
"Yorokonde iku tte ...," batin Mitsuki merasa ironis.
Sanubari dan Anki pun pasti memikirkan hal yang sama. Tidak terkecuali Abrizar, andai pria tunanetra itu tahu apa maknanya. Mereka saja muncul dengan cara yang tidak menyenangkan. Mana mungkin Anki bisa dengan suka cita menuruti mereka.
Mitsuki akan berpikir kata itu tidak ada salahnya bila dia memosisikan diri sebagai tersangka. Namun, pola pikirnya tentu akan berubah ketika memosisikan diri sebagai korban. Berhubung Mitsuki ada di pihak Anki, dia menempatkan sudut pandangnya sebagai korban tertodong.
Pria di hadapan Anki baru saja mengatakan sesuatu yang konyol. Seperti pemikiran Mitsuki, tidak ada yang akan senang bila harus ikut pria tak dikenal bersenjata. Kendati ada janji manis di belakangnya, tetap saja Anki meragu. Dia menoleh, menatap Sanubari yang masih tertawan pedang pendek dan pistol.
Sisi tajam itu seakan tidak berjarak dari kulit bersih Sanubari. Matanya bergerak ke arah lain, lubang misil itu terarah tepat ke pelipis Sanubari. Dua senjata itu mungkin akan bergerak tergantung pada keputusannya.
Dalam pikiran Anki saat ini hanya ada keselamatan Sanubari, walaupun dirinya sendiri tidak dalam posisi bisa mempertahankan diri. Karenanya, Anki tidak memiliki pilihan selain menanggapi permintaan ketiga pria asing ini dengan, "Watashi—"
Kalimat Anki terpotong saat tiba-tiba pistol bergerak ke lain arah dengan sangat cepat. Bersamaan dengan bunyik teriakan dan pukulan, logam berat berdentum. Pistol terlempar, melesat di lantai gerbong hingga masuk ke kolong kursi.
"Kamu tidak perlu ikut jika tidak ingin, Anki," ucap Mitsuki tersenyum lembut.
Anki tersentak mengikuti pergerakan tangan salah satu pria berpakaian hitam. Entah sejak kapan Mitsuki sudah berdiri di belakang pria yang sebelumnya memegang pistol, dan memelintir tangan lelaki itu. Dua pria berpakaian hitam pun terkejut dengan serangan balik dadakan.
__ADS_1
Selesai berkata demikian kepada Anki, Mitsuki beralih berbisik pada pria yang tangannya dia kunci, "Bahaya bermain senjata di tempat umum, Paman! Paman paham bahasa Indonesia, kan? Jangan ulangi lagi lain kali!"
Sanubari tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dibuat Mitsuki. Hanya selisih satu, dua detik dari aksi Mitsuki, Sanubari merebut pedang pendek dari tangan pria berpakaian hitam. Kemudian, dia menendang pria itu.
Andaikan penumpang di belakang mereka tidak cukup sigap menghindar, mungkin mereka telah tertindih badan pria berpakaian hitam yang terdorong mundur. Semua orang histeris. Mereka berhamburan keluar kereta.
Peron begitu sepi. Tidak ada satu pun penumpang yang sedang menunggu kereta. Mungkin mereka sudah masuk gerbong lain. Mungkin juga memang tidak ada calon penumpang sama sekali sejak semula, kecuali mereka yang sudah naik dari stasiun Osu.
Tidak ada yang peduli dengan kelengangan ini. Masing-masing dari mereka hanya ingin keluar dari tempat itu. Di portal setiap jalur, beberapa pria bermasker berjaga. Para pria dibiarkan lewat begitu saja. Sedangkan para wanita dicegat.
"Shiragami Anki?" Pertanyaan itu terus diulang setiap kali ada perempuan yang mendekat, tidak ingin melewatkan target mereka.
"Naraba, douzo!" Pria yang baru saja bertanya pun menjulurkan tangannya, membuat gestur seperti pelayan yang sedang mempersilahkan masuk.
"Arigatou!" Perempuan itu pun dengan ragu-ragu berterima kasih, lalu buru-buru berlari meninggalkan portal.
Suasana ini begitu ambigu. Perempuan itu tidak tahu lagi apakah ini sekadar drama lapangan ataukah sebuah insiden sungguhan.
__ADS_1
"Sunao na henji wo ageru tte omotteru no?" tanya pria bermasker lainnya pada pria yang baru saja bertanya. Yang artinya, 'Kau pikir mereka akan memberikan jawaban jujur?'.
Pria itu tidak bisa lagi membiarkan rekannya yang bekerja asal-asalan. Sedari tadi, semua perempuan yang menjawab tidak tahu selalu saja diloloskannya. Tanpa konfirmasi atau pemeriksaan lebih lanjut, lelaki itu kembali menanti perempuan berikutnya.
"Shiru monka." Rekannya itu malah menjawab 'Mana kutahu' sambil mengedipkan bahu acuh tak acuh.
Pembawaannya sangat santai, sampai membuat pria satu timnya geleng-geleng. Satu lagi perempuan dibiarkan melewati portal. Pria yang memegang ponsel terus melihat wanita yang baru saja melintas.
"Muda na koto wo suru na!" tegur pria pemegang ponsel supaya pria yang suka menanyakan nama target berhenti melakukan hal sia-sia. Menurutnya, pertanyaan yang dilontarkan pada setiap wanita itu tidak berguna. Siapa pun bisa saja berbohong bila tahu dijadikan target. Jawaban 'tidak kenal atau bukan' tidak mungkin bisa dijadikan tolak ukur pembebasan.
"Dakara, shashin wo mite kakunin shite choudai!" dengan santainya, pria bermasker yang suka bertanya malah meminta rekannya untuk melihat foto dan memastikan wanita yang mereka temui Anki atau bukan.
Pria pemegang ponsel menatap pria bermasker di hadapannya. Dia tidak bisa melihat ke balik masker. Namun, dari ekspresi matanya, lelaki itu tahu rekannya sedang tersenyum.
"Saki kara sou yatteiru no janai ndarou, ore?" Pria pemegang ponsel itu mengarahkan layar gawainya pada rekannya.
Tanpa diperintah pun dia sudah melakukannya sejak tadi. Jika tidak, mana mungkin dia ikut membiarkan para wanita lewat. Pria bermasker yang suka bertanya memperhatikan foto gadis yang ditunjukkan padanya.
__ADS_1
"Huwao, sugee bijin da. Paafekuto!" celetuknya dengan mata berbinar. Dia bertepuk tangan, sangat mengagumi gambar dalam ponsel. Sungguh gadis yang amat cantik, sempurna—pujian semacam itu terucap begitu saja.