Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rongga Mulut


__ADS_3

Sesaat sebelum kepiting menyerang Gafrillo, Aeneas dimakan. Aeneas masuk ke mulut kepiting raksasa bersama berliter-liter air. Dia menahan napas. Matanya sedikit pedas karena air yang bercampur dengan enzim.


Pada saat ini, Aeneas harus berkompromi dengan rasa takut. Ketakutan itu harus dijadikannya sebagai bahan bakar keberanian. Hanya keberanian yang bisa membuatnya tetap hidup.


Aeneas tetap berusaha membuka mata meski harus mengerjap berulang kali. Bola matanya bergerak liar, dengan cepat mempelajari anatomi mulut.


Gigi-gigi berbaris kokoh dan rapat. Sebagian bernoda hijau seolah berlumut. Organisme berpendar kehijauan menempel di sana-sini. Ular sebesar jari sesekali melongok dari karang gigi. Mulutnya mubuka dan menutup layaknya ikan. Mereka seperti sedang memakan sesuatu yang masuk bersama air.


Koyakan daging terselip di beberapa titik. Rongga atas mulut seperti pohon beringin yang memiliki banyak akar gantung menjuntai. Papila-Ppapila sebesar genggaman tangan tampak jelas. Lidah berwarna aspal itu tak ubahnya jalan makadam setelah hujan. Permukaannya licin.


Sebuah pohon tumbuh di gigi yang berlubang. Itu membuat Aeneas berpikir tempat ini memiliki oksigen sekalipun sedang tertutup rapat. Di dekat pohon itu, sesuatu berwarna putih melintang. Bentuknya pipih. Sisi-si pinggirnya tampak tajam.


Aeneas mulai mengasosiasikan tempatnya berada sebagai gua. Gua yang hidup masih lebih baik daripada makhluk tak dikenal. Matanya mengobservasi dengan cepat. Otaknya pun tidak kalah cepat mengolah informasi dan menarik kesimpulan.


Air terus mengalir ke perut, lalu dikeluarkan melalui organ yang terlihat seperti ventilasi. Organ itu membuka dan menutup sesuai kebutuhan.


Ketika kepiting melepaskan tubuh Aeneas, Aeneas lekas menyambar sebuah benda hijau yang melambai-lambai. Benda itu adalah rumput laut yang tersangkut di sela-sela gigi. Rumput laut itu cukup kuat. Kemudian, mulut menutup. Dengan cepat, air dalam rongga mulut menyurut. Aeneas berpegangan erat pada rumput laut supaya tidak terseret arus. Dia bergelantungan.


Saat mencoba menghirup udara, Aeneas hampir saja muntah. Ini bau terburuk yang pernah masuk ke rongga hidungnya. Baunya seperti kaos kaki yang dipakai terus-terusan selama 10 tahun tanpa dicuci, lalu direndam dengan deterjen selama 10 tahun berikutnya. Baunya lebih buruk dari kotoran manusia yang difermentasikan.

__ADS_1


Dia menahan napas lagi, memanjat rumput laut, lalu berpijak pada karang gigi. Aeneas mengikatkan rumput laut pada pinggang. Selama beberapa saat, dia terus memandang benda putih yang tertancap di dekat pohon. Kemudian, dia memindai rongga mulut sekali lagi, lalu menemukan tentakel di dekat rumput laut.


Telapak kakinya terasa geli. Saat menggeser kaki, dia melihat ular yang sedikit melongok. Rupanya, binatang itu yang menggelitik kakinya. Dia membungkuk untuk menarik ular dari lubang.


Binatang kecil tidak bisa membuatnya takut. Penampakkannya jauh berbeda dari makhluk yang baru saja menyantapnya. Selain itu, Aeneas sendiri sudah terbiasa dengan berbagai macam hewan normal. Sedari lebih kecil, dia suka ketika ayahnya memperkenalkan satwa-satwa baru. Dia juga terkadang ikut ayahnya bekerja.


Aeneas mencekik ular sepanjang dua meter itu sampai mati. Ular itu ompong. Aeneas jadi membayangkan cacing besar. Namun, kulitnya sangat alot. Aeneas tidak bisa memutuskannya ketika mencoba menariknya dengan kedua tangan.


