
"Hm, ada satu cara lagi jika kau ingin pendidikan gratis. Selama kau berada di bawah bimbinganku, aku yakin kau pasti bisa mendapatkan beasiswa penuh. Sekarang tidurlah! Ini sudah larut. Sebaiknya diskusi ini kita lanjutkan besok," pungkas Kelana sambil menguap.
Ia menepuk pelan bahu Sanubari, berpamitan lalu meninggalkan kamar Sanubari. Sanubari memandang kepergian Kelana. Angin malam berhembus semakin dingin. Sanubari baru sadar ponselnya tidak ada di tangan.
Sepintas ia teringat, terakhir kali ponsel itu dipegang oleh Embara. Sanubari ingin mengambilnya, tetapi merasa tidak enak hati mengunjungi kamar seorang gadis. Tidak sopan pula mengganggu istirahat orang lain.
"Ah, sebaiknya aku juga tidur saja. Ponsel bisa kuminta besok."
Sanubari melangkah masuk ke kamarnya. Ditutupnya pintu beranda. Kemudian, ia segera berbaring ke tempat tidur.
*****
Pagi-pagi sekali, Sanubari sudah berpenampilan rapi. Sebagian barang sudah ia keluarkan dari tas dan disimpannya di almari. Dengan senyum ceria, ia menyandang tas ransel nya, menuruni anak tangga. Namun, langkahnya dihentikan oleh sapaan seseorang.
"SANu! Mau kemana pagi-pagi?"
Sanubari menoleh. Rupanya yang menyapa adalah Kelana. Lelaki itu sedang menikmati cappuccino sambil membaca buku.
Dengan sedikit cengengesan Sanubari menjawab, "Mau ke bandara cari tahu bagaimana caranya membeli tiket pesawat."
__ADS_1
Kelana meletakkan bukunya ke atas meja. Ia bangkit dari tempat duduk, menghampiri Sanubari sembari mengatakan, "Untuk apa tiket pesawat? Bukankah sudah kubilang semalam jika kita akan melanjutkan diskusi tentang pendidikanmu?"
"Sebenarnya aku berencana pulang ke Indonesia dan membangun usaha di sana." Sanubari memegang tengkuknya canggung.
"Pikirkan itu nanti kalau sudah berhasil masuk perguruan tinggi! Hari ini kau tidak boleh kemana-mana karena kita akan memulai bimbingan konseling!"
"Memangnya Paman tidak bekerja?"
"Aku tetap bekerja kok. Pekerjaanku adalah menjadi konselor untukmu."
"Loh, bukankah Paman bekerja pada papa?"
Kelana menyeret Sanubari ke tempat makan. Tak lama kemudian, si kembar turun. Embara menyuruh Sanubari mengambil ponselnya sendiri ke kamarnya karena lupa membawanya. Setelah itu, mereka sarapan bersama sebelum akhirnya di kembar pergi ke sekolah.
*****
"Andaikan semua ini bisa diserap otakku dengan memakannya, pasti semua kertas-kertas ini sudah kujadikan bubur dan kumakan," keluh Sanubari sambil menggigit pensil.
Kedua tangan terkepal menyangga kepala frustasi. Berjam-jam duduk membaca dan mengerjakan soal membuatnya pusing. Sudah lama ia tidak bersekolah. Ilmu yang pernah dipelajari pun terlupakan karena tidak pernah dipakai.
__ADS_1
Sanubari merasa nostalgia. Kondisinya saat ini mengingatkannya pada hari-hari pertama kali menginjakkan kaki di Italia. Satu per satu kenangan masa kanak-kanak perlahan memenuhi kepala remaja itu. Sanubari tersenyum tipis sebelum akhirnya memilih untuk meninggalkan kursinya.
"Sebaiknya mandi dulu untuk menyegarkan pikiran."
Tidak disangka, Sanubari akan menunda kepulangannya menuju Indonesia. Selama beberapa hari ia belajar di rumah Kelana, meskipun belum tahu mau mengambil jurusan apa serta universitas mana. Hingga suatu malam ketika Sanubari keluar untuk ke kamar mandi, ia tanpa sengaja mendengar percakapan di lantai bawah.
"Dia ada di lantai atas. Mungkin sudah tertidur."
Suara Kelana tidaklah keras, mengingat jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Akan tetapi, masih bisa didengar Sanubari yang berada di lantai dua. Penasaran siapa yang bertamu sedini ini, Sanubari yang baru keluar dari kamar mandi pun mengintip. Mata Sanubari membulat ketika melihat sosok yang datang bersama Kelana.
"Papa?"
Hati Sanubari mendadak bergejolak. Entah mengapa ia merasa sangat emosional. Buru-buru Sanubari melangkah ke kamar dengan langkah senyap. Ia mengemasi semua barangnya dengan cepat lalu melompat dari beranda kamarnya di lantai dua.
Bruk.
"Suara apa itu?" ucap Kelana keheranan.
Ia yang sedang menapaki anak tangga menuju lantai dua bersama Aeneas pun saling pandang. Keduanya mematung sejenak, sampai akhirnya ponsel Kelana berdering. Kelana segera mengangkat karena yang menelepon adalah anak buah Aeneas.
__ADS_1
"Apa?!" sentak Kelana terkejut begitu mendengar kabar dari bawahan Aeneas yang berjaga di luar.