Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mantra dan Gila


__ADS_3

Hyun Jo tampak tenang tenggelam bersama Sanubari. Walaupun tidak bisa berenang, dia sama sekali tidak takut karam. Dalam kepercayaannya, sedalam-dalamnya genangan, pasti ada permukaan jua yang bisa dipijak. Dia hanya perlu menahan napas lebih lama, dan itu salah satu keahliannya. Kemudian, berjalan di bawah air untuk menemukan jalan menuju permukaan.


Insiden di masa kecil membuatnya terobsesi untuk menjadi manusia yang bisa bertahan lama dalam air. Instruktur, guru olahraga, bahkan saudaranya sendiri Sudah mencoba mengajari Hyun Jo berenang. Namun, Hyun Jo tetap tidak bisa sampai sekarang.


Dari sisi lain, Jae Hyun membuka mata lebar-lebar. Dia mencari keberadaan saudaranya. "geuneun eodi issseubnikka?" batinnya bertanya-tanya di mana Hyun Jo tenggelam.


Tak lama kemudian, dia menemukan seorang pria yang berusaha naik ke permukaan sambil membawa pria lain. Jaraknya sekitar empat meter dari tempat Jae Hyun. Jae Hyun mengenali baju yang dipakai salah satu pria.


"uisim-ui yeojiga eobs-seubnida. Geuga teullim-eobs-eo," pikir Jae Hyun ketika menemukan keduanya. Tidak salah lagi. Itu pasti Hyun Jo. Jae Hyun sangat yakin. Dia pun berenang ke arah di mana saudaranya dibawa.


Sementara itu di atas, Sai tidak ikut menceburkan diri. Dia sudah membaca profil Sanubari. Tidak mungkin remaja pemegang medali emas dalam olimpiade renang bertaraf internasional bisa tenggelam dengan mudah. Selain itu, Sanubari juga memegang rekor dunia sebagai perenang tercepat.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Sanubari bila berurusan dengan air. Yang Sai cemaskan adalah, adanya faktor eksternal yang mungkin membuatnya tidak bisa berenang.


"Syukurlah," lirih Sai ketika melihat kepala Sanubari menyembul ke permukaan bersama seseorang.


Kepala remaja itu tertoleh ke kanan dan kiri, sepertinya dia sedang mencari cara naik ke atas setelah mendongak sejenak. Dinding-dinding yang mengapit sungai sangat tinggi. Mustahil untuk dipanjat. Kemudian, dia teringat perahu tertambat yang diperhatikannya dari atas sebelum terjatuh.


Sanubari memutar haluan. Benar ingatannya, perahu bermesin itu masih ada di tempatnya, dan tidak jauh dari sana ada tangga naik. Itu merupakan tangga terdekat dari tempat Sanubari mengapung. Pria itu berenang menepi.


Sesampainya di tepian, Sanubari membantu Hyun Jo naik ke lantai datar sebelum dirinya sendiri ikut naik. Sanubari berdiri. Tubuhnya terasa berat karena pakaiannya menyerap air. Dia menengadahkan kepala. Kehangatan mentari menyentuh wajahnya.

__ADS_1


Tiba-tiba, Sanubari berceloteh, "Saat kehidupan tak bersahabat denganmu, bertemanlah dengan alam! Alam mampu memberimu kehangatan yang mungkin tidak bisa kau dapat dari orang-orang di sekitarmu."


Hyun Jo mengernyit. Dia tidak mengerti ucapan Sanubari sama sekali. Akan tetapi, dia tetap mendengarkan.


Sanubari mengira Hyun Jo hendak bunuh diri karena kelelahan. Oleh karena itu, dia mencoba memberi petuah.


"Kau bisa merasakannya, bukan?" Sanubari melanjutkan, "sinar matahari ini terasa hangat, meskipun terkadang bisa menjadi panas menyengat. Begitulah kehidupan. Kadang menyebalkan seperti panas matahari yang berlebihan. Kadang pula bisa menyenangkan seperti matahari yang memberikan kehangatan di pagi hari. Sekesal apa pun kita pada matahari, keberadaannya sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi. Andaikan matahari tidak ada, pastilah bumi telah menjadi dataran es, beberapa makhluk mungkin juga akan punah."


Sanubari mengingat-ingat isi buku yang dahulu pernah dibacakan Zunta. Saat Sanubari masih buta, tak banyak yang bisa dia lakukan untuk menghabiskan waktu.


Bila lelah jalan-jalan atau bosan bermain, biasanya Zunta akan membacakan buku untuknya. Alih-alih membacakan dongeng atau cerita anak, gadis lima tahun itu malah membacakan buku-buku ilmu pengetahuan. Tak jarang, Sanubari harus mendengar teori-teori kedokteran yang rumit. Begitu rumitnya, sampai sebagian tidak masuk ke kepala Sanubari.


