
"Tapi, xerius kamu tidak ada rasa sama Sanu? Tidak ingin menjadi kekasihnya?"
"Kak Jin ini bertanya kok seperti memaksakan pendapat?"
"Ya, habisnya, kamu membicarakan tentang Sanu terus dari tadi."
"Terus, ngobrol tentang apa dong?"
"Tentang kita berdua, masa depan kita. Kalau kamu belum sama Sanu, mending sama aku saja! Jadi istriku."
Anki seketika tersipu. Dia menunduk malu dan canggung. Sunyi tercipta di antara mereka.
Suasana senyap. Hanya bunyi tapak sepatu yang bergema. Damiyan berjalan dalam kegelapan. Matanya ditutup kain. Dia hanya bisa melangkah mengikuti arahan dua orang yang mengawalnya.
Dia sungguh kesal harus terjebur dalam hal merepotkan seperti ini. Baru dia sadari sekarang, pekerjaan sebagai eksekutor ternyata lebih mudah daripada menjadi pengawal bayi besar yang ceroboh.
"Duduk!" Seorang pria menekan pundak Damiyan.
Ikatan kain yang menutupi mata Damiyan dibuka. Dinding putih mengelilinginya. Pintu ditutup. Empat pria berdiri di setiap sudut, sementara satu orang duduk berhadapan dengan Damiyan.
Orang-orang itu memakai masker yang menutup seluruh wajah. Mereka mengenakan pakaian yang sama, siaga dengan senapan serbu, kecuali yang duduk di depan Damiyan.
"Siapa namamu dan apa pekerjaanmu?" Orang itu mengeluarkan buku kecil dan pena.
"Damiyan, operator alat berat."
"Apa perlumu mendatangi lokasi yang baru dibom hari ini?" selidik orang itu.
Damiyan mengernyit. "Kalian sudah menanyakan ini tadi. Kenapa menanyakannya lagi? Aku tidak punya waktu untuk basa-basi dengan kalian. Aku juga butuh istirahat sebelum kembali bekerja."
"Jawab saja supaya ini cepat selesai!"
"Aku mendapatkan panggilan darurat dari seseorang. Jadi, aku pergi ke sana. Alat berat tadi pinjaman dari seorang baik hati yang bersedia membantu."
"Lalu, ke mana perginya rekanmu yang menaiki helikopter?"
"Aku tidak tahu." Damiyan mengangkat bahu.
"Panggil mereka!"
"Apa kalian akan melepaskkanku?" Damiyan menyeringai.
"Kami akan membebaskanmu bila mereka bersedia menemui kami."
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa memintta mereka menemui kalian, sedangkan aku saja tidak tahu di mana ini? Kalian juga menyita barang-barangku. Kalau mau aku melakukannya, kembalikan dulu barangku! Kuharap kalian tidak merusaknya hanya karena ingin memuaskan keingintahuan kalian."
Saat dibawa ke tempat rahasia, ransel dan ponsel Damiyan yang ada di ekskavator tidak boleh dibawa. Dia hanya membawa diri, pakaian yang melekat pada tubuhnya, serta arloji. Ransel yang tertinggal itu digeledah. Damiyan tidak ambil pusing tentang itu.
Dia hanya menyimpan paspor dan kartu identitas pada umumnya, lalu dua stel baju untuk ganti. Sejak Sanubari sering berpindah-pindah, Damiyan tidak pernah membawa banyak barang. Membawa banyak barang hanya akan merepotkan karena tidak ada banyak waktu untuk beres-beres. Sering kali dia harus membayar orang untuk mengirimkan barang yang ditinggalkan karena pergerakan dadakan Sanubari.
Pengalaman itu cukup bagi Damiyan untuk mengubah gaya bepergian yang lebih sederhana. Dengan begitu, dia bisa bergerak lebih bebas. Keluar/masuk penginapan pun lebih mudah.
Berhubung pekerjaannya senantiasa harus dirahasiakan dari siapa pun, ponsel Damiyan pun dilengkapi sistem keamanan berlapis. Ketika sidik jari orang lain atau sentuhan tidak dikenal menyentuh layar, peluncur sistem akan segera mengalihkan tampilan ke mode umum. Data-data rahasia secara otomatis disembunyikan. Ponselnya hanya akan terlihat seperti ponsel pada umumnya. Itu seperti ruang rahasia dalam sebuah rumah. Hanya pemilik yang tahu seluk beluknya.
"Suruh mereka datang ke tempat yang kami tentukan!" kata pria bertopeng.
Dia menyuruh salah seorang dalam ruangan untuk menghubungi rekan yang sedang memeriksa barang Damiyan. Sementara dia sendiri menuliskan alamat pada selembar kertas. Tak lama kemudian, seseorang masuk ke ruangan. Orang itu meletakkan tas dan ponsel Damiyan ke meja. Lantas, dia berbisik ke pria yang menginterogasi Damiyan.
"Sekarang, cepat hubungi dan suruh mereka ke tempat ini!" pria bertopeng menyodorkan kertas, "setelah ini, kau akan diantar keluar, tapi ekskavatormu akan kami tahan. Biar kami kembalikan langsung pada pemiliknya bila kalian terbukti bersih."
Damiyan mendengarkannya sambil memeriksa barang. Tidak ada yang hilang. Kemudian, dia menelepon dalam bahasa Rusia. Di pertengahan, Damiyan memakai bahasa sandi. Itu untuk berjaga-jaga supaya percakapannya tidak diketahui andai ada dari mereka yang mengerti bahasa Rusia. Bagaimanapun, dia perlu mengatakan keadaannya agar mereka bisa bekerja sama, menyembunyikan identitasnya, menjadikannya pihak netral, lalu mengatakan hal serupa supaya kebohongannya tidak terendus. Selebihnya, dia akan menyerahkan pada mereka urusan ini.
