
Dengan muka polosnya, Sanubari menanti jawaban. Senyum ringan tanpa beban menghiasi wajahnya. Para orang dewasa dibuat terheran-heran dengan si Bocah yang memegang potongan batang pohon singkong kisaran satu meter masih lengkap dengan daunnya.
"Untuk apa pohon singkong itu, Sanu? Kalau kamu mau memakainya untuk tongkat Pramuka, jelas itu tidak bisa dipakai. Batangnya terlalu rapuh," jelas Sanum sambil memandang Sanubari.
Sanubari menggeleng lalu dengan lugunya membalas, "Aku mau menanamnya di sana biar kita punya perkebunan singkong. Terus bisa makan singkong setiap hari deh."
Cengiran tanpa dosa mengembang begitu saja di wajah khas campuran Eurasia. Hendak pergi jaug ke mancanegara tetapi hal pertama yang ia pikirkan adalah singkong. Sepertinya dalam otaknya saat ini tidak ada benda selain bibit singkong yang ingin ia bawa serta. Uang pun sama sekali tidak terlintas dalam benaknya. Begitu sederhananya pemikiran seorang anak kecil. Berbeda dengan orang dewasa yang tadi sempat mengkhawatirkan macam-macam.
"Tuan muda, Anda bisa membeli bibitnya di sana bila ingin menanam singkong. Tidak perlu membawa dari rumah," ucap Kelana.
Lagi-lagi Sanubari menggeleng lalu menjawab, "Aku harus tetap membawanya. Pertama, aku tidak tahu apakah di Italia ada pohon singkong atau tidak. Ke dua, aku tidak tahu dimana membeli bibit singkong di Italia. Ke tiga, aku tidak punya uang untuk membeli bibitnya."
"Astaga! Anak ini bisa-bisanya berpikir sejauh itu hanya untuk singkong. Papanya keju, anaknya singkong," batin Kelana. Lantunan lagu lawas seketika terputar dalam benak Kelana sebagai lagu latar, "ah! Aku jadi ingat lagu legendaris 'Keju dan Singkong' yang dipopulerkan oleh Ari Wibowo. Dasar anak singkong!"
Lagu legendaris dari grup band 'Bill and Brod' itu cukup tua. Akan tetapi, masih ada beberapa kalangan yang menyukai serta masih sering mendengarkannya. Lagu tersebut sudah seperti lagu wajib bagi keluarga Kelana. Keluarga besarnya memang tinggal menetap di Italia. Namun, lagu 'Keju dan Singkong' selalu diperkenalkan dari generasi ke generasi tanpa terputus. Sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di tanah asing, mereka tidak pernah melupakan budaya sendiri. Mereka bukan kacang yang lupa kulitnya.
"Anda bisa membelinya dengan uang papa Anda. Saya akan membantu untuk mencari tahu dimana bisa mendapatkan bibit singkong," bujuk Kelana supaya Sanubari mau menyerah dengan idenya.
Namun, sekali lagi Sanubari menolak, "Kalau ada yang pasti, untuk apa mengambil yang tidak pasti? Iya kalau di Italia benar-benar ada singkong. Kalau tidak ada? Ya tidak jadi menanam singkong dong?"
Sanum tidak mengerti apa yang dipikirkan putranya. Ia merasa sungkan dengan sikap Sanubari itu. Selama ini Sanubari tidak mau meminta macam-macam. Baru kali ini anak itu mengungkapkan kehendaknya dengan bebas.
"Memangnya boleh ya, membawa tanaman ke dalam pesawat?" kata Sanum tidak enak hati.
Tiba-tiba Aeneas bersuara, "Di cosa state discutendo? Perché Sanubari trasporta un albero?"
(Apa yang sedang kalian diskusikan? Kenapa Sanubari membawa pohon?)
"Voleva portare l'albero in Italia e piantarlo lì. Ho provato a fermarlo ma comunque prenderlo".
(Dia ingin membawa pohon itu ke Italia dan menanamnya. Saya sudah mencoba melarang tetapi dia tetap ingin membawanya.)
Aeneas tersenyum. Dia berpikir bahwa Sanubari adalah bocah yang unik. Sedikit pun Aeneas tidak ingin membatasi kreativitas anak itu.
__ADS_1
"Papa tersenyum. Apa itu artinya aku boleh membawa pohon ini?"
"Fai quello che vuole, Lan! Finché va bene, non devi chiedermelo."
(Turuti apa pun kemauannya, Lan. Asalkan itu baik, kau tidak harus bertanya kepadaku.)
Aeneas merasa iri dengan Kelana yang bisa berkomunikasi langsung dengan anak dan istrinya. Mungkin setelah ini dia juga harus belajar bahasa Indonesia supaya bisa berbicara dengan mereka. Aeneas juga ingin bisa mengobrol dengan Sanubari sesekali. Sepertinya berinteraksi dengan anak itu menarik.