"Jangan mengakhiri hidupmu sendiri sebelum waktunya! Bila Tuhan membiarkanmu hidup, itu artinya Tuhan ingin kau berbuat sesuatu di dunia ini. Orang lain bukan penentu kehidupanmu. Buatlah dirimu berguna bagimu sendiri dan orang lain, layaknya matahari pada bumi. Dengan begitu, hidupmu akan lebih berharga. Walaupun manusia lain tetap merendahkanmu setelahnya, setidaknya tak akan ada penyesalan karena telah menyia-nyiakan hidup. Tuhan menyayangimu. Dia akan lebih menyayangimu bila kau menjadi manusia yang pantang menyerah."


Bahasa Jepang hanya digunakannya sesekali ketika ke toserba atau harus berbicara di luar lingkup tim Eiji dan keluarga Mohammad. Karena Hyun Jo hanya diam, Sanubari tanpa sungkan terus berbicara. Sampai akhirnya, mata Hyun Jo kembali menangkap pergerakan kupu-kupu putih.


Kepalanya mengikuti pergerakan kupu-kupu yang mendekat. Serangga tersebut hinggap di rambut Sanubari yang basah. Sekian detik, Hyun Jo memperhatikannya. Barulah kemudian mulutnya terbuka.


"Nabi sohwan mabeob-ieossna?" tanyanya yang mengira pidato panjang lebar Sanubari sebagai sihir pemanggil kupu-kupu. Sebab, kupu-kupu tersebut mendekat dan berdiam di rambutnya setelah Sanubari mengucapkan kalimat panjang yang tak diketahui Hyun Jo.


Apa?" sontak Sanubari menoleh begitu mendengar suara Hyun Jo.

__ADS_1


Kupu-kupu pun terbang kembali. Hyun Jo tak lagi mengejarnya. Ketertarikannya teralihkan pada sesuatu yang lain.


"Sohwan mabeob-eul galeuchyeo juseyo!" Hyun Jo meminta Sanubari untuk mengajarinya mantra pemanggilan.


Sanubari sedikit terperangah. Di antara usianya yang ke sepuluh hingga dua belas tahun, Sanubari pernah mempelajari bahasa yang baru saja didengarnya. Kelana terkadang juga menyuruhnya membaca Webtoon. Karena selain bisa dijadikan materi ajar, Webtoon juga bisa menjadi hiburan. Kosa kata yang diucapkan pria di sebelahnya ada pada salah satu Webtoon yang pernah dibacanya.


"Museun jumun?" jawab Sanubari ikut beralih memakai bahasa Korea. Dia memiringkan kepala, kebingungan dengan mantra yang dimaksud Hyun Jo.


"Jebal, mabeob-eul galeuchyeo juseyo!" Hyun Jo tetap saja memohon supaya Sanubari mau mengajarinya.


"Naneun mabeobsaga anida. Naneun eotteon jumundo moleunda." Sanubari tidak bermaksud menolak, dia bukanlah penyihir atau dukun yang menguasai segala jenis mantra. Sanubari berkata jujur.


Percakapan ini terasa aneh bagi Sanubari. Dia mulai berpikir bahwa Hyun Jo mungkin saja gila. Sanubari tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan orang sakit jiwa yang pandai berbahasa Korea.


Sedangkan Hyun Jo menganggap perkataan Sanubari sebagai penolakan. Tepat di akhir kalimat Sanubari, Jae Hyun muncul dari dalam air. Sanubari dan Hyun Jo menoleh, terpancing bunyi gemericik yang diciptakan Jae Hyun.


"Gomawo, gwaenchanh-a." Jae Hyun bersyukur saudaranya selamat tanpa cidera.


Dia naik ke tepian lantai. Baru saja lelaki itu berhasil menjejakkan kedua kaki, Hyun Jo mendorongnya. Jae Hyun terbeliak. Tubuhnya oleng ke belakang. Dia pun kembali terjebur ke sungai.


Dugaan Sanubari terhadap Hyun Jo kian kuat setelah peristiwa itu. Lelaki yang baru saja naik sama persis wajahnya dengan pria yang baru saja ditolongnya. Sanubari yakin mereka bersaudara. Akan tetapi, lelaki di sebelahnya ini malah mendorong saudaranya sendiri.

__ADS_1


"Apa-apaan orang ini?" Sanubari menoleh pada Hyun Jo, tak habis pikir.


Setelah menjatuhkan saudaranya sendiri pun ekspresi Hyun Jo tampak serius. Tak ada seulas senyum setipis kertas sekalipun. Sanubari mendadak merinding.


__ADS_2