"Sudah. Sekarang, tunjukkan jalan keluarnya!" Damiyan mematikan ponsel.
"Tidak, sampai mereka tiba di tempat yang dijanjikan," balas pria bertopeng.
Sepasukan telah disiapkan di sebuah landasan helikopter. Saat helikopter Rusia tampak terbang mendekat, mereka melaporkan hal tersebut ke sisi lain. Begitu helikopter mendarat, laporan kembali dikirimkan.
Mereka berjalan cepat, lalu mengendarai mobil. Satu jam penuh mereka berkendara, baru penutup mata Damiyan dilepas. Dia diturunkan Di pusat keramaian. Usai mobil menjauh, Damiyan menyeringai.
"Kalian pikir aku bodoh?"
Dia berjalan ke kursi taman. Diletakkannya ransel. Kemudian, dia melepas jaket. Jaket tersebut dia beber. Pada punggung jaket, dia menemukan sesuatu menempel. Besarnya hanya seukuran kartu nano. Sekali lagi, Damiyan memeriksa ransel. Dia menemukan benda serupa terselip Di saku dalam tas.
Lelaki itu mengedarkan pandangan. Seorang anak kecil menabur jagung. Merpati berkumpul di sekitarnya. Damiyan berjalan mendekat dengan sangat hati-hati. Dia menangkap satu merpati. Karenanya, para merpati terbang berhamburan.
"Kakak, kau menakuti mereka!" tegur si anak kecil.
Namun, Damiyan mengabaikannya. Dia menempelkan alat pelacak kecil pada bulu merpati.
"Ikuti saja burung itu, Orang-orang tidak sopan!" batin Damiyan, lalu melenggang pergi.
Dia harus segera menyusul Sanubari. Sayangnya, orang-orang tidak dikenal tadi menjauhkannya dari lokasi Sanubari. Damiyan menghela napas. Dia memesan taksi.
"Boleh aku yang menyetir? Kalau boleh, akan kubayar argonya tiga kali lipat?" pintanya saat taksi tiba.
Tawaran itu disambut dengan tangan terbuka. Damiyan mengambil alih kemudi. Dia berkendara di atas kecepatan rata-rata.
__ADS_1
Sopir taksi berteriak-teriak murka. Pemuda di sebelahnya sungguh sudah gila. Dia menyesal menerima tawaran tinggi darinya.
Damiyan menyuruhnya diam bila ingin selamat. Sopir taksi itu sampai tidak berkutik saking takutnya. Polisi lalu lintas mengejar. Namun, Damiyan berhasil meloloskan diri. Dia terus mengikuti navigasi.
Layar laptop menampilkan Sanubari yang dibaringkan di atas ranjang rumah sakit. Di sebelahnya, terbaring pemuda lain yang memakai baju operasi. Para dokter mengelilingi mereka. Dengan pisau bedah khusus, seorang dokter berusaha menyayat kulit Sanubari yang keras.
"Sai, cepatlah! Mereka berusaha membedah dada Sanubari, entah apa yang akan mereka lakukan," kata Eiji.
Sayatan makin dalam. Dokter lain menyelipkan sesuatu untuk menahan bekas luka yang perlahan menutup, sementara dokter lain terus memperlebar bedahan.
"Aku sampai di tempat parkir."
Sai bergegas berlari. Dia langsung menuju ke meja resepsionis.
"Pasien bernama Sanubari dirawat di mana?" tanya Sai begitu berdiri di depan petugas.
"Sebentar, akan saya Carikan," pegawai itu mengetik pada komputer, "maaf, tapi tidak ada pasien bernama Sanubari di sini."
"Sai, tinggalkan saja dia! Sanu ada di lantai tujuh," kata Eiji memberikan instruksi.
Sai berlari ke elevator. Saat sampai di lantai tujuh, beberapa orang kekar berdiri di sepanjang lorong. Sai mencoba tak acuh. Namun, salah satu dari mereka mencekal pundak Sai.
"Kau tidak boleh berjalan-jalan di sini," kata pria itu.
"Aku hanya ingin mencari temanku."
"Temanmu tidak ada di sini. Kau salah lantai. Tempat ini telah disterilkan dari pasien lain."
"Temanku ada di sini," kata Sai bersikukuh. Itu pula yang dikatakan Eiji melalui earphone.
"Bila kau tetap ngeyel, kami terpaksa mengusirku dengan kekerasan," kata pria itu.
Namun, Sai lebih dahulu meninju perutnya. Dia juga menendang sang rekan yang berusaha membantu. Pria lain berlari kecil. Sai dikeroyok.
"Abri, bisakah kau melakukan sesuatu seperti yang kau lakukan saat menolong adikku?" Eiji kian gelisah.
Dokter tampak sedang berusaha memotong pembuluh darah. Pisau tampak disayatkan berulang. Organ tersebut terlihat begitu alot.
"Kemampuanku adalah meretas baik dengan jaringan maupun tidak. Kalau mereka memakai peralatan non-elektronik, apa yang bisa kulakukan? Kecuali, aku ada di sana."
Perkataan Abrizar ada benarnya. Mereka hanya bisa mengandalkan Sai. Namun, lelaki itu pun masih terhadang.
"Aku ada ide. Mari kita ancam saja rumah sakit itu!" Abrizar menggeser laptop dari Eiji. Dia membagi tampilan layar menjadi dua. Satu sisi tetap menampilkan rekaman pengintaian, sementara sisi lain membuka lembar kerja baru.
__ADS_1
Baru saja Abrizar hendak memulai pekerjaan, Eiji berkata, "Terlambat. Jantung Sanubari telah diangkat."