Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rencana Berburu Harta Karun


__ADS_3

Apartemen Umeda Sky Building.


"Shiragami Eiji sudah sampai di Abe no Harukas," lapor pria berkacamata setelah menutup sambungan telepon. Dia kembali duduk di tempatnya semula.


"Sepertinya, dia sengaja membagi timnya menjadi dua."


"Hm." Satu-satunya pria yang duduk di sofa tunggal menggoyangkan gelas anggurnya. Dia memandang lurus, memperhatikan kastil Osaka yang hanya tampak seperti miniatur dari tempatnya duduk.


"Tidak kuduga dia akan membagi timnya menjadi dua seperti itu."


"Menurutmu, berapa lama kalian bisa menahan Shiragami Eiji di sini?" Pria itu hanya memainkan gelas anggurnya seolah kehilangan minat untuk meminumnya.


"Eiji itu sangat cepat dalam bekerja. Kurasa ini akan lebih singkat dari rencana awal."


"Kata sekretaris saya, Eiji mengestimasikan pekerjaannya akan selesai besok. Mungkin pagi, siang, atau malam," timpal pria berkacamata.


"Jika dia bilang seperti itu, aku yakin dia akan menyelesaikannya lebih cepat dari itu." Dia tampak gelisah.


"Kalau begitu, lakukan sekarang!" Pria itu meletakkan gelas anggurnya.


"Ini masih pagi."

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau masih pagi? Kau takut citramu memburuk?" Satu-satunya pria yang duduk di sofa tunggal menyeringai. Sorot matanya mengintimidasi penuh otorisasi, layaknya raja yang menduduki takhtanya.


Pria berkacamata dan pria keturunan Cina yang duduk bersebelahan hanya bisa menunduk. Mereka tidak berani menyentuh makanan dan minuman di hadapan. Dua botol anggur dalam rendaman es pu masih dibiarkan bersegel. Hanya satu yang masih memiliki nyali untuk melontarkan tanggapan.


"Informasi yang kudapat pagi ini, gadis itu ada di kuil, dan orang-orang kuil itu bukanlah orang-orang biasa. Kita harus menunggunya pergi dari area kuil."


"Kuharap kali ini kau tidak akan gagal."


"Waktu itu, salah satu anggota Eiji ada bersamanya. Anak baru itu memang cukup merepotkan. Tapi, hari ini Eiji membawa seluruh anggotanya ke sini. Kali ini, pasti akan lebih mudah. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkannya selama dia sendiri." ucapnya begitu yakin.


Beberapa hari ini, dia terus dilanda kegelisahan. Bahkan, keringat dingin membasahi telapak tangannya saat ini ketika berusaha berbicara. Dia dalam posisi yang serba urgen—mundur hancur, maju pun hancur. Ini adalah pilihan terbaik yang bisa mendatangkan keuntungan lebih besar dan lebih aman. Tentunya, tergantung dengan seberapa mulus rencana mereka berjalan.


"Hm, kupikir ini tidak akan terlalu merepotkan," pria yang duduk di sofa tunggal berdiri, melangkah membelakangi dinding kaca, lalu berhenti sejenak, "rasanya seperti berburu harta Karun yang dijaga makhluk-makhluk mitos."


Ada kekuatan tak terduga di Jepang. Jika salah melangkah, mungkin dirinya akan binasa. Bahkan, Onyoudan tampaknya tidak dapat diandalkan sebagai tameng. Memikirkan kegagalan sebelumnya, ekspresi pria itu berubah sedikit serius.


Tiga pria yang masih duduk menolehkan kepala. Mereka memandang punggung pria yang berdiri. Ketika tak satu pun berani membuka mulut, lagi-lagi pria yang menjadi satu-satunya duduk sendirian menanggapi dengan candaan.


"Dia memang berlian istimewa. Sesuatu yang perlu usaha keras untuk mendapatkannya pasti tidak akan mengecewakan." Dia terkekeh canggung di akhir kalimatnya.


Pria yang berdiri itu memutar badan. Mengabaikan dua pria lain yang juga menatapnya, dia mengarahkan netranya pada satu pria yang duduk sendirian—berseberangan dengan pria berkacamata dan pria Cina.

__ADS_1


"Pasukan elitemu saja tidak bisa menangkap seorang gadis. Apa kau yakin akan berhasil mempersembahkan gadis itu padaku kali ini, Perdana Menteri?"


Seringaian pria itu menusuk jantung, meremas mental Sang menteri ekonomi dan perdagangan. "Itu ...," dia gelagapan, matanya mengerjap-ngerjap, bergerak tak tentu arah sebelum akhirnya kepala tertunduk cemas, "seperti yang kubilang sebelumnya, itu karena ada yang menjaganya."


"Hanya seorang bocah, dan dia juga anggota organisasimu."


"Ada dua pria lain bersama mereka." Sang menteri meralat.


"Dua elite teratas, empat ketua, serta tiga lusin pasukan tidak mampu meringkus tiga kecoak pengganggu? Tidak kusangka Onyoudan selemah itu." Pria yang berdiri congkak layaknya tirani tersebut berdecak mengejek.


"Mereka hanya sedikit beruntung karena bisa kabur menggunakan kereta kemarin. Kali ini berbeda, rencana pun lebih matang. Keberuntungan tidak akan datang dua kali pada gadis itu." Sang menteri berusaha melakukan pembelaan.


"Bagaimana gisa mereka seberuntung itu? Sedangkan dua anggotamu dan satu anak buahku saja nyaris tewas dalam kecelakaan beruntun itu." Pria itu kembali berbalik badan.


Sang menteri tidak bisa berkata-kata. Berita tabrakan tiga kereta langsung tersiar di seluruh stasiun televisi dan media digital lain pagi ini. Andaikan bukan karena sistem penanggulangan bencana yang sangat efektif, mungkin tiga Mafioso itu serta penumpang lain telah tewas. Kabar tersebut telah sampai di telinganya. Kepalanya bahkan masih berdenyut memikirkan urusan negara dan asosiasi.


Memasang dua wajah itu sangat melelahkan. Sebagai bagian dari aparatur negara, dirinya harus bisa memainkan peran dengan apik.


"Mungkin aku harus terjun sendiri jika kau gagal lagi," ucapnya yang kemudian melanjutkan langkah menuju pintu keluar diikuti dua ajudannya.


Ruangan menjadi hening. Tiga pria yang masih duduk tidak berani mengucapkan sesuku fonem pun sebelum satu pria itu benar-benar lenyap dari jangkauan pandang.

__ADS_1


Bersambung ....


Saya kembali! Tapi sepertinya butuh waktu untuk menata ulang jadwal. Apa kabar, Teman-teman semua?


__ADS_2