Selanjutnya, Aeneas setengah berlutut. Dia mencolek pengisap menggunakan ular. Bagian itu sangat lengket. Ular menempel tanpa bisa dilepas lagi. Dengan sangat hati-hati, Aeneas menarik potongan tentakel. Dia menghindari bagian lengketnya.


Usai tercabut, Aeneas melompat ke pohon. Dia duduk, mengarahkan ujung ular ke bagian benda melintang yang tampak tajam. Ular terpotong. Aeneas menempelkan tentakel, lalu memotong rumput laut. Dia menyambungkan badan ular dengan rumput laut.


Sekuat tenaga, Aeneas menarik benda itu dan berhasil. Saat diamati dengan seksama, Aeneas mengenali benda itu. Itu tampak seperti tulang ikan. Hanya saja, benda yang dipegang Aeneas lebih panjang dan besar. Dari panjangnya, ikan yang memiliki tulang seperti ini mungkin sebesar anak hiu.


Aeneas mendongak, rahang atas terlalu tinggi untuk dijangkau. Aeneas juga kurang tahu pasti di mana posisi otak kepiting. Jadi, dia melihat ke bawah.


Aeneas melompat. Dia tergelincir, lalu terjerembab seketika. Lidah kepiting tidak bisa dinjak. Jadi, dia asal-asalan menusuk dan memotong dalam posisi berbaring. Lidah menggeliat, mendorong tubuh Aeneas ke kerongkongan. Akan tetapi, tali ular dan rumput laut menahan Aeneas. Dia berusaha sebisa mungkin melukai lidah maha besar itu.


Gerakan kepiting sesekali membuat Aeneas kehilangan keseimbangan. Dia terayun liar, tetapi tujuannya tidak goyah. Dalam setiap kesempatan, Aeneas menggoreskan luka. Secuil demi secuil berjatuhan. Tiba-tiba, sebuah capit terjulur ke dalam mulut. Capit itu meraba keberadaan Aeneas. Aeneas lekas mengayunkan tulang ikan tepat di pergelangan.

__ADS_1


Tulang ikan sungguh tajam. Capit putus seketika walau Aeneas tidak mengerahkan tenaga besar. Heran Aeneas dibuatnya. Betapa beruntung makhluk ini tidak sampai hancur ketika menelan sang pemilik tulang.


Namun, logikanya lekas mewajarkan itu. Bisa saja itu terjadi karena saat tersangkut, tulang masih berdaging sehingga tidak berbahaya. Namun, seiring berjalannya waktu, daging melunak, lalu rontok karena pengaruh enzim, menyisakan tulang yang terlalu kokoh untuk dicerna enzim mulut.


Capit lain masuk. Aeneas mengayunkan tulang ikan lagi. Capit kedua pun putus. Aeneas nencari ular lagi. Dia memperpanjang tali.


Walau berulang kali jatuh, Aeneas tidak menyerah. Yang dia benci saat berada dalam mulut adalah menghirup udara. Jika bisa, dia tidak ingin bernapas. Bau mulut kepiting sungguh tidak tertahankan.


Tulang ikan terayun secara konstan, mencuil sedikit demi sedikit rahang bawah. Bilah itu layaknya cangkul. Aeneas seperti penggali kubur yang sedang menggali tanah. Hanya saja, kali ini, dia sedang berusaha membuat lubang dalam mulut makhluk hidup.


Begitu berhasil membuat lubang, Aeneas melompat. Dia memotong tali, lalu lekas berlari menjauhi tubuh kepiting raksasa. Pandangannya memindai ruangan. Dia masih di tempat yang sama dengan Kelana dan Gafrillo.


"Aeneas! Syukurlah kau selamat." Gafrillo menangis bahagia. Dia menatap putra kecilnya yang berlumur darah.


Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Barisan pertokoan di seberang kaca meledak. Dinding kaca pecah. Kepiting terempas hingga menghantam dinding kaca di lawan arah. Dinding pada sisi itu seketika ikut jebol. Air dalam sekejap memenuhi ruangan itu bersama beraneka ragam fauna.


Dada Kelana terasa sesak karena hantaman air yang sangat keras. Dia spontan memejamkan mata. Tubuhnya melayang. Namun, dia bisa merasakan tubuh dewasa memeluknya.


Makhluk yang lebih besar muncul dari puing gedung yang baru saja meledak. Geramannya terdengar menyeramkan, lebih menyeramkan dari efek audio film horor. Makhluk itu bergerak mendekat.

__ADS_1


__ADS_2