"Capito, signore."
(Mengerti, Tuan.)
Kelana menganjur napas. "Apa boleh buat. Anda boleh membawanya. Nanti akan saya uruskan surat karantinanya supaya boleh dibawa ke pesawat."
"Hore!" Sanubari bersorak.
"Apa benar tidak apa-apa?" Sanum masih khawatir.
"Tenang saja! Asalkan sudah mendapat izin, tanaman pun bisa dibawa naik pesawat," terang Kelana.
"Tidak apa-apa. Tuan Aeneas juga menghendaki ini."
"Oh," respon singkat Sanum sambil sejenak melirik Aeneas yang tersenyum kemudian diulurkannya tangan kepada Sanubari, "kemarikan belati dan pohonnya, San! Sini biar kurapikan!"
Sanubari menyerahkan pohon dan belati yang ia bawa kepada ibunya. Wanita itu memotong-motong batang pohon menjadi beberapa bagian. Potongan demi potongan pun terjatuh ke tanah kala belati disabetkan.
"Loh loh loh? Kok pohonku dicincang?" protes Sanubari sambil memandangi potongan batang pohon singkong.
"Kamu tidak membutuhkan bagian pucuk yang masih ada daunnya," kata Sanum meletakkan belati ke meja lalu mengambil beberapa potongan batang yang tergeletak di tanah, "bagian ini yang bisa ditanam."
Sanum memberikan tiga potongan batang kisaran panjang dua puluhan centimeter kepada Sanubari. Bocah itu senang menerimanya. Setelah itu mereka keluar rumah. Sanum dan Sanubari berpamitan kepada keluarga Arti lalu ikut bersama Kelana dan Aeneas.
Sanubari duduk di kursi tengah diapit oleh ayah dan ibunya. Dari tengah, dia bisa melihat kondisi jalanan. Tidak seberapa jauh dari mobil yang mereka naiki, Sanubari melihat sesosok yang sepertinya ia kenali.
__ADS_1
Laju memelan, perlahan mobil menepi. Mobil itu berhenti tepat di sebelah pria muda yang berdiri di pinggir jalan. Kelana turun dari mobil menyambut pria muda itu. Sementara Sanubari sedang memperhatikan dari balik kaca mobil berfilm gelap sambil mengingat-ingat.
"Kamu, Jin?" Kelana berdiri di depan pria muda itu.
"Ya. Jadi, Paman ini yang namanya Kelana?" Jin menjabat tangan lelaki yang jauh lebih tua darinya.
"Tidak kusangka dia akan merekomendasikan pria muda sepertimu padaku."
"Jangan khawatir! Paman bisa mengandalkanku. Kebetulan aku sedang liburan di daerah sini. Mungkin karena itu pula kita dipertemukan," seloroh Jin.
"Ya, aku percaya. Tidak mungkin orang asal-asalan direkomendasikan untuk tuan Aeneas."
"Bos besar ada di sini?" Kaca mobil terlalu gelap, Jin tidak bisa melihat ke dalam. Orang dari dalam memang bisa melihat ke luar. Namun, kaca tersebut tidak membiarkan orang luar menerawang masuk untuk melihat isinya.
"Ya, jangan membuat mereka menunggu lebih lama lagi! Ayo lekas pergi!" ajak Kelana yang kemudian masuk mobil mengakhiri obrolan.
Jin masuk ke kursi kemudi menggantikan peran Kelana. Ia melajukan mobil kemudian menyapa Aeneas dalam bahasa Inggris.
"Good afternoon, Sir Gafrillo! I'm so sorry to keep you waiting."
(Selamat siang, Tuan Gafrillo! Maaf telah membuat Anda menunggu)
Aeneas menjawab, "It's alright."
(Tidak masalah.)
"It's an honour for me to accompany you today."
(Suatu kehormatan bagi saya bisa menemani Anda hari ini.)
Jin tidak bisa berbahasa Italia. Ia hanya bisa mengeluarkan usaha terbaiknya berbahasa Inggris untuk berkomunikasi. Kesempatan bisa memandu bos besar seperti ini sangatlah langka. Jin harus bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.
Sebenarnya dia sedikit penasaran kenapa bos besar sepertinya bepergian sendiri tanpa pengawal. Penampilannya hari ini pun terlihat sangat santai. Anehnya lagi, ada bocah yang beberapa hari lalu ia interogasi. Ingin bertanya pun ini bukan waktu yang tepat.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, pecahan memori Sanubari beberapa hari yang lalu mulai terbentuk utuh. Dia ingat pria yang kini sedang melajukan mobil.
"Oh!" sentak Sanubari membulatkan mata dan mulut, "Paman Penculik Baik Hati!"