereka. Melainkan, dinding di belakang mereka.


"Ayo!" ajak Fukai.


Anki menuntun Abrizar mengikuti Fukai. Sai dan Renji mengekor sambil menenteng belanjaan yang belum jadi dimakan.


Setelah berjalan melewati lorong yang tak seberapa panjang, mereka memasuki ruangan yang cukup luas. Ruangan yang sangat rapi dengan dua sofa panjang saling berhadapan sebelum ranjang lumayan lebar. Ada dua ranjang Di sana. Salah satunya ditempati Sanubari yang terlelap.


Bajunya telah diganti dengan baju pasien. Venflon tertancap di pergelangan tangan kanan bagian dalam Sanubari. Eiji duduk di sebelah ranjang, memunggungi mereka.


"Kakak!" Anki langsung melepaskan pegangan dari Abrizar, menghambur ke pelukan Eiji.


Kakak beradik itu saling membutuhkan, saling menyayangi dengan cara masing-masing. Keduanya begitu lengket.


Eiji membalas pelukan Anki. Dia senang adiknya baik-baik saja.


Sai dan Renji meletakkan bawaan mereka ke atas meja. Bunyi kemerasak itu mengalihkan perhatian Eiji.


"Kalian?" Dia terperangah dengan kehadiran mereka.


Renji membongkar kantung plastik berisi minuman. "Apa yang kau beli ini, Sai? Kenapa tidak ada sake atau bir? Kau pikir aku ini anak kecil?"


"Aku membelikan itu untuk Anki, ABRI, Sanu, dan Eiji senpai. Bukan untukmu," balas Sai seraya menuntun Abrizar untuk duduk.


"Keterlaluan! Beraninya kau bersikap diskriminatif padaku," sungut Renji.


"Wah, ini banyak sekali. Apa aku juga dapat jatah?" Fukai ikut duduk.


"Ambil saja! Itu lebih dari cukup untuk kita semua," sahut Anki.


Gadis itu beranjak dari pelukan Eiji. Dia mengeluarkan semua bento, lalu menawarkan, "Kak Abri mau nasi belut, nasi ayam, atau nasi makarel? Ada onigiri, sandwich, dan salad juga di sini."

__ADS_1


"Nasi belut saja." Abrizar cukup sering makan makarel selama di Jepang. Dia ingin mencoba yang lain.


Anki membukakan satu bento dan sumpit, lalu menyerahkannya pada Abrizar. Dia juga menawari kakaknya. Kamar rawat itu menjadi ramai. Mereka makan bersama. Renji tetap banyak bicara, meski di sana ada satu pasien yang terbaring taksadarkan diri.


__ADS_2